
Untuk menyambut kedatangan sang suami, Elsa membuat makan malam. kali ini, dia selalu tersipu jika memikirkan Tama. Apa ini yang namanya jatuh cinta? “Ah gak mungkin jatuh cinta.” Masih mengelak, padahal Elsa sadar kalau semua debaran itu terjadi pertama kalinya untuk Tama.
Masih teringat jelas bagaimana beberapa pria memandangnya, “Mana ada yang mau sama si Elsa, kribo kayak gitu.”
“Elsa, kalau lu mau dapet jodoh, lurusin dulu tuh rambutnya.”
Elsa sakit hati, tapi sekarang tidak lagi karena Tama selalu menganggap rambutnya lucu dan menggemaskan. “Hihihi, Tumis usus buat Mas Tama,” ucapnya dengan semangat. Tadi Rizky hanya mengantarkannya sampai depan gerbang perum saja, sengaja karena Elsa ingin membeli bahan makanan terlebih dahulu dan menyiapkan semua ini.
Setelah siap, Elsa berbangga diri dan mengirimkan gambar pada sang Mama. sayangnya, Mama Wina tidak menjawab sama sekali. Hanya membacanya saja. “Judul yang cocok buat si Mama itu adalah ‘tukang baca chat wa tapi gak pernah dibalas, azabnya gak main main bro.’ hehehe.” Elsa tertawa seorang diri membayangkan nantinya Tama memakan makanan buatannya. Pasti suaminya sangat bahagia dan bangga,
“Gimana biar bikin Mas Tama tambah kagum ya sama gue?” bergumam seperti itu sampai akhirnya Elsa membekap mulutnya sendiri. tidak menyangka akan mengatakan hal tersebut. “Oh my god, bisa bisanya gue.”
Daripada membalas pesan teman temannya dan Rizky yang masuk, Elsa memilih untuk mencari beberapa hal di internet tentang menjadi istri idaman, salah satunya dekat dengan mertua. Jadi, Elsa memutuskan untuk mengakrabkan diri dengan calon mertuanya. Elsa gugup bukan main. “Hallo assalamualaikum, Bun?”
“Waalaikum salam, Cantik. Gimana kondisinya?” Bunda Ine menyambut dengan baik, membuka jalan bagi Elsa untuk lebih terbuka dan menanyakan beberapa hal tentang apa yang disukai dan tidak oleh Tama. Bahkan, kali ini Elsa menahan lapar supaya bisa makan dengan Tama.
Sementara di sisi lain, Tama harus tertahan oleh rector Universitas yang tiba tiba datang ke ruangannya dan mengajak makan bersama sambil membahas kemajuan fakultas Hukum. Sebenarnya Tama ingin segera pulang, tapi dia harus tertahan dulu.
Baru setelah selesai, Tama langsung bergegas. Demi mencegah marahnya sang istri, Tama membeli bunga dulu di sebuah toko. Sialnya, bumi terlalu sempit hingga mempertemukan Bara dengan Yuda.
“Buat cewek lu?”
“Bini. Lu ngapain sih dimana mana.”
“Jangan gitu, Tam. Ini tanda tuhan sayang lu. Tau kenapa? biar lu tulus cinta sama bini lu, dia cantik plus lucu kok. Biar lu bisa lupain masa lalu lu, stop berharap sama hal yang gak mungkin.”
Tama mengabaikan dan focus membeli bunga. Yuda terus mengikuti langkahnya. “Oh iya, tadi dia juga ke rumah ponaakan gue, si Rizky. Diantar sama Rizky tadi.”
Tama terdiam sejenak, kenapa diantarkan sama Rizky?
__ADS_1
“Jangan sampe lu nyesel deh, Tama. Nanti kaalau giliran dia pergi, rasa itu makin sesak.” Kemudian Yuda meninggalkannya begitu saja. teman sialan memang.
***
Elsa sudah sangat lapar, tapi dia menahan dirinya demi Tama. Ingin makan bersama walaupun hati menyangkal kalau dia mulai menyukai pria itu. “Ini sih efek yang gak mau makan sendiri soalnya ngerasa gak nikmat,” ucap Elsa. “Lagian Mama pasti seneng kalau aku jadi sholehah sama suami. Biar dia panjang umur.” Menyangkal selalu seperti itu.
