
"Shaka semalam masuk ke kamar Ayah dan Bunda, ya?" tanya Wening saat semua tengah menikmati sarapan pagi.
Shaka mengangguk tegas. "Iya, Nek. Habis Shaka kesal. Katanya Shaka boleh tidur bareng Ayah sama Bunda, tapi malah tidur di kamar Shaka sendiri sama nenek."
Kania tertawa kecil. "Maaf, ya, Nak. Tapi lain kali, Shaka harus ketuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar yang bukan kamarnya Shaka."
"Udah diketuk, Bunda. Tapi Ayah sama Bunda nggak ada yang bangun. Ya udah Shaka bobok aja di tengah-tengah ayah sama bunda. Maaf, ya, Bunda."
"Kali ini dimaafkan. Tapi lain kali ketuk pintu dulu, ya, Shaka. Ayah sama Bunda nggak marah kok, Shaka tidur di kamar ayah sama bunda." Devan menengahi Shaka dan Kania.
Selain mengajarkan norma kesopanan pada Shaka, Devan dan Kania tidak mau jika Shaka tiba-tiba masuk dan melihat pemandangan yang tidak senonoh di depannya.
Hal ini juga dijadikan pelajaran untuk Devan dan Kania agar lebih teliti lagi, mengunci pintu kamar sebelum naik ke atas tempat tidur.
"Bapak dan ibu jadi pulang hari ini?" tanya Devan kepada kedua mertuanya.
Karno mengangguk. Hubungannya dengan Devan sudah membaik setelah melihat Devan memperlakukan Kania dan Shaka dengan sangat baik. "Pagi ini bapak sama ibu pulang. Shaka biar berangkat bareng bapak aja, naik motor. Shaka mau?"
"Mau, Kek. Shaka mau naik motor."
Mendengar jawaban ayah mertuanya, Devan tersenyum penuh kemenangan sambil melirik Kania.
Pagi tadi Kania masih menolak ajakan Devan ke kantor dengan alasan bapak ibunya masih di rumah dan tak enak jika harus meninggalkan mereka.
Kania yang mendapat lirikan tersebut pun hanya melengos kesal. Entah apa yang menjadi motivasi Devan sehingga dia mengajak Kania pergi ke kantor.
Untuk membantu? Kania mana mengerti hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan Devan.
Menjadi penonton Devan bekerja? Ah, membosankan.
***
Sepanjang perjalanan menuju kantor Devan, Kania hanya diam sambil menatap jalanan Surabaya yang begitu padat di pagi hari.
Masih menerka-nerka apa tujuan Devan mengajaknya ke kantor. Rasanya Devan sangat manja sekali semenjak kecelakaan kemarin.
Kania tak diijinkan sedetik saja menjauh dari Devan kecuali saat ke kamar mandi. Itupun Kania harus membujuk Devan seperti membujuk anak kecil.
"Udah sehat, Van? Eh, udah baikan juga?" tanya Nino pada Devan saat melihat ada Kania yang berjalan di samping Devan.
Bertanya seperti itu, akibatnya Nino mendapat lirikan penuh tanya dari Nyonya Devan Aditama. "Maaf, Bu. Saya tidak bermaksud_"
"Panggil Kania aja," sahut Kania sebelum Nino menyelesaikan ucapannya.
"Ah, iya, Kania," ralat Nino tak enak hati. "Lengket, ya? Kayak mau nyebrang," ucapnya usil sambil melirik tangan Kania dan Devan yang bergandengan.
Kania hanya tersenyum sungkan. Namun Devan menatap Nino dengan tajam. "Ada agenda apa hari ini, No?" Devan mengalihkan pembicaraan.
"Semua meeting ditunda setelah berita kecelakaan kemarin, Van. Jadi hari ini kamu free. Aku lupa ngabarin. Harusnya kamu istirahat dulu nggak perlu datang ke kantor."
__ADS_1
"Ya udah aku ke toko aja," seru Kania dan akhirnya mendapat tatapan tak terima dari Devan.
Bisa gagal apa yang sudah dia rencanakan kalau sampai Kania pergi. "Sudah ku bilang, jangan jauh-jauh dari aku."
Kania menghela napas kesal mendengar ucapan bayi besarnya.
Sedangkan Nino hanya tersenyum dan sedikit menggoda keduanya. Ralat, menggoda Devan lebih tepatnya. Nino tahu kalau sudah ada benih-benih cinta di hati Devan untuk Kania.
"Aku ke atas dulu, No," pamit Devan membuat Nino semakin melebarkan senyumnya.
"Mau ngapain?"
"Kepo!"
***
"Ngapain ke sini? Mau ninggalin aku di sini lagi?"
Dengan ragu Kania melangkah kakinya memasuki ruangan yang ada di roof top kantor Devan. Ruangan pribadi milik Devan.
"Aku mau mengurung kamu di sini. Tapi berdua sama aku."
Bulu kuduk Kania berdiri mendengar ucapan Devan. Kania menelan ludahnya dengan kasar. Sepertinya dia tau dengan apa yang akan Devan lakukan setelah ini.
