
BOTFE Bab 20 - Rasa Penasaran
Wajah Ella telihat tegang saat posisi keduanya terlalu dekat, ditambah Pangeran Castor mengekang kebebasan dirinya setelah punggungnya telah tersandar di pintu rumahnya.
"Ucapkan hal itu berulangkali kala aku pamit berpergian. Itu membuatku malah senang mendengarnya."
"Ucapan? ucapan apa Pangeran, aku tidak tahu maksudmu!."
"Hati-hatilah dijalan! aku mau mendengarkannya darimu."
Glekk
Tenggorokan Ella terlihat naik turun saat menelan ludah, pria itu membuatnya bersemu kemerahan, matanya lantas melihat manik mata Pangeran Castor yang tiada hentinya menatapnya mesra.
"Cepatlah pulang, tidak enak jika seseorang akan melihat kita seperti ini." Ucap Ella, tangannya kemudian mendorong dada bidang Pangeran Castor agar menjauh darinya.
Pangeran Castor tersenyum tipis, tingkah laku wanita dihadapannya itu sungguh menggemaskan. Rasanya ia ingin sekali memeluk tubuh itu, hanya saja Ella sudah mendorongnya terlebih dahulu.
"Aku pergi, sampai jumpa Minggu depan." Ujar Castor, kemudian melenggang pergi meninggalkan inti Flamatia.
Ella seketika memegang dadanya. Detak jantungnya terlihat tidak baik-baik saja, rasanya tidak baik jika selalu berdekatan dengan pangeran Castor.
Tiba-tiba Ella dikagetkan dengan suara seseorang yang sedang memanggilnya, lantas Ella langsung merubah kondisinya hingga terlihat seperti biasa.
"Odilion, kau dari mana saja? aku tidak melihatmu di rumah."
"Ah, itu saya sedang mengawasi hutan selatan Ratu, tapi beberapa penjaga hutan selatan mengatakan jika pangeran Oxford datang ke Flamatia untuk bertemu Ratu!"
"Ya, tapi ia baru saja pulang. Dia kesini untuk melihat saudaranya Pollux dan sempat juga pangeran memintaku untuk membuat ramuan penawar penyakit langka yang di derita warganya Tamiran."
"Apa pangeran tahu jika Ratu bisa membuat jenis obat-obatan herbal dan ramuan?" Tanya Odilion yang terlihat penasaran.
"Dia sedang curhat tentang kondisi warganya yang terkena penyakit langka kepadaku dan akhirnya aku memberikan solusi untuk membantunya."
Odilion mengangguk pelan kemudian keduanya membahas perihal pesta yang akan diadakan di kerajaan Oxford minggu depan.
****
__ADS_1
Sementara Putri Meana sedang duduk manis mendengarkan suruhannya untuk memata-matai pangeran Castor.
Saat pangeran Castor meninggalkan kerajaan, disaat itulah Putri Meana beraksi. Ia tidak ingin ketinggalan informasi tentang apa saja yang sedang dilakukan pangeran Castor akhir-akhir ini di luar kerajaan.
Hal itu membuat Putri Meana tidak tenang sekaligus penasaran dibuatnya.
"Pangeran Castor terakhir kalinya terlihat saat memasuki perbatasan tanpa terluka Putri, setelah itu sudah tidak pernah muncul kembali hingga sampai menjelang malam!" Ucap seorang lelaki dari kaum Oxfam.
"Bukankah perbatasan itu tidak bisa dimasukkan oleh kaum kita? lalu mengapa pangeran bisa masuk tanpa kesakitan seperti yang dialami suruhanku waktu itu!"
"Mengenai itu pula, saya tidak tahu Putri."
Wajah Meana terlihat memikirkan sesuatu, "Pasti ada mantra yang bisa dipatahkan agar bisa masuk Flamatia. Tapi apa? tidak mungkin aku menanyakannya langsung kepada pangeran Castor, yang ada dia akan curiga kepadaku karena sudah memata-matainya.
Dayang yang ada di samping Meana mencoba menganalisis fenomena yang sedang di bahas tuannya.
"Putri, kita bisa mencari tahu soal ini kepada tangan kanan Pangeran Castor melalui Demon, bisa saja dia tahu cara masuk ke Flamatia Putri!" terang seorang Dayang.
