
Elsa seharian itu hanya berbaring dengan sang lama yang selalu saja memberikannya nasihat-nasihat untuk terus mengabdi pada suami. Namun bukannya Elsa mendengarkan, dia hanya menatap Ibu Wina yang sekarang sedang memijat kakinya.
"Emang mama nggak takut?"
"Takut apaan?"
"Sendirian di rumah? Kan kita cuma punya satu sama lain, ma. Kenapa Mamah malah nyuruh Elsa buat nikah? Kalau nanti mama sakit terus sendirian di rumah gimana?"
Ibu Wina menghentikan gerakannya dan menatap sang anak dengan mata yang berkaca-kaca. Namun hal itu hanya Bertahan lima detik karena Ibu Wina langsung mengatakan. "Kalau mama sakit kamu nggak pernah tuh ngurus mama. Biasanya juga kamu malah nelepon ambulans biar Mama dibawa ke rumah sakit."
"Kan biar Mama ada yang ngerawat, biar penanganannya cepat gitu!" Elsa berteriak tidak terima.
Namun Ibu Wina malah menepuk-nepuk pantat sang anak. "Udah jangan ngeles emang kenyataannya kamu males aja."
"Enggak ih."
"Fokus aja sama pendidikan kamu, sama suami kamu. Udah enak tinggal nikmatin hasilnya aja. Lagian mama sendirian di rumah itu bukannya sedih tapi malah seneng. Soalnya nggak ada yang gangguin mama buat bikin sambel." sampai Ibu Wina sadar kalau selama berada di sini dirinya hanya mengikuti kegiatan Elsa yang berbaring dan makan. "Tadinya mama ke sini mau ngajarin kamu masak. Ayo cepetan bangun."
"Males ih ma. Orang Elsa lagi sakit juga."
"Jangan banyak alasan. Seenggaknya kamu di sana duduk terus liatin mama."
"Dari sini juga kelihatan kok." Elsa menatap dapur yang ada di belakang.
Ibu Wina segera melemparkan kaki sang anak yang sebelumnya ada di pangkuan, kemudian menarik paksa tangan Elsa untuk ikut ke dapur. "Duduk di sini dan dengerin. Salah Mama juga nggak ngajarin kamu sejak lama, jadinya kan sekarang kamu nggak bisa apa-apa."
Karena sudah mengisi kulkas dengan bahan-bahan yang sehat. Ibu Wina hendak membuat sayur dan beberapa masakan sederhana.
"Seenggaknya kamu bisa lakuin hal ini, bikin sarapan aja buat suami kamu."
"Beli aja roti sama susu, biar kayak di film-film."
__ADS_1
"Nggak kayak gitu." Ibu Wina bersikukuh memaksa Elsa untuk menatap apa yang sedang dirinya lakukan.
Dengan terpaksa Elsa membuka mata, membuatnya merasa kalau sedang menonton acara memasak secara langsung. Apalagi sang Mama memang menjual beberapa makanan di internet.
Gaya bahasa yang digunakannya seolah sedang live streaming. "Jadi kita masukin ini dulu ya Bunda."
"Ma ini Elsa bukan Bunda."
"Ya nggak apa-apa sekalian Mama latihan juga buat nanti live streaming kalau udah pulang dari sini. Fokus kamu ke sini aja."
Telinganya dipaksa mendengarkan, matanya dilarang berpaling dari Ibu Wina. Duduk dengan lemas di sana.
Sekitar 1 jam baru masakan itu selesai. Ibu Wina meminta Elsa untuk mengaduknya karena dia ingin pergi ke kamar mandi. "Males banget ini pantat udah nempel di kursi."
"Cepet nggak?" ketika diberikan tatapan tajam dari sang mama, Elsa tidak bisa apa-apa.
Dia berdiri di hadapan panci yang berisi sop sayur-sayuran, kemudian beralih pada ayam bumbu yang harus terus diaduk.
