BENCI TAPI RINDU

BENCI TAPI RINDU
BAB 6


__ADS_3

Runa sudah berada ditempat tidurnya, mengeringkan rambutnya yang masih basah selepas mandi. Tatapannya kosong, tapi pikirannya bagaikan benang kusut ditambah air. Udahmah kusut, eh malah ditambah air makin kusut dong😐.


"Gila! Gila! Gila! Aargghhh!!!" Runa menjatuhkan badannya kasar ke tempat tidur. Frustasi dengan lelaki misterius itu, bukan misterius, tapi lelaki gila! Iya gila, menurutnya.


"Siapa tadi namanya. Alresh? Iya Alresh."


"Apa aku cari saja sosial media nya? Biar tahu apakah dia lelaki gila atau lelaki waras"


"Ya Tuhan, kenapa aku harus ditakdirkan bertemu dengan orang aneh seperti dia. Apalagi dia lelaki, ini membuat ku menjadi sangat frustasi. Huh!" Runa menghela nafas berat. Setelah beberapa menit terus mengoceh kesana kemari, ia tidak sadar rasa kantuk sudah menyerang dirinya hingga matanya perlahan tertutup lalu tertidur dengan nafas teratur.


***


semakin naik matahari, semakin ramai kendaraan yang memadati jalanan kota. Sebuah mobil hitam keluaran terbaru, sudah masuk kedalam kandangnya dan terparkir dengan rapih. Tidak lama, seorang lelaki keluar dari dalam dengan setelan kaos oblong polos warna hitam yang dipadukan dengan jeans hitam dan juga kacamata hitam pula.


mulutnya tidak henti bersiul sembari melempar-lemparkan kunci mobilnya. Setelah masuk kedalam rumah mewah namun minimalis yang terletak di daerah perumahan ternama kota XX, dimana para manusia-manusia pemilik jabatan tinggi ataupun pengusaha sukses juga tinggal disana. Lelaki tersebut menjatuhkan diri kedalam sofa empuk diruang tamu, memandang langit-langit lalu tertawa renyah.


"Astagfirullah, Abang Alresh kemasukan setan apa bang?" Tiba-tiba perempuan yang tengah sibuk di dapur keluar menghampiri Alresh yang tengah tertawa.


"Kepalamu kemasukan gula. Siapa yang kemasukan, enggak boleh emang kalau Abang ketawa." Masih memasang wajah bahagia menatap langit-langit, tanpa menghiraukan perempuan yang tengah melongo melihat Kakaknya yang tiba-tiba saja menjadi manusia periang.


"Terserah!!!" Perempuan itu tidak peduli lagi dengan Kakaknya, dan lebih memilih melanjutkan aktivitas dapur nya.


"Eh Laura. kamu ngapain lagi didapur? mau buat dapur kayak kapal pecah lagi?" Alresh segera bangkit dari tidurnya dan menatap adik perempuannya.


'What! sejak kapan dia perhatian dengan lingkungan sekitar. Biasanya cuman jadi es batu berjalan, yang cuman ngasih duit doang kelar urusan enggak perlu nanya ini itu. Bahkan, enggak pernah peduli mau se-ancur apapun dapur, tinggal suruh pembantu buat beresin kelar juga urusannya. Sudah kuduga, Abang Alresh Kesambet Setan dijalan!'


"Abang lagi nanya, kok malah bengong. Udah jangan terlalu menghayati ketampanan Abang." Tanya Alresh dengan mengubah posisinya jadi duduk dan bersandar di sofa.


'Sumpah mau nonjok aja rasanya kalau narsisnya udah kambuh. Untung beneran ganteng!' Laura memekik didalam hati.

__ADS_1


"Biasa, Laura mau pinter masak Bang. pengen bisa bikin cemilan sendiri." Menjawab singkat.


"Repot amat, tinggal delivery bisakan?" Tanya Alresh lagi.


"Emang enggak boleh kalau aku mau belajar masak?!" Laura menjawab dengan nada tinggi.


"Ya enggak apa-apa sih. Terserah kamu itumah, cuman nanya doang bukan ngomporin juga malah marah-marah. Yaudah sana lanjutin, yang bener belajar nya." Alresh menghampiri Laura, mengacak-acak rambut adiknya Lalu pergi ke kamarnya di lantai dua.


'Astaga Abang Alresh kenapa? Kok jadi perhatian gini,' Laura hanya bisa bergumam dalam hati.


Saat tengah menaiki anak tangga. Tiba-tiba Alresh membalikkan badan menatap adiknya yang tengah bingung akan sikapnya. Alresh menyadari kebingungan Laura, tapi ia tidak ingin menjelaskan nya.


"Mau Abang kasih guru enggak? Biar ada yang ngarahin juga." Tanya Alresh yang masih berdiam di atas anak tangga.


"eng, enggak usah Bang. Laura mau latihan sendiri, liat tutorial di YouTube." Jawab Laura nyengir dan segera berlari ke arah dapur meninggalkan Kakaknya yang tengah tertawa melihat tingkah Laura, lalu kembali menaiki anak tangga.


'Emang dulu aku sebegitu dinginnya kah. Sampai si Laura kira aku kemasukan setan.' Alresh bergumam dalam hati dengan ekspresi wajah bingung.


