Benang Merah Pak Dekan

Benang Merah Pak Dekan
Rujuk


__ADS_3

Sebenarnya, Elsa sudah berniat untuk menerima pernyataan cinta Tama. Hanya saja, dia bolehkan sedikit mempermainkan pria itu? Memberinya pelajaran karena tidak jujur sebelumnya. Ditambah lagi, Elsa masih merasa kesal karena Tama menyatakan cintanya dikuburan? Apa tidak ada tempat lain? 


Romantis, tapi merinding juga. Bagaimana jika Karisma mendengarnya dan berakhir dengan mereka yang di gentayangin? 


"Nanti aku pikirin dulu ya, Mas," Ucap Elsa membuat Tama menatap dengan mata yang terluka. Sepertinya pria itu tidak menyangka akan mendapatkan kalimat seperti itu dari sang istri. "Bisa gak kasih aku waktu? Dan selama aku membutuhkan waktu untuk itu, aku mau di rumah sama Mama dulu. Ya?"


Tama bisa apa jika sudah begini, dia akan membiarkan Elsa pergi. Namun sebelum itu, Tama mengajak Elsa untuk pergi ke minimarket dulu. Setidaknya dia ingin membuat sang istri bahagia. 


Namun hari ini tidak ada hal baik yang berpihak padanya karena Elsa menggelengkan kepala dan menolak. "Mau langsung pulang aja, Mas."


"Kamu… masih gak mau orang lain tau kalau kita ini suami istri ya?"


Tama menyesal menanyakan itu karena sekarang dia melihat wajah Elsa yang tampak kebingungan. Harusnya dia mencari aman saja apalagi Elsa belum memberitahunya terkait langkah yang akan Elsa ambil dalam kehidupan pernikahan mereka. 


"Gak tau, mau pulang dulu," Ucap Elsa sengaja memberikan kalimat memelas, memberikan kesan kalau dirinya sedih. Padahal pada kenyataannya, Elsa sedang menahan tawa. 


Sampai di rumah, Tama menghentikan pergerakan tangan Elsa. "Boleh peluk?" Tanya Tama. 


Elsa mengangguk dan membiarkan dirinya ditarik oleh pria itu ke dalam dekapan. 


"Maaf," Ucap Tama dengan nada suara yang pedih. 


Berbeda dengan Elsa yang tersenyum menahan tawa, dia suka Tama yang menyesal seperti ini. Mengerjai nya tidak akan membuatnya dosa kan. 


"Udah dulu," Ucap Elsa melepaskan pelukan. Padahal dia sendiri tidak rela melepaskan pelukan itu. 


Tama langsung pulang. Elsa sendiri menceritakan apa yang terjadi hari ini dengan hati yang berbunga bunga


"Durhaka kamu. Kalau kamu nerima Tama, kenapa malah ke sini?"


"Kasih pelajaran dikit kan gak papa, Ma. Bentar doang kok."

__ADS_1


"Kasihan Tama." 


"Bentar aja. Gak lebih dari 3 hari kok."


"Ck. Lagian yang harusnya disalahin itu ya kamu. Kamu gak mau orang lain tau kan kalau kalian suami istri? Kalau Tama mah udah oke, nah diamah udah nerima kamu sebagai istrinya. Kalau Tama dibawa orang lain, baru tau rasa."


Tapi Elsa tidak peduli, dia ingin melihat kesungguhan Tama. Pria itu kembali menghubunginya dan memberikan perhatian perhatian kecil lewat pesanpesan manis. Elsa jelas meleleh, tapi dia suka mempermainkan Tama. 


Hari senin saat masuk kampus, Elsa sengaja dekat dekat dengan Rizky untuk melihat reaksi Tama. Dan apa yang dilakukan pria itu? Hanya menatap Elsa dengan tatapan yang sendu dan memalingkan wajahnya pergi. 


Elsa puas! Tapi dia menyesal keesokan harinya karena tau kalau Tama tidak masuk kampus karena sakit. 


"Pak dekan sakit, jadi kakak gak bisa ajuin proposal buat ambil alih proker lembaga jadi proker bem," Ucap Rizky mengeluh. 


Elsa tidak terlalu mendengarkan karena khawatir dengan Tama. 


***


Kepalanya malah membawa Tama mengulang ingatan saat melihat Elsa tumbuh dari waktu ke waktu. Sampai akhirnya menjadi istri, Tama sudah tau bagaimana sifat Elsa yang ceria dan juga cerewet. Kehilangan selama beberapa hari membuat rumah ini terasa sangat kosong. 


Bunda Ine menelponnya begitu Tama memberi kabar kalau dirinya sakit. "Hallo assalamu'alaikum, Bun?"


"Waalaikumsalam, gimana sekarang?"


"Udah mendingan kok."


"Bukan kamu, tapi Elsa."


"Belum ngabarin, Bun. Jawab pesan juga singkat singkat. Kayaknya Elsa udah terlanjur sakit hati deh."


"Haduh, kamu cewek atau cowok sih? Yang jantan dong, cari cara lain. Jangan benyek kayak gitu. Banyakin modus kenapa."

__ADS_1


"Gimana mau modus kalau Elsa nya gak ada di sini." Tama mengeluh sendiri. Dia menelpon sang bunda sampai satu jam, isinya dia diberikan nasehat supaya bisa menjadi suami yang baik nantinya. 


Setelah menelpon, Tama langsung tidur tanpa ingat harus meminum obat sesuai perintah sang Bunda. Dia terlalu lelah, takut dan khawatir akan hidup sendirian pada akhirnya. 


Elsa adalah sosok yang dikirimkan Tuhan untuk mengisi hari hari indahnya. "Elsa…," Panggilnya dalam tidur. Bahkan Tama enggan untuk melakukan apapun. 


"Mas Tama bangun, minum obat dulu."


Bahkan sampai Elsa mendengar suara Elsa yang begitu jelas. "Bangun dulu, ayok minum obat. Nanti sakit."


"Elsa?"


"Iya, ini Elsa. Bukan Anna. Cepetan bangun nih. Udah aku masakin pake resep baru," Ucap Elsa menarik tangan sang suami. 


Masih belum sadar sepenuhnya kalau sang istri ada di hadapannya sedang menyuapi nya. Terlihat begitu manis, dan juga khawatir. 


"Kenapa ke sini?"


"Ya karena Mas sakit lah. Kalau Mas sakit, gak akan aku ke sini." Matanya memicing menatap sang suami. "Lagian nanti aku dosa kalau gak ngurus suami."


"Emang kamu masih mau jadi istri aku?"


"Maulah, emang siapa yang gak mau jadi istri Dekan. Mana kaya, anak tunggal. Dan yang penting itu cinta sama aku," Ucap Elsa sambil terus menyuapi Tama. 


Pria itu menerima suapannya. "Elsa, aku serius."


"Aku juga serius kok. Aku nanti bakalan tidur di sini. Sama Mas lagi. Tapi pengen ganti sprei."


"Jadi, kamu kasih kesempatan kedua buat aku?"


"Iyalah. Tapi pokoknya aku mau ganti sprei. Gak mau yang ini."

__ADS_1


Seketika Tama langsung berdiri dan terlihat tidak lagi sedang sakit. "Ayo beli spreii!" Teriaknya semangat. 


__ADS_2