
Ketika Elsa hendak membalikan badannya untuk kembali tidur, Tama menahan pinggang sang istri dan berkata, "Jangan tidur lagi ayo salat subuh. "
Yang seketika membuat mata Elsa terjaga, menyadari kalau hal yang bukanlah mimpi.
"Ayo bangun dulu kita salat berjamaah," ucap Tama sambil beranjak dari ranjang menuju ke kamar mandi.
Meninggalkan Elsa yang masih termenung sendirian di sana, tidak lama kemudian perempuan itu membenamkan wajahnya dalam bantal kemudian menjerit kuat. Tersadar apa yang baru saja dirinya lakukan. Kenapa Elsa bisa mencium bibir Tama dengan begitu mudahnya? Menganggap itu adalah mimpi, padahal sebuah kenyataan.
"Aaarggghhhhhhh!"
Ditambah lagi, Elsa ingat kalau Tama tidak membalasnya sama sekali. Apa sekarang dirinya terlihat begitu murahan di hadapan sang suami sendiri?
"Elsa, kenapa masih tiduran? Ayo bangun. Nanti keburu siang." Tama yang baru saja keluar dari kamar mandi itu melihat Elsa yang menungging dengan kepala terbenam dalam bantal. Ingin memukul pantatnya tapi takut perempuan ini akan marah. "Elsa ayo bangun, kenapa kayak burung unta malah nyungsepin kepalanya ke bawah?"
Elsa menggelengkan kepalanya, "duluan aja salatnya," berucap seperti itu dengan wajah yang masih terbenam.
Kemudian Tama tiba-tiba terkekeh. Pasti kamu ngira yang tadi itu mimpi ya. "Nggak apa-apa, sekarang aku paham betapa kamu kangen ya sama aku."
"Nggak gitu!" Elsa langsung berteriak dan mendudukkan dirinya menatap Tama dengan penuh amarah. "Jangan mikir yang nggak-nggak ya! Aku itu bukan cewek yang kayak gitu!"
"Emang aku mikirin apa? Lagian nggak papa juga, kan aku suami kamu. Nanti kalau udah salat, kamu bisa lagi ngerasain Yupi ya."
Pipi Elsa seketika memerah, amarah menggebuk di dadanya, merasa direndahkan dan juga dipandang kalau dirinya wanita tidak baik-baik. Elsa bergegas melangkah ke kamar mandi dengan langkah yang terdengar kuat, tidak mengatakan apa-apa lagi dan meninggalkan Tama yang tertawa di sana benar-benar menyebalkan.
Bahkan Elsa Langsung menangis di dalam kamar mandi. Bagaimana bisa dirinya seceroboh itu? Di mana dia akan menyimpan wajahnya?
Elsa pikir dirinya bisa tenang di dalam kamar mandi, tapi nyata-nya Tama terus mengetuk pintu. "Ayo kita sholat dulu, tenangin diri kamu dulu. Kalau kamu mau ngadu perbuatan nyebelin aku, sekarang kesempatannya buat bilang sama Allah."
Tadinya Elsa ingin mengabaikan, tapi Tama terus mengetuk pintu. Ditambah lagi ini memang sudah memasuki waktu subuh. Elsa keluar setelah mengambil wudhu.
Tama yang menjadi imam, memimpin sholat sampai selesai. Saat Tama memberikan tubuh, Elsa langsung mendekat untuk mencium tangan sang suami.
Elsa pikir dirinya bisa langsung terbebas, tapi Tama malah menahannya dengan merangkum kedua pipinya hingga mereka saling bertatapan.
"Maaf ya kemarin nggak banyak hubungin kamu. Aku juga takut ganggu kamu yang lagi banyak tugas. Nanti habis ngampus kita jalan-jalan ya." suara yang begitu maskulin ditambah diakhiri dengan ciuman di bibir. Sebuah kehidupan kecil. "Abis ini jangan tidur lagi ya, nanti Kepalanya pusing. Aku bawa oleh-oleh buat kamu. Ayo kita buka."
Wajah Tama kembali mendekat, kali ini ciuman mereka disertai gerakan ******* yang melebihi apa yang dilakukan Elsa sebelumnya.
