Benih CEO

Benih CEO
36


__ADS_3

"Kania!"


Devan menghampiri Kania yang berteduh dan bersandar di dinding kaca. Dia menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya.


Mendengar nama Devan, Kania langsung mendongak.


Rasa bersalah di hati Devan semakin besar melihat betapa kacaunya wajah Kania saat ini. Matanya merah dan sembab, bibirnya pucat, dan rambutnya mulai berantakan.


"Devan... Aku pikir aku bakalan di sini terus entah sampai kapan. Kalau menghukum aku yang kira-kira, dong." Tangisan Kania kembali pecah saat menatap Devan.


Devan mendekat. Memberanikan diri untuk memeluk Kania yang bajunya basah sebagian karena percikan air hujan. "Maaf, ya. Aku benar-benar lupa kalau kamu masih di sini. Pintu ini otomatis terkunci dan cuma aku yang bisa buka."


"Kamu nggak tahu paniknya aku, Devan. Aku coba buka pintunya nggak bisa. Handphone aku mati kehabisan baterai. Udah panas, sekarang hujan. Shaka, bapak dan ibu pasti juga khawatir banget. Lagian orang kaya aneh-aneh aja pintu pakai sidik jari segala."


"Iya. Maaf, ya. Namanya juga buat privasi. Sekarang kita turun. Cari makan dulu buat kamu, habis itu aku antar pulang."


Kania tidak menolak karena memang dia butuh semua yang di ucapkan Devan. Makanan dan minuman karena dia sangat haus dan lapar. Delapan jam terjebak di roof top dan tidak bisa turun karena hanya Devan yang bisa membuka pintunya. Kania juga butuh di antar pulang agar bisa segera bertemu dengan Shaka dan kedua orangtuanya yang pasti sudah khawatir karena Kania tak ada kabarnya sejak pagi.


Kepala Kania terasa pusing. Efek dari lapar, haus, kepanasan serta kehujanan. Di tambah lagi rasa panik dan takut yang menderanya.


Hampir saja Kania terjatuh kalau Devan tak menahan tubuh Kania. "Nggak kuat berdiri? Mau di gendong?" tanya Devan dengan raut khawatir.


"Kuat, kok. Cuma pusing banget ini kepala. Gara-gara kamu, sih." Kania memasang mode waspada karena perubahan Devan yang lebih lembut. Takut kalau Devan akan berbuat macam-macam lagi pada dirinya.


"Iya, maaf. Aku salah." Devan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Menyadari bahwa Kania terjebak di roof top itu karena kesalahan Devan.


Devan membawa Kania ke dalam ruangannya. Menyuruh Kania untuk duduk di sofa dan Devan mengambilkan air putih hangat. "Yang bisa kamu minum sekarang hanya ini. Di kulkas adanya soda sama... Ya, kamu pasti tahu-lah."


Kania mengangguk. "Iya. Makasih." Kania menerima gelas yang berisi air tersebut lalu menenggaknya sampai airnya tak tersisa.


"Haus banget, ya?"


Pertanyaan Devan di hadiahi tatapan sengit dari Kania. "Ya kamu pikir, dong. Seharian nggak ada makan dan minum. Beda cerita kalau aku lagi puasa." Kania tersulut emosinya. Sepertinya baru saja dia terima pelukan Devan. Tapi sekarang sikap aslinya pada Devan sudah kembali lagi setelah mendapatkan asupan air minum.


"Aku udah pesan makanan. Makan dulu nanti ku antar pulang."


"Makan di mobil aja. Aku butuh charger biar handphone aku bisa hidup. Mau telepon bapak."


Devan mengangguk setuju. "Oke. Ada power bank di mobil. Kita turun sekarang."


Kania beranjak dari tempat duduknya. Devan memperhatikan sebagian baju yang di kenakan Kania basah. Dengan sigap Devan melepas jasnya dan dia pakaikan ke pundak Kania. "Dingin. Pakai aja."


Perlakuan Devan membuat Kania terpaku di tempatnya. Masih belum melangkahkan kakinya bahkan sampai Devan membuka pintu ruangannya.


"Mau di sini terus?" Pertanyaan Devan membuyarkan lamunan Kania.


Dengan cepat Kania menggelengkan kepalanya. "Enggak," jawabnya dan langsung mengikuti langkah Devan.


