Benang Merah Pak Dekan

Benang Merah Pak Dekan
Kebenaran


__ADS_3

Elsa pergi dari rumah Tama, tidak mengingat atau mempedulikan apapun lagi. Berjalan kaki dengan air mata berderai, mengabaikan juga tetesan hujan yang mulai turun. Ang difokuskan Elsa sekarang hanyalah rasa sakit yang ingin dia hilangkan saat ini juga.


Saat berjalan sendirian sebuah mobil berhenti di samping Elsa, Rizky keluar dengan payungnya. “Jangan hujan hujanan kayak gini,” ucap pria itu kesal dan membawa Elsa masuk ke dalam mobil. Tidak ada penolakan dari Elsa, ini adalah Rizky, pria yang tidak akan pernah menyakitinya.


“Kenapa hujan hujanan kayak gini? Kamu nanti bisa sakit,” ucap Tama kesal dan segera mengeringkan Elsa dengan tissue sebelum memberikan jaket miliknya. “Ini pake ini. Elsa mau kemana?”


“Pulang.”


“Kemana?”


Karena Rizky sendiri bingung dengan alamat Elsa yang beda-beda. Di data diri kampus maupun tempat Rizky pernah mengantar. Elsa mengatakan kemana dia ingin diantarkan. Dan Rizky menyadari kalau Elsa tidak baik baik saja, jadi dia membiarkan Elsa tenang tanpa menanyakan apapun.


Sebelum Elsa keluar dari mobil, tangan Rizky menahan dulu Elsa. "Kenapa?" Tanya perempuan itu. "Oh iya, jaket kakak ya?"


Rizky gemas melihat Elsa, tapi dia juga kasihan. "Nggak, bawa aja itu sama kamu. Kakak cuma mau bilang kalau apapun yang terjadi hari ini, inget masih banyak orang yang sayang sama Elsa. Elsa gak sendirian kok. Kalau ada apa apa, Kakak juga bakalan ada buat kamu kok."


"Makasih banyak, Kak." Hanya itu yang  bisa Elsa katakan sekarang. Dia turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah. 


Mama Wina baru saja hendak marah karena sang anak tidak mengucapkan salam, tapi melihat mata Elsa yang bengkak membuatnya panik juga. "Elsa kenapa?"


"Hiksss! Elsa dibentak!" Teriaknya kemudian menangis dengan kuat dan tersedu sedu. 


Mama Wina bingung, dia memberi isyarat pada sang pembantu untuk memberikan mereka ruang terlebih dahulu. "Ayok ke kamar yok. Kita ngomong di sana."


Elsa dibawa ke kamarnya, dia melanjutkan tangisannya di sana sambil memeluk Mama Wina. Mama Wina baru melihat Elsa menangis seperti ini lagi setelah kematian suaminya. "Elsa kenapa, Nak? Kenapa?"


"Hiksss…  Si dekan itu… hikss…"


"Jangan gak sopan gitu sama suami kamu, Nak."


"Dia bentak Elsa! Dia gak sayang sama Elsa! Dia bela Karisma! Dia gak suka sama Elsa!"


"Karisma?" Mama Wina tampak terkejut. "Kenapa? Dia kenapa?"


"Elsa gak mau bahas itu! Elsa mau dipeluk sama Mama! Hiks…"


Mama Wina membiarkan Elsa menangis dulu sampai akhirnya tertidur. Membaringkan sang anak yang sebagian bajunya basah. Mama Wina mengganti dulu pakaian Elsa sebelum turun ke bawah dan mendapatkan Tama di sana. 

__ADS_1


"Ma? Elsa?"


"Sebenarnya ada apa?" Tanya Mama Wina panik. Dia mendekat pada Tama tanpa rasa marah. "Elsa denger apa sampe dia bilang kamu milih Karisma?"


"Kayaknya Elsa cuma tau sebagian aja, Ma. Biarin Tama yang ngomong sama Elsa ya, Ma. Tama ingin memperbaikinya. Tama yang salah udah bentak Elsa."


"Gak papa. Elsa pasti lagi labil juga." Mama Wina bingung harus memihak siapa, tapi yang pasti kalau Tama ini terlihat panik dan juga khawatir. "Tapi kayaknya gak bisa sekarang, anaknya lagi tidur. Tama udah makan?"


"Udah, Ma. Boleh gak sekarang Tama ke kamarnya? Cuma mau liat Elsa aja."


"Ke kamarnya aja."


Mama Wina melihat bagaimana menantunya naik dan masuk ke kamar sang anak. Dia menghela napasnya dalam dan mengambil minum. 


"Bu?"


"Saya juga bingung. Tama pasti gak mudah buat lupain Karisma meskipun bertahun tahun. Tapi saya juga gak bisa biarin Elsa terus berharap. Elsa terluka bukan karena Tama menyakitinya, tapi karena ekspektasinya yang begitu besar sama Tama."


***


Namun, Elsa benar benar tidak menyukai keberadaannya, dia menepis tangan Tama dan menatapnya tajam. "Keluar," Ucapnya dengan bibir yang bergetar. 


