
Setelah masa liburnya habis. Alresh kembali ke kota XX menjalani rutinitas yang sama sebelum ia pergi berlibur. Seperti biasa, jika ada waktu senggang Alresh selalu menyempatkan diri untuk berdiam atau hanya melihat orang lalu lalang di taman kota. Begitupun hari ini, ia memilih berjalan-jalan ditaman sembari menyaksikan matahari terbenam.
"Dia?" Alresh menatap tak percaya, ia akan bertemu lagi dengannya.
Siapa lagi, jika bukan bidadari tak beradab. Wanita manis yang mengumpatnya 'gila' waktu itu. Tapi hari ini sedikit berbeda dari yang waktu itu, tatapan nya lembut, senyuman nya juga sangat tulus ketika melihat orang-orang yang sedang bersenda gurau. Tiba-tiba ia berjalan ke arah jembatan, Alresh penasaran dan mengikuti wanita itu.
"Ayah... Ibu..." Lirihnya.
Tunggu! Dia menangis? kenapa, hatiku jadi sesak begini. Kenapa, saat melihat air matanya yang dengan mudahnya mengalir membasahi pipinya, hatiku ikut teriris. Mungkin, karena aku tidak terbiasa melihat Laura yang menangis. Tunggu, Laura kan adikku tentunya wajar jika aku tidak tega melihatnya menangis. Tapi, dia orang asing, Ingin sekali aku memeluk dan menenangkannya.
"Taman kota sangat indah disore hari. Semoga kalian bahagia, aku disini pasti akan bahagia." Gumamnya. Tatapannya sangat jernih ketika menatap langit, juga senyuman nya yang mengembang, sangat mempesona.
"Benar sekali. Sangat indah!" Tiba-tiba saja Alresh mengeluarkan suara. Tidak tahu mengapa, saat menatap Langit dan wajah wanita itu secara bergantian. Benar-benar indah karunia Tuhan.
Wanita itu sangat kaget ketika menatap Alresh. 'Dia tidak akan kenal aku kan?' Alresh bertanya dalam hati. Terlalu lama saling menatap satu sama lain, Alresh sedikit tidak nyaman.
"Hei Nona manis, apakah anda bisu atau tuli?" Entah kenapa, hanya perkataan itu yang terlintas dipikiran Alresh.
Ketika wanita itu akan meluncurkan perkataan beruntunnya dengan emosi. Tiba-tiba Handphone Alresh berdering.
"Halo..."
"Alresh, Papah pingsan saat hendak pulang dari perusahaan. Cepatlah kemari, di rumah sakit Melati XX"
"Apa?! Baiklah aku kesana sekarang juga." Alresh begitu panik, Ayahnya mengidap penyakit jantung 1 tahun yang lalu. Membuat Alresh begitu siaga dan lebih posesif terhadap kesehatan kedua orangtuanya.
"Maaf Nona manis, saya pamit undur diri. Semoga harimu menyenangkan." Alresh memutuskan untuk segera pamit, sekarang didalam pikirannya hanya ada Papahnya.
Walaupun merasa tidak enak, meninggalkan wanita tersebut begitu saja. Tanpa berkenalan, rasanya tidak sopan.
__ADS_1
***
Kurang lebih 2 minggu Papah Alresh di rawat di rumah sakit karena terlalu lelah dengan urusan perusahaan. Terlalu sibuk mengurus perusahaan selama papahnya sakit, membuat Alresh tidak makan dengan teratur. Setelah papahnya pulih dan dipulangkan ke rumah, akhirnya selera makan Alresh mulai membaik.
'Sepertinya aku ingin makan sup daging sapi' Alresh mulai berpikir tentang menu makan malamnya.
Ia pun memilih untuk membeli daging sapi segar di supermarket dan membuat sup sendiri dengan bumbu rempah rahasia nya. Walaupun di rumah Alresh memiliki dua pembantu, hanya bertugas untuk membersihkan rumah dengan peralatannya dan juga mencuci pakaian. urusan makanan Alresh memilih membuat sendiri, kecuali adiknya Laura kadang di buatkan oleh salah satu pembantu atau oleh Alresh sendiri. Jadi, ia jarang menyimpan stok di dalam lemari es.
Alresh berjalan menuju stand daging. Matanya membulat, entah karena kaget ataupun senang. Mungkin inilah takdir, ia dipertemukan kembali dengan wanita itu. Dilihatnya, wanita itu sedang memilih beberapa bungkus daging segar, Alresh pun mencoba menghampiri tanpa di sadari oleh wanita tersebut.
"Daging sapi atau daging ayam yah." Wanita itu bergumam tampak bingung.
