
Elsa tidak bisa menahan perasaan sesak itu. Tidak lagi menikmati bersama dengan teman-temannya dan memilih untuk pulang saja. Itu juga menolak bersama dengan Ira karena Elsa tidak mau memperlihatkan kesedihannya. Dia pulang dengan taksi online, tapi Elsa meminta untuk berhenti di salah satu kedai ice cream untuk mengembalikan moodnya. Setidaknya, dia harus kembali ke dalam rumah dalam keadaan yang kuat. Tidak boleh seperti ini.
Memesan ice cream sendirian, dan duduk di pinggir jendela hingga bisa melihat aktivitas di luar sana. Bagaimana ada anak anak bersama dengan orangtua mereka. Dulu, Elsa membayangkan hal itu dengan Tama yang ada di sisinya. Namun sekarang, Elsa membayangkan Tama mengharapkan hal tersebut bersama dengan wanita lain.
Sakit sekali, kenapa dia harus jatuh cinta pada pria yang sudah memiliki seseorang di hatinya? Tidak bisa seperti ini, Elsa harus kuat untuk menerima kenyataan kalau tidak semua yang dia inginkan akan menjadi kenyataan.
“Hei, kenapa ngelamun?”
Kaget, ternyata itu adalah si ketua Bem. “Kakak?”
“Gabung boleh gak? Um, Kakak nunggu aja kok, nanti langsung pergi.”
“Duduk aja, Kak,” ucap Elsa mengizinkan. Merasa kasihan juga pada Rizky yang beberapa kali didorong menjauh oleh Elsa karena dirinya terfokus pada Tama yang jelas jelas tidak mengharapkannya.
“Sendirian?”
“Iya, kakak juga?”
“Heem nih, lagi pengen ice cream.”
“Enak apalagi kalau lagi galau, Kak.”
“Lah, Elsa galau?”
Elsa hanya tersenyum. “Cinta tak seindah realita nyatanya, Kak.”
“Gak papa, semua ada prosesnya juga kok, termasuk cinta. Tapi Kakak harap, Elsa gak berlabuh pada orang yang salah. Kakak bilang gini karena kakak sayang sama Elsa, bukan apa apa hanya saja Kakak gak mau Elsa salah langkah. Lupain perasaan kakak yang bikin kamu gak nyaman, cukup jadi orang yang kuat aja ya terhadap apapun itu.”
Ada orang yang peduli padanya, dan cinta padanya tapi malah diabaikan.
“Udah makan siang belum?”
“Belum.”
__ADS_1
“Kenapa makan ice cream? Makan siang dulu dong. Mau ditemenin sama Kakak?”
“Enggak, Kakak kalau ada kegiatan mah lanjut aja.”
“Gak ah. Mana mungkin kakak ninggalin orang yang Kakak sayang, apalagi lagi galau begini. Nanti kemasukan setan kalau dibiarin sendiri.”
Elsa malah tertawa, dan Rizky malah memakan ice cream bersamanya di sana. Setelah itu, Rizky juga mengajaknya makan siang. Pria itu mengalihkan pikiran Elsa yang sedang gelisah dengan mengajaknya membicarakan hal lain. Bahwa masih ada hal yang membuat Elsa bahagia selain cinta, contohnya mimpi.
“Elsa mau jadi pengacara kan? Yok kejar mimpinya.”
“Tapi mimpinya itu karena cinta, Kak. Hufftt, aku itu sayang sama dia, tapi hatinya udah terisi sama orang lain.”
“Kayak kakak kalau gitumah. Kakak sayang sama Elsa, tapi Elsa sayang sama orang itu. Itu hal manusiawi kok. Intinya mencintai gak harus memiliki. Kakak mah liat elsa bahagia aja udah ngerasa berhasil dalam mencintai.”
Elsa terdiam menyadari, haruskah dia melepaskan Tama juga? Tapi dia terlanjur jatuh pada praitu. Dan ang paling menyakitkan itu saat Tama membohonginya. Kenapa harus menikahinya saat pria itu memiliki pujaan hati yang lain? Kenapa tidak menolak saja? Elsa kecea karena dibohongi, merasa dijadikan sebagai beban saja.
Dan tingkah Tama yang memperlakukan dirinya layaknya orang yang paling dicintai adalah poin yang paling menyakiti hatinya.
