
Kali ini Elsa harus menahan Kerinduan kepada suaminya yang bertugas ke luar kota. Dia terpaksa harus tinggal dulu bersama dengan Mama Wina. Dan selama berada di sana, Elsa begitu rewel hingga membuat Mama Wina sakit kepala.
"Mama nggak paham gimana caranya Tama bisa tahan sama kamu yang kayak gini. Mama aja udah pengen resign jadi Mama kamu."
Elsa menendang kakinya ke udara, kesal dengan pernyataan sang Mama yang seperti itu. "Pengen otak-otak, mama!"
"Iya kan ini lagi bikin dulu, elsot! Sabar sedikit kenapa!"
Elsa itu meminta hal yang aneh-aneh dan jam yang tidak bisa ditentukan seperti malam ini. Mama Wina harus membuka mata dan membuatkan otak-otak. Emangnya di mana yang masih berjualan di jam dini hari seperti ini? ketika otak-otak sudah jadi Elsa malah tertidur.
Mama Wina mencoba membangunkan karena tidak ingin Elsa melewatkan makanan yang ingin dia makan hangat-hangat. "Elsa bangun dulu, ini otak-otaknya udah jadi."
Membuka matanya dengan malas. "Kenapa bangunin Elsa sih? Lagi tidur nyenyak juga."
"Kamu yang mau otak-otak kan? Kalau nggak dibangunin nanti marah lagi. Cepetan bangun, makan terus tidur lagi."
"Pengen ditemenin sama mama."
"Iya ini ditemenin."
Elsa yang tidak hamil saja begitu rewel, ditambah kondisinya yang sekarang sedang mengandung membuat Mama Wina pusing. Meskipun besannya selalu memberikan perhatian pada Elsa, tetap saja dirinya yang mengurus di sini.
"Udah ah kenyang," ucap Elsa ketika baru satu suapan.
"Mama masak banyak loh buat kamu."
"Tapi udah kenyang masa dipaksa. Mama yang ngabisin aja ya."
"Ogah ah, Mama mah nggak mau yang kayak ginian. Buat kamu aja besok."
Elsa mengerutkan keningnya, tiba-tiba dirinya merasa sakit hati. "Emangnya kenapa Mama nggak mau habisin bekas Elsa? Jijik ya? Mas tama selalu habisin makanan bekas Elsa tuh." matanya jadi berkaca-kaca. "Mas Tama nggak pernah jijik sama Elsa, kenapa Mama jadi jijik?"
"Mama nggak jijik! Ya ampun, udah jangan nangis ayo cepetan tidur. Kalau kamu nggak tidur, mama nggak akan bikinin kamu sarapan besok."
Untuk memastikan Elsa tidur, Mama Wina sampai menemani anaknya dan mengajak Elsa tidur di kamarnya. Namun bukannya bisa tidur dengan nyenyak, Mama Wina malah mendengar suara tangisan. "Elsa jangan nangis dong nanti ada yang ngikutin, mana lagi hamil juga."
"Kangen sama Mas Tama."
__ADS_1
"Kan besok juga pulang, Tama bilang dia pagi-pagi udah nyampe sini. Kamu tidur aja, besok pas kamu bangun pasti Tama udah ada di sini."
"Pengennya ketemu sama Mas Tama sekarang."
"Minta yang aneh-aneh lagi, Mama getok kepala kamu."
Elsa mengerucutkan bibirnya dan langsung bangun dari tidurnya. "Elsa anak mama bukan sih? Kenapa tega banget mau getok kepala Elsa? Elsa mau tidur sendiri aja, nggak mau sama Mama."
Mama Wina hanya bisa mengelan nafasnya dalam, biasanya Elsa selalu melawan argumen. Tapi kali ini dia sensitif dan membawa semua hal ke dalam hati. "Semoga aja mereka langgeng."
Mama Wina tidak bisa membayangkan bagaimana kerepotannya Tama mengurus Elsa yang seperti ini.
Namun sayangnya ketika Tama sudah memasuki Jakarta, dia tidak langsung pulang ke rumah mama mertuanya. Tama pergi dulu menemui Yudha.
Meskipun dirinya seorang Dekan Fakultas Hukum, Tama tetap membentangkan sayapnya di bidang bisnis supaya penghasilannya dari segala arah.
Menemui Yudha untuk investasi pada bisnis baru sahabatnya itu. Setelah membicarakan perihal pekerjaan, Tama bertanya, "beneran lu mau nikah? Katanya nggak percaya sama ikatan pernikahan, sama cinta juga."
"Iya gue mau nikah, tapi bukan berarti gue udah percaya sama yang namanya cinta."
"Terus calon istri lu gimana? Lu pernah bilang nggak mau nikah karena nggak mau saling menyakiti. Apalagi kayak bokap lu yang nyelingkuhin nyokap, lu itu anti banget buat nyakitin cewek."
