BENCI TAPI RINDU

BENCI TAPI RINDU
BAB 4


__ADS_3

Sudah terlalu lama berbincang di toko buku, dan akhirnya Runa tidak membeli apapun melainkan menemani Sovia memborong beberapa buku romansa.


Tidak terasa jarum jam sudah menunjuk pada angka 5. Langit sudah mulai terang dengan warna orange dari sang mega di ufuk barat. Untung tidak mendung, gumam Runa. Maklum, sekarang sudah memasuki musim penghujan walaupun masih belum setiap saat hujan.


"Kak, aku lupa. Mamah nitip beli daftar bahan-bahan bulanan ke supermarket, mana udah sore lagi." Langkah Sovia tiba-tiba saja berhenti, dengan wajahnya yang sedikit panik pula.


Karena supermarket sedikit jauh, harus berjalan sekitar 20 menit ke arah barat dari toko buku. Sedangkan, jarak ke kosan dan rumah Sovia membutuhkan waktu 10 menit ke arah timur. Pantas saja Sovia panik, jika berjalan tidak akan sempat, sekalinya bisa dia akan sampai pulang ke rumah selepas Maghrib. Walaupun ia sudah mengenal cerita romansa bahkan berpacaran, tetapi ia tidak pernah pulang malam kecuali mengerjakan tugas. Ibu Ros memang ketat dengan anak semata wayangnya.


"Biar kakak antar, lebih baik kita naik angkot biar mempercepat waktu. Enggak tahu juga kan antrian kasirnya penuh atau enggak." Runa memberikan jasa kepada Sovia, khawatir juga jika dia pergi seorang diri.


"Beneran kak? Kakak enggak keberatan? Maaf yaa kak udah bikin repot. Nanti aku traktir." Ekspresi panik Sovia seketika berubah menjadi senyuman yang mengembang. Seakan bertemu dengan malaikat penolong saja.


"Enggak perlu. Ayo, nanti keburu makin sore kalau lama-lama disini." Runa segera menggandeng tangan Sovia, dan mencari angkot untuk di naiki.


Untungnya jalan raya hari ini sedikit sepi, walaupun sudah sore. Hanya membutuhkan 10 menit untuk sampai di supermarket. Runa sedikit pusing, karena selama di desa ia tidak pernah naik angkot. Dari SD sampai SMA ia selalu jalan bersama teman-temannya termasuk Daisy karena jaraknya yang dekat, dan memang tidak melalui akses jalan raya. Sedangkan untuk pergi ke Pabrik Runa sudah terbiasa naik ojek, dan lagi-lagi karena tidak ada akses jalan raya.


***


Memasuki supermarket, sedikit mengobati rasa pusing yang dirasakan Runa. Aroma yang tercipta dan suasana sejuk membuat badan Runa sedikit segar lagi.


Runa membuntuti Sovia dari belakang, sambil melihat-lihat sayuran, buah-buahan dan beberapa produk makanan. Karena Ibu Ros menyuruh Sovia untuk membeli bahan-bahan didapur jadi mereka hanya berkeliling didaerah makanan.


Runa pergi ke stand daging untuk membantu Sovia memenuhi daftar bahan-bahan yang dipesan Ibu Ros, dengan tujuan untuk mempersingkat waktu. Sementara Sovia masih memilih beberapa macam sayuran di stand sayuran yang lumayan berdesakan.


Runa melihat-lihat dan memilih lalu mengambil 4 bungkus daging sapi. Dia juga ingin membeli sesuatu, bosan dengan stok makanan semacam mie instan, telur dan sayuran. Ia juga ingin membeli daging, tapi sedikit melirik kondisi dompetnya.


"Daging sapi atau daging ayam yah." Runa bergumam bingung.


"Dua-duanya juga enak." Tiba-tiba seorang pria menyahut.


Runa kaget, seketika menoleh ke arah pria disampingnya. Mata Runa melotot dengan mulut mangap.


"Kau! Apa kau mengikuti ku?!" Runa kaget, pria tersebut sama dengan pria yang tiba-tiba so akrab dengannya di taman waktu itu. Ia masih hafal wajahnya.

__ADS_1


"Hahaha, bumi ini begitu sempit dan pikiran nona pun sama halnya. Kita bisa bertemu dimana saja, ini adalah sebuah kebetulan atau takdir?" Lelaki itu menjawab dengan santai nya sambil membawa dua bungkus daging sapi segar.


"Huh!!!" Runa mengambil satu bungkus ayam segar dan segera pergi Meninggalkan pria itu.


Tidak-tidak! Siapa dia, Ya Tuhan apakah aku sedang di buntuti. Apakah ini semacam penculikan berencana? bukan! pembunuhan berencana? Aarghhh! Jangan berpikir macam-macam Runa, jangan membuat panik diri sendiri. Runa terus berbicara didalam hatinya, dengan langkah kaki yang semakin dipercepat kembali menuju Sovia.


***


Diperjalanan Runa masih berkecamuk dalam pikirannya sendiri. Panik, takut, gelisah bercampur menjadi sebuah rasa yang tidak tahu bagaimana, dadanya beberapa kali berdebar. Namun, ia tidak memperlihatkan kepanikan nya dihadapan Sovia.


"Kak terima kasih yaa, aku masuk dulu kedalam." Sovia berterima kasih banyak kepada Runa.


"Aku yang berterima kasih banyak. Ongkos dan ini kamu yang bayar. Padahal enggak perlu." Runa menunjukkan kantung plastik yang isinya daging ayam yang dia beli tadi. Ia merasa tidak enak atas pemberian Sovia tetapi tidak enak lagi jika menolaknya.


