
Tama tidak tau kemana dirinya harus pergi. Tapi kali ini pikirannya tetap saja terpaku pada Elsa. Sang istri tersakiti karena ulahnya, dia menangis dan menginginkan perpisahan. Dalam perjalanan, Tama malah mengingat bagaimana gadis kecil itu menangisi makam ayahnya yang baru saja dikuburkan. Tama tidak pernah berjanji pada sosok yang telah meninggal itu untuk membela Elsa dan melindunginya dari keluarga Karisma. Namun, tetesan air mata Elsa menyakiti hatinya. Memanggil nama sang ayah dan mengatakan kalau saat dirinya dewasa akan menjadi orang hebat pula.
Saat itulah Tama memerangi keluarga Karisma, mereka mengatakan Tama itu bodoh, pengkhianat karena telah membela keluarga yang seharusnya mendapatkan pelajaran atas kesalahan. Namun, Tama rela merogoh uangnya sendiri demi menutup Elsa dan Ibu Wina dari rencana jahat mereka untuk menjadikan Elsa dan Ibunya jadi pembantu di rumah mereka.
Anak ini punya masa depan, dan Tama yang menjaminnya dari tahun ke tahun. Memastikan keluarga Karisma tidak pernah menyentuh Elsa dan membiarkannya tumbuh dengan baik.
Namun, Bunda Ine memandang kalau kebaikan yang dilakukan olehnya sudah diambang batas. Jadi dia meminta Mama Wina untuk memberikan Elsa sebagai menantu keluarga mereka sebagai ganti rugi. Padahal Tama tidak pernah mengharapkan imbalan apapun dari hal tersebut, dia sudah merasa bahagia membesarkan dan menjamin masa depan seorang anak manis.
Sayang? Tama menyayangi Elsa dengan cara yang lain. Mungkin seperti kakak pada adiknya? Tapi sekarang, Tama merasakan hatinya telah berubah meskipun dia sendiri bingung ke arah yang mana. Dia menyesal melihat Elsa tersakiti.
Selama bertahun tahun hidup tanpa Karisma dan merasa hampa, Tama terbiasa dengan Elsa. Dia ingin membahagiakan perempuan itu.
“Pak,” ucapnya pada gundukan tanah. “Assalamualaikum, maaf saya baru datang sekarang.”
Makan yang didatangi adalah makam ayah Elsa. “Saya sudah menepati janji untuk melindungi Elsa dari keluarga Karisma. Dia akan tumbuh menjadi wanita yang hebat. Namun dalam prosesnya, dia malah harus menikah dengan saya karena tuntutan keluarga saya. Saya minta maaf karena hal itu tidak pernah ada di dalam rencana,” ucap Tama terdiam beberapa saat.
Dia menelan salivanya kasar. “Saya ke sini untuk meminta maaf karena menyakitinya. Harusnya saya melindunginya, tapi saya malah menjadi orang yang menyakitinya.” Matanya terpejam. “Saya akan memperbaikinya.”
Setelah dari makam ayah mertuanya, Tama langsung pulang ke rumah menunggu bagaimana hasil dari mama mertuanya. Dan dalam keadaan yang sedang tidak baik seperti ini, Yudha malah datang padanya dengan membawakan beberapa buah dan makanan. “Lah? Istri lu gaada? Tadinya gue kasih ini buat dia. Kenapa? Dia kabur? Tau sesuatu?”
Tama sampai pusing mendengar suara temannya itu. “Kalau mau masuk, masuk aja. Gue males ngomong sama siapapun.”
“Tuh kan, Tam. Udah gue bilangin kalau hidup terus berjalan. Lagian lu udah sayang sama Elsa sebagai adik kan? Tinggal naikin jadi suka sebagai wanita. Kenapa sih?”
__ADS_1
Tama mengabaikan dan tetap naik ke kamar. Yudha sebagai tamu jelas kebingungan di sana. “Atau gue kasih tau si Rizky aja ya kalau gebetannya udah jadi calon janda?” gumam Yudha memilih berdiam dulu di rumah Tama.
