Benang Merah Pak Dekan

Benang Merah Pak Dekan
Akhir perjalanan


__ADS_3

Untuk malam yang dikatakan oleh Tama berhasil membuat jantung Elsa berdebar-debar. Apa yang akan terjadi nanti malam? Apa dirinya benar-benar akan menyerahkan diri? Ini sedikit menakutkan kalau dipikirkan dari sekarang.


Tidak mempedulikan kehebohan yang ada di fakultas hukum dengan berita kalau dirinya adalah istri dari seorang Dekan Fakultas Hukum hingga membuat beberapa kakak tingkat datang kepadanya untuk meminta maaf karena pernah memojokkan Elsa karena dekat dengan Rizky.


Yang Elsa pikirkan sekarang hanyalah..... Bagaimana malam nanti?


Sampai akhirnya mereka pulang bersama, Elsa lebih banyak diam di dalam mobil.


Namun Tama sudah hidup lebih lama hingga dia tahu apa yang ada di dalam pikiran sang istri. Malam ini, Tama memesan makanan yang enak, dia tidak mau membuat sang istri kelelahan.


Ketika makan malam pun, Elsa lebih banyak diam. "Habis ini langsung tidur, Mas?"


Ingin sekali tamat tertawa dengan pertanyaan, tersebut apalagi mata Elsa yang bulat layaknya Boba. "Mau nonton nggak?"


"Ke bioskop di jam kayak gini."


"Nonton di sini aja, kan di kamar juga ada TV. Sambil istirahat."


Kalau seperti itu Elsa mengangguk semangat. Melupakan sebentar tentang ketakutannya malam ini dan menonton bersama dengan sang suami. Posisi mereka berbaring bersama di atas ranjang, Elsa menjadikan bahu Tama sebagai bantalan.


Dirinya sendiri yang memilih film Disney. Snow White and the Huntsman menjadi pilihannya.


Suasananya begitu mendukung, hujan lebat di luar sana sehingga Elsa sendiri yang mendekat pada Tama dan semakin memeluk sang suami.


"Cantik banget ya Putri saljunya."


"Cantikan kamu lah."


"Aku mah kribo."


"Tapi Mas suka."


Hal itu berhasil membuat Elsa mengadah menatap sang suami, wajah tampan Tama membuatnya tidak tahan untuk mengulurkan tangan. Mengelusnya dengan perlahan Dan Tersenyum. "Mas juga ganteng," ucap Elsa layaknya perempuan yang baru jatuh cinta.


Tidak tahan dengan kegemasan sang istri, Tama mendekat dan meraup bibir Elsa.


Perempuan itu menikmatinya, membiarkan tangan Tama mulai merambat ke beberapa tempat hingga akhirnya posisi Elsa yang sekarang berada di bawah kukungan Tama.

__ADS_1


Elsa terlalu menikmatinya, Bagaimana Tama mencium lehernya dengan tangan yang sibuk membuka pakaian Elsa.


Elsa baru tersadar ketika dirinya tidak mengenakan apapun, dan sang suami menatapnya dengan takjub. Elsa malu dan hendak menutupi tubuhnya, tapi tangannya terhentikan oleh Tama. "Kenapa?"


"Malu."


"Nggak usah malu. Kamu cantik."


"Mas sendiri belum buka baju, kenapa aku yang buka baju sendiri? Kalau aku masuk angin gimana?"


Tama tertawa tidak tahan. "Ya udah kamu yang bukain baju Mas ya."


Dengan malu-malu Elsa melakukannya, melihat bagaimana pahatan otot yang begitu sempurna tubuhnya.


Tubuhnya semakin memanas, akhirnya Elsa menyerahkan diri seutuhnya pada Tama dan membiarkan pria itu memasukinya.


Sakit dan nikmat bercampur menjadi satu. Namun yang membuat Elsa merasa haru di sini adalah Tama yang memperlakukannya layaknya orang yang sangat berharga.


Terus mengatakan kata-kata cinta, memuji dan menciumnya Elsa.


Dan Puncak kehangatan hati itu Elsa rasakan ketika tangan Tama mengelus perutnya dan berucap, "semoga cepat datang di kehidupan mama sama papa."


****


Kehidupan Elsa dan Tama begitu manis setelah keduanya saling terbuka satu sama lain. Tidak ada rahasia lagi, semua orang sudah mengetahui kalau Dekan Fakultas Hukum itu sudah memiliki istri, dan istrinya adalah mahasiswanya sendiri yang baru saja memasuki semester 1.


Karena Elsa kuliah hanya sampai hari Kamis, sementara Tama sampai sabtu, jadi Elsa memutuskan untuk pergi ke rumah mamanya.


Di sana dia selalu belajar beberapa hal, khususnya untuk mendorong diri sendiri menjadi istri yang baik.


Mama Wina selalu membantu, ikut bahagia karena Elsa menemukan Tambatan Hati. Sedang memasak bersama, Elsa selalu membicarakan Tama.


"Kalau kabar keluarga Kharisma sekarang gimana ya?"


"Mereka di luar negeri. Tama itu pintar bukan cuma sebagai dekan aja. Dia akan menguasai hukum, dia juga pewaris perusahaan ayahnya. Jadi dia sengaja mengakuisisi beberapa perusahaan milik keluarga Kharisma hingga mereka nggak bisa Ganggu Kita."


Semakin Elsa mendengar perjuangan sang suami untuk melindunginya, semakin dia mencintai pria itu.

__ADS_1


"Kamu mau langsung hamil atau fokus dulu sama pendidikan?"


"Kalau Elsa sih nggak nunda apapun lagi. Sekarang cita-cita Elsa malah pengen jadi ibu dan istri yang baik. Mas Tama udah jadi advokat."


"Tapi jangan sampai cita-cita kamu yang utama itu luntur."


"Nggak gitu juga, mama. Elsa akan bahagia kalau jadi advokat, tapi lebih bahagia kalau jadi ibu dan istri yang baik. Emang mama nggak akan bahagia kalau punya cucu?"


Mama Wina hendak menjawab, tapi Elsa lebih dulu membungkam mulutnya kemudian berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.


Mama Wina mengangguk. "Lebih bahagia kalau punya cucu sih."


Sebelum diperiksa pun Mama Wina sudah tahu bagaimana keadaan Elsa. Dia segera menghubungi besannya untuk memberitahu kalau mereka akan memiliki cucu.


Mama Wina juga menelpon Tama untuk memintanya membeli tespek jika menjemput Elsa ke sini.


Sementara itu di sisi lain, Tama langsung paham apa yang dimaksud oleh sang mertua. Senyumannya tidak bisa ditahan lagi.


Dan itu membuat beberapa orang yang ada di sana langsung keheranan.


"Pak dekan ini bagaimana? Anak-anak berbuat kekacauan dengan membuat keributan di Pekan Raya fakultas."


"Hehehe."


"Pak dekan?"


"Tokcer banget," ucapnya sambil mengetik pesan pada sang mertua.


"Pak dekan?"


"Jangan khawatir, nanti saya minta tim pengacara saya untuk untuk melakukan penyelidikan. Fakultas Hukum akan aman," ucapnya sambil tersenyum.


Semua orang kaget karena tidak percaya. Pak dekan ini biasanya tidak mengarahkan tim pengacaranya untuk keperluan fakultas, apalagi tidak dibayar.


"Ada berita baik ya pak?"


"Sebentar lagi saya akan menjadi seorang ayah."

__ADS_1


__ADS_2