
setelah menjalani ospek selama satu minggu. Akhirnya Runa memulai perkuliahannya, tentunya dengan semangat berapi-api.
Ia bangun sangat pagi. Bersiap-siap dengan pakaian terbaiknya, menyisir rambut sebahunya lalu mengikatnya seperti ekor kuda dengan poni rambut yang sedikit panjang dirapikan dibelakang telinga.
Daisy sedang memainkan handphone nya. Minggu ini ia kebagian shift siang.
"Semangat sayangku!" Daisy memberi semangat kepada sahabatnya.
"Yaaa! Semangat!" Runa membalasnya dengan penuh semangat pula.
"Aku berangkat. Bye! Bye!". Runa keluar menuruni anak tangga dengan santai namun bersemangat.
Daisy hanya melambaikan tangannya. Melihat punggung Runa sampai tak terlihat lagi oleh matanya. Lalu fokus kembali bermain handphone.
***
Runa telah memasuki kelas Jurusan akuntansi. Hari ini kelas pagi dimulai pukul 07.30 WIB.
Kelas diawali dengan perkenalan singkat dari bapak dosen mata kuliah. Lalu, sisanya adalah langsung pada materi mata kuliah.
Semua mahasiswa sibuk mendengar dan mencatat apa yang bapak dosen sampaikan. Penyampaiannya yang ringan, mampu ditangkap dengan baik oleh para mahasiswa termasuk Runa.
Bahkan ada yang sudah berani bertanya, atau berdiskusi dengan Pak dosen yang diketahui bernama Pak Fiki setelah berkenalan tadi.
***
Perkuliahan selesai pukul 3 sore, tidak ada lagi jadwal. Runa memutuskan untuk pulang saja. Ia berjalan menuruni anak tangga bersama Bella, teman barunya di kelas.
"Bella!" Seseorang memanggil Bella dari kejauhan.
"Kak Reno." Ekspresi Bella seketika berubah, ketika melihat lelaki yang berlari menghampiri Bella dan Runa.
"Selamat telah menjadi mahasiswa baru." Lelaki yang diketahui bernama Reno memberi selamat kepada Bella dengan senyuman manisnya.
"Hahaha, terima kasih Kak." Bella menjawab dengan wajah sedikit merona.
__ADS_1
"Oh iya Runa, kenalkan ini Kak Reno. Satu tahun diatas kita." Lanjut Bella memperkenalkan Runa dan Reno.
Runa seketika tersadar dari lamunannya. Iya segera memperkenalkan diri kepada Reno begitupun sebaliknya.
"Kak Reno ada urusan apa mencariku?"
"Aku hanya ingin mengajakmu pulang bersama. Tapi sepertinya kalian akan pulang bersama."
Runa seketika menjawab cepat sebelum Bella menjawab pertanyaan Reno.
"Anu, kami memang mau pulang bersama. Tapi, cuman sampe sana aja." Menunjuk gerbang depan.
"Karena kita beda arah, lagipula kosanku dekat disekitar sini. Bella kamu pulang bareng aja sama Kak Reno."
"Tapi.." Perkataan Bella dipotong dengan cepat oleh Runa.
"Tidak apa-apa. Aku juga lupa. Sebenernya hari ini ada janji sama teman." Runa mengada-ada alasan.
"Kalau begitu, aku duluan Runa. Maaf tidak jadi pulang bersama." Bella masih merasa sedikit bersalah.
Setelah Runa berhasil meyakinkan, Bella pun pergi pulang bersama Kak Reno dengan mobil yang dikendarai Kak Reno tentunya.
Runa merasa Kak Reno adalah mahasiswa populer disini. Dilihat dari tadi, Runa mengamati lingkungan sekitar dimana Bella sedang berkomunikasi dengannya. Para mahasiswa perempuan terus melirik ke arahnya bahkan ada yang berbisik-bisik sampai kepergian mobil Kak Reno pun yang melesat menuju gerbang depan.
Runa akui Kak Reno memang tampan. Yah, selain tampan juga manis dan terlihat seperti lelaki dewasa. Tadi juga ia sedikit gugup saat berkenalan dengannya.
"Hih apa-apaan kamu Runa. Fokus kuliah jangan kebawa-bawa Daisy yang suka melek kalau ada cowok ganteng."
Runa segera menyadarkan dirinya, dan Bergegas melangkahkan kaki menuju gerbang depan untuk pulang.
***
Berjalan menyusuri jalanan kota. Menikmati angin menjelang sore, walau cuaca hari ini tampak terang tapi masih terbilang sejuk karena banyak awan yang menghalangi jalannya sinar matahari. Langkah kaki Runa terhenti sejenak, matanya fokus menatap toko buku yang berdiri di sebrang. Entah kenapa, langkah kakinya tiba-tiba saja membawa dirinya menuju toko buku tersebut.
Didalam tidak sedikit banyak orang yang sedang melihat-lihat atau membaca buku di tempat khusus bacaan gratis. Runa mengedarkan pandangannya, melihat-lihat buku di rak bertuliskan "novel". Ia melihat satu-satu judul buku romansa. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Runa menoleh dengan sedikit kaget.
__ADS_1
"Halo kak!" Menyapa dengan senyuman yang menunjukkan gigi rapihnya.
"Eeh Sovia, baru pulang sekolah?" Runa menyapa balik seseorang yang bernama sovia tersebut.
