
Episode 29
Teriakan Alan tak di perdulikan oleh Rizal . Karna kesal alan yang baru saja mendekatinya mengepalkan tangannya dan ingin menonjok dirinya ,tetapi oma Tantri dengan cekatan berhasil menghentikan tangan Alan.
"lepaskan tanganku oma." Ucap Alan pada oma Tantri
"Alan , oma tidak suka dengan cara kamu ."
"tapi lihat kelakuan dia oma." sembari melihat Rizal , Alan membantah ucapan omanya.
"Biar oma yang menasehati dia , kamu istirahatlah , oma tau kamu marah karna hawatir padanya--" hawatir? ,orang macam dia gak akan hawatir denganku oma ." Rizal memotong ucapan oma Tantri
"hemh." gumamnya lalu pergi dan membuang Rokok yang ada di tanganya.
Dengan penuh kekesalan , melihat kelakuan Rizal , Alan geram .
"sialan lo ! Adik tidak tau diri ! Awas saja kalao sampai lo sakit lagi , gueh gak peduli !! Triaknya
"Alan sudah , dia hanya frustasi dia belum bisa terima Alan." dengan lembutnya oma Tantri menasehati Alan
Alan yang penuh dengan rasa kecewa pada Rizal lalu duduk di bangku makan ,dan memalingkan wajahnya dari oma Tantri.
"Tapi oma , dia baru pulang dari rumah sakit ,dia baru slesai operasi . Lagi pula itu bukan Rizal , dengan caranya yang seperti itu .
"oma Tau , sebenarnya oma pun tak mengerti mengapa dia lakukan itu , tapi oma mohon Alan kamu harus sabar oke.
"ha,ahh iya iya oma , Sudah aku mau istirahat oma , oma juga istirahat ya.
Setelah Alan berbicara dengan oma Tantri , Alan lalu masuk ke kamarnya , namun berbeda dengan Rizal yang malam itu malah pergi dan tak hiraokan kondisinya.
Setelah semua masuk ke kamar , Rizal diam diam pergi ke suatu tempat hiburan , ia tak hiraokan kondisinya bahkan sakitpun sudah tak terasa baginya , karna dirinya lebih sakit kehilangan orang tuanya.
Malam di dalam bar.
Suara musik dj terdengar kencang , di dalam ia minum namun tak sampai mabuk berat , sembari duduk ia juga menikmati suasana di bar ,tak tertinggal juga rokok untuk menenangkan fikiranya , hingga salah satu seorang wanita penghibur mendekatinya dan menawarinya untuk menemani namun dirinya menolak.
Saat dirinya minum ,seorang wanita yang menjadi musuh bebuyutan Alan berdiri di sampingnya , namun Rizal tak hiraokan itu karna ia dalam pengaruh minuman.
*Rizal..? Ngapain bocah ini di sini ? Ucap Risma dalam hati .
Dan di situ mulailah muncul pikiran jahat Risma .
Dua jam kemudian di luar bar tepatnya di parkiran Bar.
Saat Rizal menyeberang ke arah parkiran di mana mobilnya di parkirkan ,dari arah kanan sebuah mobil hitam melaju kencang dengan sengaja .
"Rizal , awas !!! Triak Alan sembari mendorong tubuh Rizal , hingga dirinya pun ikut terjatuh .
Sempat mobil itu terhenti di sebelah kiri mereka , Alan melihat plat mobil yang tak asing baginya.
"mobil tante Risma?." ucapnya
Namun dengan cepat mobil yang di bawa Risma pun pergi. Alan dengan gegas membangunkan Rizal dan menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya begitu juga dirinya , tak mau kehilangan jejaknya Alan dengan cepat mengejar mobil yang di bawa Risma.
*aku harus dapat mengejar wanita itu ,ternyata dia orang yang mencoba membunuh Rizal. Sembari menyetir dengan fokus ke depan dirinya berkata dalam hati
Di mobil Risma .
Dirinya yang gugup karna di kejar Alan , akhirnya menyetir dengan tergesa gesa.
"jih sial , ngapain Alan kejar aku. Ucapnya
Karna tidak konsentrasi Saat menyetir , akhirnya mobil yang di bawa Risma pun menabrak body belakang sebuah truk puso yang tengah berhenti , hingga pada akhirnya kecelakaan pun tak dapat di hindarkan oleh Risma dan mengakibatkan dirinya meninggal di tempat.