Sampai terdengar suara mobil memasuki pekarangan, Elsa langsung berlari seketika. Namun begitu hendak membuka pintu, Elsa berdehem dan melangkah mundur membiarkan Tama yang membukanya dari depan.
“Assalamualaikum. Eh, si kribo udah di sini aja?”
“Ngomong apa?” tanya Elsa seketika marah.
“gemes kamu tuh. Salamnya dijawab dulu dong, Cantik?”
“Waalaikumsalam,” jawabnya sambil memalingkan wajah.
Tama terkekeh gemas dan mengusak rambut. “Nih buat kamu, sama cokelat.”
“Um, enggak. Sebagai permintaan maaf karena telat pulang, tadi ada Pak Rektor. Aku udah bilang kan? Kamu baca kan?” tanya Tama.
Elsa mengangguk, dia memang sudah membaca pesan itu. tapi tetap saja merasa kesal karena menunggu lama. “Makasih.” Elsa menerima hadiah itu. “Makan malam dulu aja, Mas. udah aku siapin.”
“Kamu siapin? Kamu masak?” tanya Tama yang dibalas anggukan oleh Elsa. Pria itu kaget mendengarnya dan segera memeriksa, ada banyak makanan yang sudah siap disajikan di sana. “Loh, kamu belum makan?”
“Um, tadi kebanyakan nyemil. Jadi gak terlalu pengen,” ucapnya sambil memalingkan wajah.
Tama niatnya hendak mandi dulu karena masih kenyang, tapi melihat sang istri sudah menyiapkan ditambah lagi Elsa yang belum makan membuatnya memilih untuk duduk. “Kayaknya enak nih.”
Senyuman Elsa langsung mengembang. Dia duduk di kursi berlawanan dan mengambil nasi untuknya sendiri. untuk melayani Tama, Elsa masih belum berani karena malu. Bahkan Elsa tidak mau mencicipi lebih dulu karena ingin melihat ekspresi sang suami. “Enak gak?”
__ADS_1
“Enak banget ini. pinter masak juga kamu.”
Elsa mengulum senyumannya. “Aku sebenarnya pinter masak, Cuma males aja.”
“Sekarangmah jangan males dong, kan udah punya suami. Nanti dikasih jatah deh.”
Pipi Elsa seketika memerah ketika mendengar kata jatah. Apakah pada hal itu?
“Kenapa dah? Kemasukan? Belum sholat ya?”
“Ih apaan sih, gak gitu.” Tangannya menepis ketika Tama hendak mengusak rambutnya.
“Habis kamu diem mulu, biasanya kan suka review tiap partikel kecil yang ada di depan mata.”
Itu karena, Elsa malu. Apalagi saat Tama selesai makan, pria itu membantu membereskan semuanya. “Gak papa biar aku aja, Mas. Mas mandi aja sana.”
“Gak papa, kan yang rumah tangga itu kita berdua. Mas tolongin juga.”
Elsa kembali diem.
“Cie diem. Pasti malu ya?”
“Apaan sih ih!” namun Elsa tidak menolak ketika Tama mendekat dan mencium puncak kepalanya, perempuan itu tersenyum dengan lebar dan berbalik supaya Tama tidak bisa melihatnya.
Ya tuhan, Elsa sadar dirinya mulai tidak normal. Apalagi Tama yang memuji terus masakannya.
“Mandi dulu ya.”
“Oke.”
__ADS_1
Membiarkan Tama pergi ke lantai atas, sementara Elsa memilih untuk membuat dessert. Di lantai atas, Tama tidak sengaja menjatuhkan dompetnya hingga terbuka dan memperlihatkan sebuah foto perempuan yang membuatnya mampu terdiam lama.
Helaan napas terdengar, Tama meraih dompetnya dan disimpan di dalam laci yang dia kunci. Dan kunci itu Tama simpan di lemari pakaiannya.