
Ketika hendak pulang, Elsa kembali mengecek sang suami yang ternyata masih belum mengirimnya pesan. "Ke mana sih ini orang? Tiba-tiba hilang gitu aja." bergumam dengan pipi yang menggembung menahan kesal.
"Elsa, pulang sama siapa?"
"Dijemput Kak," jawab Elsa.
"Oh tadinya mau kakak ajakin." Rizky terlihat sedih
"Sekarang beda kok pulangnya mau ke rumah mama."
"Lah yang dulu kemarin dianterin itu rumah siapa dong?"
Haduh, hampir saja Elsa ketahuan kalau dirinya mengatakan kalau sudah menikah. Jadi Elsa hanya mengatakan kalau itu juga rumah orangtuanya. Yang mana membuat Rizky jadi berfikir kalau orangtua Elsa ini berpisah.
"Elsa yakin gak mau nebeng?" Tawar teman temannya yang lain.
"Enggak ah."
"Oh iya lupa kan ada kak Rizky ya." Ira menatap sang ketua BEM dengan tatapan yang menggoda. "Kalau begitu saya permisi ya, Kak. Makasih atas bantuannya. Titip Elsa, diamah suka gigit orangnya."
Yang mana berhasil membuat Rizky hanya mampu tertawa karenanya. Apalagi ketika Elsa marah marah dikatai seperti itu.
"Kagak ya! Gue mah gak gitu!" Teriaknya penuh dengan kekesalan.
__ADS_1
Hingga hanya tinggal mereka berdua di parkiran mall. Rizky masih setia di samping Elsa. Menatap sosok yang sibuk memainkan ponsel. "Yakin gak mau dianterin?"
"Eh gak usah, Kak. Kakak kalau mau pergi aja." Apalagi Elsa sudah melihat mobil yang akan menjemputnya itu datang. "Duluan ya kak!" Menghindar dari Rizky adalah satu satunya cara supaya dirinya tidak terjerumus ke dalam masalah. Tidak bodoh, apalagi teman temannya mengatakan pada Elsa kalau Rizky menyukainya.
"Ma! Mas Tama belum pulang?!"
"Waalaikum salam, Nak!" Teriak Mama Wina kesal dengan sang anak yang masuk tanpa mengucapkan salam
Elsa hanya terkekeh. datang dan memeluk sosok tersebut. "Mama, masak apa? Kok dikit? Suami Elsa kan mau datang."
"Kata siapa? Dia gak jadi pulang hari ini loh."
"Kata siapa?" Elsa melepaskan pelukannya. "Mama emang tau dari mana?"
"Tadi laki kamu nelpon. Minta sampein ke kamu kalau dia gak akan jadi pulang sore ini. Jadinya besok."
"Kok malah marah sama Mama? Kann suami kamu tau kalau kamu lagi kerja kelompok. Dia gak mau ganggu kamu kayaknya."
"Gak nerima alasan itu. Tetep kesel pokoknya."
Elsa kesal, kenapa tidak memberitahu padanya? Kenapa malah pada sang Mama? Ditambah lagi katanya tidak akan lebih dari satu malam. Nenyebalkan. Hal itu membuat Elsa tidak membalas pesan Tama yang baru saja datang ketika dirinya hendak tidur. Sebuah ucapan selamat malam yang manis, tapi Elsa abaikan. Dia terlalu kesal dengan Tama.
***
__ADS_1
Karena Tama mendengar kabar dari sang ibu mertua kalau Elsa kesal padanya, jadi dia pulang memaksakan diri saat sudah larut malam. Ibu Wina sudah dikabari perihal ini, jadi dia membukakan pintu begitu mendengar suara mobil masuk.
"Maaf ya bu ganggu malam-malam gini. Tadinya mau besok, tapi kayanya mending sekarang aja deh."
"Anak itu emang suka kayak gitu, tiba-tiba ngambek. Pokoknya kekanak-kanakan banget soalnya dulu dimanjain banget sama ayahnya."
Tama hanya tersenyum mendengar kalimat itu, dia masuk ke dalam setelah mencium tangan sang ibu mertua.
"Mau makan dulu nggak?"
"Nggak bu udah tadi. Mau langsung naik ke atas aja." Tama memasuki kamar Elsa di mana sang istri sudah terlelap. Dia pergi ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan diri. Tidak langsung berbaring karena rambutnya harus dikeringkan dengan handuk, berdiri di tepi ranjang sambil melihat kondisi kamar sang istri. Ada banyak sekali foto-foto di sana, Tama berhenti pada sebuah bingkai yang memperlihatkan Elsa sedang dipeluk oleh ayahnya.
Beberapa saat tamat terus menatap itu, akhirnya dia menghela nafas dalam dan memalingkan wajah. Kemudian barulah bergabung di atas ranjang menatap Elsa yang tidur nyenyak dengan suara dengkuran halus keluar dari bibirnya.
Tangan Tama tidak bisa menahan rasa gemas, mencubit pelan pipi sang istri sampai dirinya terkekeh sendiri. "Gemes banget," ucapnya seperti itu dan menarik Elsa ke dalam pelukannya.
Elsa yang merasakan kenyamanan itu langsung membalas pelukan suaminya, menganggap kalau itu adalah mimpi yang begitu indah.
Bahkan ketika subuh mulai berkumandang, Elsa membuka mata lebih dulu dan melihat pemandangan yang begitu indah.
"Mimpinya realistis sekali ya Allah," ucapnya sambil mengelus pipi Tama yang sedang tidur. Kapan lagi nikmatin mimpi," ucapnya kemudian mendekat dan mencium bibir sang suami.
Elsa tidak tahu bagaimana caranya berciuman yang baik dan benar, dia hanya melakukannya asal-asalan. Menyesap bibir yang lumayan membuatnya merasa ketagihan.
__ADS_1
Yang mana membuat Tama membuka matanya karena sesak tidak bisa bernafas, dia kaget ketika tahu apa yang sedang dilakukan oleh Elsa.
"Aduh kayak Yupi," ucap Elsa kembali mencium bibir Tama, tanpa sadar kalau suaminya sudah bangun.