
Setelah bosan satu minggu menganggur didalam kosan, Runa sudah merasa seperti peliharaan sahabatnya saja. Makan pagi Daisy yang membelikan, makan siang sudah ada stok dan Daisy jugalah yang menyediakan. Runa hanya bangun, makan, tiduran mempersiapkan diri untuk menuju perkuliahan dan juga membereskan kamar tentunya. Hanya pergi keluar 3 kali bersama Daisy untuk menghapal beberapa jalan dan juga bermain ke universitas dimana ia akan menempuh pendidikan S1 nya. Kebetulan Universitas tersebut hanya membutuhkan waktu 15 menit dari Kosan Runa dan sangat beruntung nya Runa, Gedung Jurusannya berada di posisi pertama dari gerbang masuk universitas.
Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Daisy pulang telat, karena harus lembur. Untuk mengusir rasa bosan, Runa memilih untuk jalan-jalan ke taman kota.
***
Ditaman sangat ramai sekali, para pedagang yang sibuk melayani para pembeli atau yang baru saja datang sedang mempersiapkan peralatan dan bahan-bahannya. Anak-anak yang berlalu lalang, remaja berpasang-pasangan yang sedang dimabuk kasmaran, serta keluarga kecil yang hanya duduk mengobrol riang mengawasi anak-anak mereka sambil memakan jajanan yang telah dibeli. Membuat Runa tertawa pelan, hatinya merasa hangat melihat orang-orang melepas kepenatan, rindu dengan orang terkasih.
Ia masih berjalan, tidak membeli apapun karena memang tidak lapar. Matanya tertarik pada jembatan diujung taman, 'kenapa tempat itu sepi?' Gumamnya dalam hati. Ia menghampiri tempat itu. Diam ditengah jembatan, memandang sungai yang bersinar karena terangnya langit barat. Tidak terduga, pipinya telah basah dengan air mata yang entah kapan lolos begitu saja.
"Ayah...Ibu..." Lirihnya dengan suara tertahan.
Segera mengusap air matanya. Memandang langit sore dengan senyum mengembang.
"Taman kota sangat indah disore hari. Semoga kalian bahagia, aku disini pasti akan bahagia." Gumam Runa, menyaksikan matahari terbenam di langit barat.
"Benar sekali. Sangat indah!" Suara lelaki yang tiba-tiba muncul dipinggir Runa.
Membuat Runa kaget. Sejak kapan ada lelaki disampingnya? Tetapi Runa tidak menggubris perkataan lelaki itu dan tetap menatap langit yang senjanya semakin terang. 'Oh tidak! siapa lelaki itu, benar-benar sok akrab tidak tahu malu!' dalam hati Runa menggerutu.
"Hei Nona manis, apakah anda bisu atau tuli?"
__ADS_1
Disaat Runa akan membalas perkataannya dengan emosi, tiba-tiba suara handphone lelaki itu berdering.
"Halo..."
"..."
"Apa?! Baiklah aku kesana sekarang juga." Wajahnya terlihat sangat panik.
"Maaf Nona manis, saya pamit undur diri. Semoga harimu menyenangkan." Tersenyum pada Runa lalu pergi dengan tergesa-gesa.
"Apa maksudnya?!" Runa masih berdiri menatap punggung lelaki itu dengan takjub. Bukan! Bukan mengagumi tubuhnya yang tinggi dan juga tegap, melainkan sikapnya yang sangat terlalu sok akrab.
***
Saat memasuki gang, jalannya sedikit dipercepat. Ia masih mengingat kejadian sore tadi, tentang lelaki itu. Runa berpikir bahwa lelaki itu akan menghipnotis nya. Ya, dia berpikir lelaki itu akan berbuat macam-macam padanya. Seperti menghipnotis lalu mengambil barang berharga atau menculiknya. Runa baru tersadar setelah lelaki itu hilang dari penglihatannya, wajah Runa seketika pucat pasi. Ia merasa lalai untuk menjaga dirinya saat jalan-jalan seorang diri, apalagi menuju waktu malam.
***
"Kamu kemana aja Runa?" Daisy segera memberi pertanyaan kepada sahabatnya itu, sambil mengeringkan rambut nya yang masih basah selepas mandi tadi.