Ia adalah anak tunggal dari Ibu Ros ( pemilik kosan ). Selama masa istirahat kemarin sebelum menjalankan ospek. Runa tidak sengaja bertemu dengan Sovia saat hendak bermain lagi sendirian ke taman kota. Semenjak saat itu, ia jadi dekat dengan Sovia, karena dia anaknya yang periang dan mudah bergaul membuat Runa tidak canggung untuk mengobrol Bahkan bercanda.
"Iya kak, aku baru pulang sekolah. Kebetulan sekali kita bertemu disini, aku juga lagi pengen beli buku novel romansa. Hehe." Sovia menjawab dengan mata yang tidak berpaling dari buku-buku yang berjejer di rak.
"Baru kelas satu SMA udah seneng baca novel romansa yaa. Kalau kakak sih lagi seneng-senengnya baca novel horor sama komedi, kalau novel romansa baru suka mulai kelas tiga SMA" Runa berkata sambil tertawa.
"Ya ampun kakak. Aku sudah tahu novel romansa dari kelas satu SMP dong. Bahkan waktu SMP aku sudah punya dua mantan pacar." Sovia menyahut dengan kaget.
Runa mendengar perkataan Sovia jadi kaget sendiri, sejujurnya dia belum pernah pacaran sampai sekarang. Maklum, dia tipe anak rumahan. Pulang sekolah langsung ke rumah, bahkan kalau ada kerja kelompok ngerjainnya dirumah dia, dan jarang satu kelompok dengan cowok seringnya sama cewek kecuali dibuatkan sendiri oleh guru kelas. Runa itu, cewek yang sedikit cuek dan kurang peka kalau ada cowok yang mau pdkt (pendekatan). Sekalinya tahu ada cowok yang mau pdkt sama dia, eeh malah langsung di cuekin abis. Bukan sok jual mahal atau apalah, tapi karena emang sedikit takut atau gampang gugup kalau berhadapan sama cowok. Enggak tahu gimana cara ngerespon nya, wkwk.
Tapi setelah lulus SMA, ia mulai sedikit merubah sikapnya. Sedikit lebih ramah dan berani berhadapan dengan cowok, karena kalau dipikir-pikir enggak baik juga punya sikap kayak gitu. Takutnya mereka salah tangkap atas sikapnya. Kalau ada yang ingin dekat sama dia, bahkan menyatakan perasaan, Runa sudah bisa menanggapi dengan baik atau menolaknya dengan baik pula agar tidak menyakiti hati si pria. Tetapi, tidak sepenuhnya berani terkadang ia juga masih merasa gugup jika harus berhadapan dengan pria. Intinya dia enggak gampang deket sama cowok, kebanyakan temannya cewek semua.
"Hahaha, aku terlalu senang dengan hal-hal yang berbau horor dan komedi." Jawab Runa dengan tertawa lagi.
"Apakah kakak pernah jatuh cinta?" Sovia bertanya dengan ekspresi yang sangat penasaran. Karena menurut Sovia, Runa itu manis namun juga berkarisma, pasti ada beberapa pria yang suka padanya kan? Tidak mungkin Kak Runa tidak pernah berpacaran, Sovia bergumam dalam hati.
"Aku? Hahaha, kalau jatuh cinta pernah sekali. Tapi kalau pacaran belum pernah."
Runa menjawab, seakan tahu arah pembicaraan Sovia kemana. Iya, dia pernah jatuh cinta dengan teman sekelasnya, lelaki itu ia tidak ingin menyebutkan namanya. Ia adalah lelaki pertama yang Runa cintai, entah kenapa ia suka bahkan jatuh cinta kepadanya sampai-sampai selalu teringat dimana pun dan kapanpun. Maklum namanya juga jatuh cinta, wkwk. Tapi ia tidak pernah bisa mengungkapkan perasaannya dan membungkusnya dengan sikap cuek yang selalu memerhatikan dari jarak jauh. Tapi ia tidak pernah menyesal pernah menyukai nya walaupun sampai sekarang cintanya tidak pernah terbalaskan. Bukan, bukan terbalaskan melainkan tersampaikan.
"Wah, wah. Tak kusangka kakak belum pernah berpacaran. Seperti nya masa sekolah kakak tidak ada bumbu drama-dramanya yaa, terlalu monoton. Haha." Sovia menimpali jawaban Runa dengan sedikit candaan, namun terdengar menyakitkan.
"Bercanda kak, jangan dimasukin hati. Hehe." Lanjutnya.
"Hei, hei. Maaf maaf aja yah, walaupun kehidupan SMA kakak enggak ada drama-drama jatuh cinta monyet kayak kamu. Jadian putus, jadian putus. Tapi kenangan SMA kakak lebih menyenangkan dari pada cinta-cintaan." Runa menimpali dengan cepat perkataan Sovia. Tidak mau kalah, karena memang kenangan masa sekolahnya sangatlah menyenangkan walaupun tidak ada drama cinta-cintaan. Bukankah pergi ke sekolah itu tujuannya untuk mencari ilmu dan memperluas wawasan juga pergaulan bukannya mencari jodoh dan memperluas jaringan mantan? Hehe.
"Iya iyaa, maaf dong. Aku kan cuman bercanda." Sovia sedikit kaget dengan respon Runa, karena terlihat sedikit emosional.
"Hahaha, lagian siapa yang ngambek. Kamu takut yaa? Makanya jangan bercandai orang dewasa." Runa tertawa geli melihat perubahan ekspresi Sovia. Tadi ia memang sengaja menjawab dengan sedikit emosi, siapa suruh main canda-candaan sama Runa.
"Iih kakak, bikin aku kaget aja." Mereka pun tertawa dengan pelan bersama-sama, karena takut mengganggu orang-orang disekitar.
__ADS_1