Benang Merah Pak Dekan

Benang Merah Pak Dekan
Perlindungan


__ADS_3

Berangkat bersama menuju kampus, Elsa menceritakan apa saja yang terjadi kemarin. "Terus aku dikasih es krim sama Kak Rizky," berucap demikian tanpa sadar.


"Rizky kok ada di sana? Dia kan bukan tingkat satu."


"Dia bantuin aku sama yang lain. Aku juga nggak tahu dia tiba-tiba ada." Elsa segera membela dirinya sendiri sebelum dituduh yang tidak-tidak. Meskipun beberapa kali Elsa berharap Tama memperlihatkan kecemburuannya secara terang-terangan. "Aku suka banget sama choco mint yang ada di mall itu. Tapi kayaknya belum ada di mana-mana di tokonya."


"Nanti kita jalan-jalan ke sana. Mau?"


"Nggak ah takut nanti ada orang yang dikenal."


Kali ini Tama memelankan kecepatan mobilnya. Memang sudah saatnya dia membicarakan hal ini bersama dengan sang istri. "Sampai kapan kita mau sembunyi-sembunyi terus? Emang mau selamanya kayak gini?"


"Emang Mas udah siap kalau semua orang tahu kita Itu pasangan suami istri?"


"Ya kenapa nggak kan? Lagian mereka juga udah tahu kalau aku udah punya istri. Sekarang tinggal nyebut kalau istrinya itu kamu."


Menikah dengan tama saja masih sebuah hal yang mengagetkan untuk Elsa. Apalagi jika semua orang mengetahui kalau dirinya adalah istri dari Dekan Fakultas Hukum. Elsa masih ingin kebebasan, masih ingin dipandang sama oleh orang lain. Tapi di sisi lain dia juga sangat senang ingin diakui oleh Tama. Hanya saja Elsa masih belum bisa membaca Bagaimana jika semua orang mengetahui hal ini.


Dirinya masih labil, usianya bahkan belum menginjak kepala dua dan harus memikirkan hal berat seperti ini.


Seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran istrinya, Tama menggenggam tangan Elsa kemudian menciumnya. "Jangan dipikirin yang berat-berat, kita ikuti aja alurnya kalau emang mau kayak gini."


Elsa tidak bisa membantah, Elsa juga tidak memiliki alasan yang kuat untuk terus menyembunyikan pernikahan ini dari orang lain.


"Ayo kita saling kenal aja dulu." akhirnya kalimat itu terucap. Yang membuat Tama sadar kalau Elsa belum benar-benar mempercayainya sebagai seorang pasangan.


"Mau berhenti di halte?"


Elsa mengangguk dan diturunkan di sana, sebelum keluar dia mencium tangan Tama terlebih dahulu.


"Bentar dulu." menahan Elsa untuk merangkum pipinya dan memberikan kecupan di kening sang istri. "Belajar yang benar, kalau ada yang macam-macam sama kamu, bilang sama aku ya."


"Bisa-bisa nanti mereka dikeluarin kalau aku ngadu sama kamu."


"Itu gunanya punya suami dekan, cantik." bahkan Tama mencubit ujung hidung Elsa sekarang. "Rambutnya cantik banget."


Ketika kalimat itu tiba-tiba keluar, mood Elsa langsung turun. "Bilang aja kalau aku kribo," ucapnya sambil keluar dan menghentakkan kaki.


Tama hanya tertawa terbahak-bahak di sana, dan melajukan mobil meninggalkan Elsa. Sebenarnya tidak benar-benar menjadi badmood. Sekarang candaan candaan tamat rasa menyenangkan untuk Elsa. Dia merangkum pipinya sendiri dan tersenyum.


"Woi kribo!" teriak salah satu temannya yang berada di dalam mobil. "Mau nebeng nggak?" Lanjut Ira.


"Ogah gue mau jalan kaki aja biar sehat."


Ira memelankan laju mobilnya supaya bisa tetap berbicara dengan Elsa. "Nanti lu digondol sama orang gila, mau?"


"Nggak akan." itu bukan Elsa yang menjawab. Ira maupun Elsa menoleh dan mendapati Rizki yang berjalan ke arah mereka. "Kakak yang temenin Elsa, kamu duluan aja sana. Orang mau sehat juga malah dilarang."


"Bukan gitu, Kak maksudnya, hehe. Kalau gitu saya duluan ya." bergegas meninggalkan dua orang itu di sana.

__ADS_1


"Kamu jalan kaki?" tanya Rizky.


"Tadi naik grab, Kak. Kakak sendiri nggak bawa motor?"


"Dipinjem temen dulu, makanya tadi nebeng."


"Ini kok jalan sama aku?"


"Lihat kamu sendirian soalnya, takut nanti ada orang gila. Makanya Kakak temenin, nggak masalah kan?"


Elsa mengangguk. Sebenarnya dia tidak bodoh untuk menyadari kalau Rizky tertarik padanya.


"Udah makan?"


"Udah, Kak."


Tanpa Elsa sadari, kalau sang suami sedang menatapnya dengan tajam dari lantai 2 Gedung lembaga.


***


"Gila banget nyampe dosen muji-muji hasil kelompok kita. Padahal ini hasil dari pemikiran Kak Rizki loh."


Elsa hanya mengangguk-angguk mendengar bagaimana teman-temannya memuji ketua BEM itu.


