Benang Merah Pak Dekan

Benang Merah Pak Dekan
Kesempatan


__ADS_3

Apa yang terjadi di antara Tama dan juga Elsa itu didengar oleh Bunda Ine. Sosok itu langsung nelpon Tama yang sekarang ada di kampus, menanyakan tentang kebenaran Elsa yang ingin berpisah.


"Kamu tahu kan kalau niat Bunda buat nyatuin kalian itu biar kamu move on? Tapi Elsa malah bilang kalau dia akan ganti rugi, Bunda nggak mau hal itu. Bunda cuma mau dia nemenin sisa hidup kamu."


"Tapi ini nggak mudah, Bunda." bahkan untuk berbicara dengan Bunda ini, Tama harus mengambil waktunya sendiri dan duduk di ruangannya. Menampilkan wajah yang lelah. Dia bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Langkah apa yang harus dirinya ambil di saat Elsa tersakiti oleh sikapnya.


"Kamu sayang kan sama Elsa? Kamu sayang sama dia sampai kamu membela dia, kamu lindungi dia dan biaya semua kebutuhan hidupnya."


Tama terdiam, pikirannya tidak bisa diprediksi.


"Kamu sayang sama Elsa, cuma kamu tertutup oleh rasa bersalah sama Kharisma. Tapi Kharisma udah nggak ada, hidup tetap berlanjut. Dia akan lebih kecewa kalau kamu hidup terus kayak gini, kamu harus melanjutkan hidup, Tama."


"Tapi Elsa nggak bahagia sama aku, bun."


"Karena kamu nggak memperjuangkan kebahagiaannya. Kamu udah mencintai Elsa, kamu udah menyayangi Elsa, cuma kamu merasa bersalah aja sama kharisma dengan pikiran kalau kamu menghianati Kharisma hanya karena kamu menikahi anak yang membuat dia meninggal dunia."


"Tama Butuh waktu buat berpikir."


"Sampai kapan? Sampai Elsa bersama dengan pria lain?"


Kalimat itu mampu membuat Tama terdiam, pria lain yang seperti apa memangnya? Bukannya Elsa akan fokus pada pelajarannya dan meraih mimpinya?


"Coba bayangin, kalau misalnya Elsa sama pria lain apa kamu akan terima? Dulu waktu kamu kuliah aja, kamu selalu minta kabar dia tiap waktu. Kalau Elsa sakit, kamu selalu panik. Kalau Elsa dekat sama cowok lain, kamu selalu memperingati Ibu Wina supaya jaga Elsa. Kamu sadar nggak sih selama ini?"


"Nanti tambah hubungi Bunda lagi ya, sekarang masih di kampus."


"Bayangkan hal terburuk ya, nak. Bagian di mana kamu udah nggak bisa memiliki Elsa lagi dan dia bersama dengan pria lain."


Perkataan Bunda ini terkait Elsa yang bersama dengan pria lain itu cukup mengganggu. Akankah dirinya Rela?


Dan pikiran itu terbawa sampai Tama dalam perjalanan pulang ke rumah. Ketika lampu merah, Tama melihat Elsa sedang berada di cafe bersama dengan teman-temannya.


Dan sosok yang duduk di dekat Elsa adalah si ketua BEM. Dia merusak rambut Elsa penuh dengan kasih sayang, dan Elsa menerimanya dengan senyuman sebagaimana perempuan itu selalu tersenyum pada Tama.

__ADS_1


Hatinya bergejolak, tidak rela apalagi Elsa adalah istrinya.


Namun Tama tidak ingin egois, dia pulang ke rumah mengabaikan perasaan di dalam hatinya.


Sampai akhirnya dia merasakan kekosongan ketika masuk ke dalam rumah, tidak ada tangan yang membentang lagi menyambut dirinya, apalagi senyuman manis seorang Elsa yang berlari hingga membuat rambutnya bergoyang.


Tidak ada lagi.


Dan itu membuat nama Kehilangan, ketakutan apalagi dengan bayangan Elsa akan melakukan hal manis tersebut pada orang lain.


Terlambatkah dirinya untuk meminta maaf? Untuk menyadari perasaannya?


***


Di sisi lain, Elsa memilih untuk pulang ke rumah mamanya. Pembicaraan bersama dengan tema itu dia anggap untuk terakhir kalinya.


Elsa kasihan dengan tama, pria itu seharusnya bebas dan tidak menjadikan dirinya sebagai beban dalam hidupnya. Kebahagiaan dirinya adalah tanggung jawab sendiri, Tama tidak perlu ikut campur lagi.


