
Kali ini Elsa benar-benar ingin menjadi seorang istri dari Tama. Bagaimana dia bisa menolak apabila tamak selalu memberikan perhatian yang lebih padanya.
Seperti sekarang pria itu memaksa Elsa untuk pergi ke perpustakaan bersama dengan dirinya, Tama memberikan pelajaran pada Elsa supaya istrinya itu memahami dengan baik apa yang akan dihadapinya.
"Paham kan? Katanya mau jadi advokat kayak papa kamu?"
Elsa mengangguk dengan kuat. "Aku pengen Jadi pengacara biar bisa bantu orang kayak papa."
Tangan Tama terulur mengusap rambut Elsa dengan penuh kasih sayang. "Makanya harus belajar dengan rajin aku bantu tiap malam. Ada juga beberapa kenalan pengacara. Mau ketemu nggak sama mereka?"
"Nanti aja ah, aku juga baru masuk kuliah Masa udah langsung ke sana. Belum tahu apa-apa juga, nanti malu mau ngomong apa sama mereka."
"Kan ada Mas, seenggaknya kamu bisa tahu ranah pengacara itu kayak gimana."
"Belajar aja kayak gini sama kamu."
"Ya udah iya kayak gini aja." Tama mencium Puncak kepala Elsa dan membuat perempuan itu tersipu.
Sama juga sadar Elsa sekarang sedikit lebih pendiam, mudah memalu dan pipinya memerah. Namun sayangnya belajar lama-lama membuat Elsa penat juga, dia menguap dan meminta Tama untuk menghentikannya.
"Satu bab lagi kita selesai kok. Tadi aja kamu semangat menggebu-gebu."
"Tadi kan masih segar Sekarang udah capek. Mana tadi masak juga lama, Mas pulangnya lama juga."
"Kok jadi marah-marah sih cantik?"
Seketika api kesal itu padam. "Cantik-cantik apanya, sering disebut kribo juga."
"Kan itu daya tariknya, kamu itu berbeda. Cantik banget."
Elsa memilih untuk membaringkan kepalanya di atas meja, posisi mereka itu duduk di depan meja kerja milik Tama. "Udah ngantuk." Elsa pura-pura memejamkan matanya karena tidak kuat.
Tama terkekeh melihat kelakuan Sang istri, dia akhirnya memindahkan Elsa dengan cara menggendongnya dan membaringkan di atas ranjang. Menarik Elsa ke dalam dekapannya ketika mereka sudah berada di atas kasur.
Kenyamanan Ini baru pertama kali dirasakan oleh Elsa. Dia sebelumnya belum pernah memiliki pasangan, dan Tama seolah pengganti dari ayah dan juga kekasih hati yang sebelumnya kosong.
"Ya udah sekarang tidur. Besok kan masih ada kuliah."
Elsa mengadahkan kepalanya. "Besok aku mau ke rumah Mama nggak papa?"
"Nggak papa dong cantik, mau mas antar?"
Nggak usah. Besok itu cuma ada satu mata kuliah soalnya yang satu lagi dosennya nggak masuk. Jadi mau pulang duluan."
__ADS_1
"Kalau ada apa-apa di kampus, ada yang bully atau memojokkan kamu langsung bilang. Bukan maksud kamu mengadu, tapi hal-hal yang kayak gitu juga harus di minimalisir. Kalau mau cari aman jangan deket-deket sama Rizky, orang itu emang punya banyak fans."
Pipi Elsa semakin memerah, Apakah Tama tahu kalau Rizky itu beberapa kali mendekatinya? Apa pria itu cemburu padanya?
"Ngerti nggak? Suami kamu ini dekan loh."
"Iya Mas dekan. Udah ah mau tidur." Elsa mencoba untuk terlihat tidak peduli.
Tama meraih dagu sang istri. "Biar tidur nyenyak," ucap Tama sambil mendekat dan mengecup pelan bibir Elsa. "Terima kasih buat makanannya istriku."
Sederhana tapi mampu membuat jantung Elsa berdebar-debar.
****
Kini yang ada di dalam pikiran Elsa hanyalah bagaimana menjadi istri yang baik untuk Tama. Karena pria itu adalah pilihan dari sang ibu, maka Elsa akan menerimanya dan mengharapkan Tama adalah satu-satunya pria yang akan menemaninya sampai akhir.
"Lu mau ke mana?" tanya Ira melihat Elsa yang buru-buru.
"Mau pulang nih, ada yang harus gue kerjain."
"Nggak mau hangout dulu sama kita?"
