
Kabar terlibatnya Dita dalam pesawat yang hilang kontak, di hindari Devan jangan sampai Kania tau semuanya terlebih dahulu.
Kania dilarang memegang handphone dan menonton televisi karena berita tersebut juga sedang menjadi tranding topik nomor satu di Indonesia.
Para dokter dan perawat, juga siapapun yang masuk ke kamar rawat inap Kania juga dilarang untuk membicarakan tentang pesawat naas tersebut.
Berita terbaru, pesawat dipastikan jatuh di laut. Dan kemungkinan besar tidak ada korban yang selamat.
Jika berita ini sampai ke telinga Kania, Devan takut akan mempengaruhi kehamilan Kania. Kania akan terus kepikiran soal Dita, mengkhawatirkan Dita, dan Kania tidak akan merasa tenang. Padahal, saat ini Kania butuh pikiran yang membahagiakan dan banyak waktu untuk beristirahat.
"Mau ngapain?" Devan segera merebut remote televisi yang sudah ada di tangan Kania.
"Mau nonton tv, Mas. Bosen banget nggak ada yang bisa dilihat."
"Lihat apa? Udah, pokoknya istirahat."
"Masss..." Kania kembali merengek. Kembali merasa kesal karena lagi-lagi Devan melarang keinginannya.
Handphone disita, televisi tidak boleh dinyalakan.
Yang Devan mau Kania hanya tidur dan makan. Tidak boleh menonton televisi atau bermain handphone dengan alasan akan mengganggu istirahat Kania. Dan juga takut radiasi handphone akan berefek buruk pada janin mereka.
Devan tidak salah dengan alasan tersebut. Hanya saja Kania merasa memang ada yang aneh dengan Devan. Kemarin-kemarin Devan juga tak mempermasalahkan Kania bermain handphone atau menonton televisi.
Cepat atau lambat pasti Kania akan tau tentang tragedi ini. Devan hanya perlu mempersiapkan diri untuk menghadapi Kania yang sudah pasti akan menangis histeris jika mendengar kabar tentang Dita yang ternyata menjadi korban pesawat tersebut.
"Kenapa, sih, Mas?"
"Enggak apa-apa. Mas cuma mau kamu fokus istirahat. Nanti kalau nonton tv liat handphone ada gosip skandal artis yang ada kamu ikutan emosi."
Kania mencebikkan bibirnya. "Mana ada yang begitu?"
Devan tertawa hambar, menutupi semuanya. "Sudah, Sayang. Mending kamu tidur sebelum aku tiduri kamu di ranjang rumah sakit ini."
Kania mendelik kesal. Dengan terpaksa dia memejamkan matanya meskipun tidak tau bisa tertidur atau tidak. Setidaknya, Devan tidak akan menidurinya di rumah sakit ini.
"Dasar suami mesum!" rutuknya dalam hati. "Tapi aku suka," lanjutnya sambil tertawa dalam hati.
Tak berapa lama, Kania sudah tertidur lelap. Menyisakan Devan yang masih terjaga, terus memantau perkembangan kabar tentang Dita.
Meskipun dia sudah pernah dikecewakan oleh Dita, tapi dia bukan manusia yang tak punya hati yang justru berbahagia ketika orang lain mendapatkan musibah. Apalagi Dita sudah sempat meminta maaf sebelum dia pergi. Jika memang tidak ada lagi umur untuk Dita, setidaknya Devan sudah meringankan jalan Dita dengan memaafkannya.
***
Badan pesawat terbelah menjadi tiga bagian, ditemukan didasar laut. Dugaan sementara, pesawat tersebut terbang tidak terlalu tinggi sehingga saat membentur air laut, badan pesawat tidak hancur seperti kecelakaan yang sudah terjadi.
__ADS_1
Sebelas penumpang sudah ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Ada yang masih lengkap, ada yang organ tubuhnya sudah tidak ada. Akan segera dilakukan identifikasi dan pencocokan DNA.
"Ada pesawat jatuh? Kapan itu?"
Kania nekat menyalakan televisi saat Devan sedang mencari makanan di kantin.
Rasa bosan menderanya. Menonton televisi seperempat jam sampai setengah jam sepertinya tidak masalah. Tapi justru kabar mengejutkan yang pertama tayang saat pertama kali Kania menyalakan televisi.
Tak berpikir panjang, Kania langsung mencari handphonenya yang ternyata disembunyikan Devan di dalam tas pakaian yang ada di dalam lemari kamar rawat inap tersebut.
Mencari informasi lengkap lainnya di internet mungkin akan menuntaskan rasa penasarannya.
Pesawat Bintang Airlines jatuh di laut *****. Badan pesawat yang di tumpangi oleh enam awak kabin dan delapan puluh lima penumpang tersebut terbelah menjadi tiga bagian.
"Innalilahi... Kasian banget yang ada di dalam pesawat itu," gumam Kania sambil membaca berita selengkapnya.
Pesawat Bintang Airlines dipastikan jatuh. Berikut nama-nama korban yang menjadi penumpang pesawat naas tersebut.
Rasa penasaran Kania semakin tinggi. Dia ingin tau siapa saja yang telah menjadi korbannya.
Kania membaca satu persatu nama penumpang. Hingga tangannya terhenti saat matanya menangkap satu nama yang tak asing baginya. Dita Maharani.
Jantung Kania berdegup kencang. Masih belum percaya nama yang tertulis di situ adalah nama sahabatnya yang kemarin datang ke rumah sakit untuk meminta maaf darinya.