Namun ketika Elsa sedang asik berbaring di atas ranjang sambil menonton, mamanya tiba-tiba masuk dan mengatakan, "ada Tama di bawah katanya dia mau ajak kamu keluar. Mau nggak?"


"Ya Mama juga nggak tahu. Mau atau enggak?"


Elsa curiga ada sesuatu yang penting ingin dibicarakan, dia takut jika Tama tiba-tiba memberikan Nominal uang yang harus dia bayar. "Nggak papa deh mau ikut aja."


"Nah gitu dong, kalau bisa goda Tama biar dia jatuh cinta sama kamu."


"Ih Mama apa-apaan sih!" Elsa mendengus tidak suka.


Ketika keluar dari kamar, Elsa mendapati Tama yang menunggu di ruang tamu. "Mau ke mana Mas?"


"Jalan-jalan aja, sekalian ada yang mau aku omongin sama kamu."


Elsa mengangguk saja, dia membayangkan uang yang akan diajukan pasti miliaran. Sementara Tama terus saja teringat dengan interaksi Elsa dan juga Rizky di cafe tadi. Terlihat asik dan juga membuat hatinya panas.

__ADS_1


Apalagi perkataan Bunda Ine, bagaimana jika pria lain yang melakukan hal manis pada Elsa?


"Mas mau ngomong apa?"


"Kita cari tempat dulu ya."


"Oke."


Sampai Elsa dikagetkan ketika mobil berhenti di sebuah Kompleks pemakaman. Dirinya tidak akan diapa-apakan bukan? Atas sebesar itu uang yang harus dia ganti sampai Tama akan mengancamnya dengan kematian?


"Hati-hati jalannya." Tama mencoba meraih tangan Elsa.


Tapi perempuan itu menariknya dan menggeleng. Dia tidak mau hatinya semakin terluka dan ingin terbiasa bisa sendiri. "Aku ngikutin Mas dari belakang aja," ucapnya demikian.


Dan itu semakin menjadi tamparan tersendiri untuk Tama dalam mengambil langkah. Ternyata makam yang mereka datangi adalah makam Kharisma, yang memiliki tanggal kematian yang sama dengan ayah Elsa.


"Dia Kharisma, wanita dari masa lalu yang menjadi objek pertengkaran kita waktu itu."


Elsa terdiam, kebingungan harus berkata apa.


"Dia wanita yang baik, cinta perTama aku. Dan dia yang membuat aku menyangkal semua langkah masa depan yang ingin aku ambil. Semakin melangkah dan larut dalam pernikahan kita, aku ngerasa semakin bersalah sama dia. Merasa menghianati dia."


"Apalagi aku anak dari orang yang membunuh dia kan?" Elsa tersenyum miris.


"Itu kecelakaan." Tama segera mengoreksi. "Jujur saja, aku merasakan kebahagiaan ketika bersama dengan kamu, ingin melangkah memiliki masa depan yang penuh dengan kehangatan keluarga. Rasa cinta untuk kamu? Aku rasa aku memilikinya, Aku cinta sama kamu Elsa, bukan sebagai seorang Kakak pada adiknya, tapi seorang pria pada wanita."


Elsa kaget mendengar Pengakuan itu secara tiba-tiba. Dan lagian kenapa harus menyatakannya di pemakaman seperti ini?


"Maaf terlambat untuk menyadarinya, maaf membuat kamu kecewa dan bahkan aku belum minta maaf karena membentak kamu." Tama menelan salivanya kasar, dia takut tidak diterima oleh Elsa. "Tatapan aku saat kamu menyatakan cinta, itu adalah tatapan takut. Aku takut menghianati Kharisma, mengecewakannya."


Elsa tersenyum dengan manis. "Aku udah bilang, Mas, lepaskan apapun yang membuat kamu nggak nyaman termasuk mencintai aku. Aku nggak akan maksa. Jika pun ada rasa cinta di antara kita, mungkin perpisahan yang terbaik supaya kamu nggak ada rasa bersalah pada siapapun."


"Tapi kali ini aku ingin egois. Aku ingin masa depan yang baik. Aku ingin keluarga yang hangat. Aku ingin bayi-bayi kecil di antara kita. Masihkah ada kesempatan untuk aku?" Matanya menatap Elsa penuh permohonan, tangannya terulur meraih cemari itu. "Tolong beri aku kesempatan."

__ADS_1


Elsa terdiam. Dia harus berbuat apa sekarang? Bahagia dan juga kaget di saat bersamaan, tapi Elsa masih bingung dengan langkah yang akan diambil.


__ADS_2