Benih CEO

Benih CEO
Bab 66


__ADS_3

Dihancurkan berkali-kali, dipatahkan berkali-kali, disakiti berkali-kali. Tidak ada lagi alasan bagi Kania untuk bertahan. Lebih baik dia merelakan pernikahannya yang baru empat bulan itu berakhir daripada bertahan tapi rasa sakit yang terus dia dapatkan.


Tapi mengingat kebahagiaan Shaka saat ini, tak tega rasanya jika semua itu harus terenggut. Kania juga tak sampai hari kalau orangtuanya kembali merasa malu karena dirinya lagi.


Jadi ini penyebab semua karyawan Devan menatap Kania dengan tatapan takut saat baru saja Kania datang tadi. Karena mereka tau yang datang sebelum Kania adalah mantan kekasih Devan.


Sejauh apa dulu mereka berhubungan sampai semua karyawannya saja tau bagaimana hubungan mereka?


Pintu lift terbuka di lantai dasar. Saat itu matanya langsung menatap Devan yang berdiri dengan napas terengah. Entah bagaimana Devan bisa lebih dulu sampai di lantai dasar ketimbang dirinya yang naik lift.


Menuruni dua puluh lantai.L dalam waktu beberapa menit saja. Rasanya tidak mungkin hal itu bisa terjadi, tidak masuk akal. Namun kenyataannya, Devan berada di hadapannya. Di lantai satu.


Kania kembali menutup pintu lift. Namun dengan cepat Devan menahan pintu tersebut dan masuk ke dalamnya, berada di dalam satu lift dengan istri yang begitu dia rindukan. Lift itu kembali naik, tapi ke roof top.


"Sayang. Dengarkan penjelasan aku dulu."


"Semua tidak seperti yang aku lihat, begitu?" sindir Kania membuat Devan bungkam.


"Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Keputusanku sudah bulat. Aku ingin kita_"


"Tidak akan terjadi jika yang kamu mau adalah sebuah perceraian."


Kania mengusap air matanya. Hatinya sendiri sakit mendengar kata perceraian. Sumpah, Kania sendiri tidak ingin rumah tangganya berakhir. Dia hanya ingin bersama lelaki yang sama seumur hidupnya.


Tapi kekecewaan yang Devan berikan sudah cukup mendalam.


Devan menarik tangan Kania dengan lembut saat lift terbuka di roof top. Langsung membawa Kania ke dalam pelukannya meskipun Kania berontak. Namun tetap saja tenaganya kalah dengan Devan.


"Lepasin aku. Aku nggak mau disentuh dengan tangan bekas menyentuh wanita lain."


"Aku nggak menyentuh dia, Sayang. Kamu nggak lihat tadi tanganku bertumpu pada sofa?"


"Itu menandakan kalau kamu pasrah. Lepas!"


Pelukan keduanya terlepas saat Kania berhasil mendorong tubuh Devan dan membuat Devan mundur beberapa langkah.


"Apa, sih, Ka? Aku pasrah cuma sama kamu doang, kok."


"Bukan waktunya untuk bercanda."


"Oke, oke. Aku ada rekaman cctv kalau kamu mau tau kejadian yang sebenarnya. Dia memaksa aku, Sayang," ucapnya panjang sambil mengeluarkan handphonenya.


Kamera cctv di ruangan Devan langsung terhubung ke handphone dan laptopnya.


"Paling editan." Kania melengos pergi, mendudukkan dirinya di atas sofa panjang.


"Mana sempat aku ngedit. Apalagi dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Nih, lihat."


Kania melihat handphone Devan yang menunjukkan ruangan Devan.


Awalnya, hanya ada Devan yang terlihat sibuk di balik meja kerjanya. Tak berselang lama, Devan beranjak dan berjalan menuju pintu.

__ADS_1


Saat Devan akan memutar handle pintu, pintu lebih dulu terbuka dari luar. Lalu seorang wanita dengan pakaiannya yang seksi itu langsung memeluk Devan dengan erat.


"Kamu?" Suara Devan terdengar begitu terkejut.


"Aku merindukanmu, Sayang. Kamu apa kabar? Makin ganteng aja, sih," ucap wanita tersebut membuat tangan Kania terkepal erat. Jijik sekali mendengar suaranya.


Rasanya tidak rela suaminya dipeluk wanita lain.


Tangan Devan terlihat mencoba melepaskan pelukan wanita tersebut. Tapi justru wanita tersebut mendorong Devan sampai keduanya ambruk ke atas sofa dengan posisi wanita tersebut duduk di atas pangkuan Devan.


Dan tepat saat wanita itu hampir mencium Devan, Kania membuka pintu ruangan Devan.


"Sekarang kamu tau kalau aku tidak berbuat apa-apa untuk dengan wanita itu, Sayang. Kamu percaya?"


Kania mengalihkan pandangan. "Siapa wanita itu?"


"Dia..."


Kania menanti jawaban Devan dan jantung berdebar.


"Dia Ivanka. Mantan pacarku."


"O-oh, mantan?"


"Tapi aku udah nggak ada rasa apapun, Sayang. Kamu tau aku cuma cinta sama kamu sekarang, besok, dan untuk selamanya." Devan memeluk tubuh Kania dari belakang. "Jangan pergi lagi. Aku minta maaf udah salah sama kamu. Aku nggak bisa jaga ucapan aku_"


"Apa selama ini cara pandang kamu ke aku sebatas itu, Mas? Aku yang nggak berpendidikan, berasal dari keluarga sederhana dan kamu anggap aku nggak pantas menjadi pendamping kamu karena aku nggak bisa mengimbangi kamu?" Kania menyela ucapan Devan dengan cepat.


