BENCI TAPI RINDU

BENCI TAPI RINDU
BAB 8


__ADS_3

Runa berjalan menyusuri lorong kampus. Tatapannya Sedikit kosong karena masih memikirkan kejadian kemarin, dimana Reno Kakak tingkatnya mengajaknya pulang bersama.


Flashback On


"Udah sore nih Kak, saya pamit pulang duluan yah." Runa mengakhiri obrolannya dengan Reno.


"Sama aku juga mau pulang, bagaimana kalau kita pulang bareng?" Tanyanya menatap Runa.


"Kakak enggak nunggu Bella selesai kelasnya?" Tanya Runa balik.


"Aku enggak bilang bakal nunggu dia kok. Palingan juga dia bakal pesen ojek online." Jawab Reno santai.


"Yuk!" Lanjutnya mengajak Runa.


Sebenarnya Runa enggak ada niatan pulang bareng, apalagi sama cowok dan cowoknya Reno lagi yang disuka sama Bella. Kalau ada yang lihat nanti gimana, bisa salah pahamkan. Tapi, Reno maksa banget sampai dia bilang akan ikut Runa jalan kaki nganterin sampai kosan dengan dalih waktu udah sore walau dekat tetep bahaya. 'Lebay!' Gerutu Runa dalam hati.


Akhirnya mau tidak mau, Runa pun menerima tawaran Reno untuk pulang bersama. Didalam mobil kami saling diam, tidak mengeluarkan kata sedikit pun karena tidak ada topik untuk diobrolkan.


"Kak, kok arahnya kesana? makin jauh dong" Runa membuka suara dengan nada sedikit kesal.


"Ya terus mau kemana, mobil enggak bisa ngelewatin garis batas, juga enggak boleh ngelawan arus. Jadi harus kesana nyari jalan buat putar arah." Jawab Reno dengan santai.


Wajah Runa memerah, marah campur malu. Karena perkataan Reno ada benarnya juga. Tapi, malah makin lama buat sampai ke kosan Runa. Runa hanya bisa mengelus dada nya untuk bersabar.


Reno pun membuka percakapan kembali, seperti menanyakan Runa berasal dari mana termasuk kedua orangtuanya atau kenapa memilih jurusan akuntansi dan segala macamnya. Runa hanya menjawab ala kadarnya dengan singkat, cepat dan padat.


"Runa..." Reno membuka suara kembali.


"Hem..." Runa menjawab singkat, dengan mata yang tertuju keluar jendela tanpa melirik sedikit pun pada Reno.

__ADS_1


Reno hanya menghela nafas berat, melihat perlakuan Runa. Ia tahu Runa tidak tertarik kepadanya, tapi ia sudah terlanjur jatuh cinta pada pandangan pertama saat Bella memperkenalkan Runa kepadanya waktu itu.


"Kalau aku suka kamu boleh enggak?" Kata Reno dengan lancarnya namun mata masih fokus kedepan.


Mata Runa membulat sempurna, lalu kembali seperti biasa. Mulutnya masih tertutup, pikirannya seperti sedang mencari kata-kata yang pas untuk dikeluarkan.


"Maaf Kak. Saya sudah punya pasangan." Entah kenapa hanya kata-kata itu yang terlintas dan dengan mudahnya terucap oleh mulut Runa. 'Sial! Enggak ada alasan lain apa Runa, gimana kalau ketahuan bohong. Bodo amatlah!' Sesalnya dalam hati. Pikir Runa, jika Runa mempunyai alasan sedang tidak ingin menjalin hubungan atau alasan lainnya yang menandakan bahwa ia jomblo, pasti Reno akan terus ngejar dia dan itu enggak baik apalagi sampai Bella tahu. Jangan sampai.


setelah mendengar jawaban Runa, Reno hanya mengangguk-anggukkan kepala. Seketika suasana hening kembali, hingga Reno tuntas mengantarkan Runa sampai gang kosannya.


Flashback Off


Kelas pagi dimulai jam 8, telat setengah jam. Karena hari ini jam nya Pak Fiki, namun ada berita bahwa Pak Fiki telah menjalankan operasi akibat penyakit yang di deritanya dan harus istirahat penuh selama 3 bulan. Kabar tersebut dibenarkan oleh Suny sebagai anak tunggal Pak Fiki yang satu kelas dengan Runa.


"Siapa sih dosen penggantinya, lama bener." Runa menghela nafas.


"Mungkin sedang ada urusan." Jawab Bella sembari fokus main handphone.


"Ouh pindah haluan sekarang mah, enggak sama Kak Reno lagi." Timpal Runa yang sedang membaca buku novel.


"Iih beda lagi. Akukan cuman bilang doang bukan berarti suka, itu juga aku denger dari orang-orang." jawab Bella.