*Tuh orangnya datang ke sini." Yulia menunjuk dengan tatapan.


Semua orang langsung duduk tegap, sementara Elsa tetap mengaduk bakso yang ada di mangkok.


"Makasih banget loh kak, kita terbantu banget. Akan dapat pujian dari dosen."


Rizky mungkin berbicara dengan mahasiswa lain, tapi fokus matanya tetap pada Elsa. "Elsa kenapa? Sakit?"


"Hah? Enggak kak. Cuma males aja masih ada satu mata kuliah lagi."


"Jangan gitu dong, kan katanya mau Jadi pengacara." bahkan sekarang Rizky mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Choco mint kesukaan kamu."


"Loh kok kakak kasih es krim?"


"Biar semangat aja, nggak males lagi." Rizky mengedarkan pandangannya. "Duluan ya, saya masih ada rapat."


Meninggalkan semua orang yang tercengang di sana, menatap Elsa dengan tatapan menggoda. "Kayaknya dia beneran suka deh sama lo." Anisa menyenggol bahu Elsa. "Lu jangan nolak mulu, kasihan Kak Rizki udah ngasih perhatian dari kemarin."


"Masa iya sih dia beneran suka sama gue? Orang kribo gini, cantik juga nggak."


*Itu yang dinamakan rezeki." Yulia merangkul pundak Elsa. *Gue juga sadar kalau lu nggak cantik-cantik amat, gue juga bingung kenapa Kak Rizki bisa suka sama lu. Tapi ya itu yang namanya rezeki."


*Gue nggak mau sama dia, banyak fans-nya."


*Jangan nolak. Kesempatan ini nggak datang dua kali loh. Kali-kali ajak dia keluar. Kalau lu berdua cocok terus gas aja langsung."

__ADS_1


Elsa menggelengkan kepalanya, mau apa dia berjalan berdua bersama dengan pria lain? Suaminya saja ditolak. Elsa masih takut dosa untuk jalan-jalan bersama dengan Rizki berdua. "Gue bingung mau ngapain, orang gue belum pernah pacaran."


Yang seketika membuat Abdul menyemburkan es jeruk dari mulutnya. "Masa lu belum pernah pacaran?!"


"Ih Abdul jorok!" teriak Elsa kesal.


***


Sebelum pergi ke kelas, Elsa ke kamar mandi terlebih dahulu. Kebetulan kamar mandi mahasiswa perempuan ada di dekat lembaga.


Bersihkan bekas es krim yang berceceran di baju, dan juga rambut yang lengket karena ulah Abdul.


Ketika sedang sibuk membersihkannya sendiri, tiba-tiba Elsa dikagetkan dengan sekelompok kakak tingkat yang masuk dengan cara membuka pintu secara brutal.


"Ya ampun apa nggak bisa pelan-pelan ya," gumam Elsa sedikit kesal.


"Kamu jangan kecentilan jadi cewek, sok dekat sama Rizki."


Saat Elsa mengalihkan pandangannya, dia baru sadar kalau mereka adalah anak organisasi. "Emangnya saya kecentilan kayak gimana ya Kak?"


"Cari perhatian Rizky, minta bantuan dia ngerjain tugas segala juga."


"Bukan saya yang minta, tapi teman-teman saya."


"Kamu kalau diomongin jangan balas ngejawab. Diam aja."


"Kan punya bibir, Kak. Masa saya difitnah tetap diem aja, nggak pernah aku cari-cari perhatian Kak Rizki."


"Berani kamu ya sama kakak tingkat. Mau dikasih tanda sama senior biar kamu kesusahan ke depannya. Kamu nggak tahu ya gimana effort ormawa ke lembaga? Kalau nama kamu bisa aku laporin kapan aja, ke depannya kamu bakalan susah dapat nilai."


Dalam hati, Elsa tertawa, "Coba aja kalau bisa. Orang gue yang punya Pak dekan." tapi karena tidak ingin memperpanjang masalah, jadi Elsa mengatakan, "Iya Kak maaf."


"Rizky itu kemarin ada Banyak banget tugas, dia pergi gara-gara kamu sama temen-temen kamu yang minta."


Yang harus disalahkan kan Rizky karena lepas tanggung jawab, itu yang ada di dalam pikiran Elsa. Tapi dia hanya mengangguk saja, membiarkan orang-orang itu memarahinya supaya tidak kecentilan dan menjaga jarak dengan sang ketua BEM. Yang mana membuat Elsa paham, kalau orang yang baru saja bicara dengannya adalah perempuan yang menyukai Rizki.


"Yuk cabut." mengajak teman-temannya keluar.


"Awas lu kalau kecentilan."


"Gara-gara lu, Rizky jadi nggak bisa fokus."


Elsa malah tersenyum. "Berarti aku cantik banget ya di Mata Kak Rizki?"


"Ngomong apa kamu?" sosok yang nggak keluar itu kembali berbalik dan menatap tajam pada Elsa.


"Nggak, Kak. Saya sadar diri kok buat bisa bersanding sama Kak Rizki."


Barulah mereka keluar dari kamar mandi, tapi Elsa melihat raut wajah Mereka terlihat terkejut. Ada apa ya?

__ADS_1


Begitu mereka benar-benar keluar, Elsa juga mengintip. Kaget karena ada Tama di sana. Tangan yang menyilang di dada dengan Tatapan yang tajam. "Diapain sama mereka?"


__ADS_2