"Kalau gitu, Kakak ke atas yaa. Bye." Runa pamit untuk ke lantai atas. Mereka pun akhirnya berpisah untuk masuk ke rumah masing-masing.


***


"Dasar pria menyebalkan, kalau memang bukan orang jahat kenapa harus menakut-nakuti orang sih."


"Salah aku apa, ketemu juga enggak pernah!" Runa menghela nafas berat. Setelah selesai menggoreng ayam, ia membaca kembali materi yang telah disampaikan dosen-dosennya dihari pertama kuliah. Sambil menunggu kepulangan Daisy untuk makan malam.


1 jam berlalu. Daisy pulang dengan wajahnya yang glowing karena berminyak, jika pulang malam ia tidak peduli dengan wajahnya karena tidak akan ada orang yang melihat dan yang dia pedulikan adalah tempat tidur. Berbeda jika ia pulang siang hari, sebelum melewati pintu keluar kafe. Ia akan menyempatkan ke toilet untuk berdandan agar terlihat fresh.


"Ya ampun. Nikmat banget goreng ayamnya. Makasih lho Runa." Daisy selalu berbicara berlebihan jika sedang lapar atau kelelahan. Runa hanya tertawa melihat sahabatnya yang sedang menahan kantuk demi memenuhi perutnya yang keroncongan.


Sebenarnya, Runa ingin bercerita tentang pria misterius yang sedang ia takuti kepada Daisy. Tetapi, ia memilih bungkam. Mungkin saja, pria itu hanya ingin iseng saja pada setiap wanita yang ia temui.


***


Hari-hari seperti biasa telah dijalani Runa selama dua minggu sebagai mahasiswi. Menjalankan aktivitas perkuliahan, membaca buku, mengobrol santai dengan Sovia atau mendengarkan cerita-cerita seru Daisy selepas bekerja.


Rasanya sedikit bosan, dengan rutinitas yang hanya itu dan itu saja. Gumam Runa dalam hati. Ia ingin mencari pengalaman baru dengan mengikuti kegiatan UKM di universitas agar tidak terasa hambar saat menjalani perkuliahan tapi ia masih bingung harus ikut kegiatan apa, dan juga ia masih memikirkan pekerjaan paruh waktunya yang tak kunjung ia temui setelah lama mencari-cari di sekitar universitas ataupun disekitar kosannya.

__ADS_1


"Runaaa..." Bella memanggil Runa yang tengah melamun memandang jalanan kota didalam kantin.


"Aku mencari mu kemana-mana, WhatsApp mu tidak aktif juga. Ternyata kamu disini." Lanjutnya sembari ikut duduk disampingnya.


"Maaf. Handphone ku mati, dan sialnya charger ku ketinggalan di kosan. Ada apa Bella? Bukannya mata kuliah dilaksanakan 1 jam lagi." Tanya Runa heran, soalnya Bella tadi tengah mengobrol dan berkumpul dengan teman-teman satu ekskulnya. Ya, Bella sudah mengikuti kegiatan UKM dari satu minggu yang lalu yaitu dibidang seni Tari Tradisional, ia memang suka menari tarian tradisional dari sejak kecil.


"Apa kamu masih ingat dengan Kak Reno?" Tanyanya dengan wajah gembira. Runa hanya menganggukkan kepalanya mengartikan bahwa ia masih ingat.


"Dia memberiku dua tiket penampilan teater. Ia dan Ekskul Teaternya akan tampil di gedung XX. Senangnya dapat tiket gratis dan yang satunya untukmu." Bella berbicara dengan mulutnya yang tak henti mengembangkan senyumnya tak lupa juga dengan wajahnya yang merah merona.


"Waahh, ada yang sedang kasmaran nih." Bukannya mengambil tiket pertunjukan. Runa lebih tertarik menggoda Bella yang tengah melayang diatas awan cinta.


Seketika Bella tersadar. Wajahnya semakin merah merona dan segera menutupi wajahnya dengan dua tiket yang ia pegang. Runa hanya tertawa kecil melihat tingkah temannya itu.


"Kamu kok tahu sih?" Tanya Bella malu-malu dengan wajah yang masih tertutup tiket.


"Wajahmu gampang di tebak." Jawab Runa singkat sembari merebut satu tiket yang diperuntukkan untuk nya.


"Kapan teater nya akan di adakan?" Lanjutnya bertanya.


"Bulan depan, tepatnya dipertengahan Bulan depan." Jawab Bella singkat.


"Wow! Tiketnya sudah diedarkan padahal masih lama. Sekarang juga masih awal Bulan" Kata Runa heran.


"Sebenarnya, tiketnya belum di edarkan. Hanya saja Kak Reno ngasih ini khusus sebelum tiketnya resmi di edarkan." Bella menjawab dengan sedikit malu-malu, takut Runa akan menggodanya lagi.


"Cieeee..." Runa semakin ingin menggoda Bella. Tetapi Bella pura-pura tidak peduli, membuat Runa semakin tertawa terbahak-bahak.


"Kalau gitu aku titip tiketnya di kamu yah. Soalnya aku sedikit pelupa. Takutnya ilang, kan sayang kalau ilang mana tiket gratis lagi. Terus jangan lupa ucapin terimakasih sama Kak Reno eh calon suami kamu, hahaha" Lanjutnya dengan masih tertawa kecil.


"Iya iya, sini aku simpan baik-baik." Bella menyimpan tiket pertunjukan teater tersebut kedalam dompetnya, dengan masih memasang wajah merona.


Mereka pun segera pergi menuju kelas, karena 30 menit lagi kelas akan segera dimulai.

__ADS_1


__ADS_2