Setengah jam sudah berlalu. Suny datang dengan seseorang lelaki, wajah Suny terlihat merona dan senyumannya sengaja dibuat semanis mungkin ketika mengobrol dengan lelaki tersebut. Mereka berjalan masuk kedalam kelas, membuat setiap pasang mata mahasiswa tertuju pada Suny dan lelaki disampingnya termasuk Runa.


Ketika yang lain menatap kagum pada ketampanan lelaki tersebut dan menatap iri kepada Suny yang dengan mudahnya akrab, lain halnya dengan Runa. Ketika mata Runa bertemu dengan mata Lelaki itu, Deg! Mata Runa seketika melotot, jantungnya berdegup kencang. Sedangkan lelaki yang tengah menjadi sorotan hanya menatap Runa sekilas dan memunculkan senyum 'smirk' nya lalu tersenyum manis kepada para mahasiswa, membuat Runa semakin terkejut.


***


"Kak, seneng banget deh aku kalau kakak jadi pengganti sementara buat ayah." Suny berjalan beriringan dengan Alresh.

__ADS_1


"Iya." Jawab Alresh tanpa melirik Suny sedikit pun melainkan mempercepat langkahnya sehingga Suny harus mempercepat langkahnya pula agar sama dengan Alresh.


'Menyebalkan! Sampai sekarang pun masih aja dingin. Sabar Suny, tenang. Suatu hari nanti Alresh bakal jadi milikmu selamanya.' Guman Suny dalam hati.


Sebenarnya Alresh tidak terlalu berniat untuk menjadi pengganti Pak Fiki, alasan pertama ia ingin fokus pada kuliah nya dan yang kedua adalah Suny akan terus menempel padanya seolah kami punya hubungan dan membuat orang lain salah paham akan mereka berdua. Tapi mau bagaimana lagi, Pak Fiki memberikan kepercayaan penuh kepadanya sebagai rasa hormat karena Pak Fiki juga adalah salah satu teman dekat ayahnya Alresh pun tidak bisa menolak.


Alresh sengaja mempercepat langkahnya agar bisa sedikit jauh dari Suny, tapi Suny itu tekadnya terlalu kuat hingga mampu menyamai kecepatan langkah Alresh.


Alresh pun hanya pasrah, dan menstabilkan kembali laju langkahnya agar seirama dengan Suny. Saat masuk kedalam kelas, semua mata tertuju pada mereka berdua membuat Alresh tidak begitu nyaman dan membuat Suny tersenyum merekah. Ketika Alresh menatap seluruh mahasiswa dikelas, matanya berhenti ketika bertemu tatap dengan gadis yang sedang ia pikirkan akhir-akhir ini.


Sebenarnya Alresh sedikit terkejut pula, apakah takdir memang berpihak padanya dan gadis itu? Syukurlah kalau begitu, Hahaha. Tapi, Alresh juga mencoba menahan ekspresinya agar tidak tersenyum karena melihat reaksi gadis itu ketika melotot menatapnya, Alresh sengaja memunculkan senyum 'Smirk' nya agar membuat gadis itu semakin terkejut.


***


"Perkenalkan nama saya Kim Alresh. Saya disini sebagai pengganti Pak Fiki selama 3 bulan kedepan, mohon kerjasamanya agar kegiatan perkuliahan berjalan seperti biasanya." Alresh memperkenalkan diri.


Merekapun menjalankan tugas sebagai mahasiswa dan dosen. selama dua jam didalam kelas, bagi Runa serasa dua abad ditambah Alresh selalu melirik Runa sesekali sehingga ia tidak terlalu fokus dalam menangkap pelajaran.


Dua jam berlalu, jam perkuliahan pun berakhir dan menjadi gerbang kebebasan juga kebahagiaan untuk Runa. Ia merasa mampu bernafas kembali dengan stabil.


"Hey Kamu!" Alresh memanggil seseorang yang tak lain adalah Runa. Semua mata tertuju padanya, termasuk Suny yang menatap kebingungan.


Bella menyenggol bahu Runa pelan, karena Runa tidak sadar Alresh memanggilnya dan hanya fokus menulis didalam buku dengan tatapan kosong, bukan menulis tapi hanya menggambar-gambar tidak jelas.


Runa sedikit kaget lalu menatap Bella. Hanya dengan melihat arah mata Bella, Runa mengerti dan langsung menatap Alresh dengan sedikit takut.


"Maaf pak, apakah bapak memanggil saya?" Tanya Runa hati-hati.


Alresh hanya menatap Runa dengan wajah datar. 'Asyik bener sama dunia nya. Ck!' gerutu Alresh dalam hati.

__ADS_1


"Tidak." Jawab Alresh sambil meninggalkan kelas.


Setelah kejadian itu, para mahasiswa di kelas saling tatap bahkan bisik-bisik. Maklum, Runa hanya dekat dengan Bella sedangkan dengan yang lain hanya cukup kenal saja.


__ADS_2