***


Setelah memasuki kamarnya. Alresh segera memasuki kamar mandi dan membersihkan diri karena badannya yang sudah lengket dengan keringat.


selesai mandi, Alresh segera menyelesaikan tugas-tugasnya. Setelah itu, ia memilih tiduran di atas kasurnya. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi hangat, tidak lupa dengan garis mulutnya yang tak ada henti-hentinya tersenyum.


"Hati memang susah ditebak yaa." Gumamnya.


Flashback


Setelah menjalani kuliah S1 di luar negeri. Alresh memilih pulang ke tanah air, dan melanjutkan kuliah S2 nya di universitas ternama yang bertempat di kota XX dimana ia dilahirkan. Tak terasa sudah 1 tahun ia menempuh pendidikan S2 nya, sedikit rasa bosan menjalar kedalam jiwanya.

__ADS_1


Banyak sekali pihak yang menyuruhnya untuk segera mencari pasangan hidup, termasuk kedua orangtuanya. Akibat desakan itu, membuat Alresh frustasi karena sebenarnya belum pernah terpikirkan untuknya segera menempuh kehidupan berumah tangga. Dia sedang fokus kuliah dan merintis karirnya dibidang bisnis yang telah ia bangun saat ia masih murid SMA, dan juga ia baru saja menginjak umur 22 tahun. Itu terlalu muda menurutnya, walaupun secara finansial ia sangat mampu untuk segera membangun kehidupan rumah tangga.


Terlalu bosan dengan pertanyaan 'Kapan Nikah' Alresh pun memilih untuk berlibur selama satu minggu di sebuah desa terpencil, dan tinggal bersama keluarga pamannya dari pihak Ayah yang tengah dipindah tugaskan disana.


'Ini desa masih asri, walau dikelilingi banyak pabrik. Udaranya seger, bikin pikiran tenang' Gumamnya dalam hati, sambil fokus mengendarai mobilnya.


Ditengah keseriusannya dalam mengendarai mobil. Tiba-tiba Alresh mendengar seseorang berteriak. Saat melihat kearah kaca spion, ia melihat perempuan yang berlari mengejar mobilnya yang ia kendarai cukup laju. Alresh pun segera menghentikan mobilnya, namun tetap didalam kursi kemudi.


Benar saja, wanita tersebut berjalan ke arahnya dengan nafas terengah-engah akibat lari mengejar mobilnya.


"Hei!" Ia berteriak dengan tangannya yang memukul kaca mobil berkali-kali. Alresh pun segera membuka kaca mobilnya.


"Kamu! Kamu! Kalau pake mobil itu, matanya juga dipake dong!" Ia berteriak dengan emosi sambil menunjuk-nunjuk kepada Alresh.


"Liat! baju saya kotor banget karena kecipratan genangan air dari mobil kamu!" Ia menunjukkan bajunya yang kotor dengan bintik-bintik coklat dan sedikit basah juga. Alresh merasa kasihan, apalagi bajunya berwarna putih.


Tapi ia tidak terlalu fokus dengan baju dan makian si wanita. Melainkan ia fokus menatap wajahnya yang memerah karena marah-marah ditambah frustasi dan malu karena kondisi bajunya yang kotor terlihat mencolok.


'Manis', Gumam Alresh dalam hati.


"Hei! Saya dari tadi ngomong kamu denger enggak sih, malah senyum-senyum enggak jelas. Gila!" Wanita tersebut meninggikan nada bicaranya, lalu mendelik kan matanya.


Alresh kaget, sejak kapan ia tersenyum. Untungnya ia memakai kacamata hitam, jadi wanita tersebut tidak tahu kalau dari tadi ia menatap. Tunggu, tadi dia bilang apa? Gila? Wah cantik-cantik mulutnya berapi yaa.


"Maaf Nona manis. Lagian siapa suruh kamu mendekati mobil saya. Saya tidak tahu kalau tadi ada genangan air. Sekali lagi saya mohon maaf." Alresh memilih meminta maaf, untuk mengakhiri drama ini dengan menempatkan kedua tangannya didepan sebagai tanda minta maaf.


"Kalau minta maaf, ya minta maaf ajalah. Kenapa harus bilang saya yang mendekati mobil kamu, seolah saya yang salah padahal kamu yang salah! Dasar orang kaya selalu berlaku seenaknya, walaupun tidak semua sih. Tapi kamu! awas saja kalau kita bertemu lagi. Jangan panggil saya Nona Manis! Gila!" Wanita tersebut sekali lagi berteriak panjang lebar dengan emosi, lalu mengakhirinya dengan kata 'Gila' dan pergi meninggalkan Alresh yang tengah mencerna kata-kata si wanita.


'Padahal aku mau minta maaf baik-baik. Dasar wanita' Alresh hanya berbicara dalam hati, tanpa menyadari kembali kata-kata yang mana sehingga membuat wanita itu semakin emosi lalu meninggalkan nya tanpa memberi maaf.

__ADS_1


"Dasar bidadari tak beradab" Alresh bergumam dengan sebuah senyuman manis memunculkan lesungnya yang dalam dikedua pipinya.


__ADS_2