Benih CEO

Benih CEO
Bab 70


__ADS_3

Hoeekk!


Devan memijat tengkuk leher Kania dengan pelan. Berharap pijatannya dapat membantu melegakan pusing yang Kania rasakan.


Sejak subuh tadi, tak terhitung berapa kali Kania memuntahkan isi perutnya. Tak ada satupun yang bisa masuk ke dalam perutnya sekalipun hanya air putih hangat.


"Sudah, Sayang?"


Kania mengangguk sebagai jawaban. Tubuhnya yang begitu lemas diangkat begitu saja oleh Devan.


Devan menidurkan Kania ke atas tempat tidur lalu menyelimuti tubuhnya. Dipandangnya dengan lekat wajah Kania yang terlihat pucat. Matanya terpejam, sesekali mengernyitkan keningnya pertanda pusing itu menderanya lagi.


Rasa bersalah muncul di hati Devan. Karena mengandung anaknya, Kania harus merasakan hal seperti ini. Mual dan muntah, pusing, tidak ada makanan yang bisa masuk. Dan itu rasanya sangat berat. Devan pernah mengalaminya juga.


"Kita ke rumah sakit, ya, Sayang. Biar kamu dapat perawatan."


"Nggak usah, Mas. Masih kuat, kok."


"Tapi nggak ada yang bisa kamu makan dan minum. Nanti dehidrasi. Setidaknya cairan infus bisa sedikit memberi asupan cairan untuk tubuh kamu."


Tak mau ditolak lagi, Devan segera mengangkat tubuh Kania dan membawanya masuk ke dalam mobil. Kania harus segera dirawat. Dengan atau tanpa persetujuan dari Kania sendiri.


"Bunda masih sakit ya, Yah?"


"Iya, Nak. Shaka di rumah dulu sama Mbak Lastri, ya. Sebentar lagi Oma datang."


Lastri adalah perempuan berusia tiga puluh tahunan yang menjadi asisten rumah tangga Kania dan Devan semenjak dua Minggu yang lalu. Lebih tepatnya saat Devan tau Kania mengandung.


Keesokan harinya, Devan langsung meminta Lastri, yang merupakan menantu Mbok Darmi yang bekerja di rumah Bram dan Hanum, untuk menjadi asisten rumah tangga di rumah Devan.


Shaka mengangguk patuh. Memandang sedih bundanya yang terus memejamkan matanya. Terlihat sangat pucat.


***


"Mas mau makan mie ayam, boleh?"


"Tentu boleh, Sayang."


"Tapi mau yang di depan kampus aku dulu, Mas."


"Sayang, kita bisa cari yang di restoran. Sudah terjamin kebersihannya."


"Tapi mau yang di sana, Mas. Itu paling enak menurutku. Bersih juga, kok. Dulu aku sering makan di sana juga nggak apa-apa."


"Kan, dulu kamu nggak hamil, Sayang. Kita cari yang lain aja, ya?"


Kania menghembuskan napas kesal. Membalikkan badannya membelakangi Devan. "Nggak usah aja kalau gitu," ucapnya sewot yang membuat Devan resah. Takut Kania ngambek dan membuat moodnya kurang baik. Katanya, ibu hamil harus selalu bahagia.


Tapi kalau menuruti keinginan Kania, Devan khawatir makanan di sana kurang bersih dan akan menimbulkan penyakit pada Kania dan janinnya.


"Makanan di sana bersih, kok. Higienis. Mie-nya aja abangnya buat sendiri."


Kania langsung terperanjat saat mendengar suara seorang wanita yang baru saja membuka pintu kamar rawat inap Kania. Devan pun tak kalah terkejutnya. Dia langsung menatap tajam perempuan yang masuk ke kamar Kania tanpa seijinnya.

__ADS_1


"Siapa yang memperbolehkan kamu masuk ke sini?"


"Mas, jangan teriak-teriak begitu."


"Sayang, kamu lupa dia itu_"


"Aku nggak pernah lupa, Mas. Udah, ya. Nggak perlu emosi."


Meskipun sempat ngambek, tapi Kania harus tetap menenangkan Devan agar tak terbawa emosi.


"Ada apa, Dita?"


Dita yang masih berdiri di ambang pintu tak berani melangkah sedikitpun. Rasanya malu sekaligus takut pada Devan dan Kania. Apalagi tatapan Devan pada dirinya begitu tajam, seakan-akan ingin membunuhnya saat ini juga.


"Masuk aja, Dit."


"Sayang? Kenapa_"


"Mas..."


Kalau Kania sudah memanggilnya dengan nada gemas seperti itu, tidak ada yang bisa Devan lakukan selain diam dan menuruti apa yang di maksud Kania.


Setelah Kania mempersilahkannya untuk masuk, Dita berjalan mendekati ranjang Kania. Air matanya berjatuhan saat melihat Kania yang sudah dia sakiti hatinya.


"Ada apa?" Kania bertanya dengan nada datar.


Bukan Kania masih marah pada Dita. Tapi sebenarnya Kania sudah tidak mah lagi berurusan dengan Dita. Dia sudah memaafkan. Tapi untuk kembali percaya dan bersahabat seperti dulu, Kania sudah tidak berminat.


"Aku datang ke sini mau minta maaf sama kamu, Ka. Kesalahan aku sudah sangat besar dan banyak sekali. Aku egois, aku memikirkan perasaan aku sendiri. Hingga semua berakibat buruk pada hidupku sendiri." Dita sesenggukan. Menangisi kesalahannya yang telah dia perbuat.


"Aku udah maafin kamu, Dit. Aku juga salah. Tapi ya udahlah. Lagipula kita udah punya kehidupan sendiri-sendiri."


