Benih CEO

Benih CEO
Bab 54


__ADS_3

Semenjak Devan melontarkan godaannya pagi tadi, Kania semakin waspada dengan gerak Devan. Bahkan langkah kaki Devan yang terdengar pun sanggup membuat Kania kalang kabut.


Kania terdiam meskipun matanya terlihat melirik Devan dengan waspada. Handphone yang menyala menampilkan aplikasi upload foto pun digunakan sebagai alat agar dirinya tak terlihat gugup.


Saat Devan duduk di sofa yang sama dengan Kania, dengan cepat Kania beringsut menjauhi Devan.


"Kenapa, sih?" tanya Devan yang merasa heran karena Kania terus menghindarinya.


Kania menggeleng kuat. "Enggak apa-apa," jawabnya pelan.


"Kayaknya dari tadi kamu jaga jarak terus sama aku. Kenapa? Takut, ya?"


"Apa, sih!? Udah aku mau mandi."


"Tunggu!" Devan berhasil menarik Kania yang sudah beranjak dari tempat duduknya. Membuat Kania terduduk di pangkuan Devan.


Kania gugup setengah mati. Satu sentuhan tangan Devan yang memeluk pinggangnya membuat bulu kuduk Kania berdiri seluruhnya.


"Kamu gugup? Takut aku apa-apain, ya?" bisik Devan di telinga Kania.


"Kamu kenapa, sih?" tanya Kania yang mencoba untuk tetap biasa saja. Padahal, jantungnya sudah berlompatan tak terkontrol di dalam sana.


Melihat Kania yang setengah mati menahan kegugupannya, Devan tertawa renyah. "Dari tadi kamu aneh. Ngeliat aku kayak lihat setan aja."


Memang, batin Kania. Dia tidak mungkin mengucapkannya. Takut Devan tidak terima dan akan terjadi perang dunia yang ke sekian kalinya. Maksudnya dunia mereka berdua.


Devan tak menahan Kania lagi. Membiarkan Kania beranjak dan melakukan apa yang ingin dia lakukan. Kasian juga melihat Kania yang gugup dan takut seperti itu.


Menggoda Kania mungkin akan menjadi hal baru yang membahagiakan Devan. Wajah cantik Kania terlihat begitu menggemaskan ketika dia sedang gugup, kadang tersipu tapi lebih banyak takutnya.


Galak-galak begitu, ternyata Kania masih takut kalau Devan meminta haknya sebagai suami.


***


"Bunda sama Ayah kapan pulang?" tanya sang anak lewat panggilan video. Devan dan Kania duduk berdekatan dengan wajah keduanya yang menghadap ke kamera ponsel milik Devan.


Siang tadi, sebenarnya Shaka tidak ingin ikut bersama para nenek dan kakek untuk pulang. Namun dengan iming-iming mobil-mobilan keluaran terbaru, Shaka mau diajak pulang.


Bukan masalah juga bagi Kania jika Shaka ikut bersamanya dan Devan yang masih berada di hotel. Bisa dijadikan sebagai pelindung kalau Devan berani macam-macam pada Kania. Ah, bukan bermaksud memanfaatkan Shaka, kok.


"Tiga hari lagi, Nak. Ayah sama Bunda masih ada kepentingan," jawab Devan yang mendapatkan lirikan penuh tanya dari Kania.


"Ayah, Bunda, boleh Shaka minta adik?"


"Hah?" Mendadak Kania salah tingkah dengan pertanyaan anaknya. Sedangkan Devan tertawa kecil dan memandang Kania dengan usil.


"Boleh, Nak. Mau berapa? Dua atau tiga? Atau lima?"


Lagi-lagi Kania melayangkan lirikan kesal pada Devan yang mengucapkan hal seperti itu tanpa beban sama sekali.


Devan enak tinggal membuat adonannya. Kalau Kania, dia harus mengandung, melahirkan, menyusui. Bukan Kania keberatan melakukan itu semua. Bagaimanapun juga itu memang kodratnya sebagai seorang perempuan. Tapi Kania rasa dua saja cukup.


