
Ibu Wina masih dilanda banyak pertanyaan. Mengapa anaknya sekarang begitu giat untuk membantu mencuci piring di dapur? Padahal sebelumnya dia tidak pernah mau melakukannya. "Kamu nggak kenapa-napa kan?"
"Mama itu kenapa sih orang anaknya pengen berubah juga."
"Ya aneh aja soalnya kamu jarang kayak gini. Kenapa sekarang tiba-tiba kayak gini?"
"Dibilangin mau jadi istri yang baik, seenggaknya enggak nyusahin suami harus nyari makan keluar. Gitu loh." Meskipun cara mencuci piringnya masih terlihat aneh, tapi Elsa berusaha sebaik mungkin. Anak ini memang jarang ke dapur, karena Ibu Wina tahu sang anak lebih banyak mengacau.
Tapi sekarang ketika kesadarannya sendiri menginginkan hal tersebut, Elsa terlihat lebih baik dalam mengerjakan hal seperti ini. Udah beres nih cuci piringnya. "Jangan lupa Puji aku kalau lagi sama tetangga, bilangin anaknya pintar cuci piring, pinter juga nyari suami yang kaya, terus ganteng," ucapnya demikian membanggakan dirinya sendiri.
Masih menahan sang anak untuk tidak naik ke lantai dua. "Mama yakin deh kalau ada sesuatu yang terjadi, secara kamu itu jarang banget, apalagi ini malam-malam. Sok sekarang bilang sama Mama kalau kamu nyembunyiin sesuatu."
"Nggak ada ih!" teriaknya dengan kesal. "Elsa cuma nggak mau aja kalau Mas Tama susah gara-gara Elsa nggak bisa apa-apa."
"Berarti kamu siap dong kalau nanti dibisikin doa sama Tama?"
Elsa menegang dan wajahnya terlihat ketakutan, dia menggelengkan kepalanya tidak tahu apa yang harus dirinya jawab. "Mau tidur dulu ah udah malam."
Bergegas pergi ke lantai atas. Ngomong-ngomong besok ternyata ada kuliah, dosen yang katanya tidak masuk ternyata digantikan oleh asistennya. Jadi Elsa harus tidur lebih awal, mengingat jam pagi yang membawanya ke kampus.
Sebelum tidur biasanya dia mendapatkan pelukan dari Tama, seolah menjadi kebiasaan yang membuat Elsa merasa kehilangan sekarang.
"Gila banget padahal baru beberapa hari. Tapi nggak bisa lupa! Soalnya ganteng banget! Hangat banget! Suka banget!" teriak Elsa menenggelamkan kepalanya di bantal.
Jujur saja dia sangat menyukai bagaimana Tama memperlakukannya layaknya wanita berharga. Apalagi Elsa belum pernah berpacaran sebelumnya, dia cukup sadar diri dengan wajahnya yang jelek. "Kasihan banget Mas Tama kebagian orang yang kayak gini! Tapi suka! Elsa suka soalnya makin lama makin manis!"
Tanpa Elsa sadari kalau sedari tadi Ibu Wina menempelkan telinganya mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang anak.
***
Bahkan ketika selesai sholat subuh, Elsa bergegas turun ke lantai bawah untuk membantu Mamanya masak.
"Aaaaa!" Teriak Ibu Wina ketika melihat seseorang yang turun tangga dengan begitu cepat. "Bikin kaget aja tau! Larinya kayak orang yang kesurupan!"
"Mau ikut masak." Elsa tersenyum dengan riang. "Si bibi kapan ke sini lagi?"
__ADS_1
"Nanti sore, dia lagi ada perlu."
Makannya Elsa bisa berbuat sesukanya tanpa ada jaim. "Mau ikut masak, Ma."
Karena Ibu Wina sudah tau niatan sang istri, jadinya dia membiarkan saja Elsa memperhatikan bagaimana caranya masak. Anak itu mudah memahami kalau melakukan apa yang dirinya senangi.
"Hari ini ngampus?"
"Heem, pulangnya juga kerja kelompok. Gak papa?"
