Benang Merah Pak Dekan

Benang Merah Pak Dekan
Nikah vs Kawin


__ADS_3

Elsa langsung dibawa pulang hari itu juga, kedinginan dan juga ketakutan. Bahkan Tama menggendong Elsa keluar dari mobil, membawanya ke kamar mandi. "Ganti baju ya. Biar nggak masuk angin."


"Kamu mau ke mana? Ke sana lagi?"


"Nggak ke mana-mana mau ke bawah aja. Aku nggak akan ninggalin kamu." berucap demikian dengan Tatapan yang meyakinkan hingga Elsa membiarkan pria itu pergi. Dia mengganti pakaiannya sendiri, dan segera mencari keberadaan Tama. Berada di sisi pria itu membuat Elsa merasa tenang, apalagi dengan ingatan kejadian sebelumnya yang begitu mengerikan


Ternyata Tama sedang membuatkan teh hangat untuknya, dia bahkan menarik tangan Elsa untuk duduk, dipakaikan selimut tipis membungkus tubuh tersebut. "Masih kedinginan?"


"Nggak terlalu kalau sekarang," ucapnya dengan bibir yang mengerucut. "Nggak suka rumah yang itu."


"Nggak apa-apa kan bukan buat kita."


"Maksudnya nanti Bahaya kalau ada yang beli, ada kolam renangnya. Gimana kalau mereka juga kayak aku nggak bisa berenang? Nanti kamu yang harus tanggung jawab?"


Tama tertawa mendengarnya. "Nggak kayak gitu. Kan udah bukan tanggung jawab kita, nanti kita belajar hukum lebih banyak lagi ya."


Tahu Elsa tidak nyaman duduk, Tama menepuk pahanya sendiri. "Mau duduk di sini nggak?"


"Apain duduk di sana, jangan macam-macam ya." masih dengan tatapan mengancam.


Namun begitu tamak menarik Elsa untuk duduk di sana dan memeluknya, perempuan itu tidak memberontak. Dia malah membalas pelukan itu hingga kepalanya berada di ceruk leher Tama. Wangi sang suami begitu mendominasi, membuatnya merasa nyaman dan berkata, "Untung aja nyaman. Kalau nggak aku udah nggak mau diginiin."


Tama hanya terkekeh mendengarnya. "Mau pindah ke kamar nggak?"

__ADS_1


"Males jalan."


Baru saja menjawab dengan kalimat seperti itu, tubuhnya tiba-tiba terangkat dengan Tama yang menggendongnya. Elsa memekik kaget, tapi dia juga tidak memberontak. Apalagi ketika tubuhnya menyentuh kasur yang empuk, rasa kantuk langsung datang.


"Tadi aku takut banget. Kalau aku mati soalnya nggak ada yang jagain Mama. Aku juga belum dapat gelar sarjana. Belum kawin juga."


"Kita kan udah."


"Ini mah nikah bukan kawin." Elsa berdecak heran.


Tama baru mengerti apa yang dikatakan oleh sang istri, sementara Elsa baru menyadari apa yang dia katakan. Kepalanya langsung mengadah menatap Tama. "Bukan gitu maksudnya." sedikit mendorong sang suami yang menyondongkan wajah padanya.


"Bukan gitu gimana? Kalau gitu ayo kawin sekarang."


"Mas ih jangan kayak gitu! Jangan bikin aku takut!"


"Nggak gitu maksudnya. Kan belum siap. Emang mau sekarang?" bertanya dengan suara pelan dengan tangan yang terus menarik ujung baju Tama supaya kembali mendekat. "Sini dekatan lagi. Aku dingin."


"Kamu nggak nyaman ya?"


"Bukan kayak gitu ih!"


Akhirnya Tama kembali tertawa dengan wajah menjengkelkannya. Dia menarik Elsa lagi ke dalam pelukan, dengan tatapan yang belum terlepas satu sama lain. Tama mendekatkan wajah dan mencium kening Elsa lama.

__ADS_1


Jantung perempuan itu berdetak dengan kencang, apalagi ketika Tama beralih mencium kelopak matanya, turun pada hidung, dan terakhir mengecup bibir.


Elsa tidak bisa mendefinisikan bagaimana perasaannya. Ini yang pertama kali! Dan perutnya terasa geli dihinggapi banyak kupu-kupu.


"Udah sekarang tidur," ucapnya menenggelamkan kepala Elsa pada bahunya.


***


Malam itu Tama tiba-tiba saja mendapatkan panggilan dari ketua Yayasan untuk datang ke rumah yang ada di luar kota. Karena kondisi Elsa yang belum baik, Tama memilih mengantarkan sang istri ke rumah mertuanya.


Elsa sebenarnya sudah menolak, tidak apa dia sendirian di sini.


"Aku pulangnya besok mungkin sore. Kamu kondisinya lagi nggak fit sekarang. Hidung aja sekarang mampet. Kalau nanti malam kamu kenapa-napa, nggak ada yang bisa kamu minta tolong."


Ketika Elsa hendak berbicara lagi, Tama tiba-tiba saja mengecup bibirnya dan itu berhasil membuat Elsa terdiam. Tapi tidak ada komplain sama sekali, bahkan Elsa hanya tersenyum yang mana membuat Tama sendiri gemas.


"Ayo cepetan Nanti keburu malam."


Elsa duduk manis di bangku penumpang Di mana biasanya dia selalu mengoceh. Begitu tiba di rumah sama mama, Elsa langsung menghamburkan pelukannya sambil berkata, "Elsa tadi Hampir mati tahu. Pokoknya nanti Elsa ceritain apa yang terjadi oke."


Ibu Wina hanya bisa tersenyum melihat tingkah sang anak. Dia mendekati Tama dulu dan berbicara dengan sosok itu. Tama menitipkan Elsa sampai dia menjemputnya besok. Ibu Wina sendiri tidak keberatan.


"Hati-hati di jalan ya nak kasih tahu kalau udah sampai."

__ADS_1


Menatap kepergian Tama setelah Elsa mencium tangan suaminya dengan malu-malu. Begitu mobil Tama hilang, Elsa langsung berucap, "mama ajarin Elsa buat bisa jadi istri idaman dong."


"Kamu kesambet apa di jalan? Jangan-jangan ada Kunti yang ikut kamu? Kok kamu jadi centil sama Tama?"


__ADS_2