"Mengapa aku tidak terpikirkan hal itu! ini ide bagus dayang-dayangku, Demon bisa menjadi jalan keluar untuk masalah ini." Ucap Meana sinis.
***
"Darnia!!"
Panggilan dari kakaknya membuat Darnia kaget dan langsung memegang dada atasnya.
"Kakak sudah pulang yah! apa kakak sudah makan?"
"Sudah, di hutan selatan ada buah-buahan segar. Jadi bagaimana pria itu, apa keadaannya sudah pulih?"
"Cukup membaik kak, dua atau tiga hari lagi kondisinya sudah bisa stabil." terang Darnia.
"Apa dia menyusahkanmu? Kalau iya, kakak akan meminta Ratu untuk memindahkannya di rumah lain saja."
"Tidak perlu kak, Pollux sudah nyaman di rumah kita!"
"Benarkah?" Odilion menghampiri adiknya, kemudian memeluk sayang Adik satu-satunya itu.
__ADS_1
Sementara Darnia mengangguk bersamaan senyum manisnya terlihat jelas disana.
"Sepertinya adikku ini sedang jatuh cinta!" goda Odilion dan itu membuat Darnia lebih menenggelamkan wajahnya di dada Odilion.
"Jangan menggodaku kak, aku sungguh malu."
"Oh jadi benar! jika adik cantikku ini sedang kasmaran ternyata." Odilion kembali menggoda adiknya.
Sontak saja Darnia melepaskan pelukannya dan menatap Odilion lekat.
"Menurut kakak, apa pria itu benar-benar baik untukku?"
"Sejauh ini kakak sudah mengetahui identitasnya, untuk sementara jangan terlalu menunjukkan kesukaanmu padanya. Jika dia membalas cintamu pasti Pollux akan melakukan segala hal untukmu termasuk melindungimu dari bahaya."
Darnia sejenak berpikir, ucapan kakaknya itu tidak pernah meleset. Ia lantas mengangguk setuju.
Menjelang paginya, Pollux terlihat keluar dari kamar. Kali ini ia sedang mencari keberadaan Odilion beberapa hal yang membuatnya berpikir keras sejak datang ke Flamatia.
Pollux akhirnya menemukan Odilion sedang membaca sebuah buku di belakang rumah pohonnya.
"Bisa kita bicara!" tanpa basa basi Pollux duduk di hadapan Odilion dengan raut dinginnya yang tak terbaca.
Odilion mengerutkan keningnya dengan sedikit kesal, kemudian ia langsung menyisipkan buku yang tadi dibacanya ke dalam bajunya sendiri.
Pollux sekilas menatap buku aneh itu namun tidak terlalu lama sebab ada hal penting yang ingin ditanyakan langsung kepada Odilion.
"Ada apa?"
"Siapa Ratu kalian sebenarnya?" tanya Pollux dengan wajah serius.
"Ada apa dengan pertanyaanmu itu? pertanyaanmu sungguh tidak berfaedah."
"Benarkah? aku sangat penasaran dengan Ratu Elaine sekarang, sosoknya terlihat berbeda dari kaum Peri Flamatia. Apa pengikut setianya ini tahu siapa sebenarnya Ratu Elaine? Ah ... Ratu kalian sangat hebat, menguasai ilmu tabib, bisa mengaktifkan kembali perbatasan, dan mulai mengkondisikan Flamatia menjadi maju kembali, tidak luput pula ratu kalian bisa menangani ancaman kaum Oxfam, dan itu sungguh menarik." Terang Pollux tersenyum tipis.
"Sebenarnya banyak pertanyaan yang ada di benakku saat ini Odilion, hanya saja akan lebih baik menyimpannya terlebih dahulu sebelum menanyakan langsung kepada orangnya. Namun bisakah kamu sebagai pengikut setianya menjawab pertanyaanku yang kedua! walaupun pertanyaanku pertama diabaikan begitu saja. Jadi mengapa hanya ratu kalian yang bisa menghilangkan sayapnya di punggung? sementara kalian tidak!" Tanya Pollux sinis.
Odilion terlihat menunjukan sikap tak ramahnya, dirinya kemudian memandangi jari-jarinya dengan intens.
__ADS_1