"Ya kan lu nikah tanpa adanya rasa cinta, lu juga nggak pernah mau ada di dalam ikatan pernikahan."
"Ini karena nyokap gue masuk rumah sakit lagi, dia sakit gara-gara mikirin gue." Yudha mengusap wajahnya kasar. "Lagian gue nggak nyakitin calon pasangan gue dengan prinsip hidup gue yang kayak gini. Malah gue yang nolong dia."
"Nolong kayak gimana?"
Yudha memberikan isyarat supaya ini jadi rahasia di antara mereka, menceritakan kalau dia menemukan calon istrinya itu di klab malam, lebih tepatnya di acara pelelangan perawan. "Dia dijual sama pamannya buat lunasin hutang-hutangnya. Jadi pernikahan ini saling nguntungin, dia nolong gue buat berubah status. Dan gue nolongin dia dari krisis ekonomi."
"Orang tua lu tahu kalau dia......"
Yudha menggelengkan kepalanya, bahaya kalau mereka tahu dari mana Yudha menemukan wanita itu. Ditambah lagi, mereka selalu menginginkan seseorang yang setara.
"Gue bilangnya dia yatim piatu. Biarlah ini jadi rahasia di antara kita, gue butuh dia buat ganti status doang."
"Nggak takut dia selingkuh atau ngapain gitu?"
__ADS_1
"Enggak lah. Gue kan udah beli dia, jadi dia hak milik gue."
***
Elsa marah besar ketika mengetahui Tama menemui Yudha terlebih dahulu sebelum pulang ke sini. Hal itu membuatnya merajuk dan tidak mau berbicara dengan tama saat mereka sarapan.
Mama Wina hanya bisa mengela nafasnya dan menatap menantunya. "Udah sering kayak gini ya? Kamu kayaknya biasa aja."
"Nanti juga sembuh sendiri kok, Ma. Nggak akan lama," ucap Tama.
Kalau Elsa sudah ada di ujung kemarahannya, maka Tama akan membiarkan apapun yang diinginkan oleh sang istri dan tidak mendekatinya.
Lama-lama Elsa akan merasa kesepian, merindukan sentuhan Tama dan mendekati pria yang sedang berbicara dengan mamanya. "Mas nggak sayang sama aku ya?" tiba-tiba berbicara seperti itu.
Tama dan Mama Wina yang sedang bicara jadi menoleh. "Itu kenapa, Tama? Dia mau ngapain?" Mama Wina jadi tidak mengenali anaknya sendiri, pusing sekali dengan Elsa yang seperti ini.
"Kenapa nggak bujuk aku padahal aku marah karena kamu? Aku sebel sama kamu. Mas udah nggak sayang sama aku kan?!" kemudian berlari ke kamar.
Tama hanya tersenyum. "Mau disusul dulu ya, Ma."
Meninggalkan Mama Wina yang kebingungan di sana, karena tidak lama kemudian Mama Wina melihat Tama dan Elsa keluar bersamaan dengan Elsa yang memeluk manja lengan Tama. Senyuman juga sudah terbit di wajah anaknya itu. "Elsa mau pulang dulu sama Mas Tama ya, Ma. Mau cek kandungan juga. Nanti dikabarin jenis kelaminnya apa," ucap Elsa demikian. "Atau Mama masih pengen Elsa di sini? Masih kangen kah?"
Menggelengkan kepalanya ribut. "Udah sana bawa pulang aja, hati-hati di jalan ya."
Memang yang bisa mengendalikan Elsa itu Tama kalau dalam keadaan seperti sekarang ini. Mama Wina sepertinya tidak akan tahan jika sang anak lama-lama berada di sini.
Jika dengan tama, Elsa manja seperti sekarang. Tama benar-benar bisa mengendalikan sang istri, dan mengetahui titik-titik terlemah Elsa.
Sebelum pulang ke rumah, mereka mampir dulu ke rumah sakit untuk mengecek jenis kelamin bayi yang ada di dalam kandungan Elsa.
Karena beberapa bulan lagi akan lahir, sudah seharusnya mereka menyiapkan barang-barang bayi dari sekarang.
Elsa maupun Tama tidak masalah dengan jenis kelamin. Namun Elsa sendiri menginginkan anak perempuan supaya bisa menjadi temannya, sebagaimana Mama Wina dan dirinya.
Karena melihat Tama dan juga bunda Ine, selalu ada jarak di antara mereka.
Jadi ketika dokter mengatakan, "Selamat ya, Pak, Bu. Jenis kelaminnya laki-laki."
__ADS_1
Elsa langsung menatap Tama dan berucap, "nanti kalau bayi ini udah lahir, kita langsung bikin adiknya ya Mas. Jangan ditunda lagi, biar sekalian repotnya."
Tama hanya bisa tersenyum, membayangkan Bagaimana dirinya mengurus Elsa yang memiliki mood naik turun lagi.