Benih CEO

Benih CEO
Bab 69


__ADS_3

Keduanya berbaring di atas ranjang setelah sama-sama merasa lelah karena aktivitas panas yang baru saja mereka lakukan.


Satu tangan Devan dijadikan bantal oleh Kania. Dan satu tangan yang lainnya mengusap perut Kania yang masih datar. Belum terlihat kalau Kania kini tengah mengandung buah cinta mereka. Anak kedua mereka.


Sama-sama belum ingin memejamkan mata kendati hari sudah semakin malam.


"Kamu pasti nggak percaya kalau aku bilang aku mual muntah kayak orang ngidam waktu kamu hamil Shaka."


Kania mendongak, memandang wajah Devan dengan penuh tanya. "Iya, gitu? Emang bisa?"


Devan mengangguk pasti. "Selera makan dan minumku mendadak aneh. Terus juga mual muntah sampai dehidrasi dan dirawat di rumah sakit. Hasil lab menunjukkan kalau tidak ada masalah dalam tubuhku, Sayang. Dan dokter mendiagnosa kalau aku couvade syndrome atau sympathetic pregnancy. Yaitu kondisi di mana suami merasakan gejala yang serupa dengan pasangannya yang sedang mengandung."


"Bisa gitu, ya, Mas? Pantas aku nggak ada morning sickness atau mual muntah yang berlebihan. Ternyata Allah maha adil. Kamu juga dibuat merasakan bagaimana susahnya hamil, Mas." Kania tertawa kecil. "Berarti kalau kali ini seperti itu juga nggak apa-apa, dong?"


"Walaupun sebenarnya nggak mau, tapi demi kamu dan anak kita aku rela, Sayang."


Keduanya sama-sama tertawa.


Hidup Kania terasa begitu sempurna setelah dirinya dan Devan bisa saling mencintai. Tak pernah terbayangkan sebelumnya Kania bisa mencintai Devan sedalam ini. Begitupun dengan Devan. Mengingat betapa jahatnya Devan dulu terhadap Kania.


"Karena itu Mama tau kamu sudah menghamili anak gadis orang, Mas?"


Devan mengangguk lagi. "Iya. Mama dan Papa marah besar. Mereka bawa pulang aku dengan paksa dari rumah sakit meskipun keadaan masih sangat lemas, belum ada makanan yang bisa masuk. Tapi mereka nggak peduli. Terus juga mereka memintaku untuk mencarimu. Karena hanya aku yang tahu bagaimana wajahmu saat itu, Sayang. Tapi pencarianku terhenti karena aku harus ke Dubai untuk menjalankan bisnis yang ada di sana. Bertahun-tahun lamanya."


"Kamu pasti melupakan kami?" tanya Kania dengan wajah sedihnya.


"Jujur iya." Jawaban Devan sedikit menyakiti hati Kania. "Tapi setelah Mama bilang dia melihat anak yang sangat mirip denganku waktu kecil, aku memikirkan kalian terus."


"Lebih tepatnya Shaka, kan?" sela Kania tepat sasaran.


"Kan, kamu tau sendiri, Sayang, gimana hubungan kita dulu."


"Apa sampai saat ini kamu masih menganggapku bukan wanita baik-baik, Mas?"


Devan terdiam sejenak. "Sebenarnya apa yang membuatmu masuk ke tempat itu, Sayang?"


"Waktu itu, aku mencari mantan pacarku. Dia kabur membawa uang untuk pengobatan orangtuanya. Ibunya nangis-nangis minta aku mencari dia. Sampai akhirnya aku datang ke tempat itu karena aku tau dia sering ke sana. Tapi bukannya menemukan dia, aku malah dapat benih anak dari kamu." Kania tertawa kecil setelahnya. Enggan bersedih-sedih lagi saat mengingat semuanya. Menyesal sudah pasti. Tapi takdirnya harus seperti itu. Dan karena malam itu juga kini dia berada di dalam pelukan lelaki yang sangat mencintainya.

__ADS_1


"Terus mantan kamu sebenarnya kemana?" Ada sedikit rasa cemburu di hati Devan menyebut mantan kekasih Kania.


"Aku nggak pernah tau, Mas. Komunikasi kamu juga terputus sejak saat itu. Dan katanya dia udah meninggal juga karena kecelakaan."


Devan bernapas lega. Bukan karena senang mendengar orang lain kecelakaan dan meregang nyawa. Tapi karena orang yang dia cemburui tidak bertambah. Dengan Rama saja dia sudah sangat cemburu. Apalagi jika bertambah lagi satu orang. Bisa-bisa Devan akan membuat Kania hamil setiap tahunnya agar lelaki manapun tak berani mencari perhatian istrinya.


"Mas Devan sendiri masih ada rasa sama Ivanka itu? Aku dengar Mas datang ke tempat itu malam itu karena ulah Ivanka. Kenapa?"


Sebenarnya Devan malas membahas masa lalu. Tapi dia sudah berjanji tidak akan ada satu hal pun yang disembunyikan dari Kania.


"Waktu itu kami sudah hampir tunangan. Semua sudah siap dan hanya tinggal menunggu jam saja untuk bisa resmi bertunangan. Tapi dia memilih pergi ke Jerman karena mendapat tawaran langsung untuk jadi model oleh agency model di sana. Dia berangkat tanpa meminta persetujuan dari kami."


