
Kereta api telah sampai di stasiun XX, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam. Orang-orang dengan tujuan yang sama turun berhamburan memadati stasiun yang sudah ramai dengan orang-orang yang tengah menunggu kereta untuk jurusan tertentu.
Seorang perempuan dengan rambut sebahu, fokus menuruni tangga kereta berusaha keluar dari desakan orang-orang, menjauh ke pinggir menghampiri tempat duduk. Mulai mengeluarkan handphone nya dan menghubungi seseorang.
"Halo Daisy. Aku sudah sampai di stasiun. Kamu menunggu dimana?"
Seseorang di sebrang menjawab dan memberikan instruksi kepada si perempuan untuk segera berjalan menuju gerbang keluar.
Perempuan yang diberikan instruksi pun segera berjalan menuju gerbang keluar. Masih mendengarkan instruksi dengan tangan kanan menggenggam handphone ditelinga dan tangan kiri yang menarik koper. Mengedarkan pandangan, dan seseorang yang tengah dicari pun akhirnya tertangkap mata juga.
Seseorang dengan rambut panjang lurus bernama Diasy, melambaikan tangannya berkali-kali kepada si perempuan yang sedang mengembangkan senyum manisnya. Segera si perempuan berlari kecil membelah keramaian manusia dan memeluk erat orang yang bernama Daisy tersebut.
"Aaahhhh! Daisy, Daisy, Daisyyyy."
Berteriak riang sedikit nyaring juga, sehingga membuat orang-orang yang sedang berlalu lalang sedikit menoleh. Karena yang dipeluk pun sama nyaringnya menyambut pelukan rindu si perempuan.
"Runa ku sayang! Aku kangen, kangen, kangen berat!" Posisi yang masih saling berpelukan erat dan juga sedikit bergoyang kekiri dan kekanan.
"Bukan cuma kamu tahu. Aku juga kangennnnnnn banget sama kamu." Melepaskan pelukan mereka, dengan ekspresi keduanya yang masih sama. Senyum yang mengembang.
"Tunggu-tunggu, kenapa jaketmu di ikat dipinggang begitu?" Tanya Daisy heran.
Seketika wajah Runa sedikit berubah menjadi masam.
"Waktu aku mau jalan ke pangkalan ojek, tiba-tiba aja ada mobil yang melesat. Pas banget ada genangan air, jadinya kena deh." Jawab Runa kesal, sembari menunjukkan bajunya yang sedikit kotor karena cipratan air.
__ADS_1
"Karena males ganti, jadi aku halangin aja pake jaket." Lanjutnya.
"Uuhh, kasian banget sih. Baru mau ke kota, udah ada aja cobaannya." Daisy mencoba menenangkan Runa dengan menepuk-nepuk pundaknya.
"Enggak apa-apalah. Semoga aja enggak ketemu lagi sama itu orang. Malesin, bikin darah tinggi."
***
Sebelum pulang. Mereka mampir ke warung mie ayam. Untuk makan siang, sambil ngobrol-ngobrol. Runa dan Daisy bercerita tentang pengalaman mereka masing-masing semenjak lulus sekolah. Bagaimana kehidupan kota sebelum Runa datang dan juga kehidupan desa setelah kepergian Daisy.
"Maafkan aku Runa, aku tidak ada disaat masa terpurukmu." Daisy menggenggam kedua tangan Runa dengan ekspresi wajah yang merasa bersalah.
Runa menghela nafas. Lalu tersenyum tulus menatap sahabatnya.
"Tidak perlu minta maaf. Ini semua sudah takdir. Ayah dan Ibuku sudah bahagia disana. Semoga mereka diterima disisi-Nya."
Sedangkan Ibu Runa meninggal dua bulan yang lalu, akibat penyakit jantung yang dideritanya selama 2 tahun terakhir.
Runa memilih menyewakan rumah orangtuanya kepada keluarga kaya yang baru saja dipindah tugaskan ke kampung halamannya dengan biaya perbulannya dibayar melalui transfer.
Karena Runa sudah tidak punya siapa-siapa lagi disana. Runa tidak terlalu dekat dengan Keluarga dari kedua belah pihak setelah nenek dari pihak ibu dan kakek serta neneknya dari pihak ayah meninggal. Oleh karena itu, ia memutuskan menyusul Daisy untuk melanjutkan pendidikannya yang sempat tertunda satu tahun.
"Uang tabungan kedua orangtuaku ditambah penghasilanku selama kerja satu tahun ini sepertinya cukup untuk hidupku 2 tahun kedepan. Aku hanya tinggal mencari pekerjaan paruh waktu sambil kuliah."