"Bilangnya sama suami kamu. Bukan sama Mama. Nih jadi istri ini harus gini." Kemudian sang Mama mulai mengatakan bagaimana Elsa harus menjadi istri yang baik. Tunduk pada suami, karena sekarang ladang pahala Elsa adalah Tama.
Tidak harus menjadi sempurna, namanya juga belajar. Dan Elsa benar benar menerapkannya. Dia mengirimkan pesan terlebih dahulu pada sang suami sebelum berangkat kuliah dengan diantarkan oleh taksi online.
Ketika di kampus juga, Elsa selalu tersenyum sendiri begitu dirinya mendapatkan pesan berupa perhatian perhatian dari Tama.
Mas Tama : Udah makan? Jangan telat.
Begitu ucapnya. Sampai teman temannya kebingungan sendiri.
"Iya ih. Ganggu aja yang lagi jatuh cinta." Seketika Elsa sadar apa yang dikatakannya. Jadi dia membekap mulutnya sendiri.
"Lu jatuh cinta? Sama siapa? Kak Rizky ya? Akhirnya lu baper juga."
"Bukan ih! Bukan kak Rizky!" Teriak Elsa langsung mengalihkan perhatiannya pada makanan di depannya. "Enak banget. Btw hari ini bagian siapa ya?"
"Bagian Pak Tama. Gue takut euy, katanya dia killer." Yulia mengatakan kegelisahan nya.
"Gak usah khawatir, orang dia gak akan masuk."
"Tau dari mana lu kalau pak Tama gak bakalan masuk?"
"Nebak aja," Ucap Elsa segera mengalihkan perhatiannya lagi.
"Ck. El, jangan sampai lu naksir. Kasian gue kalau lu patah hati. Dia kan udah punya istri."
__ADS_1
Dalam hati, Elsa berteriak, "Iyalah, gue istrinya!"
***
Pulang dari kampus, Elsa pergi ke salah satu mall bersama teman temannya. Dimana mereka akan mengerjakan tugas sekalian mencari makanan. Diam di salah satu kedai ramen, mata Elsa terfokus pada ice cream diluar sana. "Gue mau beli ice cream dulu dah sebelum dimulai." Melangkah pergi ke sana. Sambil menunggu antrian, Elsa memeriksa ponselnya barangkali ada pesan dari sang suami
Terakhir kali, Tama mengatakan kalau dirinya akan bertemu dengan pengacara.
"Mau rasa apa, Mbak?"
Sampai tidak sadar kalau dirinya sudah ada di depan. "Mau rasa Choco mint."
"Gak ada, Mbak. Udah abis."
"Yah. Aku nungguin dari tadi loh." Dengan kecewa, Elsa segera berbalik. Tidak mau rasa yang lain.
Sampai seseorang tiba tiba menarik tas ranselnya hingga membuat Elsa hampir jatuh. "Ih kak Rizky kirain siapa."
"Heheeh. Nih ice cream buat kamu. Mau rasa ini kan?"
"Eh, enggak kak. Itukan punya kakak."
"Gak papa. Belum dimakan kok. Tadi adek yang beli, tapi anaknya pulang duluan."
Elsa sih mau, tapi dia malu. Masa mengambil punya orang lain.
"Ini gak papa serius," Ucap Rizky menarik tangan Elsa dan memberikannya. "Yuk ke sana."
"Ke sana kemana, Kak? Aku harus kerjain tugas sama yang lain."
"Iya kerjain tugas. Emang kamu gak tau kalau salah satu temen kamu minta Kakak buat dateng terus bantuin?"
"Aku gak tau."
Ternyata benar saja, kedatangan Rizky disambut baik oleh mereka. Elsa tidak tau, dia menatap Ira meminta penjelasan dan sahabatnya itu hanya mengatakan, "Gue lupa kasih tau. Soalnya ini butuh bimbingan langsung dari kating. Gak papa. Lagian lu dapet ice cream kan itu?"
__ADS_1
"Iya sih." Elsa menghembuskan napasnya berat, masih menunggu kabar dari sang suami lagi. Kapan Tama akan datang?