"Aku hanya jalan-jalan ditaman kota. Lalu tidak terasa langit sudah mulai gelap. Saat menuju pulang aku merasa ingin membeli ini, aromanya menggoda perut ku. Haha." Runa membawa piring dan mengeluarkan roti bakar yang telah ia beli.
__ADS_1
"Ayo kita makan bersama." Lanjutnya.
Daisy segera menghampiri dan melahap roti bakar dengan nikmatnya. Roti bakar hari ini rasanya lebih nikmat dari biasanya, mungkin efek terlalu capek lembur sore tadi. Maklum malam minggu, kafe dimana Daisy bekerja pasti akan sangat ramai pada sore hari hingga pukul 9 malam dimana kafe tersebut tutup.
"Kenapa hari ini kamu lembur?" Runa membuka percakapan kembali, setelah roti bakar habis dilahap mereka berdua.
"Kafe dimana aku bekerja selalu ramai setiap harinya. Apalagi menuju waktu sore dan malam. Ditambah sekarang malam minggu. Beuh, pasti ngantri. Sampai kami harus menyiapkan kursi tambahan didepan kafe."
"Bukankah kafe itu dua lantai?" Runa memastikan. Karena ia sedikit kaget sampai harus menambah kursi dihalaman kafe itu. Karena kafe itu sangat luas baik lantai bawah ataupun lantai atas, dan juga taman kafe tersebut memiliki luas setengah dari luas keseluruhan kafe. Ia mengetahui nya karena Daisy pernah mengajaknya kesana dan mentraktir makanan untuknya sambil memperkenalkan kepada beberepa teman kerja Daisy.
"Itu dia. Aku enggak bohong. Karena faktanya kafe itu selalu ramai. Makanan dan minuman tradisional dalam maupun luar negeri dari berbagai macam negara ada disana, dan yang membuat orang-orang tidak pernah bosan untuk datang kembali itu karena makanan yang enak juga pas dikantong para pelajar termasuk siswa SMP." Daisy menjelaskan dengan mata yang membulat, dia juga sebenarnya tidak menyangka kafe tersebut akan seramai itu. Tapi, fakta tidak bisa digubris memang seperti itulah kenyataannya.
"Berarti, kamu sampai lembur begini apakah kekurangan karyawan? Bisakah aku melamar kerja paruh waktu di tempat mu?" Runa sangat antusias ingin bekerja di tempat Daisy bekerja. Karena tempatnya yang strategis dengan kosan, juga gajihnya yang besar ( Daisy pernah menceritakan tempat pekerjaannya dan juga gaji yang ia terima, selama mengobrol di warung mie ayam waktu pertama kali mereka bertemu setelah setahun tidak berjumpa )
"Sudah aku katakan padamu. Tidak ada kerja paruh waktu, maaf." Daisy segera menjawab dan mengingatkan kembali bahwa kafe dimana ia kerja tidak menerima lowongan kerja paruh waktu.
Runa sedikit kecewa mendengar kembali fakta tidak adanya lowongan untuk kerja paruh waktu, walau memang Daisy pernah memberi tahu itu sebelumnya. Runa berharap ia bisa bekerja disana, walaupun ia sekarang mempunyai penghasilan dari uang hasil kontrak rumah mendiang orangtuanya akan tetapi dia tidak akan pernah tahu keluarga kaya itu akan sampai kapan tinggal mengontrak dirumahnya itu.
***
"Segeralah tidur Daisy, besok kamu shift pagi atau siang?" Runa sudah diposisi nyaman untuk tidur.
__ADS_1
"Tenang saja, besok aku bagian libur. Senangnya dapat giliran libur di hari minggu." Mata Daisy masih sangat segar dengan fokus menonton Drakor ( drama korea ) dari handphone nya.
Runa hanya bisa menghela nafas melihat sahabatnya yang masih bersemangat untuk menonton Drakor. Sebenarnya dia juga ingin, toh masuk perkuliahan masih ada satu minggu lagi. Tetapi, rasa kantuknya lebih besar daripada keinginannya bergabung dengan Daisy. Ia pun segera membaca doa, menatap langit-langit kamar sedikit lama hingga tak sadar dia sudah terlelap didalam mimpinya.