
"Temen temen aku gak ada yang tau kalau aku udah nikah. Jadi… aku agak khawatir kalau keluar sama kamu."
"Gak papa. Aku gak maksa, kalau kamu gak nyaman nanti bisa gak bareng dulu."
Elsa menggelengkan kepala. Mau sampai kapan? Dia sudah menerima pernikahan ini dan juga Tama sudah membuka hatinya. Mereka sudah sama sama saling mencintai. Lalu apa lagi yang harus disembunyikan?
Kali ini, Elsa sudah mengganti menggunakan sprei yang baru. Tidak beli, mereka masih punya stok. Tama hanya refleks saking bahagianya diterima lagi oleh Elsa.
Kembali lagi berpelukan di atas ranjang, Elsa memeluk Tama yang beberapa kali mengecup puncak kepalanya dan memberikan lagi sensasi hangat di hatinya itu. Kembali jatuh cinta pada sang suami.
"Aku mau kita blow up hubungan kita aja. Lagian aku juga gak suka kalau ada kakak tingkat yang suka sama kamu."
Tama terkekeh. "Apa kabar aku yang suka liat kamu lagi sama ketua Bem. Sakit hati banget gak tuh."
Elsa tertawa. Suka pada Tama yang lebih terang terangan sekarang. "Ngaku cemburu ya, Mas?"
"Iyalah, gak suka. Dia ngapain aja ke kamu? Nyatain cinta?"
"Iya, dia nyatain Cinta. Tapi aku tolak kok, Mas. Soalnya cuma kamu yang ada di hati aku sekarang. Kak Rizky juga udah tau kalau aku ini punya seseorang yang aku suka. Tapi dia selalu ada di saat aku sedih."
Tama tidak suka hal itu. "Gak apa kan kalau nanti dia tau tentang kita?"
"Gak papa," Ucap Elsa yang sudah mengantuk. Dia menelusupkan wajahnya ke dada Tama dan mulai menguap. "Ngantuk."
"Tidur aja. Besok gak usah masak ya."
"Kenapa emangnya?" Tanya Elsa dengan mata yang masih mengantuk.
"Ada tukang bubur enak di depan. Kamu pasti suka. Nanti mas yang suruh mereka anter ke sini."
"Terserah mas aja." Karena Elsa sudah merasakan lega dengan Tama yang sudah lebih baik. Jadi dia bisa tidur dengan nyenyak.
Keesokan harinya, Tama benar-benar memesan bubur yang akhir-akhir ini dia sukai. Tapi tidak meminta pedagangnya yang mengantarkan ke sini, melainkan Tama meminta bantuan sang sahabat untuk datang dan membawa bubur supaya mereka bisa sarapan bersama.
Poin pentingnya di sini, Tama meminta Yuda untuk membawa Rizky bersama dengannya. Supaya Tama bisa memperlihatkan kalau Elsa adalah miliknya.
"Cie yang udah akur," ucap Yudha begitu dia tiba di rumah Tama.
"Diem lu. Ayo masuk."
Rizky sebagai mahasiswa fakultas hukum itu berjabat tangan terlebih dahulu dengan tama yang merupakan seorang dekan.
Sebenarnya Yudha sudah tahu apa yang ingin dilakukan oleh Tama, apalagi sahabatnya itu beralibi ingin membicarakan tentang bisnis bersama dengan Yudha, dan membicarakan tentang perkuliahan bersama dengan Rizky.
Padahal setahu Yudha, kalau tanah itu tidak mau membicarakan pekerjaan di luar jam kerja.
"Sarapan di sini aja bareng," ucap Tama. "Sambil kita ngobrolin hal yang penting."
__ADS_1
"Istri lu mana?" tanya Yudha penasaran.
"Masih di atas, tadi lagi mandi." kemudian Tama menatap Rizki dengan tajam. "Kamu tahu kan kalau saya udah nikah?"
Belum sempat Rizky menjawab, Elsa lebih dulu turun dari lantai dua. "Loh kok ada Kak Rizki di sini?" perempuan itu tampak terkejut.
Yudha yang tidak ingin sahabatnya itu dalam masalah langsung berucap, "ada kepentingan mendadak kesini jadi datangnya pagi-pagi sekalian sarapan bareng aja. Nggak papa kan?"
"Nggak papa kok, om, santai aja," ucap Elsa sambil melangkah turun dengan sampai pula. Dia duduk di samping sang suami dan menerima satu mangkuk bubur yang begitu harum.
Hal yang membuat Tama heran di sini adalah Rizky dan juga Elsa yang tidak terkejut satu sama lain.
"Elsa ini istri saya," ucap Tama sambil menatap Rizky. "Kami menikah tapi hanya mengundang orang-orang terdekat saja."
Rizky mengulum senyumnya kemudian mengangguk. "Saya sudah tahu kok pak kalau Elsa itu istri bapak."
"Loh tahu dari mana kamu? Pasti Om kamu yang bilang ya?"
"Bukan, Pak. Elsa sendiri yang bilang Soalnya waktu itu saya nembak dia lagi buat jadi pacar, tapi Elsa bilang dia belum cerai sama suaminya."