Meskipun hanya segelas air putih yang mengisi perutnya, namun Kania tetap kuat untuk berjalan. Kelaparan tidak membuatnya lemah sehingga harus di papah, atau di gendong seperti yang sempat Devan tawarkan tadi.


Sesampainya di dalam mobil, Devan langsung memberikan power bank pada Kania.

__ADS_1


Dengan cepat Kania menerimanya, lalu menancapkan kabel pada handphonenya yang akhirnya bisa menyala setelah mendapatkan energi. Dengan cepat pula Kania mencari nomor ayahnya lalu meneleponnya.


"Assalamualaikum, Bapak," ucap Kania saat teleponnya sudah di angkat oleh Karno.


"Waalaikumsalam, Kania. Maasyaaallah, nak. Semua orang khawatir sampai adikmu harus ijin membatalkan penerbangannya malam ini. Shaka nangis terus nyariin kamu. Tadi dia pulang di antar mobil sekolah. Kamu kemana aja?" Di balik ucapan ayahnya yang terdengar seperti memarahinya, ada rasa lega yang luar biasa saat mengetahui Kania baik-baik saja.


"Nanti Kania jelaskan di rumah, ya, Pak. Sekarang Kania baik-baik aja. Bilang sama Shaka kalau sebentar lagi Kania pulang."


"Iya, Nduk. Tetap hati-hati, ya."


"Iya, Pak. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam..."


Telepon Kania tutup setelah ayahnya membalas ucapan salamnya.


Devan memberikan satu kotak salad buah dan nasi goreng pada Kania. Kedua makanan yang sudah di pesan oleh Devan dan sampai di kantor tepat saat Kania dan Devan baru saja keluar dari lift di lantai dasar. "Makan saladnya dulu biar perutnya nggak kaget. Kalau langsung makan berat nanti pencernaan kamu nggak lancar."


Kania tak menjawab meskipun dalam hati merasa heran dengan sikap Devan yang berubah. Mungkin saja karena rasa bersalahnya. Batin Kania menolak perubahan Devan yang mendadak itu. Ya, mungkin saja hanya karena rasa bersalahnya. Besok-besok mungkin Devan akan kembali seperti dulu. Menyebalkan.


Sesendok per sesendok salad berhasil masuk ke dalam perut Kania. Hanya saja Kania tak sanggup jika harus menambahnya dengan sekotak nasi goreng. Bagi Kania, perutnya sudah terisi saja sudah bersyukur. Kania hanya ingin cepat sampai rumah dan bertemu Shaka serta kedua orangtuanya dan adiknya.


"Nasinya nggak dimakan?"


Kania melirik Devan. "Kenapa tiba-tiba berubah baik gini, sih? Jangan bikin aku takut, deh. Kayak biasanya aja. Itu lebih membuatku merasa aman. Kalau karena rasa bersalah, udah aku maafin."


Hembusan napas panjang dari hidung Devan terdengar oleh Kania. "Baik salah, judes juga salah, galak dam emosian lebih salah. Maunya apa, sih?" Devan menggerutu kesal. Tak berharap Kania menjawabnya.


Dan benar, Kania tak menanggapinya. Kania lebih memilih membuang pandangannya pada jalanan yang sudah gelap bercampur dengan hujan yang tak terlalu deras.


"Aman. Satunya sudah bisa bekerja kembali besok. Dan yang satunya juga sudah aku bereskan," jawab Devan tanpa memandang Kania.


"Makasih, ya. Lain kali kamu nggak perlu mematikan rejeki orang lain seperti itu. Makasih juga kamu udah take down semua pemberitaan yang sudah beredar. Kamu yang melakukannya, kan?"


Devan mengangguk membenarkan. Memang Devan yang sudah melakukan semuanya. Media apapun yang nekat menampilkan pemberitaan tentang dirinya, Kania, dan Shaka, akan mendapatkan pelajaran langsung dari Devan.


"Em... Apa kamu juga tahu siapa yang menyebarkan ini semua?"


Lagi-lagi Devan mengangguk. "Tahu!" jawabnya dengan pasti membuat Kania merubah posisi duduknya yang semula menghadap ke depan, kini menjadi menghadap pada Devan.


"Siapa?" tanyanya penasaran.


"Pasti kamu akan tahu. Aku akan mengurusnya besok."