***
Ketika Tama pulang, Elsa berdiam diri di kamar enggan menyambutnya lagi dengan pelukan ataupun makan malam. Dan itu membuat Tama merasa heran, dia datang mencari Elsa yang ternyta tengah duduk di bibir ranjang sambil terdiam memainkan jemari tangannya. “Elsa?” panggil Tama melangkah mendekat. “Kenapa? Kamu sakit, Cil?” masih dengan bercanda.
Namun menyadari Elsa yang berbeda, Tama mengubah mode jahilnya. Dia bersimpuh di hadapan sang istri kemudian menatap wajahnya yang menunduk, tangan Tama meraih jemari Elsa untuk digenggam. Namun sang istri menariknya, enggan disentuh oleh Tama.
“Kenapa? Ada yang salah? Sini cerita sama aku.”
“Kenapa?”
“Apanya?” taya Tama bingung.
“Kenapa kamu bohongin aku?”
Tama semakin kebingungan. “Bohong gimana? Hmmm? Tentang dosen? Mata kuliah atau apa, Cantik?”
__ADS_1
“Tentang hati. Kamu udah punya seseorang di hati kamu ‘kan?”
Tama terlihat menegang, dia menatap Elsa tidak percaya. Dan istrinya itu terkkeh meremehkan. “Gak usah akting gitu depan aku. Kalau kamu gak suka, gak cinta sama aku, gak perlu tuh perlakukan aku layaknya wanita paling dicintai di dunia ini. Mana pake sayang, pake tanggung jawab, pake ngomong kalau kebahagiaan aku adalah tugas kamu.”
“Emang itu kenyataannya.”
“Tapi aku bukan wanita yang kamu suka kan?!” elsa tiak bisa lagi menahan amarahnya. “Kamu bohongin aku, selama ini yang kamu suka itu Kharisma. Bukan aku. Kalau kamu suka sama dia, kenapa nikahin aku? Kenapa gak nikahin dia aja?”
Tama memejamkan matanya. “Denger, ini gak yang kayak kamu bayangin. Apa yang kamu dengar memangnya?”
“Gak penting. Kalau kamu emang suka sama dia, ayok kita pisah aja, aku gak mau hidup sama pria yang hatinya buat orang lain.”
“Gak kayak gitu Elsa.” Menahan tangan Elsa yang akan berdiri. “Kamu..... kamu gak bisa putuskan hubungan kita. Aku udah janji bakalan jagain kamu, dan aku gak akan pernah bisa sama Karisma.”
“Kenapa? Karena kamu gak bisa sama Karisma, terus kamu jadiin aku pelampiasan gitu? Iya?”
“Elsa.... gak gitu.”
“Kamu cowok jahat. Aku benci kamu dan juga cewek itu. Apa jangan jangan kalian berhubungan di belakang aku?” tanya Elsa sambil menyunggingkan senyumannya. Elsa benar benar tidak bisa terkontrol lagi. Dia marah besar pada Tama. “Dimana kamu sembunyiin cewek itu? Pinter banget akting kayak cowok tanggung jawab, setia sama istrinya.”
“Oke, keluarin apa yang kamu mau terus kita ngobrol baik baik ya?”
“Sering tidur sama dia sampe kamu gak mau bangun rumah tangga sama aku?”
“Elsa kamu keterlaluan.” Tama melepaskan genggaman tangannya pada Elsa. “Karisma bukan orang yang kayak gitu.”
“Oh kamu bela dia? Tentu, dia pemilik hati kamu yang kamu rindukan.” Elsa berdiri hendak pergi. “Kalian menjijikan.”
“Jangan pernah bilang hal itu tentang Karisma!”” teriak Tama. “Dia bukan wanita seperti itu!”
Tama membentaknya, untuk yang pertama kali. Bahkan matanya menatap tajam, tidak meluluh ketika Elsa meneteskan air mata. Sampai beberapa detik kemudian, Tama sadar atas apa yang dilakukannya. “Els...”
“Gak, aku mau pergi. Silahkan kamu sama dia, aku gak masalah. Udah, kita gak usah berhubungan lagi.”
__ADS_1
Elsa berlari pergi dari rumah itu dengan air mata yang berderai.