Sementara di mobil Alan dan Rizal.
"tante Risma...?" Ucap Rizal
__ADS_1
Lalu Alan dan Rizal terkejut melihat kejadian itu.
****
Malam di kamar Rizal.
Alan yang baru saja me mapah Rizal ke kamarnya karna setengah mabuk tak menyangka jika adiknya akan senekat itu untuk menyakiti dirinya sendiri , di tambah lagi dengan kejadian kecelakaan yang menimpa Risma yang membuatnya semakin merasa bersalah .
"aku gak nyangka separah ini kamu Zal , benar benar keras kepala sudah di beri tau papah meninggal , bukanya sadar malah semakin jadi , untung saja kamu gak kenapa napa." ucap Alan sembari melihat Rizal yang tertidur.
"Alan..."
Suara oma tantri memanggil dirinya dari ambang pintu , Alan yang tengah memperhatikan Rizal lalu menoleh.
"oma?"
Lalu Alan mendekatinya .
"Ada apa oma?" Ucap Alan bertanya
"alan ayo keluar kita bicara di luar ." ucap oma Tantri lalu berjalan menuju ruang keluarga
Di ruang keluarga , setelah Alan mengikuti omanya ia duduk di kursi yang berhadapan dengan oma Tantri , namun Alan hanya diam , karna perasaanya merasa bersalah .
"Alan oma ingin bertanya dengan kamu . Ini sudah jam satu malam di mana kamu temui Rizal tadi?" tanya oma Tantri
"dia tadi di bar oma , dia mabuk dan juga hampir saja dia di tabrak. Ucap Alan
"e,apa di baar dan hampir di tabrak ?, Siapa yang hampir menabraknya?
"tante Risma oma , aku juga sempat mengejar mobil tante Risma , tapi na'as mobil tante Risma menabrak sebuah truk yang tengah berhenti , dan beliao meninggal di tempat oma , ternyata dialah orang yang ingin membunuh Rizal .
Mendengar cerita Alan , oma Tantri syok dan tak menyangka , dirinya pun sangat menyayangkan kejadian yang menimpa Risma . Namun dari hal itu Alan menyesal karna telah mengejar Risma .
****
Yang telah menjadi Milik Alan dan Rizal.
Seperti biasa Alan kembali mengurus perusahaan miliknya dan Rizal ,namun kali ini Rizalpun mulai ikut dengan kakanya ,ia yang tak mau berlarut dalam kesedihanya memulai mencoba bekerja kembali tentunya di perusahaan miliknya sendiri.
Di ruang kerja Alan.
"saya sangat menyayangkan kepergian ibu Risma , beliao meninggal dalam keadaan tak wajar.
Tidak seharusnya beliao begitu , selama hidupnya tidak ada kebaikan yang di lakukan beliao.
"benar pak Anton , saya pun demikian , tetapi saya menyesal karna malam itu saya mengejarnya karna hampir menabrak Rizal .
Kalao saya tak buru buru mendorong tubuh Rizal mungkin dia akan tertabrak oleh tante Risma.
"tapi syukurlah , karna adik anda selamat...
Di satu sisi Alan dan pak Anton tengah membicarakan Risma di ruang kerjanya, namun berbeda dengan Rizal yang baru datang dan pertama kalinya menginjakan kaki di perusahaan itu , karna ke tampanan Rizal dan penampilanya yang keren tak kalah dari sang kaka Rizal malah jadi pusat perhatian kariyawan di perusahaan itu .
"heh bos kita ganteng ganteng , kakanya gagah ternyata adiknya lebih gagah dan keren loh." bisik dua kariyawan
"pagii... Tuan Rizal ." ucap sekertaris yang menyambutnya
"Pagi juga..." jawabnya
Dengan penuh rasa percaya diri dan kewibawaanya , bersama sekertarisnya Rizal berjalan menuju ruang kerja Alan.
Ia tak perdulikan para kariyawan wanita yang memperhatikannya.
Sampainya di Ruang kerja Alan , sekertaris Rizal menyapa Alan dan pak Anton.
"slamat pagi tuan Alan ." ucap sekertaris Rizal yang baru saja masuk bersama Rizal.
__ADS_1
"pagi...-"waa selamat datang tuan Rizal ,syukurlah akhirnya datang juga." Seketika berdiri memotong ucapan Alan pengacara Anton menyapa Rizal dan mendekatinya.