"Enggak soalnya ini lebih penting demi masa depan gue."
"Nggak usah, Kak. Aku udah pesen."
"Kenapa nggak bilang aja sama kakak teman kakak kan juga pengendara taksi online? Nggak harus nunggu kayak gini loh."
Elsa ingin mempertegas kalau dirinya akan memilih Tama, Dekan Fakultas Hukum itu telah meraih hatinya dengan memberikan perhatian-perhatian yang menghangatkan hati. "Nggak deh, Kak, akhir-akhir ini pasangan aku sensitif banget. Padahal jalan sama teman juga suka disangka yang aneh-aneh."
"Oh ya ampun maaf, Kakak selalu lupa kalau kamu itu udah punya pasangan."
"Nggak apa-apa, Kak."
Pula dengan Rizky itu banyak sekali rintangannya, dimulai dari para fans dan juga anggota BEM yang mengaguminya.
Begitu Elsa sampai di rumah mamanya, dia langsung membuka pintu dengan keras hingga membuat dua wanita paruh baya di dalam rumah terkejut.
"Mama Elsa pulang!"
"Udah murtad kamu?!" Mama Wina menatap dengan tajam.
"Hehehe. Assalamualaikum." Elsa terkekeh dan mendekati sang mama, memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Kemarin mertua kamu nelepon sama mama, kamu mau jadi istri yang baik ya?"
"Mama mau Elsa jadi istri yang durhaka?"
"Ya nggak gitu juga, samijan." Mama Wina memutar bola mata malas dan melepaskan pelukan sang anak. "Mama mau bikin pesanan tetangga dulu, kamu jangan ganggu."
"Elsa ke sini ada tujuan, Ma, pengen belajar masak dan lain-lainnya juga."
"Ganti baju dulu sana kamu bau asem. Gimana mau jadi istri yang baik Kalau kamu aja kayak gini."
Kalau dulu Elsa tidak pernah memasukkan kritik orang lain pada hatinya, sedangkan sekarang dirinya langsung pergi ke kamar dan berdandan sewangi mungkin, secantik mungkin supaya bisa merubah pandangan sang mama.
Mama Wina meninggalkan pekerjaan itu dengan sang pembantu karena ingin melihat, apa yang sedang dilakukan sang anak.
Elsa sepertinya tidak menyadari Mama Wina yang berdiri di ambang pintu dan sedang menatapnya.
"Mas Tama suka nggak ya kalau gue kayak gini? Atau harus dilurusin aja?"
"Nggak usah ubah diri kamu buat dikagumi orang lain. Mending disukai apa adanya."
"Mama kayak jin aja suka tiba-tiba muncul."
"Eh Emang kamu suka lihat jin!" tatapan lembut Mama Wina langsung berubah seketika, datang mendekat pada Elsa kemudian mencipta kepala anaknya. "Jangan ngomong sembarangan kamu."
"Sakit tahu, Ma."
Mengambil duduk di bibir ranjang dan menatap sang anak yang kembali menyisir.
"Elsa itu pengen jadi istri yang baik, sekarang nggak usah sembunyi-sembunyi lagi juga nggak apa-apa. Ditambah lagi Elsa pengen mas Tama betah di rumah. Terus akhir-akhir ini Elsa ngebayangin kalau kita punya anak loh. Gemes banget tahu." membayangkannya membuat kepala Elsa menggeleng-geleng, dan itu menyebabkan rambut kribonya bergetar.
"Kenapa tiba-tiba pengin jadi istri yang baik?" suara Mama Wina melembut. "Tama udah cerita emang?"
"Cerita apa?" Elsa jadi kebingungan.
Mama Wina langsung mengalihkan pandangan. "Cerita kalau kamu itu kribo."
"Ih Mama! Daripada ledek aku mending bantuin aku deh."
"Dulu siapa yang nggak pengen sama aki-aki."
"Ya kalau aki-akinya modelan Mas Tama yang selalu perhatian mah, mau gimana lagi. Mana dia Dekan Fakultas Hukum, paket sempurna pokoknya mah." senyuman Elsa melebar.
Mama Wina tersenyum kecil melihat sang anak. "Iya kita harus bersyukur dan kamu juga harus berbakti sama suami kamu, karena Tama yang membuat kita selamat."
__ADS_1
Akhir kalimat itu dikatakan oleh Mama Wina tanpa suara, mengelus dadanya yang terasa sesak kalau mengingat apa yang terjadi di masa lalu. "Cintai Tama ya," pinta Mama Wina.