"Dan akhirnya malam itu kamu ke tempat itu juga, Mas?"


Devan mengangguk. "Iya. Minum banyak, dan akhirnya mabuk. Maaf sudah melakukan hal itu sama kamu, Sayang. Maaf juga kalau aku sudah menganggap kamu bukan wanita baik-baik."


Kania tersenyum lembut. "Semua sudah berlalu, Mas. Andai malam itu tidak terjadi, pasti kita tidak akan pernah dipertemukan dan akhirnya menikah. Tapi jawab dulu pertanyaan aku."


"Pertanyaan yang mana, Sayang?"


"Kamu bisa menilainya sendiri, Sayang. Jangan ragukan cintaku lagi karena kenyataannya sekarang aku sudah tergila-gila sama kamu."


Kania tersipu dan tersenyum senang. Dia tidak pernah melakukan apapun untuk bisa mencintai dan dicintai oleh Devan. Tapi ternyata Allah punya cara tersendiri untuk membuat keduanya saling mencintai.


Kania mengernyit saat tangan Devan kembali bergerak dengan aktif. "Mas!" protes Kania.


"Sekali lagi habis itu tidur, Sayang. Kamu tau aku nggak pernah bisa sekali saja kalau sudah menyangkut hal itu."


"Tapi sama dokter nggak boleh terlalu sering, Mas."


"Sekali aja, kok."


Tidak ada pilihan bagi Kania untuk menolak. Aslinya dia juga menginginkannya. Tapi mengingat dirinya tengah hamil muda, Kania mencoba menahannya. Tapi sayang Devan yang tak bisa menahan.


Anggukan kepala Kania membuat Devan tersenyum lebar. Malam ini, keduanya kembali menyatukan cinta.


🌼🌼🌼

__ADS_1


Nino memandang dengan lekat wanita yang sedang bermain handphone dan duduk di sampingnya. Keduanya sedang menuju sebuah penginapan di kota Batu.


Wanita yang dia kagumi, bahkan sebelum Devan menjadikannya seorang kekasih dan hampir bertunangan.


Ya, dia adalah Ivanka. Atau orang sering memanggilnya Ive. Wanita yang tak pernah menyadari kalau Nino begitu memujanya. Atau memang dia pura-pura tidak tahu akan hal itu.


Masih menjadi pertanyaan bagi Nino kenapa tiba-tiba Ivanka mengajaknya untuk pergi ke kota Batu dan mengajaknya menginap di penginapan milik keluarga Ivanka.


"Masuk, No." Ivanka meminta Nino masuk ke dalam sebuah kamar saat keduanya telah sampai di penginapan.


Nino terlihat ragu. Pikirannya begitu nakal saat Ivanka seolah tak masalah saat Nino menutup pintu kamar tersebut dan keduanya sudah berada di dalamnya.


Jantung Nino berdegup kencang saat Ivanka berjalan mendekatinya. Namun wajahnya ia buat senormal mungkin agar Ivanka tak menganggapnya sebagai lelaki cupu yang berdebar saat didekati oleh seorang perempuan.


Ini pertama kalinya bagi Nino berdekatan dengan perempuan setelah hampir delapan tahun lamanya. Sejak menjatuhkan hatinya pada Ivanka, Nino selalu menjaga jarak dengan semua wanita.


"Ehm!" Nino berdehem, memecah keheningan diantara keduanya. "Jangan-jangan coba-coba jadi pelakor, Ve. Kamu tau Devan sudah berbahagia dengan Kania."


Ivanka tertawa renyah. "Aku tidak pernah bermaksud untuk merusak rumah tangga mereka atau merebut Devan kembali."


Nino bisa sedikit lega mendengarnya.


"Lantas, apa yang kamu lakukan di kantor kemarin? Di rumah mereka menemui Kania. Untuk apa?"


"Aku hanya ingin tau apakah Devan masih tertarik denganku atau tidak. Tapi ternyata dia menolakku karena sudah cinta mati dengan Kania. Kedatanganku ke rumah mereka juga bukan untuk mengusik ketenangan rumah tangga mereka. Tapi aku ingin tau bagaimana seorang Kania, yang mampu membuat Devan tergila-gila. Dan aku rasa mereka cocok. Kania bisa meluluhkan sikap angkuh Devan yang aku saja tidak bisa membuat Devan berubah. Apalagi Devan masih kecewa sama aku karena waktu itu aku memilih karir. Ah, sudahlah. Lupakan Devan! Aku ingin bersenang-senang denganmu malam ini."


"Maksud kamu apa, Ve?"


"Hey! Jangan kira aku nggak tau kalau selama ini kamu cinta sama aku." Ivanka mencium pipi Nino dengan singkat.


Nino tertawa bahagia. Pipinya sedikit memerah karena malu perasaannya sudah disadari oleh Ivanka.


Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Nino segera mencium bibir Ivanka dengan lekat.


🌼🌼🌼


Mau part Nino - Ivanka nggak? bisa komen. kalau banyak yang mau, cek Ig nanti malam. malam banget, tapi. 🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2