
Sejalannya dengan pilihan Elsa untuk tidak lagi menolak perasaan ini. Satu yang dia ketahui bahwa sekarang dirinya mencintai Tama, ingin diperhatikan pria itu, suka bagaimana dirinya diperlakukan dengan special dan ingin membuat Tama bahagia juga.
Elsa ingat kalau sebelumnya dia yang meminta Tama untuk menyembunyikan pernikahan mereka, mungkin ini saatnya untuk membukakan semuanya pada semua orang. Bukan hal yang buruk juga jika orang lain tahu kalau dirinya adalah istri dari seorang dekan, malah itu akan lebih bagus bukan? Tidak akan ada yang berani padanya dan Elsa bisa dengan bebas keluar masuk menemui Tama.
Tidak peduli lagi apa yang akan dikatakan orang lain, Elsa jujur pada dirinya sendiri. "Lu cinta sama laki lu sendiri, untung dia udah jadi suami lu. Coba kalau belum, nanti kepayahan sendiri cari cara buat dapetin hati dia," ucap Elsa pada dirinya sendiri yang ada di dalam cermin.
"Elsa. Ayo berangkat," teriak Tama.
Mereka bergegas pergi ke kampus, karena pagi ini Elsa memiliki jadwal yang dimajukan. Harusnya dirinya yang repot, tapi Tama yang malah memastikan Elsa tidak terlambat.
"Dosen yang satu ini senior, dia dari Yayasan jadi aku juga agak canggung kalau tegur dia. Penilaian dia itu bukan dari keilmuan aja, tapi pola pikir dan juga sopan santun. Baik-baik ya sama dia."
"Aki-aki kan?"
"Heh itu mulutnya, mau dicium ya? Sini Mas cium."
Biasanya Elsa menolak, tapi kali ini perempuan itu malah berkata, "nanti aja, masak di perjalanan." dan itu berhasil membuat Tama sedikit terkejut.
Elsa juga menyadari kalau sang suami mungkin heran dengan perubahannya. Jadi untuk mengalihkan perhatiannya, Elsa mengobrol sepanjang jalan tentang hal-hal random seperti biasanya.
Jantungnya yang berdetak kencang sedikit mengganggu dan membuat Elsa berbicara melantur ke sana-sini.
Tama hanya tertawa, anak ini begitu aktif terus mengomentari apa saja yang dia lihat. Begitu Tama berhenti di halte seperti biasanya, Elsa tidak turun.
"Dituruninnya di sana aja deh, masa di sini?"
Mengundang keheranan tapi Tama melakukannya saja. "Emang nggak papa diturunin di sini? Kamu nggak masalah nanti kalau orang-orang lihat kamu keluar dari mobil dekan?" Tama mencoba memastikan kalau Elsa tidak salah langkah.
"Enggak lah, takut terlambat juga. Bye bye."
"Ciumannya mana? Katanya mau."
Menahan tangan sang istri. Elsa malu-malu, tapi dia melakukannya hanya dalam hitungan detik kemudian keluar dan berlari. Melihat tingkah Elsa yang seperti itu membuat Tama tertawa terbahak-bahak.
"Bocah udah mulai jatuh cinta kayaknya." Tama menyadari hal itu.
__ADS_1
Elsa sendiri memanfaatkan momen-momen waktu luang untuk menggulir internet dan menjelajah bagaimana menjadi istri yang baik. Topik yang ada di dalam kepalanya masih saja tentang hal itu.
Bahkan ketika dirinya pulang ke rumah, Elsa mencoba pakaian-pakaian seksi pemberian mertuanya. Katanya hubungan dengan suami bukan hanya tentang makan dan juga perhatian saja. Ada kebutuhan biologis yang harus dipenuhi.
Elsa sebenarnya takut, tapi dirinya harus melakukan ini lambat laun. Lagi pula Ketika Tama menciumnya, Elsa merasakan desiran yang begitu menghangatkan. Maka hubungan tubuh tidak akan jauh beda seperti itu kan?
"Nggak papa deh, takut paling juga sebentar. Kan nanti bakalan ada Dedek kalau berhasil." senyum sendiri dan mengelus perutnya yang datar. Membayangkan bagaimana nantinya Elsa dan Tama memiliki anak kecil di dalam rumah tangga mereka.
"Harus gaya gue Lurusin rambut? Tapi ini kan ciri khas gue yang agak kribo. Ya udah deh nggak apa-apa. Tapi gue kelihatan aneh, kribo gini pakai baju seksi. Heran gak sih?"