Kania mendesah kecewa karena tak mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya. Mau memaksa, Kania ragu. Lebih baik mengubur rasa penasarannya sampai Devan memberitahunya besok, atau lusa, atau entah kapan.


***


Devan memandang Kania yang terlihat ragu untuk turun. Saat mengikuti arah pandang Kania, Devan melihat dua orang laki-laki yang sedang duduk di teras rumah Kania.


Keduanya pernah Devan lihat dengan sekilas. Devan ingat dia adalah sosok pilot yang wajahnya di rasa tidak asing bagi Devan. Ya, sekarang Devan menemukan jawabannya. Wajah itu begitu mirip dengan Kania. Mungkin dia adik Kania.

__ADS_1


Dan yang satunya, Devan ingat dia adalah lelaki yang datang menjemput Kania saat Kania pingsan karena melihatnya di panti saat itu.


Apa dia kekasih Kania? tanya Devan dalam hati tanpa berani menanyakannya langsung pada Kania.


"Kenapa nggak turun? Katanya mau cepat ketemu Shaka?"


"Eh, iya." Kania menjawabnya dengan ragu.


Rama dan Tristan terlihat terkejut dengan kedatangan Kania. Sekaligus lega karena Kania baik-baik saja.


"Mbak? Ya Allah, Alhamdulillah, Mbak Kania baik-baik saja. Aku khawatir banget. Semua orang khawatir sama Mbak Kania."


Kania tertawa kecil mendengar ucapan Tristan. "Maaf, Mbak sudah membuat kalian khawatir."


"Bunda!!!!" Shaka yang baru saja keluar dari dalam rumah langsung berlari dan menghambur memeluk Kania. "Bunda kemana aja? Shaka takut bunda kenapa-kenapa."


Kania mencium kedua pipi Shaka. "Bunda sekarang udah di sini, Sayang. Maaf, ya, kalau Bunda buat Shaka khawatir. Bunda janji nggak akan mengulanginya lagi."


"Janji?" Shaka mengacungkan jari kelingkingnya. Kania tertawa lalu menautkan kelingkingnya pada kelingking milik Shaka. "Janji!" ucap Kania dengan pasti.


"Salim dulu sama ayah," perintah Kania yang membuat semua orang tercengang. Termasuk Devan dan Rama.


Devan tak menyangka bahwa Kania akan mengucapkan hal itu di hadapan banyak orang.


"Ayah!" Shaka menghampiri Devan. Mencium tangan Devan dan Devan pun segera mengangkat tubuh Shaka ke dalam gendongannya.


"Anak ayah makin berat, ya?" canda Devan menutupi rasa harunya saat menggendong Shaka dan mendengar Shaka menyebutnya ayah.


"Berarti Shaka gendut?"


"Yang penting sehat dan pintar."


"Aku mau ikut ayah."


Ucapan Shaka membuat Devan memandang Kania. Kania hanya menatapnya datar. Memberikan tanda bahwa dia tidak mengijinkan Devan membawa Shaka.


"Lain kali, ya. Ini udah malam. Besok Shaka harus sekolah."


"Kalau begitu, ayah bobok sini aja."


"Emm, Shaka... Ini udah malam, Nak. Ayah capek habis kerja." Kania mencoba membujuk Shaka. "Lagipula kamu nggak kangen sama bunda? Bunda aja kangen banget sama Shaka."


Segala bujuk rayu sudah di berikan pada Shaka. Akhirnya, Shaka mau turun dari gendongan Devan dan kembali masuk ke dalam rumah. Dan Devan pun berpamitan untuk pulang ke rumahnya.


Kini tinggallah Kania dan Rama yang masih ada di teras rumah Kania. Keduanya saling diam.


Kania yang tak paham dengan apa yang dia rasakan. Dan Rama yang masih mencoba meredam emosinya karena merasa cemburu melihat Kania datang bersama Devan.


Apalagi dengan jas pria itu yang menempel di tubuh Kania. Membuat Rama semakin merasa marah.


Rama juga cemburu melihat kedekatan Shaka dengan Devan. Shaka tidak lagi menyambutnya dengan antusias saat dia datang ke rumah. Tak seperti Shaka yang terlihat sangat bahagia saat melihat Devan.

__ADS_1


🌼🌼🌼


Mohon maaf baru sempat up. Jamnya nggak pasti ya teman-teman. tapi tetap di usahakan buat up setiap hari. πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2