
"Nggak diapa-apain." bisa bahaya kalau Elsa mengatakan kebenarannya, lagi pula dirinya tidak terluka sama sekali.
"Dikeroyok kan kamu?"
"Mana ada dikeroyok. Lihat aja aku sekarang nggak kenapa-napa."
Tama mendekat dan memeriksa seluruh tubuh Elsa, membalik badannya memastikan tidak ada lebam di bagian-bagian yang berpotensi.
"Nggak ada kan? Udah ah nanti ada orang yang lihat. Mereka mikir macam-macam lagi."
"Emang makin apa? Orang kita suami istri."
Elsa menggelengkan kepalanya dan tetap mendorong pelan sang suami. "Aku mau ke kelas lagi masih ada satu mata kuliah."
"Nanti pulangnya mau dianterin dulu nggak."
"Nggak usah deh. Biasanya juga aku naik taksi."
"Kan aku bisa nganterin kamu dulu. Sekalian makan siang di luar. Mau?"
"Enggak. Aku mau masak aja di rumah. Pergi dulu ya."
Ketika Elsa hendak melangkah, tangannya tetap ditahan oleh Tama. Dia menarik sang istri mendekat kemudian mengecup pipinya. Elsa kaget bukan main, sampai matanya membulat. Tapi dia malu-malu juga, dan menyukai hal itu.
"Pipi kamu pahit. Pakai foundation apa?"
"Ih nyebelin banget deh." sebelum memukul, Tama lebih dulu menarik Elsa ke dalam pelukannya.
"Bercanda kok. Orang manis gini." mengusak rambut sang istri. "Belajar yang rajin." kemudian pergi lebih dulu.
Elsa yang tersadar itu segera menggelengkan kepalanya. "Nggak ada orang yang lihat kan?" untungnya benar-benar tidak ada siapapun di sana.
Elsa segera kembali ke kelas dengan pipi yang memerah karena malu, bisa-bisanya sang suami melakukan itu padanya di tempat umum.
"Elsa habis dari ini mau ke mall lagi nggak?"
"Enggak, gue mau pulang langsung. Ada yang harus gue kerjain."
"Boleh ikut nggak? Kita-kita pengen main bareng sama lu. Kalau nggak ada lu soalnya nggak ada hiburan."
"Lu pikir gue pelawak apa? Nggak boleh. Gue ada urusan. Nanti aja lagi."
Karena Elsa ingin belajar memasak untuk sang suami dan membuat Tama betah berlama-lama di rumah.
__ADS_1
Jadi begitu selesai jam perkuliahan, Elsa segera kabur sebelum teman-temannya membawanya pergi. Dia duduk di halte sendiri menunggu taksi online menjemputnya.
Sampai mobil yang dia tunggu datang, Elsa mendekat saat kaca diturunkan. "Loh Kak Rizky?" dia kaget dan segera memeriksa plat nomor. "Kakak suka ngojek online juga?"
"Teman kakak yang harusnya datang ke sini. Tapi dia diare makanya Kakak yang gantiin. Niatnya hari ini nggak akan online, tapi udah keburu masuk orderan."
"Ya udah nggak apa-apa aku cancel aja, Kak. Nanti aku cari yang lain."
"Nggak usah ayah masuk aja. Terlanjur kamu udah di sini, Kakak juga mau anterin kamu kok."
Jika sudah seperti ini, Elsa masuk saja. Rizky juga sedang melakukan pekerjaannya. Duduk di depan bersama dengan Rizky, membuat pria itu tersenyum sendiri. "Jarang banget kita keluar berdua kayak gini."
"Hehe. Soalnya nggak ada perlu."
"Kalau kakak ajak kamu main. Boleh nggak?"
Elsa bingung bagaimana menjawabnya, dia tidak tahu apakah benar Rizky menyukainya. Jadi akan terasa aneh kalau Elsa tiba-tiba mengatakan dirinya sudah memiliki pacar. Sampai sebuah ide masuk. "Nggak tahu Kak, aku harus izin dulu sama pasangan aku."
"Kamu udah punya pasangan?" Rizky terlihat terkejut.
Elsa mengangguk. Ini satu-satunya cara supaya Rizky memberi jarak dengannya. Lama-lama Elsa tidak tahan juga.