Kania memejamkan matanya sejenak. Bisa-bisanya dia berpikir soal anak. Devan mendekatinya saja Kania sudah kalang kabut dan begitu gugup.


"Memang bisa banyak, Yah?" Dengan polosnya Shaka bertanya.

__ADS_1


"Bisa, dong!" sahut Devan dengan antusias. "Minta sama bunda mau berapa."


"Bunda, aku mau tiga boleh?"


"Shaka..." ujar Kania pelan. "Sudah, ya, Nak. Sekarang Shaka tidur, sudah malam. Besok pagi Shaka harus cepat bangun buat sholat subuh dan sekolah." Kania mengalihkan perhatian Shaka. Jika pembicaraan ini akan diteruskan, Kania khawatir berefek yang tidak baik untuk Shaka.


Masalah seperti ini bukan hal yang pantas dibicarakan dengan anak sekecil Shaka.


"Iya, Bunda." Shaka menurut meskipun masih belum puas karena pertanyaannya yang tidak mendapatkan jawaban.


"Yang nurut sama Oma dan Opa. Jangan nakal, ya."


"Siap, Bunda."


Panggilan video sudah dimatikan. Kania merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur tanpa memperdulikan Devan.


Matanya menatap langit-langit kamar hotel yang begitu mewah yang dia tempati. "Kalau ngomong sama Shaka itu jangan aneh-aneh. Kamu tahu anak kamu itu pinter. Apapun bisa terekam dengan baik di otaknya. Kalau kamu ngomong kayak gitu yang ada mmpph_"


Ucapan Kania terhenti karena kecupan Devan yang tiba-tiba. Kania membelalakkan matanya, tidak siap dengan apa yang dilakukan Devan yang tiba-tiba itu.


Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Tangannya meremas selimut yang menyelimuti tubuhnya.


"Cerewet banget, sih," ucap Devan setelah ciuman itu terlepas. "Jangan marah-marah terus, nanti cepat tua." Devan terkekeh pelan. Tidak tahu kalau jantung Kania sudah hampir terlepas dari tempatnya.


Devan beranjak meninggalkan Kania yang masih sibuk meredakan debaran jantungnya.


Devan lebih memilih menjauhi Kania daripada dia tersiksa dengan sesuatu yang meminta untuk dituntaskan.


Dia lelaki normal. Apalagi dia sudah memiliki tempat untuk melampiaskannya secara halal. Tapi jika Kania sendiri belum siap, Devan juga tidak akan memaksa. Dia tak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti dulu. Memperlakukan Kania dengan paksa dan kasar.


***


Kania bertanya-tanya, di mana keberadaan Devan. Apa Devan pergi meninggalkannya sendirian? Atau Devan justru sedang mencari wanita lain untuk...


Tidak. Kania menggeleng kuat. Berusaha untuk mengenyahkan pikiran negatifnya tentang Devan.


"Apa mungkin tidur di luar?" gumam Kania sambil beranjak dari tempat tidurnya.


Benar saja. Saat Kania membuka keluar dari kamar, Kania melihat Devan tengah tertidur di atas sofa. Tanpa bantal tanpa selimut.


"Van, kenapa tidur di sini?" Kania mengguncang pelan bahu Devan.


"Hm." Devan hanya bergumam.


"Di sini dingin. Tidur di kamar aja. Pindah, Van!"


"Iya." Bibirnya menjawab iya. Namun matanya masih terpejam dan justru menyamankan tidurnya.


Kania menyerah. Melanjutkan langkahnya untuk mengambil minum di dapur.


Baru kali ini Kania menginap di hotel yang di dalamnya seperti rumah. Ada kamar, ruang tv bahkan dapurnya pun ada. Entah berapa juta yang harus dibayar untuk satu malam untuk menginap di hotel semewah ini.