"Sekalian aku mau pamit, Ka."


"Kamu mau kemana?"


"Aku pengen memperbaiki diri aku. Aku datang ke sini, memberanikan diri untuk minta maaf ke kamu dan juga pada Pak Devan, karena aku takut aku udah nggak ada umur untuk melakukan ini. Kania, Pak Devan, saya minta maaf untuk semua yang telah terjadi karena saya."


Ucapan Dita membuat Kania merasa bingung. Tapi dia tidak ingin bertanya banyak karena mendadak merasakan mual lagi.


Devan segera mengejar Kania yang berlari masuk ke kamar mandi untuk memuntahkan semua isinya. Dita pun tak kalah khawatir melihat keadaan Kania yang seperti itu.


Setelah Kania kembali duduk di atas ranjang, Dita memberanikan diri untuk menyentuh tangan Kania. "Udah berapa bulan, Ka?"


"Delapan Minggu, Dit."


"Sehat, ya, kamu dan calon anak kamu. Aku pamit dulu. Sekali lagi aku minta maaf atas semua kesalahan aku. Aku pamit."


Kania mengangguk dan tersenyum tipis. "Iya. Dimana pun kamu berada, hati-hati, ya. Jaga diri baik-baik."


Dita mengangguk diiringi dengan air matanya yang kembali terjatuh. "Iya. Boleh aku peluk kamu."


Senyum di bibir Kania melebar. Dia rentangkan kedua tangannya untuk memeluk Dita.

__ADS_1


"Maaf," bisik Dita.


Kania mengangguk lagi sebagai jawaban.


"Pak Devan, sekali lagi saya minta maaf. Saya permisi," ucapnya pada Devan setelah pelukannya dengan Kania terlepas.


Dita keluar dari kamar Kania. Meninggalkan Devan dan Kania yang sama-sama masih terdiam. Masih bertanya-tanya akan banyak hal. Apa yang membuat Dita tiba-tiba datang? Darimana Dita tau Kania dirawat? Kemana juga dia akan pergi?


Dan hati Kania menjadi tak tenang. Tiba-tiba dia takut akan terjadi sesuatu pada Dita.


Astaghfirullahaladzim...


Kania beristighfar dalam hati. Membuang semua pikiran buruk dan prasangka buruknya.


🌼🌼🌼


Ada banyak hal yang telah dilalui Dita selama ini. Termasuk sesuatu yang membuatnya datang ke tempat Kania dirawat. Bertekad untuk meminta maaf pada Kania dengan resiko maafnya tidak akan di terima.


Tapi dia tau Kania orang yang baik. Buktinya, dengan mudah dia bisa mendapatkan maaf dari Kania.


Dita sangat ingin bisa mendapatkan kehidupan seperti Kania. Bukan dalam hal kekayaan, tapi mendapatkan cinta yang tulus dari seorang lelaki.


Dita bisa melihat bagaimana Devan yang memperlakukan Kania layaknya ratu. Cinta di hati Devan terlihat sangat besar untuk Kania.


Andai Dita bisa mendapatkannya dari Rama, mungkin dia tidak akan memilih pergi. Perjuangannya dianggap selesai. Dan Dita pun memilih menjauh untuk melupakan Rama yang tak pernah melihat Dita ada.


Di sinilah Dita sekarang. Di dalam sebuah pesawat yang akan membawanya ke tempat yang jauh, tempat yang dia harapkan bisa membuatnya melupakan perasaannya pada Rama.


Tak satupun orang yang tau Dita akan pergi kemana. Hanya orangtuanya yang tau. Itupun Dita meminta mereka untuk tidak mengatakannya pada siapapun jika ada yang bertanya kemana Dita akan pergi.


"Selamat tinggal Surabaya. Selamat tinggal Rama." Air matanya terjatuh seiring dengan pesawat yang di tumpanginya perlahan naik meninggalkan landasan bandara Juanda Surabaya.


🌼🌼🌼


Pesawat Bintang Airlines dengan nomor penerbangan NS-702, tujuan Surabaya - Denpasar dikabarkan hilang kontak. Berikut nama-nama awak kabin dan penumpang pesawat tersebut...


Rama terpaku pada televisi di sebuah minimarket yang menampakkan daftar nama penumpang pesawat yang dikabarkan hilang kontak sejak satu jam yang lalu itu.


Jika ada berita pesawat hilang kontak, Rama hanya akan menyimak perkembangan selanjutnya tanpa tau siapa saja penumpangnya. Tapi kali ini, entah kenapa Rama ingin membaca nama penumpang pesawat tersebut.


Keranjang belanja di tangannya terjatuh saat membaca sebuah nama yang tertulis di daftar nama tersebut. Dita Maharani. Nama perempuan yang selama ini tak pernah dia hiraukan keberadaannya.


Dalam hati Rama bertanya-tanya, kenapa Dita bisa di pesawat tersebut? Kemana Dita akan pergi?


Tanpa berpikir lagi, Rama langsung berlari menuju mobilnya dan menjalankannya menuju arah bandara. Dia ingin tau secara langsung bagaimana perkembangan soal pesawat tersebut.


"Dita."


Rama menyebut nama Dita berulang-ulang. Berharap ada keajaiban dan pesawat tersebut bisa landing dengan selamat. Begitupun dengan semua penumpang di dalamnya. Termasuk Dita.


🌼🌼🌼


mohon maaf sekali buat yang udah nunggu. semalam kepala agak pusing, jadi langsung tidur setelah anakku tidur. jadi nggak sempat nulis. mohon dimaafkan, semoga nanti bisa nulis banyak buat di up nanti malam sama besok pagi karena besok ada acara. jadi agak repot. πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2