"Pasti Dita yang lain. Nama Dita Maharani nggak cuma Dita, kok." Kania menenangkan pikirannya sendiri. Mencoba berpikir positif, bukan Dita sahabatnya yang turut menjadi korban pesawat tersebut.
Kania mencari kontak Dita lalu menelponnya. Berharap Dita masih memakai nomor yang lama dan mengangkat teleponnya.
Tiga sampai lima panggilan tak tersambung. Menandakan nomor Dita tidak aktif lagi. "Mungkin dia ganti nomor kali, ya? Tanya Rama aja, deh." Sebisa mungkin Kania tetap berpikir positif meskipun dalam hatinya takut luar biasa.
Setelah dua panggilan tak terjawab, Kania bernapas lega saat panggilan ketiganya mendapatkan jawaban dari Rama.
"Halo, Rama? Punya nomor handphone Dita yang baru nggak? Aku coba buat hubungi dia lagi tapi nomornya nggak aktif. Dia lagi kemana, ya? Atau ganti nomor?
"Kania." Suara Rama terdengar sedih di seberang sana.
"Iya. Ini aku, Rama. Kamu nggak save nomor aku apa gimana?"
"Dita ada di dalam pesawat tersebut."
Jantung Kania seperti berhenti berdetak saat mendengarnya. Segera menarik diri dari keterkejutannya, lalu tertawa kosong. "Mana ada? Itu Dita yang lain kali. Orang kemarin Dita ke sini, kok, buat minta maaf sama aku. Kita udah baikan. Jangan ngarang kamu, Ram. Itu pasti Dita yang lain."
"Syukurlah kalau kalian sudah baikan. Tapi aku yang belum sempat meminta maaf sama dia, Ka. Aku udah nyakitin dia. Aku nggak bohong. Itu benar-benar Dita teman kita."
Kania masih tak percaya. Tawa kosongnya masih berderai. "Rama... Kalau ngomong yang baik-baik, ya. Takut beneran. Orang Dita nggak ada di pesawat itu, kok."
__ADS_1
"Ka, video call, ya. Biar kamu tau suasana rumah Dita sekarang."
Panggilan langsung berubah menjadi panggilan video setelah Kania mengiyakan permintaan Rama.
Hal yang pertama Kania lihat adalah suasana rumah Dita yang begitu ramai dengan orang-orang yang datang silih berganti dan berpakaian serba hitam. Tenda juga didirikan di halaman rumah Dita.
"Data Dita sudah dicocokkan. Dan memang Dita menjadi salah satu penumpangnya. Tapi sampai sekarang belum ada kabar. Dita belum ditemukan."
"Ya Allah, Dita..." Kania sudah menangis histeris. Tak percaya jika kemarin adalah pertemuan terakhirnya dengan Dita.
"Sayang? Kenapa?" Devan yang baru saja datang langsung berlari mendekati Kania yang menangis sambil memegang handphone.
Saat itu dia sadar kalau sudah lalai. Peringatannya tadi pada Kania untuk tidak menonton televisi atau memegang handphone tak diindahkan. Devan yakin, Kania sudah tau semuanya.
Apalagi handphone Kania masih dalam panggilan video dengan Rama.
"****!" umpatnya dalam hati.
"Dita masih hidup, kan, Mas? Dita nggak mungkin ada di pesawat itu, kan?"
Devan segera memeluk Kania dengan erat. "Kita cuma bisa berdoa, Sayang. Semoga ada keajaiban untuk Dita."
"Aku mau ke rumah Dita, Mas."
"Kondisi kamu masih lemas, Sayang. Besok atau lusa, ya."
"Mau sekarang, Mas."
Devan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. "Sayang, dengar aku." Devan menangkup kedua pipi Kania. Mencium keningnya dengan lekat berharap bisa sedikit memberi ketenangan. "Kamu masiu butuh perawatan. Kamu ingat di dalam sini." Devan menyentuh perut Kania. "Ada anak kita yang sedang membutuhkan tubuhmu yang kuat. Kita bisa mendoakan dari sini. Aku janji kalau kamu sudah sehat dan kuat, kita ke rumah Dita."
Air mata Kania semakij deras saja setelah mendengar ucapan Devan.
Dia memang sangat khawatir akan Dita. Ingin datang ke rumah Dita dan bertemu dengan orangtuanya Dita yang sudah pasti sangat terpukul. Dita adalah anak tunggal. Pasti berat rasanya jika harus kehilangan Dita.
Tapi Kania juga harus mementingkan kesehatannya dan janinnya. Dokter belum mengijinkan Kania untuk keluar dari rumah sakit karena kondisinya belum stabil.
"Dita, Mas. Kemarin dia datang ke sini, loh. Aku nggak percaya itu pertemuan yang terakhir. Dita pasti bisa selamat, kan? Dia bisa berenang, kok."
Meskipun rasanya tidak mungkin, namun Devan mengangguk mengaminkan ucapan Kania. Itu semua dilakukan agar Kania bisa sedikit tenang.
Semua pasti sudah direncanakan oleh sang Maha Kuasa. Devan hanya berharap Kania bisa menerima semuanya ketika nanti ada berita yang menayangkan jenazah Dita berhasil diidentifikasi.
🌼🌼🌼
mohon maaf buat yg kemarin nungguin. kemarin benar-benar repot saudara nikahan. tau sendiri kan, kalau saudara nikahan itu repotnya kayak gimana? aku nggak sempat pegang hp juga karena harus kesana kesini. Masih ngajar juga. mohon maaf sekali.
__ADS_1
ini disempatkan banget buat nulis. buat kalian. ❤️❤️❤️
semoga suka ya. 🌹🌹🌹