Dan perempuan itu menikmati bagaimana sensasi menyenangkan dan terasa menggelitik di dada. "Maaf ya bikin kamu kesel kemarin sama hari ini. Jangan marah lagi ya, cantik."
Bagaimana Elsa bisa bertahan hidup jika diperlakukan dengan seperti ini? Manis sampai rasanya dia akan mengalami diabetes.
****
Banyak sekali oleh-oleh yang dibawakan sang suami, Elsa membukanya dengan antusias di ruang keluarga bersama dengan Tama.
"Wah udah pada bangun," ucap Ibu Wina yang baru saja keluar dari kamar hendak memasak. "Pasti ini anak bangun cuma mau buka oleh-oleh doang."
__ADS_1
Disuruhnya juga buka oleh-oleh doang," ucap Elsa dengan terfokus pada makanan-makanan yang ada di dalam bungkusan itu.
"Katanya mau bantuin Mama masak, mau bantuin mama ini itu soalnya mau jadi is......" ucapan ibu Wina tergantung ketika Elsa menatapnya dengan tajam dan bola matanya hampir keluar. "Elsa Kamu jangan kayak gitu! Nanti bola mata kamu keluar!"
"Kenapa?" ketika Tama hendak melihat, Elsa langsung merubah ekspresinya
"Nggak papa kok," ucap Elsa pada sang suami. Enak saja mamanya membocorkan kalau dirinya hendak belajar memasak demi sang suami.
"Habis itu langsung bantuin Mama masak ya."
"Nggak dikasih tahu juga pasti bakalan bantuin kok." tapi kemudian Elsa ingat satu hal. "Mau jogging?" bertanya pada Tama.
"Nggak sekarang deh, aku juga ada file yang belum diselesaikan sebelum nanti ke kampus."
"Ya udah sana beresin dulu. Aku nggak papa ditinggal sendiri."
Tama terkekeh, keberadaan dirinya di sini bukan hanya karena Elsa saja.
"Sana jangan malah diem di sini. Nanti kerjaan kamu nggak beres-beres."
"Tama diem di situ bukan cuma nungguin kamu ya, dia ada janjian sama Pak RT yang pulang dari masjid. Geer banget sih kamu."
"Emang iya?" Elsa memastikan pada sang suami.
"Iya tapi aku juga pengin nemenin kamu aja di sini. Kemarin kan kita ldr-an." menautkan jemari dengan milik Elsa dan mengusapnya, bahkan Tama memberikan senyuman manis. Elsa tidak tahan, dia menggigit bibir bawahnya menahan senyuman yang begitu lebar.
Di sana Ibu Wina melihat bagaimana percikan rasa suka Elsa terhadap Tama. Yang membuatnya tersenyum.
"Mana yang mau dibantuin, Ma?" tanya Elsa ketika datang.
"Cie yang mau bantuin mama, biasanya juga nggak. Pengen kelihatan jadi istri idaman ya?" tanya Ibu Wina sambil berbisik.
Elsa masih tersenyum, "Tolong jangan buka kartu kan ini juga yang Mama mau kan? Atau Mama pengen Elsa mengabaikan kewajiban?"
Ibu Wina tertawa. "Mau bantuin mama?! Bikinin sayur lodeh aja ya."
Elsa ingin membangun citra di hadapan sang suami kalau dirinya juga bisa melakukan pekerjaan rumah tangga meskipun umurnya masih muda. Tapi bagian sulit seperti ini, Elsa juga masih perlu belajar.
***
Ketika pak RT datang, Tama berbicara dengan sosok itu di ruang tamu. Elsa diminta oleh sang Mama untuk memberikan air kepada mereka berdua. Elsa membuatkan teh manis sambil tersenyum, mengingat bagaimana hubungan mereka berdua semakin membaik, semakin dekat dan membuat Elsa membayangkan bagaimana kehidupan mereka setelah memiliki anak Nantinya.
"Pasti bakalan rame kalau nanti kita berdua benar-benar gitu."
"Bener-bener gimana?" tanya ibu Wina yang baru saja kembali mengambil tomat dari halaman belakang.