"Van, udah waktunya pulang sekolah." Kania mencari alasan untuk bisa menghindar. Bukan tidak mau, tapi malu.
"Nggak usah cari alasan lagi, deh. Biasanya Shaka juga dijemput Mama."
"Jangan digigit bibirnya, biar aku aja sini yang gigit."
"Apa, sih, Van. Itu pikiran me_mm."
Devan membungkam bibir Kania dengan bibirnya membuat Kania memejamkan matanya saat itu juga.
Merasa tak ada penolakan dari Kania, Devan semakin melancarkan aksinya. Hingga di pagi hari menuju siang hari ini, keduanya larut dalam kemesraan yang membuat Devan semakin yakin bahwa yang dia rasakan pada Kania adalah cinta.
***
Setelah membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, Kania dan Devan kembali berbaring di atas tempat tidur sambil berpelukan.
Bedanya, kali ini keduanya sudah kembali berpakaian. Tidak seperti setengah jam yang lalu saat keduanya, ah, sudahlah. Membahas hal seperti itu, membuat Devan ingin mengulanginya lagi. Sayangnya, Kania sudah terlihat sangat kelelahan karena ulahnya.
"Aku bisa mati kelaparan kalau nggak dikasih makan begini. Lapar, tau, Van!" gerutu Kania.
Devan tertawa keras mendengar Kania menggerutu kesal. Kania yang merajuk seperti ini membuatnya terlihat semakin menggemaskan. "Maaf, ya. Ya udah, kamu mau makan apa? Biar aku minta Nino yang carikan."
"Bakso di pojokan jalan itu aja, deh."
"Kok, bakso?"
__ADS_1
"Kenapa? Kamu kalau nggak suka ya cari aja yang lain."
Devan menghela napas pelan. Devan pikir Kania bisa sedikit bermanja dengannya setelah berhasil mengurung Kania di bawahnya. Tapi tenyata kejudesannya kembali lagi. Atau mungkin karena lapar Kania menjadi ketus lagi seperti ini?
Ah, Devan tak ingin banyak mengira-ngira. Lebih baik dia segera menelepon Nino dan memintanya untuk membelikan dua porsi bakso.
"Malam ini kita tidur di sini. Kamu belum pernah lihat pemandangan langit malam dari ketinggian seperti ini, kan?"
Awalnya Kania berniat menolak. Tapi diiming-imingi dengan pemandangan malam, Kania berpikir ulang. "Shaka gimana?"
"Dia aman sama Mama dan Papa. Mereka pasti juga nggak keberatan kalau dititipin Shaka semalam saja. Anggap ini bulan madu kita. Besok kalau pekerjaanku tidak padat lagi, kita bisa liburan kemanapun yang kamu mau. Dengan atau tanpa membawa Shaka."
Wajah Kania kembali merona mendengar Devan mengucapkan kata bulan madu. Kenapa harus jauh-jauh kalau di sini saja bisa? Apa, sih, bulan madu bagi seorang Devan? Tentu saja tidak jauh-jauh dari urusan kasur.
Kania mendengus kesal. Sekarang menjadi sedikit was-was jika berdekatan dengan Devan. Mulai sekarang Devan bisa saja melancarkan aksinya kapan saja saat Kania siap maupun tidak siap. Dan yang terjadi satu jam yang lalu, masih membuat sekujur tubuh Kania terasa lelah.
"Kania."
Kania tersentak saat tangannya yang berada di atas meja makan mendapatkan sentuhan lembut dari Devan.
Devan mengunci Kania dengan tatapannya yang begitu dalam. "Aku sayang sama kamu," ucap Devan yang membuat Kania membeku.
Ingin mengelak, namun Kania juga merasakan jantung yang berdebar saat berada di dekat Devan. Apalagi keduanya telah melewati momen yang begitu indah. Saling bertukar keringat di atas tempat tidur.
"Aku berusaha untuk percaya, Van. Jangan kecewakan aku."
Devan mengangguk pasti. Dia tidak bisa berjanji, tapi akan berusaha. Kini, kebahagiaan Kania dan Shaka adalah tujuan utamanya.
"Sama suami sendiri manggilnya nama gitu. Apalagi umurku lebih tua dari kamu. Memang yang begitu sopan?" Devan mengalihkan pembicaraan. Bukan untuk menghindar, tapi tak perlu berlama-lama untuk saling mengungkapkan rasa.
Masih panjang hari esok. Devan bisa setiap hari mengucapkan kata cinta itu untuk Kania.
"Terus mau dipanggil apa?"
"Sayang? Mas? Kangmas?"
Kania menaikkan satu alisnya. "Mas?"
Devan mengangguk pasti.
"Mas Devan?"
"Kedengarannya menyenangkan, Sayang. Panggil aku begitu."
Lagi-lagi Kania merona dipanggil sayang oleh Devan.
"Nanti malam lagi, ya."
Kania membelalakkan matanya. Mengunyah baksonya dengan sedikit kasar. Jangan sampai Devan membuatnya susah berjalan lagi.
__ADS_1
🌼🌼🌼
Cek Ig. ada kejutan untuk kalian. 🤣🤣🤣