"Dua-duanya juga enak." Mulut Alresh langsung menyahut karena sudah gemas ingin segera mendengar dan menjawab perkataan wanita itu.
Wanita itu tampak kaget, saat melihat wajah Alresh. 'Seperti nya dia sudah hafal dengan wajahku' Alresh bergumam dalam hati.
"Kau! Apa kau mengikuti ku?!" dia berkata dengan sekujur tubuh bergetar.
"Huh!!!" Wanita itu pergi secepat kilat, dengan ekspresi wajah yang masih kaget dan juga takut.
'Ahh, gagal lagi. tapi lucu juga, dia seperti sangat ketakutan. Seolah-olah aku akan menculiknya. Hahaha' Alresh tertawa dalam hati.
Flashback off.
Alresh tertawa renyah, membayangkan kejadian demi kejadian tak terduga dengannya. Bahkan tadi pagi pun, ia tidak menyangka bakal bertemu dengannya lagi. Melihat nya sangat lincah dalam mengikuti gerakan senam yang di pimpin oleh Bibinya, yaitu Bu Yura. 'Untung tadi ngejemputnya sedikit lebih cepat, Hahaha' Gumamnya bahagia.
"Tapi, namanya siapa yaa. Kayaknya tinggal di sekitar sini deh. Tapi Kalau tinggal di sekitar perum, pasti kemungkinan bisa berpapasan kan di jalan. kayaknya diluar perum tapi enggak jauh-jauh amat" Alresh tidak henti-hentinya berbicara sendiri.
"Gini nih, kalau enggak punya pengalaman. Mau deketin cewek aja susahnya minta ampun, sampe respon dia kayak takut sama benci gitu yaa. Padahal kan aku ganteng, terus kaya juga. Eh tapi kan dia enggak tahu aku kaya atau enggaknya. Tapi biasanya kalau di kampus, cewek-cewek suka pada nge lirik walaupun aku cuekin. Bahkan ada yang tiba-tiba senyum manis kalau enggak sengaja bertemu tatap walau aku enggak pernah balas senyumannya, dan mereka enggak tahu kalau aku itu kaya." Alresh bangun dari tidurnya dan duduk dengan tatapan kosong.
__ADS_1
"Aarghhh, bingung juga ternyata. Apa aku bisa ketemu sama dia lagi enggak ya. Semoga saja bisa, kenapa jadi terus kepikiran cewek itu sih" Alresh mengacak-ngacak rambutnya frustasi, lalu kembali tiduran.
***
Runa dan Bella sedang makan siang sambil menunggu jadwal kelas selanjutnya. Saat tengah asyik mengobrol tiba-tiba Reno datang menghampiri mereka. Seketika semua mata perempuan tertuju pada bangku dimana Runa dan Bella berada.
"Masih ada kelas?" Tanya Reno.
"Iya kak, satu lagi. Ada apa Kak kok tiba-tiba kesini?" Jawab Bella.
"Enggak kok, cuman nanya aja. kebetulan tadi ingin makan siang tapi enggak ada temen, eh liat kalian enggak jadi nge jomblo dikantinnya" Reno tertawa, lalu melirik Runa yang tengah sibuk dengan makanan nya namun menyempatkan untuk ikut tertawa dengan candaan Reno.
"Dasar Kak Reno, padahal cewek-cewek dari tadi pada ngeliatin. Dijamin enggak akan pada nolak kalau di ajak makan bareng" Bella menjawab candaan Reno sembari melahap makan siangnya. Mereka bertiga pun tertawa bersamaan.
30 sudah berlalu. Mereka bertiga sudah beres makan siang, namun masih mengobrol sambil menunggu kelas selanjutnya.
"Eh, bentar lagi kelas masuk aku duluan yah." Bella segera mengakhiri obrolan nya bersama Runa dan Reno.
"Dadah Runa, Dadah Kak Reno." Bella berjalan sedikit berlari pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kamu enggak ada kelas?" Tanya Reno membuka topik pembicaraan.
"Enggak ada Kak. Kakak juga udah enggak ada kelas?" Runa pun bertanya kembali agar tidak terlalu canggung.
"Sama tuh enggak ada." Jawab Reno singkat dengan menampilkan senyuman menawannya.
"Oh iya, kamu udah ikutan kegiatan UKM?" Tanya Reno lagi.
"Belum kak." Jawab Runa singkat.
__ADS_1
"Kenapa? Padahal seru lho ikutan UKM. Bisa memperluas pergaulan, bertemu dengan orang-orang yang positif juga meningkatkan minat dan bakat kita."
"Belum aja Kak." Runa menjawab dengan singkat sambil tersenyum, agar tidak terlihat canggung.