Benang Merah Pak Dekan

Benang Merah Pak Dekan
Manis


__ADS_3

Setelah pulang dari Jogjakarta, Elsa memiliki waktu untuk libur satu hari. Mereka baru sampai di kampus pagi hari nya, di mana sudah banyak orang yang menjemput. Seperti biasa Elsa akan diam-diam masuk ke dalam mobil milik Tama.


Pria itu sudah memberikan kuncinya pada Elsa, karena Tama masih berbicara dengan dosen lain di dalam. Mobil Tama berada di parkiran fakultas bersama dengan mobil para dosen lainnya.


"Heh mau ngapain? Ini mobilnya Pak dekan. Kamu mau apa?" tanya seorang satpam mendekat dengan mata yang melotot. "Jangan kamu pikir hanya karena di sini sepi jadi nggak ada yang jaga."


"Saya nggak ngapa-ngapain kok pak." sambil menyembunyikan kunci itu di belakang tubuhnya.


"Mau congkel mobilnya Pak Tama kan? Berani banget kamu. Ayo ikut saya."


"Dia emang mau masuk ke dalam mobil kok, Pa." sebuah suara tiba-tiba saja datang, Tama keluar dari lembaga dan melangkah mendekat. "Nggak papa emang Kami mau pulang bareng."


"Oh maaf tadi dekan saya pikir dia mau macam-macam. Habis mencurigakan." kemudian menatap Elsa dan meminta maaf.


Mod saat benar-benar buruk. Dia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun dan hanya mengangguk. Di dalam mobil juga demikian, Elsa hanya diam sampai akhirnya tertidur.


Meskipun matanya terduduk, tapi satu jam pertama Elsa selalu bisa mendengar apa yang dikatakan sekitarnya. Dia pikir akan dibangunkan oleh Tama, tapi pria itu malah mengangkat tubuhnya dan menidurkan Elsa di kamar. "Tidur yang nyenyak," ucapnya kemudian mengecup kening Elsa cukup lama.


Hal itu masih bisa dirasakan oleh Elsa. Jantungnya berdetak dengan kencang. Kini dia benar-benar tidak bisa terlelap karena terus terpikirkan. Apalagi Elsa merasakan kalau Tama juga berbaring di belakangnya. Elsa sengaja membuat gerakan pelan, dimana pria itu langsung mengusap punggung Elsa dan mengatakan, "tidur lagi Ini udah di rumah."


Karena akhir-akhir ini Elsa terbiasa tidur di dalam pelukan Tama, jadi dia membalikan badannya dengan mata yang masih terpejam.


Seperti yang Elsa duga, Tama langsung membawa Elsa ke dalam dekapan dan keduanya langsung terlelap.


***


Ketika Elsa bangun, dia sudah tidak mendapati sang suami di sampingnya. Elsa mencarinya ke ruang kerja yang juga kamar kedua Tama, tapi ternyata tidak ada di sana juga.

__ADS_1


Elsa pernah masuk ke sini, hanya sekedar melihat-lihat-lihat saja. Sekarang aromanya sudah didominasi oleh Tama yang memiliki bau yang khas.


Banyak berkas juga yang ada di mejanya. Lamunan Elsa terus sadar ketika ponselnya berbunyi. "Ini cowok kenapa sih? Masa iya suka sama gue?" gumam Elsa ketika melihat Rizky yang kembali mengiriminya pesan. "Atau dia Pengen kenal sama Ira, atau sama Yulia, atau juga sama Anisa ya?"


Jadi bertanya-tanya seperti itu. Elsa memilih membalas sekedarnya saja. Dia memang tidak terlalu suka berinteraksi terlalu Intens dengan orang yang tidak berkepentingan.


Memutuskan turun ke lantai bawah, ternyata mendapati Tama di sana sedang menonton televisi dengan makanan yang begitu banyak di atas meja.


"Udah bangun?" Tama menoleh ketika mendengar suara.


Elsa hanya mengangguk sebagai jawaban, wajahnya masih sembab. "Kenapa banyak makanan?"


"Pasti lapar kan? Tadi aja belum sempat makan. Sini makan dulu."


"Kamu udah makan?" Tama mengangguk. "Kok nggak nungguin sih?"


"Ditungguin di sini makanya disimpannya nggak di ruang makan."


"Pengen ditambah sosis ah," ucapnya melangkah ke dapur. Mengambil sosis dari dalam freezer, dan memanaskannya sebentar. Pipinya tidak berhenti mengunyah, Tama sampai tidak bisa berpaling.


"Kenapa liatin aku kayak gitu?" Elsa langsung balikan badan karena malu.


Dia memotong-motong sosis itu menjadi kecil untuk dia tabur di atas nasi nantinya. Ketika sedang memotong, Elsa tidak sengaja melukai tangannya. "Aw sakit!"


Membuat Tama ikut panik dan langsung mendekat. Pria itu refleks mengemut telunjuk Elsa. "Ayo kita Obatin dulu."


Perhatian Tama berhasil membuat jantung Elsa berdetak dengan kencang. Dia sangat suka diperhatikan seperti ini.

__ADS_1


***


Tangan Elsa sudah diobati oleh Tama, seharian itu juga Elsa dimanjakan. Sampai ketika sore hari tiba, Tama mengatakan kalau dirinya tertarik untuk membeli salah satu rumah yang ada di sini untuk investasi jangka panjang. Dan Tama akan mengajak Elsa untuk melihat rumah itu.


Masih berada di kompleks yang sama, mereka pergi menggunakan mobil. Di sana sudah ada agen real estate yang menunggu.


"Ini istri saya," ucap Tama memperkenalkan Elsa. Entah mengapa kalimat itu berhasil membuat Elsa berbunga-bunga.


Senang bertemu dengan anda, nyonya. "Silakan masuk dan melihat-lihat."


"Beri kami waktu untuk berjalan berdua."


"Kalau begitu Boleh saya pergi ke rumah sebelah dulu? Kebetulan saya sedang survei untuk menjualnya."


Elsa dan Tama tidak keberatan sama sekali. Karena Tama ingin leluasa melihat-lihat tanpa diikuti oleh agen tersebut. Elsa ikut mengomentari beberapa bagian yang sudah jelek. "Nanti kalau ada hantunya gimana."


Kan nanti juga direnovasi, nggak bakalan kayak gini. "Mau ikut ke lantai dua?"


"Nggak mau ah. Gelap kayak gitu bikin aku takut." ucap Elsa memilih berjalan menuju halaman belakang. Sendirian dia di sana merasa merinding, sampai Elsa tertarik melihat kolam yang ditutup. Dia membukanya dan cukup kaget karena kolam itu masih bersih. "Cantik banget warnanya." Elsa menunduk untuk menatap lebih dalam sambil memperkirakan berapa kedalamannya.


Hingga tiba-tiba Elsa kehilangan keseimbangan. BYUR! Elsa dari jatuh ke dalam kolam dengan keadaan dirinya yang tidak bisa berenang. Elsa terus mencoba menggapai udara.


Tubuhnya merasa lemas, Elsa berpikir inilah akhir kehidupannya?


Namun di ambang kesadarannya, Elsa masih bisa mendengar seseorang yang masuk dan menyelamatkannya.


Elsa terbaru begitu menggapai udara, dia langsung menangis setelah menepi.

__ADS_1


"Nggak papa, aku di sini," ucap Tama sambil menciumi Puncak kepala sang istri sambil memeluk Elsa dengan erat.


***


__ADS_2