Benang Merah Pak Dekan

Benang Merah Pak Dekan
Dua kubu utama


__ADS_3

Hari ketiga bamba, masih dengan topik memperkuat mental. Elsa bangun ketika dia merasakan guncangan di tubuhnya. "Elsa bangun. Sholat terus siap siap. Kamu mau telat Bamba?"


Yang seketika membuat Elsa membuka matanya. "Jam berapa sekarang?"


"Setengah lima. Ayok mandi dulu. Nanti sholat bareng."


"Gak mau sholat bareng. Nanti lama." Elsa melompat dari atas kasur dan buru buru masuk ke kamar mandi. Dia menolak sholat bersama karena takut terlambat. Bahkan Elsa niatnya tidak akan sarapan karena takut telat. Jujur saja mereka para senior menambahkan ancaman, belum lagi nantinya di perjalanan mungkin macet karena universitas sedang bamba. 


"Elsa, seengaknya kamu makan dulu. Tadi nolak buat sholat bareng. Sarapan jangan."


"Gak ada. Nanti keburu telat. Tukang ojegnya udah ada di depan?"


"Gak pake tukang ojeg. Aku yang anterin. Ayok." Menggunakan mobil, Tama mengantarkan Elsa. Karena sang istri tidak mau sarapan, Tama membawa roti. "Makan ini."


"Ih, kalau aku makan nanti suka mules. Mana belum BAB juga."


"Kalau gak makan nanti pingsan, Elsa. Cepetan makan dulu. Atau aku lambatin nih otw kampusnya."


"Jangan!" Elsa langsung memakan roti yang ada di tangannya sambil menatap Tama yang terkekeh. "Nanti kamu juga ke kampus?"


"Iya, tapi nanti siangan."


"Emang gak ngajar?"


"Nggak lah, kan baru masuknya juga minggu depan. Ini ke kampus cuma mau prepare buat tahun ajaran baru aja."


"Berarti mulai ngajar nanti hari senin?"


"Iya, bareng sama kamu yang mulai kuliah. Kenapa emangnya? Nanti dijemput lagi kok. Jangan khawatir."


Ketika mobil melewati halte yang ada di depan universitas, mata Elsa melotot. "Ini mau dibawa kemana?"


"Naik lah ke fakultas hukum biar langsung ke meja check in."


"Gak usah ih di sini aja. Nanti ketahuan kalau kita udah nikah. Terus nasib aku gimana kalau di serang sama fans kamu. Turunin di sini pokoknya."


Namun, tama malah mempermainkan Elsa dengan maju, kemudian mundur lagi, maju dan mundur lagi.  Melihat wajah sang istri yang menahan tangis, Tama menghentikan main mainnya dan mundur. "Maaf," Ucapnya. "Udah sampe."


Dalam keadaan kesal pun, Elsa tetap mencium tangan Tama ketika pria itu menyodorkan tangannya. 

__ADS_1


"Nih buat kamu jajan. Kalau harian dikasih tunai aja ya."


"Duit," Ucapnya dengan mata berbinar ketika melihat uang dia ratus ribu di tangan Tama. "Makasih."


"Sama sama." Tama menatap sang istri yang berlari kecil menuju fakultas hukum. "Lucu," Ucap tama seperti itu. 


***


Saat jam istirahat, Elsa pergi ke mesjid bersama dengan Ira dan Abdul. Juga dua temannya yang lain. Kali ini mereka juga punya tugas untuk meminta tanda tangan dari Ketua BEM, ketua DPM dan ketua HMP di name tag. Itu akan menjadi syarat supaya mereka bisa masuk lagi ke dalam ruangan. 


Saat Elsa sedang wudhu dan keluar, dia kaget mendapati teman temannya sudah mendapatkan satu tanda tangan. "Woy! Kok gak kasih tau gue sih?!"


"Lu tadi lagi di kamar mandi. Lagian baru satu kok. Baru kak Rizky doang."


"Mana orangnya?"


