Benih CEO

Benih CEO
EXTRA PART


__ADS_3

"Bundaa!!!"


Kania merentangkan kedua tangannya, menerima pelukan dari Shaka yang baru saja pulang sekolah.


"Itu bundaku, Kakak. Lepasin bunda aku." Shanum, gadis kecil berusia tiga setengah tahun itu merengek meminta Shaka untuk melepas pelukan sang bunda.


"Ini bunda aku, wleee..." Shaka justru menggoda Shanum. Membuat Shanum menangis kencang.


Kania tertawa kecil lalu menarik tubuh Shanum agar duduk di satu kakinya yang tidak diduduki oleh Shaka. "Sini, Nak. Semua anak bunda. Bunda miliknya Kakak sama adek. Oke?"


"Milik ayah juga, dong. Sini, bundanya ayah ini." Devan datang mengacaukan ketenangan Shanum yang sudah Kania ciptakan.


Pelukan Devan di leher Kania membuat Shanum menangis semakin kencang. "Tuh, kan, nangis lagi. Ayah, sih, usil banget. Udah tau anaknya sensitif kalau aku dipeluk sama yang lain." Kania menggerutu kesal lalu kembali menenangkan Shanum.


"Shaka cuci tangan dan kaki dulu, ya. Ganti baju, habis itu makan siang." Perintah Kania pada Shaka sambil menggendong Shanum dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Oke, Bunda."


Keluarga kecil nan bahagia itu menikmati makan siang bersama. Hal yang jarang terjadi kalau saja Devan tidak mengambil cuti seminggu ke depan untuk liburan bersama dengan istri dan anak-anaknya.


Pekerjaannya yang sangat padat membuatnya jarang memiliki waktu bersama.


***


Apa yang ada di dalam hidup Kania saat ini, adalah satu hal yang membuat Kania tak menginginkan apapun lagi.


Orang-orang yang ada di sekitarnya diberikan kesehatan, panjang umur, kebahagiaan. Itu sudah sangat membahagiakan Kania.


Devan juga sudah membuktikan bahwa dia adalah suami dan ayah yang sangat luar biasa untuk Kania dan anak-anaknya.


Pernikahan mereka memang tak selalu bahagia tanpa diterpa masalah. Tapi Kania dan Devan selalu berpikir positif dalam menyikapi semuanya. Sebuah pertengkaran, berselisih pendapat, perdebatan kecil adalah bumbu dalam rumah tangga.


"Kamu suka pemandangannya?"


Kania tersentak saat tangan Devan memeluk dirinya dari belakang.


Saat ini mereka tengah berlibur di sebuah pantai dan menginap di sebuah villa dengan view pantai yang indah. Apalagi waktu hampir senja. Pemandangan semakin indah saja dengan matahari yang mulai berubah warna menjadi jingga.

__ADS_1


"Suka, Mas. Aku suka banget. Anak-anak dimana?"


"Lagi jajan di minimarket depan sama Opa dan Omanya."


Kania mengangguk mengerti. Jika seperti ini, Kania sudah hafal dengan kemauan Devan. Apalagi waktu dan suasana begitu mendukung.


***


"Kayaknya kamu harus segera lepas KB, sayang. Shanum udah tiga tahun, loh. Nggak mau nambah lagi apa? Mas, sih, maunya empat atau lima lagi."


Kania mendelik kesal. Bukan karena diminta untuk melepas KB. Tapi karena Devan yang maunya memiliki anak banyak.


Sebenarnya bukan masalah bagi Kania kalau seandainya dia mampu. Tapi Kania takut kalau tidak bisa adil dalam membagi kasih sayang untuk anak-anaknya nanti. Apalagi melihat Shanum yang begitu posesif akan dirinya.


"Kenapa? Katanya, banyak anak banyak rejeki, sayang."


"Anak kita baru dua tapi rejekinya udah banyak, Mas."


"Ya nggak apa-apa. Kalau rejekinya tambah banyak, kan, bisa berbagi ke lebih banyak orang lagi."


"Tapi kayaknya bulan ini kamu udah telat ya, sayang? Aku lihat di kalender hp kamu tadi."


"Aduh, udah ketauan, deh."


