
BOTFE Bab 9 - Salah Satu Poin Perjanjian
Beberapa Peri yang lewat disana meringis ngeri mendengar rintihan kesakitan para Penyihir Oxfam di dalam rumah penyiksaan.
Seringai Ella sangat menakutkan, terlebih jari telunjuknya kini menancap tepat di jantung milik penyihir tua Bangka itu, yang kini tersengal-sengal untuk sekedar bernafas.
Kedua temannya melotot tak percaya dengan apa yang mereka lihat, gadis itu memiliki aura yang tidak biasa.
Ditambah auranya tidak terbaca sekalipun, "siapa sebenarnya wanita ini?" gumam salah satu dari mereka.
Kini tua Bangka itu sudah tak bernyawa dengan dada yang berlumuran darah pekat berbau khas kaum penyihir dari Oxfam.
"Aku tidak main-main dengan pertanyaanku, dan sayangnya kalian terlalu menganggapku remeh." tukas Ella sinis.
"Akan aku pastikan pemimpin kalian akan tunduk dibawah kakiku, lihat saja suatu saat nanti," seru Ella yang tertawa kecil melihat gelagat ketakutan mereka, "Ralat. Kalian akan mati mengenaskan sebelum melihat pemimpin kalian kubunuh dengan lebih sadis lagi"
Ella menghunus pedang yang di ambilnya dari Odilion tepat di tengah-tengah leher kedua pria itu, hingga kepala-kepala mereka terpisah daei badannya.
"Aku ingin istirahat, bereskan mayat mereka ke dalam karung goni dan jangan langsung membuangnya. Tunggu esok hari saat aku akan datang kembali kesini," Ucap Ella lalu pergi dengan tenang seperti tidak ada yang terjadi.
"Menakutkan, ratu Elaine sebelumnya tidak pernah seperti itu. Apa sebenarnya yang terjadi saat Ratu keluar dari pusaran air, hingga sifatnya berubah seperti ini?" batin Odilion terheran-heran.
Ella sudah membersihkan diri dan sekarang menikmati santapan makan malam. Cukup lama dan akhirnya selesai juga acara makannya, saat ingin minum kembali tiba-tiba seorang Peri datang dengan raut wajah menegang.
Odilion yang baru sampai mengerutkan kening bingung saat kedatangan pria penjaga kawasan hutan selatan dalam keadaan terengah-engah.
"Mengapa meninggalkan hutan selatan? Apa yang terjadi?" tanya Odilion.
__ADS_1
Sedang Ella masih setia duduk dan mendengarkan keduanya bicara.
"Tuan, Ratu! diperbatasan ada pangeran Castor. Mereka sedang menunggu tuan Odilion datang untuk membicarakan sesuatu?" Jawab peri Fla demikian.
Odilion menatap Ella, "Ratu bagaimana?" tanya Odilion.
Ella menghembuskan nafas pelan. "Aku akan kesana tapi menyamar sebagai Peri Matia biasa!"
"Baik Ratu! kalian ..." tunjuk Odilion pada beberapa Peri Fla disana, "Kumpulkan pasukan Elf dan beberapa Peri Matia sekarang juga." Perintah Odilion yang langsung dipatuhi mereka.
***
Di perbatasan, Ella yang menyamar sebagai Peri biasa dengan tampilan biasa pula tidak membuat aura kecantikannya meredup sama sekali.
Ella melihat Pangeran Castor menggunakan baju jirah-nya dengan tatapan dingin. Beberapa prajuritnya ada disana, terutama Damon yang sesekali melihat ke arahnya.
"Tidak biasanya Pangeran datang ke perbatasan hanya untuk bertemu dengan kaum kami!" ucap Odilion.
Pangeran Castor tersenyum tipis dan Ella jelas melihatnya dan itu senyum tipis mengisyaratkan sesuatu.
"Aku datang karena ada sebabnya, Odilion! dan ingin memastikan sesuatu. Langsung saja, kalian pasti tahu siapa dibalik semua ini! yang telah mengaktifkan kembali perbatasan."
Odilion menyunggingkan bibirnya, "Haruskah saya menjawabnya Pangeran? sayangnya tidak bisa. Ini sudah rahasia umum yang harus kami lakukan."