Seketika mata Tama membulat dan menatap sang istri. "Cerai!?"
"Itu kan dulu Mas waktu kita masih ribut-ribut. Kalau sekarang kan udah nggak, lagian mana mungkin aku minta cerai sama kamu."
Tama menggelengkan kepalanya, dia tidak bisa membiarkan hal ini. Semua orang harus tahu kalau Elsa itu istrinya supaya tidak ada yang berani mendekati istri seorang rekan.
Tama menatap Rizky. "Nanti akan ada pengumuman di grup Prodi tentang status pernikahan saya dengan Elsa, nanti kamu bagikan itu ke anak-anak organisasi. Pokoknya informasi ini harus menyebar dan merata."
"Nggak usah lah. Kita datang ke kampus aja bareng-bareng juga mereka nanti pasti pada bilang dari mulut ke mulut."
"Tapi kan tetap aja, sayang, mulut-mulut mereka itu selalu butuh bukti kalau kita udah nikah." tangan Tama terulur mengelus rambut Elsa.
Membuat Rizki hanya bisa mengulum senyum dan menatap sang paman. "Om kapan mau nikah?"
"Nanya lagi kayak gitu, Om gerek leher kamu."
"Tapi disuruh sama oma buat nanya kapan Om nikah."
Yudha memutar bola matanya malas. "Elsa kamu punya temen yang cantik nggak?"
Pertanyaan Yuda membuat keduanya menghentikan Kemesraan.
****
Kali ini Tama dan Elsa benar-benar keluar dari mobil yang sama dan menjadi perhatian beberapa orang. Elsa pun dipaksa Tama untuk ikut ke ruangannya terlebih dahulu, dengan menggenggam tangan sang istri dan tersenyum pada setiap orang yang bertemu dengan mereka.
"Oalah ternyata ini istrinya, pantesan cantik begini Makanya disembunyikan."
__ADS_1
"Anak fakultas kita ya pak? Kayaknya udah nggak tahan buat Blow Up soalnya bisa-bisa diincar sama kakak tingkat."
Elsa sedikit kaget karena para tenaga pengajar fakultas itu mengetahui kalau Tama sudah menikah.
Sang suami segera menjelaskan. "Ada beberapa dosen yang suka sama aku, terus gimana lagi selain bilang kalau aku udah punya istri."
"Siapa yang suka sama kamu?"
"Jangan ngegas gitu. Aku kan sukanya sama kamu aja."
Berhasil membuat pipi Elsa saat memanas karenanya. Dibawa ke ruangan di kantor ternyata Elsa dimintai untuk duduk sebentar di pangkuannya.
Elsa sebenarnya malu, dia juga memiliki kelas. Tapi Elsa tidak bisa menolak, dia duduk di pangkuan Tama dan membalas pelukan sang suami. "Kenapa nih jadi manja kayak gini?"
"Lihat tumpukan di meja, Itu kerjaan aku semua dan sekarang aku butuh penyemangat."
Elsa terkekeh dan membalas pelukan dengan tidak kalah erat, sampai akhirnya pandangan mereka beradu dan bibir saling bertemu. Bercumbu sebentar dengan tangan-tangan Tama yang mulai nakal. Meraba ke sana-sini sampai harus dihentikan oleh Elsa.
"Jangan sekarang, nanti ada yang lihat."
"Nanti malam ya." Tama mengecup pipi Elsa.
Tahu apa yang dimaksud sang suami, berhasil membuat Elsa merinding sendiri. Malam nanti dirinya akan menyerahkan diri pada sang suami. Memalu dan gembira di saat bersamaan.
Elsa hanya mengangguk kemudian melanjutkan aktivitas mereka bercumbu sampai melupakan waktu.
Elsa kesal karena dia terlambat masuk kelas. Di mana tama harus bertanggung jawab dan mengantarkan sang istri ke kelas.
Pria itu merangkul bahwa Elsa yang masih marah. "Maaf kan tadi kamu juga menikmati, sayang."
"Ya Itu gara-gara kamu yang gak bisa berhenti."
"Iya maaf ya." serasa sedang mengasuh anak kecil.
Begitu sampai di pintu kelas, Tama mengetuk dan membukanya. Buat sang dosen di sana terkejut melihat kedatangan dekan.
"Pak dekan? Ada yang bisa saya bantu?"
"Mau nganterin istri saya, dia terlambat karena tadi bantu saya sebentar. Boleh dia ikut bergabung ke kelas?"
"Boleh silakan, Pak."
Ketika Elsa masuk, langsung terdengar kejutan dari semua orang yang menutup mulutnya tidak percaya.
Elsa adalah istri dari Dekan Fakultas Hukum?
Dengan senyuman mengembang, Elsa mendekati teman-temannya. "Ini alasan gue nggak bisa jalan sama sembarangan cowok, soalnya gue udah terikat sama Pak dekan."
__ADS_1
"Kok gue nggak tahu sih kalau lu udah punya suami, mana itu Pak dekan lagi."
Elsa terkekeh, menikmati bagaimana keterkejutan mereka. "Soalnya waktu itu benang antara gue dan Pak dekan masih transparan."