"Maksud kamu apa, Sayang? Kenapa bisa telat? Kan, masih pakai KB?" Devan mengangkat kepalanya, menopangnya dengan satu tangannya lalu menatap Kania yang berbaring di sampingnya dengan lekat.


Kania tertawa pelan. "Sebenarnya aku udah lepas KB sejak tiga bulan yang lalu, Mas."


"Terus?"


"Ih, nggak sabaran banget, sih, bapak satu ini." Kania menggoda Devan dengan menarik hidung mancung Devan.


"Makanya cepetan bilang, Sayang. Kamu tahu kalau suami kamu ini_"


"Aku hamil, Mas."


Devan mematung mendengar ucapan Kania. Rasanya terkejut, bahagia sekaligus terharu karena sebentar lagi anggota keluarga mereka akan bertambah lagi.

__ADS_1


"Kamu bilang apa tadi, Yang?" tanya Devan untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar.


"Aku hamil, Mas. Aku udah telat seminggu lebih. Tadi pagi sebelum berangkat aku testpack. Ternyata positif, Alhamdulillah."


"Maasyaaallah... Alhamdulillah, Sayang. Mas senang sekali dengarnya. Meskipun kesal juga karena kamu nggak bilang dulu mau lepas KB." Devan memeluk dan menciumi wajah Kania.


"Mau buat surprise, Mas. Sebagai kado buat Mas Devan yang hari ini genap usia tiga puluh empat tahun. Selamat bertambah usia, Mas. Sehat selalu untuk kami, ya. I love you." Kecupan lekat di bibir Devan menjadi akhir dari ucapan cinta Kania untuk Devan malam ini. "Aku nggak tau kenapa bisa tepat begini, Mas. Dulu aku pengen aja gitu kasih kado spesial untuk Mas Devan. Hamil anak ketiga gitu, misalnya. Eh, didengar dan dikabulkan langsung oleh Allah."


"Terimakasih, Sayang. Tanpa kamu, aku nggak tau gimana hidup aku. Akankah sesempurna saat ini atau tidak. Kamu dan anak-anak yang menyempurnakan aku. Terimakasih kado ulangtahun yang sangat indah ini, Sayang. Sehat-sehat ya, kamu dan anak-anak kita."


Kebahagiaan mereka tak terhingga, hingga tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tapi mereka juga sadar jika tak boleh melakukan segala sesuatu secara berlebihan. Bahagia sewajarnya, bersedih pun juga sewajarnya.


Tapi, malam itu menjadi malam yang membahagiakan untuk Kania dan Devan. Keduanya diberi waktu untuk menikmati waktu berdua. Agaknya para orangtua sangat paham kalau Kania dan Devan butuh waktu untuk berdua.


Devan dan Kania memanfaatkan waktu itu dengan baik. Tidak ingin keluar dari kamar dan benar-benar menikmati waktu berdua. Bahkan makan pun mereka memilih untuk memesan dan diantar ke dalam kamar.


Untung saja anak-anaknya juga sangat pengertian. Mereka tidak pernah rewel jika sudah dipegang oleh para kakek dan nenek.


Besok, mereka akan memberitahukan kabar bahagia ini kepada keluarga. Mereka pasti juga akan menyambutnya dengan bahagia.


"Mas, seminggu yang lalu aku ketemu sama Ivanka."


"Terus?"


"Dia bilang, dia udah hamil lagi."


"Ya Alhamdulillah, dong. Tiap tahun hamil. Luar biasa nggak tuh, mereka berdua?"


Kania tertawa kecil. "Itu artinya mereka mampu, Mas. Lagipula aku lihat Ivanka enjoy aja ngurus anak yang masih kecil-kecil begitu."


"Semoga kamu juga dimampukan, ya, sayang, buat ngurus anak yang kecil-kecil terus banyak. Habis yang ini lahir Mas nggak mau nunggu tiga tahun lagi. Umur Mas udah banyak, tapi maunya masih pengen punya anak banyak."


"Hehe. Aamiin aja, deh, Mas."


***


Akhirnya bisa upload extra part yg gaje ini. 😅 mau di upload nggak part 21+ nya? cek di ig author yaaa. @dhee.author

__ADS_1


__ADS_2