"Ingat Odilion, perjanjian di antara kaum kita yang terdahulu tidak bisa di pandang enteng begitu saja. Kalian bangsa Peri yang selalu menghargai dan memuji peninggalan-peninggalan sejarah tidak akan berkhianat dengan bangsa tetangga kalian. Lantas mengapa sekarang malah berpaling dari perjanjian yang sudah dibuat para leluhur sebelumnya dan tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi di perbatasan!"
"Pangeran Castor, tidak ada pengkhianat disini. Cobalah Pangeran melihat kembali kebelakang, Selama tiga tahun kami menderita karena ulah saudari kalian Penyihir Oxfam sementara Pangeran sendiri membiarkan mereka menjajah Flamatia begitu saja tanpa membantu. Kami cukup diam selama ini, kaum Oxford telah menyimpang dari isi perjanjian leluhur! maka dari itu, kami bisa melakukan hal yang sama seperti Pangeran!"
__ADS_1
Damon merasa jengah dengan ucapan Odilion pada Pangeran Castor, pria kaku yang hampir sama dengan sifatnya itu malah terlihat membela diri.
"Sepertinya terjadi kesalahpahaman disini, Odilion. Bukankah kalian sudah tahu jika Penyihir Oxfam bukan lagi bagian dari kaum Oxford! lantas kami tidak memiliki ikatan dengan mereka sejak beberapa tahun belakangan. Untuk masalah kenapa kami tidak membantu, kalian lah yang bersalah disini, tidak pernah datang ke Kerajaan Oxford dan mencoba membahas masalah ini kepada kami, kalian hanya menutup diri. Jadi mana kami tahu jika Penyihir Oxfam selalu menganggu kalian!"
Odilion menarik nafas dalam-dalam, ia melirik Ella dengan ujung matanya dan dibalas juga oleh tatapan Ella pula.
Seperti memiliki telepati, Odilion lantas menatap tajam kepada Castor, "Baiklah Pangeran Castor, jika saya mengatakan siapa orangnya, lalu apa keuntungan yang kami terima dari Pangeran?"
"Haruskah meminta imbalan dulu Odilion? Sayangnya di perjanjian tidak ada kata imbalan. Perbatasan sudah tidak bisa seperti dulu, menyentuhnya saja tidak bisa apalagi keluar masuk di dua kawasan, lalu apa jadinya perjanjian yang sudah tertera oleh darah Ratu Elaine malah disalahgunakan kalian sendiri. Apa perlu aku jelaskan apa isinya? baiklah dengarkan baik-baik."
"Salah satu poin perjanjian yang sudah disepakati oleh leluhur sebelumnya dengan ratu Elaine masih tetap berlaku, perjanjian yang menyertakan jika perbatasan dua kawasan masih utuh ataupun tidak, para petinggi masih bisa keluar masuk di dua kawasan dan juga kedua kaum harus tahu menahu setiap permasalahan yang terjadi di perbatasan dalam kondisi apapun. Jadi itu salah satu perjanjiannya Odilion."
Castor lalu melanjutkan kembali, "Dilihat dari segi sihir perbatasan hanya kalian yang bisa keluar masuk antar dua kawasan dan itu cukup merugikan pihak kedua. Ini sudah melanggar ketentuan dari isi perjanjian, Odilion!"
"Membosankan!"
Semua orang menoleh ke arah Ella dengan tatapan berbeda-beda, tak terkecuali Pangeran Castor yang menatapnya tajam.
"Ada apa dengan ucapanmu itu Nona?" tanya Castor menatap dalam mata Ella.
"Seperti yang Pangeran dengar. Ini sangatlah membosankan, Perjanjian yang Pangeran jelaskan seperti malah terkesan dibuat-buat. Apakah hanya Pangeran saja yang tahu isi perjanjiannya atau ada orang lain disini yang tahu juga mengenai isi perjanjiannya para leluhur?"
Tidak ada yang bersuara, semua orang yang ada di sana saling memandangi satu sama lain.
"Terjawab sudah, disini hanya Pangeran yang tahu. Lalu bisakah Pangeran memperlihatkan isi perjanjian itu kepada kami semua?"
Castor tersenyum sinis memandang Ella yang tidak sama sekali gentar padanya dan secara terang-terangan menyudutkannya tanpa tahu kasta.
__ADS_1
"Derajatmu di Flamatia sebagai apa nona?"