***
Seperti biasa Elsa menyiapkan makan malam untuk sang suami. Tama juga merasakan perubahan yang begitu besar pada sang istri, bagaimana dirinya selalu disambut dengan senyuman yang manis dan juga tingkah Elsa yang menggemaskan.
Tama jelas-jelas menyadari kalau Elsa sedang jatuh cinta padanya, dia tersenyum dan mengusap rambut sang istri. "Masak apa sekarang?"
"Mas lihat aja, terus nanti komentar ya."
"Masakan kamu mah selalu enak." mengecup kening Elsa dan memilih untuk mandi terlebih dahulu. Tapi sebelum itu fokus Tama malah pada tangan sang istri. "Kamu terluka?"
"Lain kali hati-hati. Kalau aku lihat kayak gini lagi, mending kita sewa pembantu aja."
Nggak mau pengen masak sendiri. Ada pembantu nanti aku nggak ada kerjaan."
"Tapi lagi diperhatiin lagi ya." Tama mengecup tangan itu. "Kalau lama-lama nanti tangannya bisa buntung."
"Ih nyebelin!"
Hal-hal seperti inilah yang membuat Elsa meleleh. Meskipun tamat tetap menyebalkan, tapi sisi manisnya lebih menonjol sekarang.
Setelah mereka makan malam, Elsa Belajar seperti biasanya. Teman-temannya yang terus saja mengganggu, membuat Elsa mematikan telepon. Dia ingin fokus pada Tama saja.
Setelah ngantuk pun, Tama akan menggendongnya dan membawa Elsa berbaring di atas ranjang seperti sebelumnya. Mengelus rambut sang istri dengan penuh kasih sayang dan mengecup keningnya.
Elsa tahu ini waktu yang tepat untuk membicarakan hubungan mereka. "Mas Tama tidur belum?"
__ADS_1
"Kalau udah tidur nggak akan usap punggung kamu."
"Is nyebelin banget."
"Kenapa?" tanya Tama sambil terkekeh.
"Kamu nerima Perjodohan ini dengan perasaan yang kayak gimana?"
Mata Tama yang sebelumnya terpejam itu kembali terbuka, menatap Elsa yang fokus membuat pola abstrak di dada suaminya.
"Maksud kamu kayak gimana?"
"Terpaksa atau gimana gitu?"
"Nggak terpaksa sama sekali. Kamu memang diciptakan untuk dilindungi sama aku."
Aduh Elsa malah semakin meleleh dibuatnya.
"Kebahagiaan kamu adalah tugas aku. Makanya kamu harus bahagia."
Kini Elsa berani menatap Tama. "Dan kebahagiaan aku sekarang adalah kamu, Mas tahu nggak? Kayaknya aku udah suka deh sama Mas, aku udah mau nerima pernikahan ini, aku nggak mau berpaling lagi dari perasaan ini."
Tama tidak terkejut dengan pengakuan Elsa.
"Aku mau jadi istri yang baik, Aku juga mau membangun rumah tangga yang kayak orang lain. Ayo kita membangunnya sama-sama. Aku juga udah siap kalau misalnya kamu mau minta hak. Lagian aku juga mau punya adik bayi, kayaknya lucu nggak sih?" Elsa tersenyum dengan lebar sampai matanya menyipit membayangkan kebahagiaan itu. "Jadi sekarang kamu bisa bebas kalau mau apa-apain aku, aku cinta sama kamu."
Tapi di luar ekspektasi Elsa, senyuman Tama malah luntur selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali tersenyum lebar.
Elsa menyadarinya, pria itu tidak bahagia dan memaksakan senyumannya.
Pikiran Elsa tiba-tiba kosong, hatinya tidak menghangat saat Tama mengejut keningnya lama. Kenapa dia melihat kekecewaan di mata Tama? Apakah pria itu tidak merasakan hal yang sama? Lalu untuk apa semua sikap manisnya selama ini? Bukankah untuk membangun rumah tangga bersama dengannya.
"Terima kasih cantik, jangan buru-buru ya. Pelan-pelan aja. Kamu juga masih muda, masih punya banyak cita-cita kan?"
Inilah yang paling mengecewakan, Kenapa Tama tidak mengatakan kalau dirinya juga menyayangi Elsa? Ekspektasinya ternyata terlalu tinggi.
__ADS_1