"Ca, ayo kita ngomong dulu baik baik. Aku minta maaf karena udah bentak kamu, ayok kita ngobrol dulu."


"Gak! Kamu gak denger! Keluar!" Teriak Elsa melengking. Dia berdiri dari atas ranjang dan mendorong Tama supaya keluar dari sana. "Keluar! Hiks… keluar!"


"Iya iya, aku keluar," Ucap Tama lebih terluka melihat Elsa yang menangis. 


Ketika Tama keluar, Elsa langsung menutup pintu kamarnya kuat tepat di depan wajah Tama. Dan itu menarik perhatian Mama Wina. "Tama," Panggilnya


Tama menghela napasnya dalam dan melangkah turun menemui sang mertua. "Ma, Tama minta maaf."


"Biar Mama yang ngomong sama Elsa ya. Gak papa kan?"


Tama mengangguk, dia butuh bantuan sang mertua untuk menyampaikan hal ini karena Elsa tidak mau mendengarnya. "Tama mau ngomong berdua sama Elsa."


"Kalau Elsa udah memahami hal ini, dia pasti mau ngomong sama kamu kok. Dia akan paham," Ucap Mama Wina. "Tama mau di sini dulu atau pulang?"

__ADS_1


"Pulang aja, Ma. Kasihan Elsa mau sendiri dulu. Tolong sampaikan permintaan maaf Tama ya."


"Nanti bilang sendiri ya. Mama bujuk dia sekarang." Sambil membawakan minum dan makanan untuk sang anak, Elsa melangkah menemui sang anak yang sekarang sedang menangis. 


"Gak mau ketemu sama dia lagi, gak mau berhubungan sama dia lagi. Mau cerai aja sama dia, Ma."


"Dengerin dulu yuk. Ada yang harus Elsa dengar sekarang."


Mama Wina duduk di samping ranjang dan menggenggam tangan Elsa yang demam. Anaknya ini masih menangis, membuat Mama Wina paham kalau Elsa jatuh cinta pada suamimya. 


"Sini dengerin dulu. Mama mau ngomong. Kamu harus tau masa lalu Tama dan kenapa Mama jodohin kamu sama dia."


"Gak mau tau."


"Elsa, mau mama ubah namanya jadi Anna?"


"Ih mama." Elsa terpaksa bangkit dan menerima sodoran susu oleh Mamanya. Menarik napas dalam dan memberikan isyarat kalau dirinya siap mendengarkan. 


"Jadi, Tama itu penolong kita. Mama bingung dari mana ceritanya ini."


"Dari awal."


"Okay. Papah kamu itu dulunya bekerja jadi pengacara keluarga suami kamu. Suatu hari Papa kamu buat kesalahan, dia naik mobil di kecepatan yang tinggi yang menyebabkan dia nabrak orang lain. Tau siapa? Karisma, dia pacarnya Tama waktu itu."


Elsa terdiam, air matanya tiba tiba berhenti mengalir. 


"Karisma meninggal seketika, sementara Papa kamu dibawa dulu ke rumah sakit. Papa kamu sadar siapa yang dia tabrak, dia minta maaf sama Tama dan minta Tama buat janji jaga kita. Kenapa kita harus dijaga? Karena keluarga Karisma itu sama besarnya dengan keluarga Tama. Dan setelah Papa kamu meninggal, keluarga Karisma minta ganti rugi sama kita. Dan yang menolong kita adalah Tama, dia yang bentengi kita dari segala dendam yang dirasakan keluarga Karisma." Mama Wina sampai menangis menceritakannya. Dia tau kalau Tama sangat mencintai Karisma, tapi dia tidak tega melihat anak kecil yang harus terputus sekolahnya dan hidup gelandangan


"Dia pernah ketemu sama kamu waktu itu pas kamu masih kecil. Inget sama kakak yang dulu minta kamu harus belajar bener? Itu Tama."


"Yang pake masker?"


"Iya, Tama biayain kamu sampai saat ini. Makannya keluarga Tama yang minta Mama buat jodohin kamu sama Tama aja, karena tetap semuanya harus ada balas budi. Tama udah mencoba hentikan orangtuanya buat gak jodohin kalian, tapi Tama juga punya batas kemampuan. Ibu Ine tau kalau Tama belum bisa move on dari Karisma, dia berharap kamu bisa membuat Tama melanjutkan hidup dan punya keluarga. Apalagi Tama sayang banget sama kamu sampe gak izinin Mama sakit, dia bilang gadis kecil kribo yang sering ikut Papanya ke kantor harus sekolah yang bener."


Air mata Elsa menetes, merasa sangat bersalah. Tama memiliki sudut pandangnya sendiri. Pria itu membelanya bahkan disaat papanya menabrak kekasihnya sampai meninggal. 


"Tama sayang kok sama kamu, cuma dengan cara yang berbeda. Mungkin bukan cinta dari seorang pria ke perempuan, tapi kamu punya tempat tersendiri di hati Tama. Dia yang udah membantu kita selama ini, Elsa."

__ADS_1


__ADS_2