Waalaikumsalam."
Tanpa menoleh pun Elsa sudah tahu kalau itu adalah suaminya.
"udah mendingan?"
"Lumayan."
"Kayaknya udah sembuh deh soalnya kamu udah mau masak gini. Sakit pembawa Berkah ini mah, kamu jadi pinter masak." datang mendekat pada sang istri dan mencicipi salah satu hidangan yang sudah ada di atas meja. "Enak banget, kamu pintar masaknya," ucap Tama sambil mengusap rambut sang istri. "Kalau lagi suka masak-masak kayak gini, kita harus keluar buat beli beberapa bahan. Asli ini enak banget, kamu pinter banget masaknya."
Ibu Wina yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar kalimat tersebut. "Tama, yang masak itu Mama. Bukan Si Kriwil."
Padahal Elsa sedang menikmati dirinya yang sedang diusap oleh Tama.
__ADS_1
****
Setelah makan malam Ibu Wina langsung pulang, padahal Elsa sudah meminta sang mama untuk menginap di sini. Tapi sosok itu menolak dan akhirnya dipesankan taksi oleh tamak karena Ibu Wina sendiri yang menolak untuk diantarkan.
Akhir-akhir ini setelah berpisah rumah dengan ibunya, Elsa lebih sering memikirkan tentang keluarga. Seperti sholat Isya yang dipimpin oleh Tama sekarang, mengingatkannya pada sang ayah.
"Kenapa? Masih pusing?"
"Ngantuk." Elsa segera memalingkan pandangannya ketika matanya mulai berkaca-kaca.
"Mau dipeluk?"
"Nggak usah macem-macem, kamu kerja aja sana. Biasanya juga gitu."
Setelahnya Elsa langsung naik ke atas ranjang, dan berbaring dengan posisi membelakangi. Dia memeluk guling dengan erat karena semakin Elsa memejamkan mata, semakin banyak kenangan yang datang tentang keluarganya. Ayahnya seorang pengacara, dan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Setelah ayahnya meninggal, Elsa dinafkahi oleh ibunya dengan hasil berjualan. Elsa juga sadar kalau otaknya pas-pasan jadi dia hanya mengandalkan ibunya saja.
Tama yang mengetahui sang istri tidak baik-baik saja itu bergegas naik ke atas ranjang dan memeluknya dari belakang. "Janji kok nggak ngapa-ngapain, peluk kamu doang."
Tama membubuhkan kecupan di puncak kepala Elsa. Pria itu menceritakan beberapa hal yang terjadi di kampus, bagaimana gambaran untuk Elsa kedepannya nanti dan beberapa UKM yang bisa dia ikuti.
"Aku bakalan jagain kamu kok," ucap Tama kini menggenggam tangan sang istri dan mengusap menggunakan ibu jari, mencoba menenangkan Elsa. "Besok nggak akan kemana-mana kan?"
Tubuh Elsa sedikit menegang, dia belum siap dengan malam pertama. Masih takut dan juga tidak terbayangkan. "Jangan dulu Ih aku nggak mau," ucap Elsa melepaskan pelukan Tama pada dirinya dan membalik posisi menjadi menghadap pria itu. "Nanti kalau kamu maksa jatuhnya jadi kekerasan seksual. Mana ada undang-undang terbaru. Mau di jerat pasal itu?"
Tama terdiam kebingungan. "Besok aku mau ngajakin kamu keluar jalan-jalan. Kalian ketemuan sama Bunda sama Ayah juga yang lagi ke Jakarta. Memangnya apa yang mau aku lakuin? Apa juga hubungannya kekerasan seksual sama ketemu orang tua?"
Elsa terdiam, pipinya menggembung malu dan segera membalikkan badan.
"Mau tidur jangan ganggu, jangan peluk juga," ucapnya dengan jantung yang berdetak kencang akibat malu.
***
__ADS_1