Benang Merah Pak Dekan

Benang Merah Pak Dekan
Kanyataan


__ADS_3

"Aku juga sayang sama kamu."


"Aku juga cinta sama kamu."


Kata-kata itulah yang diharapkan Elsa keluar dari mulut Tama ketika dirinya mengungkapkan perasaan. Sudah sejauh itu dirinya menyiapkan kalimat menyatakan bahwa dirinya siap menjadi ibu rumah tangga, menerima pernikahan ini dan ingin menjadi istri yang berbakti. Namun sayangnya, Tama sepertinya tidak merasakan perasaan yang sama.


Kalau untuk apa semua sikap manis itu? Mengapa dengan tega Tama mengecewakannya? Meskipun sekarang pria itu sedang memeluknya, mengusapnya dan juga memberikan kecupan-kecupan kecil di wajahnya, tidaklah membuat hati Elsa menghangat. Dia tetap kecewa dan merasa tertolak, Tama tidak menginginkannya kan?


"Kenapa dari tadi diam mulu? Mau disuapin atau gimana nih? Sini mau duduk di pangkuan orang ganteng nggak?"


"Ogah," ucap Elsa dengan Ketus.


"Kamu udah mau datang bulan lagi ya? Tapi kok cepat amat sih?" Elsa masih tidak menanggapi.


Tama hidup lebih lama dan dia paham apa yang dialami sang istri, bingung juga harus berbuat apa. Apalagi mereka tidak memiliki kesempatan bersama karena hari ini Elsa tidak memiliki kelas disebabkan dua dosen yang seharusnya mengajar itu sedang memiliki tugas ke luar negara.


Elsa hanya mengantarkan Tama sampai pintu depan. "Kalau ada apa-apa bilang ya, mau keluar sama temen juga nggak apa-apa, mau diajak ke sini juga nggak masalah. Biar mereka tahu kalau kamu itu yang punya Fakultas Hukum," ucap Tama Sambil tertawa.


Tapi tidak dengan Elsa, menyodorkan tas milik sang suami dan berkata dengan kalimat yang dingin. "Sana berangkat. Nanti telat terus jadi contoh yang nggak bagus buat bawahan."


Tama tidak tahan dan menarik Elsa ke dalam pelukan, namun tidak banyak yang bisa dia katakan hanya menghela nafas berat dan berkata. "Maaf ya bikin kamu kesel." kemudian mengecup bibirnya cukup lama, kali ini diikuti dengan ******* kecil sebelum akhirnya Tama berangkat.


Perlakuan itu tidak membuat Elsa lebih baik, masuk ke dalam kamar dan menangis sendirian. Merasakan kekecewaan yang amat dalam, tadi malam Elsa tidak melihatĀ  kebahagiaan di mata Tama ketika dirinya mengungkapkan perasaan.


Yang ada pria itu terlihat ketakutan, bingung dan juga heran.


"Dia itu cinta nggak sih sama gue? Kenapa selama ini perlakuin gue dengan manis? Ditambah lagi dia selalu bilang kalau kebahagiaan gue adalah tugasnya?"


Terisak sendirian di sana sampai akhirnya Elsa kelelahan dan menyadari ada banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Pakaian yang menumpuk belum Elsa setrika.

__ADS_1


Dengan keadaan yang kacau, mengerjakan tugas rumah tangga dan merapikan lemari pakaian sang suami sampai dia mendapati sebuah kunci.


Kunci apa? Kenapa ini mencurigakan? Sejak malam tadi, Elsa menaruh banyak kecurigaan pada Tama. Dia mencari lubang kunci yang cocok dengan kunci tersebut.


Ternyata itu adalah laci yang ada di dekat ranjang. Saat Elsa membukanya isinya adalah tumpukan buku yang sama. Membukanya dan isinya adalah foto dan juga tulisan tangan Tama.


Itu adalah foto seorang perempuan, dan goresan tinta yang ditulis oleh Tama yang menyatakan kalau perempuan inilah pemilik hatinya.