Bermain game dan memanfaatkan wifi yang ada. Bahkan Yudha malah menginap di sana, dia takut kalau Tama akan bunuh diri karena frustasi.
Sampai pagi tiba, Yudha dibangunkan karena sebuah mobil memasuki pekarangan rumah. Dia bergegas keluar. “Loh Elsa?”
“Om Yudha? Kok di sini? Elsa gak salah masuk rumah kan?”
“Ehehehe, Om nginep.”
***
“Udah tau kebenarannya kah?” tanya Yudha. “Nebak aja sih. Soalnya kan kalian ribut terus sekarang akur lagi.”
“Om, Mas Tama itu... pacarnya Karisma aja?”
“Hem, cinta pertamanya. Tapi yang terakhir kayaknya kamu deh.”
“Ah, akumah enggak.” Elsa menggaruk kepalanya yang terasa aneh. “Aku gak akan nuntut apa apa sekarang, mau lepasin dia,” ucapnya dengan ceria. “Om segera pulang ya, Elsa mau ngomong sama suami soalnya.”
“Walah diusir nih. Okay deh. Tapi perlu tau, Sa. Kalau dia juga sayang sama kamu, tapi mungkin...”
“Bukan sebagai wanita? Iya udah paham kok.”
__ADS_1
Tapi kali ini Elsa menjawabnya dengan senyuman santai dan itu membuat Yudha kagum juga. Elsa naik ke lantai dua dan meminta Yudha segera pergi. “Wah, kalau si Tama gak mau mending sama gue aja. Udah imut, dewasa lagi. Lucu dahhh.”
Sementara itu, elsa masuk ke kamarnya dan sang suami. Melihat Tama yang masih tidur? Hei, ini hari kerja. “Mas Tama!” Elsa mengguncang tubuh pria itu. “Mas bangun ih! Udah siang sana kerja!”
“Elsa?” Tama terlihat tidak percaya. “Elsa?”
“Anna?” elsa sebal malah terus dipanggil. “Meski nyebut nama aku tiga kali, gak akan dapet piring cantik.”
“Kamu beneran ke sini?”
“Iya, aku bikinin sarapan ya. Mas mandi dulu. Aku kan gak ada kuliah, Mas mah tetep masuk nyampe sabtu. Cepetan mandi. Aku tunggu dibawah.”
Masih linglung, tapi Tama pergi ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya sendiri sambil melamun. Ketika keluar dan menuju meja makan, dia melihat Elsa di sana sedang menyajikan sarapan seperti biasanya.
“Makan dulu, abis itu kita ngomong.” Elsa berucap dengan tenang.
Mereka duduk berhadapan satu sama lain. “Jadi... aku udah denger semuanya kok,” ucap Elsa. Dia menghela napasnya dalam. “Makasih ya, Mas. Selama ini udah lindungin aku sama Mama, bahkan aku gak pernah berterima kasih sama kamu tentang hal itu.”
“Elsa....”
“Aku paham kenapa orangtua mas minta aku nebus semua jasa yang kamu berikan, karena gak ternilai. But, aku gak mau memaksakan hati, Mas. Kalau Mas gak nyaman sama aku dan Cuma anggap aku adik, mending kita pisah aja. Nanti aku yang bilang sama Bunda Ine. Buat apa yang udah kamu lakukan, aku mungkin gak bisa ganti, tap akan aku coba.” Elsa tersenyum menatap Tama. “Jangan maksain harus bahagiain aku Mas, aku bahagia kalau kamu juga terbebas dari semua tuntutan itu. Hidup semau kamu, itu punya kamu.”
“Elsa...”
__ADS_1
“Kita pisah ya?” Elsa berucap dengan suara tercekat. “Aku yang tanggung kemarahan Bunda nantinya.”