"Kamu ngomong apa, sih, Sayang? Oke. Aku minta maaf soal ucapan aku yang kemarin. Aku minta maaf, Sayang. Aku benar-benar menyesal karena nggak bisa tahan emosi aku. Ada masalah di kantor. Ditambah lagi kabar Ivanka yang pulang ke Indonesia setelah enam tahun lebih di Jerman. Aku takut dia akan berbuat nekat. Dan kenyataannya iya, kan? Tadi contohnya. Membuat kamu salah paham dan bilang mau ketemu di pengadilan segala. Aku hampir mati berdiri saat kamu bilang seperti itu, Sayang. Jangan lagi diulang."


Dibandingkan dengan Ivanka, Kania merasa tidak ada apa-apanya.


"Jangan bilang kalau kamu minder, Sayang," ucap Devan seolah dia bisa membaca pikiran Kania. "Aku mencintaimu tanpa peduli bagaimana kamu."


"Bohong. Buktinya kemarin ngungkit-ngungkit aku nggak kuliah, mana ngerti pekerjaan kamu."


"Maaf, Sayang." Devan semakin mengeratkan pelukannya pada Kania. "Aku menyesal telah mengucapkan hal seperti itu. Cukup dua hari aku tersiksa karena hukumanmu dengan cara kamu pergi tanpa kabar," ucap Devan penuh dengan penyesalan.


Kania melepas pelukan Devan, lalu berdiri. Menghadapkan tubuhnya pada Devan dan memandang wajah suami yang dia tinggalkan hampir dua hari lamanya. Kania akui, dia begitu merindukan Devan.


"Aku juga minta maaf, Mas. Nggak ngertiin kamu yang lagi ada masalah, pergi tanpa kabar, tadi juga nuduh kamu sembarangan."


Devan tersenyum lebar. Tangannya hendak memeluk Kania namun Kania segera menahan tubuh Devan. "Kenapa?"


"Lepas dulu itu baju dan celana."


"Hah? Mau apa, Sayang? Bukannya kamu lagi datang bulan, ya?"


"Apa, sih, Mas? Itu baju sama celana tadi ada bekas wanita itu. Aku nggak mau. Aku nggak mau di peluk kalau kamu masih pakai baju itu. Ganti, terus itu di buang aja atau dikasihkan ke orang lain."


"Oke-oke." Devan tersenyum senang melihat cemburunya Kania. Tapi kalau sampai Kania mengatakan pengadilan seperti tadi, Devan bergidik ngeri. Jangan sampai hal itu terjadi.

__ADS_1


"Tunggu, Mas!"


"Apa lagi, Sayang?"


"Ruangan Mas Devan ada cctv-nya?"


Devan menganggukkan kepalanya. "Iya. Ada apa?"


"Berarti dulu waktu kita gituan terekam cctv, dong?"


Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Akhirnya Kania sadar juga akan hal itu. Devan tersenyum lebar seolah tanpa dosa. "Cuma aku sendiri yang lihat, Sayang. Rekaman yang ada di laptop udah aku hapus. Tapi yang di handphone masih tersimpan."


"Ih, nyebelin! Nggak sopan kamu, Mas!"


"Haha. Maaf, Sayang. Aku sengaja!"


Kania semakin kesal dibuatnya. Devan menerima cubitan kecil dari tangan Kania sebagai pelampiasan kekesalannya.


***


Ada yang aneh dari datang bulan Kania kali ini. Setelah Devan berganti baju, Devan ingin memeluk Kania sembari rebahan di atas tempat tidur. Devan bilang, dia begitu merindukan Kania. Ingin melepas rindu meskipun tidak bisa lebih dari hanya sekedar memeluk, mencium dan tangannya yang meraba kemana-mana.


Setiap saat Kania ke kamar mandi, yang dia temukan hanyalah flek biasa. Tanpa ada darah seperti biasanya. Itu terjadi semenjak pagi yang dia kira sedang datang bulan pagi itu, sebelum malamnya dia bertengkar dengan Devan.


Hal ini membuat Kania khawatir. Takut kalau ada apa-apa dengan dirinya karena baru sekali ini Kania mengalaminya.


Bagaimana kalau aku punya penyakit? pikir Kania.


"Sayang, kenapa lama sekali?"


"Bentar, Mas!" Kania sedikit berteriak menjawab panggilan Devan.


Kania keluar dari kamar mandi dengan wajah yang dibuat biasa saja menutupi kekhwatiran akan tubuhnya.


"Aku balik kerja sebentar, ya?"


Kania menatap Devan dengan tajam. "Mau ketemu wanita itu lagi?"


"Dia udah diatasi oleh Nino, Sayang. Udah nggak ada dia di sana."


"Ya udah, deh." Kania pasrah.


"Tunggu aku, Sayang. Nanti kita pulang bareng."


Kania mengangguk patuh.


Sepeninggal Devan, Kania mengambil testpack yang tersimpan di bagian terkecil di dalam tas Kania.


Iseng saja Kania melakukan test urin lagi menggunakan testpack. Siapa tau dirinya tidak sedang sakit apapun, tapi sedang hamil.


Setelah mencelupkan testpack ke dalam urinnya yang sudah ditampung, Kania menunggu selama satu menit dengan hati berdebar.

__ADS_1


Lagi-lagi Kania melakukan hal ini tanpa sepengetahuan Devan. Dia tak mau Devan juga kecewa. Cukup dirinya saja yang tau dan kecewa jika hasilnya masih tetap sama seperti kemarin.


🌼🌼🌼


__ADS_2