"terimakasih pa Anton ."dengan tersenyum Rizal menjawab ucapan pengacara Anton
"syukurlah Rizal , akhirnya kamu mau datang." sembari berjalan mendekatinya lalu merangkulnya Alan berkata pada Rizal. " dan o iya ,untuk pak Anton boleh kembali bekerja ,dan trimakasih waktunya pak Anton, kamu juga Mira.
"iya sama sama tuan , kalao butuh apa apa panggil saja saya. Ucap pak pak anton
"oke siap trimakasih. Jawab Alan
"saya juga permisi pak , untuk bapak Rizal jika butuh apapun panggil saja saya ." ucap mira sekertaris Rizal
"oke , trimakasih ya. Ucap Rizal
Setelah pak Anton dan Mira pergi , tinggal Alan dan Rizal berdua.
"aku senang karna kamu mau untuk datang kesini zal." ucap Alan
"ya , untuk menghilangkan pikiranku yang mengganggu , aku memilih untuk datang saja kesini." jawabnya
"baguslah , kaka pikir ini lebih baik dari pada kamu harus datang ke bar dan hampir saja mati karna tertabrak manusia ular itu." sembari merangkul Rizal Alan meledeknya
"toh itu juga ajaranmu ." ucap Rizal
"ajaran apa ya ? Siapa yang ke bar hemmm . kapan dia ngajarin kamu Rizal ?" Tiba tiba Elena datang bersama Shera dan menyahut ucapan Rizal.
"e , Elena? Shera? " karna kaget melihat mereka datang Alan terkejut
"Rizal katakan padaku kapan kaka kamu ke bar? , ayok bicara padaku ." sembari mendekati Rizal dan menaruh tangan satunya di bahu Rizal , Elena mendesak Rizal.
Sementara Shera hanya tersenyum dan geleng kepala.
Rizal pun melirik pada Alan , karna takut Elena marah Alan menekan tangan Rizal seolah memberi kode.
Namun dengan jailnya Rizal , ia pun mengatakan sejujurnya pada Elena .
"ka alan mabuk , dia ke bar karna memikirkan aku , malam itu saat aku pingsan di rumahmu Elena , saat aku mencarinya. Sembari tersenyum Rizal menjawab pertanyaan Elena.
"ooooo , o ,o , o, jadi maalam itu kamu ke bar ? Bagus nihhhhh aku beri ." Sembari mendekati Alan , Elen menjawab ucapan Rizal dan menjewer telingaa Alaan.
Melihat Alan di jewer , Rizal dan Shera tertawa ,sementara mendengar ucapan Rizal pada Elena , Shera mengingat saat dirinya menuduh Rizal selingkuh.
"em , Rizal lantas saat malam itu berarti Elena yang mengangkat telefonku? " tanya Shera
"ya . Itu Elena dan handponeku tertinggal di rumahnya." jawabnya sembari memandang wajah Shera
Dengan menyesal Shera meminta maaf pada Rizal . karena Rizal harus bekerja Shera pun mengikuti dirinya ke ruang kerja .
Di kantor Rizal , di ruang kerjanya.
"em, zal gimana dengan perasaanmu setalah kamu tau semuanya ,dan bagai mana juga perasaanmu setelah tau tante Risma tiada." sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan Rizal Shera bertanya.
"terus terang Shera aku masih tidak percaya dengan kepergian papah , dan aku hilaf , bukan aku menyadari kesalahanku malah aku mabuk setelah itu , tetapi aku sadar saat diriku di selamatkan ka Alan , saat aku hampir tertabrak oleh tante Risma.
Ya tapi setelah kepergian tante Risma aku merasa puas , karena orang yang hancurkan kebahagiaanku sekarang telah pergi selamanya." jawabnya
" ya sudah sekarang kamu harus tau , jika papah kamu sangat berarti untuk kamu. Dan jangan pernah kamu lakukan lagi hal bodoh yang merusak hidup kamu." ucap Shera
"iya Shera , trimakasih ya karna kamu slalu setia , dan slalu ada buat aku saat susah atau pun senang . Aku janji secepatnya aku akan menikah denganmu." ucap Rizal
Shera pun tersenyum .
Setelah lama menemani Rizal , shera akhirnya pun pergi bersama Elena , untuk kembali ke perusahaan orang tua Shera.
Setelah berbicara dengan Shera dan puas menjaaili kakanya , Rizal pun hatinya merasa tenang kembali , walaopun masih penuh penyesalan.
****
__ADS_1