"Aku akan membantumu mencari pekerjaan paruh waktu. Semoga dengan berpindahnya kamu ke sini. Sedih mu bisa segera terobati"
__ADS_1
"Terimakasih Daisy." Runa tersenyum bahagia bersamaan dengan air matanya yang jatuh dengan mudahnya membasahi pipi. Wajah kedua orang tuanya masih terbayang jelas dipikiran Runa sehingga setiap malam Runa selalu menangis dan menangis karena masih belum bisa menerima kenyataan bahwa mereka orang yang sangat Runa cintai telah pergi ke alam lain untuk selamanya.
***
"Ini kosan yang kamu tinggali selama satu tahun ini Daisy?"
"Iyaaa. ayo masuk." Daisy membuka kunci gembok dan mempersilahkan Runa untuk masuk kedalam kamar kos yang bertempat dilantai dua.
kamar kosan yang ditinggali Daisy cukup besar. Didalam sudah tersedia 2 kasur, 1 meja belajar dan 2 lemari pakaian, satu kompor untuk memasak juga kamar mandi didalam. Daisy memang sudah bilang kepada Ibu kos, bahwa temannya akan menyewa kos disini tetapi tempat nya sudah penuh karena itu Runa akan tinggal sementara di Kamar kos Daisy dengan biaya sewa sedikit dinaikkan. Setelah satu tahun, penghuni kamar kos yang di pinggir kamar Daisy akan segera keluar karena tahun depan adalah kelulusannya. Daisy beruntung memiliki Ibu Kos yang baik hati.
"Ibu Ros (pemilik kosan) sangat baik yaa, aku jadi teringat Ibuku." Runa bergumam dengan tersenyum membayangkan kembali wajah ibunya.
"Beliau memang sangat baik, aku menganggapnya seperti ibuku sendiri setelah Bunda Tika dan Ibumu." Daisy menjawab antusias. Karena selama hidupnya ia tidak pernah tahu siapa kedua orangtuanya, karena ia ditemukan oleh warga di desa dibuang di pinggir jalan setelah itu diberikan kepada Bunda Tika selaku pemilik Panti Asuhan di desa. Sungguh sangat ironis cerita kehidupan Daisy, tapi ia menutup nya dengan rapat sakit hati yang ia rasakan akibat tindakan orangtuanya. Namun, ia tidak akan pernah membenci mereka. Daisy selalu menyertai orangtuanya yang entah siapa dan dimana didalam doa yang ia panjatkan setiap hari.
"Kapan kamu akan memulai perkuliahan?"
"Ospek dimulai 2 minggu lagi, aku tidak sabar untuk segera masuk perkuliahan." Runa terlihat sangat bersemangat, sembari membereskan barang-barangnya. Ya, kuliah adalah salah satu keinginannya akan tetapi ia urungkan karena tidak ingin meninggalkan Ibunya seorang diri, sedangkan di desanya tidak ada satupun universitas. karena itu, ia memilih untuk bekerja dan menjadi karyawan pabrik saja.
Sedangkan Daisy, ia memang tidak punya niat untuk kuliah. tujuan dia ke kota adalah untuk bekerja mencari uang sebanyak-banyaknya karena ia sudah tidak ada semangat untuk belajar, sekarang semangatnya adalah bekerja, mencari uang dan juga mencari jodoh idaman. setiap bulan uang gajihnya ia sisakan untuk bayar kos, tabungannya dan juga mengirim Bunda Tika uang karena ia sangat mencintai Bunda Tika layaknya Ibunya sendiri, setelah apa yang telah Bunda Tika beri rasanya Daisy tidak bisa membalas kebaikan beliau walaupun setiap bulan mengirimkan uang.
"Wah wah, kau sangat bersemangat sekali yaa. Kalau ada mahasiswa tampan, bolehlah dikenalin sama sahabat mu ini." Daisy menyenggol bahu Runa, dengan kedua alis yang dinaik turunkan. Runa hanya bisa tertawa mendengar celotehan sahabat nya ini, dari dulu ia selalu berbicara tentang jodoh tapi sampai sekarang ia belum menemukan lelaki idamannya yang seperti Park Bo gum, artis asal korea selatan.
"Dasar kau Daisy, masih saja mengharapkan lelaki seperti Park Bo gum mu itu?" Runa masih sedikit tertawa.
"Hei aku masih mengingat kata-kata Pak presiden pertama kita yang pernah kamu katakan saat tugas pidato waktu sekolah dulu. 'Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh diantara bintang-bintang'. Masa kamu lupa lagi." Daisy berdiri berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
Runa sedikit terkejut. Teringat kembali masa-masa sekolah, termasuk tugas berpidato didepan kelas. Ia mengambil tema tentang mimpi untuk memberikan motivasi kepada teman-teman dan dirinya sendiri. Ia semakin bersemangat untuk segera memasuki perkuliahan dan menggapai mimpinya.