"Nggak apa-apa sih, ya nanti kita jalan nggak berdua aja. Ajak juga teman-teman kamu sekalian diskusi tentang perkuliahan," mengucapkan kalimat itu dengan tenang meskipun hatinya gundah dengan pernyataan yang dikatakan oleh Elsa. "Kakak kira kamu belum punya pasangan. Udah lama pacaran?"
Rizky benar-benar tidak menyangka. Teleponnya berbunyi sebelum membalas kalimat Elsa. "Nggak papa kan ke rumah kakak dulu bentar? Ada yang harus kakak ambil soalnya."
"Nggak papa kok, Kak."
***
Pergi ke rumah Rizky lebih dahulu. Elsa cukup terkejut melihat rumah yang begitu besar. Ternyata Rizky ini seseorang yang kaya. Mempersilahkan Elsa masuk, disana juga ada pembantu yang menyambut mereka. "Kamu mau minum apa?"
"Nggak usah, Kak. Tunggu aja di sini."
"Bentar ya." naik ke lantai dua, sepertinya ada yang harus dibawa oleh Rizky.
Sibuk dengan ponselnya sendiri, Elsa mendengar pintu utama terbuka dan seseorang masuk.
"Elsa ya?"
Kaget juga Kenapa ada yang mengenalinya. "Iya, Om." ini Ayahnya Rizky atau bagaimana karena terlihat masih sangat muda. "Kok kenal?"
"Saya Yuda, temennya Tama." saat Elsa terkejut, Yuda segera mengatakan, "Nggak papa kok saya nggak akan kasih tahu siapapun. Rizky nggak tahu berarti ya kalau kamu istrinya Tama?"
__ADS_1
Elsa mengangguk dan kembali duduk saat pria itu juga duduk.
"Tama beberapa kali cerita tentang kehidupan pernikahannya. Saya ini teman baiknya Tama. Jadi sedikit banyak saya tahu tentang kamu, apalagi tentang kerandoman kamu, Tama bilang kamu lucu."
Elsa jadi tersipu mendengarnya, berarti sang suami sering membanggakan dirinya di hadapan orang lain? Tunggu, Elsa kan tidak bisa masak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya. Apa Tama juga mengatakan tentang keburukannya?
"Biasanya dia cerita tentang apa aja, Om?"
"Kalau tentang kamu sih ya dan itu aja. Kebanyakan kita ngomongin bisnis."
"Om ini.... Ayahnya Kak Rizky?"
"Bukan saya pamannya, ayahnya Rizky itu kakak saya."
"Oalah pantesan."
Yuda menatap lama pada Elsa, membuat perempuan itu risih juga.
"Udah jatuh cinta sama Tama?"
"Kok tiba-tiba nanya gitu?" Elsa terlihat tidak suka. "Om gak boleh nanyain hal terlalu dalam tentang rumah tangga orang. Ya bukannya saya niat buat nggak sopan sama Om. Tapi saya nggak mau ditanyain hal begituan."
Yuda tertawa karena dia mendapatkan jawabannya, Elsa sudah jatuh cinta pada Tama. Pria itu menarik nafasnya dalam. "Saya baru buka cafe di daerah kamu. Ini vouchernya barangkali Kamu mau datang dan makan gratis."
Berhasil membuat Elsa memekik dan mengambilnya. "Makasih Om! Yang tadi udah Elsa maafin kok, yang Om nanya-nanya nyebelin."
Yuda kembali tertawa. "Iya maaf ya, bagai gantinya datang aja ke sana nanti kamu bisa makan sepuasnya. Cabangnya juga di mana-mana kok, kamu bisa pakai voucher itu di manapun."
"Sekali lagi makasih, sering-sering ya titipin ini sama Mas Tama."
Bahkan memanggilnya saja sudah Mas, Yuda jadi menarik nafasnya dalam. "Lama-lama dia juga pasti bakalan luluh dan membuka hatinya kok."
"Ngomong apa?"
"Nggak papa."
*Om ngapain kesini? Jangan godain temennya Rizky. Mentang jomblo," ucap Rizky yang turun dari lantai dua.
Elsa melirik pada Yuda. "Pantes aja nanya gitu, dia jomblo dan nggak tahu gimana uwu uwunya udah nikah."
Yuda yang mendengarnya hanya tertawa. "Om cuma nyapa temen kamu kok, kebetulan mukanya pasaran jadi Om sapa. Ternyata salah orang. Hahaha."
Elsa membulatkan mata, ternyata tama sama dengan teman-temannya yang menyebalkan seperti ini.
__ADS_1