Ternyata pria itu memiliki banyak rahasia dalam hidupnya, bertingkah seolah dirinya adalah wanita satu-satunya di hati Tama. Tapi pada kenyataannya, Tama masih menyimpan foto-foto tersebut.


Tulisan itu juga belum lama, mencurahkan isi hati Tama yang begitu merindukannya. Jadi wanita ini meninggalkan Tama? Pantas saja Tama tidak bisa menerima pernyataan cinta Elsa semalam. Hatinya sudah dibawa pergi oleh wanita lain.


Lagi-lagi Elsa hanya bisa meneteskan air matanya.


****


Karena Elsa tidak bisa terus berada di rumah dan meratapi nasib, dia memilih untuk keluar bersama dengan temannya. Barangkali hal itu bisa membuat perasaannya lebih baik.


"Tumben banget lu mau diajak ke sini bareng sama kita?"


"Lagi mumet."


"Kemarin aja kayak yang lagi jatuh cinta. Eh sekarang malah kayak yang putus cinta." salah satu teman yang mengejek.


"Mending sama Kak Rizky aja yang udah pasti suka sama lu, ketua BEM lagi. Dia bisa jagain lu. Gue juga heran sebenarnya Kenapa Kak Rizki bisa suka sama orang kayak lu."


Kalimat masukan dari teman-temannya tidak didengarkan, Elsa sebenarnya terlihat seperti mayat hidup yang berjalan dengan dituntun oleh Ira.


Akhirnya saat jam makan siang tiba mereka memutuskan pergi ke salah satu restoran Cina, Ira memiliki voucher diskon di sana.

__ADS_1


Konsep restoran ini tertutup sehingga tidak bisa melihat pengunjung satu sama lain karena terhalang oleh dinding bambu.


"Elsa, Bentar dulu ya gue mau beli es krim ke depan."


"Lu mau ikut nggak?"


"Gue nunggu aja di sini sendiri. Tolong beliin. Tolong pengertian sama gue." karena Elsa terlalu malas untuk berjalan lagi, tubuhnya semakin lemah saja apalagi ketika memikirkan Tama.


Goresan tinta di dalam kertas itu menunjukkan sebesar apa Tama mencintai wanita bernama Kharisma. Memang cantik, lebih dewasa dan rambutnya tidak kribo.


"Jadi bini lu ngungkapin perasaannya sama lu? Harusnya lu senang dong Tama, Karena dia udah jatuh cinta sama lu dan mau jagain lu."


Oh ya Tuhan Elsa kenal suara ini, itu adalah suara pamannya Rizky alias temannya Tama juga. Apa mereka ada di sini? Kenapa Tuhan seolah ingin membuat Elsa semakin sakit dengan mendengarkan percakapan ini?


"Dia bilang kayak gitu semalam. Bahkan dia bilang udah siap kalau kita mau punya anak."


"Emangnya lu mau kayak gimana lagi, Tama? Lu nggak bisa selamanya hidup di masa lalu, udah saatnya lu lupain Kharisma dan jalan sama bini lu. Ini yang terbaik, dia juga udah jatuh cinta sama lu."


Tama terdiam.


"Lu cinta kan sama dia?"


Tidak ada jawaban lagi dari Tama, dia hanya menghela nafasnya dalam dan mengambil minumnya.


"Sejauh ini, gue belum punya perasaan apa-apa sama dia. Yang jelas, buat saat ini gue cuma ngerasa berkewajiban buat bahagiain dia. That's feeling, gue rasa itu masih buat Kharisma."


Dan itu menambah rasa sakit Elsa, hantam di dada dan membuat air matanya menetes. Menangis tanpa suara.


Jadi selama ini, hanya menganggapnya sebagai kewajiban saja untuk membahagiakan? Sebuah tuntutan? Sesak sekali dadanya.

__ADS_1


"Gue dituntut buat jaga Elsa, buat bahagiain dia."


__ADS_2