"Nggak gimana-gimana."
__ADS_1
"Itu cepet anterin. Nanti keburu pulang, masa tamu nggak dikasih minum."
"Iya Mama. Cerewet amat sih, nanti kalau misalnya kena azab disengat lebah gimana?"
"Kamu Doain Mama kayak gitu?"
"Itu maksudnya, tadi aja Mama hampir keceplosan kan bilang Elsa mau masak cuma gara-gara mau jadi istri yang baik. Harusnya nggak gitu."
"Ya terus gimana emang kenyataannya kayak gitu kan."
"Tapi kan mama mampir bikin Elsa malu. Elsa itu lahir dari siapa? Harusnya Mama paham gimana karakter Elsa dong. Elsa juga sebenarnya terpaksa lakuin itu, karena kan itu kewajiban seorang istri."
"Bukannya kamu jatuh cinta sama Tama?"
Seketika pipi Elsa memerah dan menatap sang Mama tidak percaya. "Nggak kayak gitu!" teriaknya tidak mau mengaku.
Antara Tama yang sedang berbicara dengan Pak RT itu saling memandang. "Itu nggak kenapa-napa, Pak? Kayaknya di belakang ada keributan deh."
"Paling juga rebutin kecoa. Emang kayak gitu Pak, harap di maklum ya," ucap Tama pada sang Pak RT.
Tidak lama kemudian Elsa datang dengan nampan berisi air dan juga beberapa cemilan.
"Silakan dinikmati," ucapnya.
"Terima kasih, Neng Elsa. Baru pertama kali loh Bapak dikasih kayak gini sama Neng. Biasanya kalau ada tamu datang suka ngurung di kamar."
"Ya ampun Elsa sampai malu karena karakter itu diketahui oleh tetangga yang sering datang ke sini. Waktu itu saya lagi nggak enak badan, Pak, makanya nggak keluar."
"Oh iya, Ibu Wina nggak bilang kalau Neng lagi sakit. Padahal kalau tahu, saya pasti jenguk. Mana satu bulan full tiap saya datang ke sini, Neng selalu nggak ada."
Elsa hanya tersenyum dengan ketir, karakternya sudah tidak bisa tertolong lagi. "Silakan diminum, Pak," ucap Elsa meninggalkan mereka berdua.
Sisanya dia benar-benar membatu sang Mama sambil belajar bagaimana memasak yang benar. Ketika Pak RT sudah pulang, Tama membawakan nampan dan juga gelas kotor pada Elsa yang sedang mencuci piring di sana. "Aku ke atas dulu ya, ada yang harus aku kerjain."
Elsa mengangguk, gugup karena Tama berada di belakangnya seolah sedang memeluk. Bahkan pria itu memberikan kecupan di puncak kepala. "Semangat bantuin mamanya."
Pipi Elsa memerah dan tidak bisa menjawab apa-apa. Senyumannya mereka ketika Tama sudah naik ke lantai atas. "Bisaan banget bikin gue baper." mengambil gelas yang kotor untuk dicuci.
Elsa melihat ada gula yang menggumpal di dua gelas itu. "Ya ampun. Kenapa ini gulanya nggak di aduk sih?"
Sampai Ibu Wina datang dengan mengambil sekantong gula. "Gulanya belum diisi ulang? Berarti tadi kamu bikin teh tawar?"
"Enggak, Elsa pakai yang itu. Itu gula kan?"
"Ini garam, Elsa. Kamu pakai ini?" tanya ibu Wina tidak percaya.
Elsa mengangguk dengan polos. "Tapi ini abis kok. Masa iya ini garam."
__ADS_1
Tanpa Elsa ketahui, kalau dua minuman itu dihabiskan oleh Tama. Bahkan Tama merebut gelas milik Pak RT dengan dalih mengatakan gulanya terlalu banyak dan takut Pak RT diabetes. Pertama juga menawarkan air lain untuk Pak RT, tapi sosok itu lebih dulu pergi yang pada akhirnya Tama sekarang harus berkumur untuk menghilangkan rasa asin di mulutnya