"Tadi ke tempat wudhu cowok. Nanti aja lagi kan bisa." Saran salah satu temannya. 


Namun Elsa tidak mau tertinggal. Jadi dia melangkah ke tempat wudhu pria. Mencari sang ketua BEM yang namanya Rizky. Salah dirinya juga yang tidak memperhatikan sepanjang acara perkenalan hingga tidak tau mana yang ketua BEM itu. 


"Nyari siapa, dek?" Tanya salah satu pria yang memegang PDH di tangannya. Ah, dia juga anggota BEM. 


"Nyari Kak Rizkya, kakak kenal gak?"


"Minta tanda tangan, kak. Buat syarat masuk ruangan."


Pria itu terkekeh. "Emang belum pernah ketemu sama ketua BEM? Atau kamu gak perhatiin pas perkenalan?"


"Heheeh, ngantuk, Kak." Elsa malu. "Dia yang mana ya?"


"Yaudah sini kakak tanda tangan," Ucap pria itu mengambil name tag milik Elsa. 


Elsa hendak protes, tapi pria itu lebih dulu memperlihatkan PDH nya dengan nama Rizky. "Udah sarapan?"


"Hah? Udah, Kak."


"Bagus, jangan sampe kamu lapar lagi kayak sebelumnya ya. Nah, ayok sholat."


Baru juga Elsa hendak mengucapkan Terima kasih, lebih dulu dia mendengar deheman dari seseorang yang baru selesai berwudhu. Saat menoleh, ternyata itu suaminya. 

__ADS_1


"Siang, Pak," Sapa Rizky. 


"Siang," Jawab Tama. "Jangan ngegodain adik tingkat. Fokus sama proker kamu, saya masih nunggu perkembangannya."


"Iya siap, Pak," Ucap Rizky langsung menelan salivanya kasar. 


Sementara Elsa menatap bingung pada sang suami. Sampai akhirnya Elsa masuk mesjid dan sholat, dia kaget karena Tama yang menjadi imam di depan. Dan suara indah pria itu membuat Elsa terdiam sejenak. Merdu sekaliiii! Elsa jadi meleleh! 


***


Pulang Bamba, Elsa diminta untuk menunggu diparkiran oleh Tama. Namun, pria itu tidak kunjung datang juga padahal ini sudah lama dan Elsa pegal bersembunyi terus. Menarik napasnya dalam, Elsa berdiri dari sebelumnya terus saja berjongkok. Dia melihat ke sekitar. Katanya lima menit, kenapa lama sekali? 


"Elsa? Belum pulang?"


Pria ini lagi, si ketua BEM. 


"Belum, Kak. Nungguin temen."


"Oh, masih lama gak? Udah mau hujan kayaknya ini. Pulangnya kemana emang?"


"Ke perum Butterfield, Kak."


"Searah tuh. Mau bareng gak? Takut kehujanan."


"Enggak, Kak. Nungguin aja," Ucap Elsa menolak. 


Namun salah satu teman Rizky keluar dari ruangan lembaga. "Dekan sama antek anteknya lagi pada rapat. Gak bisa sekarang ajuinnya. Nanti aja lah, kita mending pulang aja."


"Lagi rapat, Kak?" Elsa tertarik dengan pembicaraan itu. 


"Iya, kenapa emang? Lu mau ada urusan ke sana?"


"Woy jangan kasar." Rizky memperingati. "Dia sama gue."


Dan itu berhasil membuat temannya langsung minta maaf dan pergi. "Yakin gak mau bareng? Udah mau hujan, Sa."


Elsa memang menunggu cukup lama. Bahkan hampir setengah jam. Dia juga lapar dan pegal ingin tidur setelah seharian dirinya Bamba. Mengirimkan pesan pada Tama, pria itu malah ceklis satu. Ya sudah, Elsa nebeng saja dengan Rizky daripada menunggu yang tidak pasti. "Gak papa ikut, Kak?"


"Iya ayok."

__ADS_1


Sungguh, sekarang Elsa sangat lelah dan ingin tidur. 


***


__ADS_2