"Kamu ngapain?" Kania terperanjat saat Devan bersuara.


"Ngagetin!" Kania memukul pelan lengan Devan.

__ADS_1


"Kamu ngapain malam-malam begini di dapur?" tanya Devan lagi.


"Minum. Haus banget. Kamu ngapain di sini?"


"Ada suara berisik. Aku pikir tikus."


"Ya kali hotel semewah ini ada tikusnya."


"Ada!"


"Mana?" Kania sudah panik sendiri. Sedikit mendekatkan diri pada Devan. Bukan mencari kesempatan, tapi dia memang ketakutan. Dia tidak bisa melihat hewan yang satu itu. Atau dia akan teriak sekencang-kencangnya. Sejak kecil dia begitu takut dengan hewan bernama tikus.


"Itu," ucap Devan dengan usil sambil menunjuk ke satu arah di belakang Kania.


Kania lebih memilih meninggalkan dapur daripada benar-benar melihat hewan tersebut yang sebenarnya dia juga tak yakin ada. Hotel mewah tidak mungkin ada hewan jorok macam tikus seperti itu.


"Awas, Ka, tikusnya lewat!"


"Aaaaaaa... Devan!!!" Kania berlari menghampiri Devan lagi dan memeluk Devan dengan erat. "Seriusan ada? Aku takut..."


Melihat ketakutan Kania yang ada di pelukannya, Devan tertawa puas. Kania pun kesal dan mencubit perut Devan dengan keras. "Nyebelin! Aku beneran takut, Van. Nggak usah main-main sama yang begituan!"


"Kalau sama aku takut nggak?" Devan memeluk pinggang Kania. Menahan Kania agar tak menjauh darinya.


Menatap kedua mata Devan yang juga tengah menatapnya dengan lekat, jantung Kania kembali berdebar.


Sepertinya setelah ini dia harus sering-sering kontrol ke dokter spesialis jantung. Jantungnya sering bekerja keras saat berdekatan dengan Devan. Kania takut akan ada apa-apa dengan kesehatan jantungnya jika seperti ini terus.


Apa, sih!


Melihat Kania yang terdiam, Devan mengambil kesempatan dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Kania.


Napas Devan terasa kian hangat menerpa wajah cantik Kania yang terasa dingin karena efek AC.


"M-mau ap-apa?" Kania terbata. Kegugupan merajainya.


"Kamu percaya sama aku nggak?" tanya Devan pelan.


"Percaya soal apa?"


"Soal hidup denganku."


Kania mengatupkan bibirnya. Menyunggingkan senyuman tipis, hampir tak terlihat. "Semenjak kamu mengucapakan ijab qobul di depan Bapak, aku percaya bawa kamu adalah takdir pilihan Allah. Meskipun masih ada rasa takut dan ragu karena sikap kamu yang mudah berubah ini. Kadang kamu menyebalkan, ucapan kamu menyakitkan, kadang juga kamu baik. Aku masih bingung," ucap Kania.


"Sekarang aku tanya sama kamu," tukas Kania yang melihat Devan terdiam setelah mendengar ucapannya.


"Apa?" Devan menaikkan kedua alisnya.


"Apa alasan kamu menikah denganku? Bukankah kamu menganggap aku bukan wanita baik-baik? Kamu bisa mencari wanita yang kamu anggap baik di luar sana. Kenapa harus aku? Alasan lain selain Shaka. Sebenarnya kamu bisa memberi apa yang menurut kamu itu menjadi hak Shaka tanpa harus menikahi aku."


Pelukan Devan di tubuh Kania merenggang. Hal itu dijadikan kesempatan Kania untuk melepaskan diri. Hingga Kania meninggalkan Devan yang masih ada di dapur, Kania belum mendapatkan jawaban apapun atas pertanyaannya.


🌼🌼🌼


Ada yang kecewa karena mereka belum juga malam pertama. πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


Maafkan Gaes. 🀭🀭


__ADS_2