Benih CEO

Benih CEO
Bab 50


__ADS_3

"Menasehati diri sendiri memang tak semudah menasehati orang lain, ya, Nduk? Kamu bisa bilang ke Rama agar dia bisa menerima takdirnya dengan ikhlas. Tapi kamu sendiri, masih belum bisa melakukannya."


Helaan napas panjang keluar dari hidung Kania. Kita tak pernah tahu seberapa sulit seseorang dipaksa menjalani pilihan yang bukan kemauan dia kalau kita belum menjalaninya sendiri.


Benar kata ibunya, dia bisa menasehati Rama. Tapi dia tidak bisa membawa hatinya untuk ikhlas menjalani takdir hidupnya.


Pernikahannya dengan Devan dua Minggu lagi. Tapi hatinya tetap saja masih merasa ragu, belum sepenuhnya percaya pada Devan.


"Aku masih ragu untuk menikah dengan dia, Bu."


"Bukan ragu. Tapi kamu tidak pernah mencoba untuk percaya."


"Apa bapak dan ibu benar-benar ikhlas aku menikah dengan Devan?"


Wening mengangguk pasti. "Karena kami percaya kalau ini sudah takdir, dan dia yang ditakdirkan terbaik buat kamu terlepas bagaimana buruknya cara kalian bertemu. Memang kami kecewa dengan apa yang pernah dilakukan Devan. Tapi mau kita marah, kita maki-maki dia, itu nggak akan mengembalikan keadaan kita seperti sebelum kalian bertemu dulu. Dan jalan satu-satunya agar kita bisa ikhlas adalah dengan cara memaafkan. Yakinlah, Nduk, tidak ada obat sakit hati kecuali dengan keikhlasan. Dia dan keluarganya sudah berniat baik, bahkan sikap mereka pada kita juga sudah sangat baik."


Wening tentu paham dengan apa yang dirasakan anaknya. Setelah semua sakit yang dia lalui, tak mudah bagi dia menerima lelaki yang telah menghancurkan hidupnya.


"Pikirkan Shaka juga. Lakukan demi dia," ucap Wening sebelum dia meninggalkan Kania masuk ke dalam rumah. Kania butuh waktu untuk sendiri.


***


Pagi ini tidak ada acara untuk bermalas-malasan bagi Kania. Meskipun hatinya masih awut-awutan, namun dia tetap harus bekerja. Meskipun pernikahannya dengan Devan tinggal sepuluh hari lagi, namun Kania tetap memilih untuk bekerja daripada harus berdiam diri di rumah.


Berkali-kali Devan meminta Kania untuk berhenti bekerja. Namun tak diindahkan sama sekali oleh Kania. Bahkan bujukan Devan yang akan membuka seratus toko kue dalam satu waktu untuk Kania pun tak dihiraukan.


Hingga saat sang calon ibunda ratunya datang ke toko kue dan menatapnya dengan tajam, baru Kania menunduk takut.


"Kamu ini, Ka, kita tinggal duduk ongkang-ongkang kaki habisin duit suami. Kok, ya, masih nekat kerja begini, to?"


"Maaf, Bu. Eh, Mama," ralatnya setelah Hanum kembali menatapnya dengan kesal. Sejak di lakukan lamaran ulang beberapa Minggu yang lalu, Kania diharuskan memanggil Hanum dan Bram dengan sebutan Mama dan Papa. Tidak lagi bapak atau ibu.


"Cuma buat kesibukan, Ma. Bosan di rumah terus."


"Kalau bosan, bilang ke Mama. Kita shopping ke Jakarta, Singapura atau Malaysia. Mau keliling dunia pun ayo!" balas Hanum.


Kania membelalakkan matanya. Hanya untuk berbelanja saja Hanum mengajaknya ke luar negeri. Padahal yang di dalam negeri juga banyak barang branded dan berkualitas kalau itu yang Hanum cari.


Daripada lelah bolak-balik Surabaya-Singapura hanya untuk berbelanja, lebih baik Kania tidur di rumah jika memang tak lagi diijinkan untuk bekerja.


"Mbak Hanum, maaf aku terlambat, ya?" Rinda datang dengan tergopoh-gopoh. Dia sudah terlambat lima belas menit dari waktu yang ditentukan Hanum untuk berjanjian di toko. "Dari Malang. Jalanan macet, Mbak."


Meskipun orang yang dia tunggu terlambat, namun Hanum tetap tersenyum maklum. "Enggak apa-apa, Rin. Aku cuma mau bilang kalau mulai hari ini anakku ini mengundurkan diri dari toko ini."

__ADS_1


Rinda tersenyum dan mengangguk meski dalam hatinya tidak rela kehilangan orang kepercayaan seperti Kania. Kerjanya bagus, rapi, dan di tangan Kania, toko kuenya bisa maju pesat. "Ah, iya, Mbak. Saya dengar pernikahan Kania dan Devan sebentar lagi, ya?"


Hanum mengangguk yakin. "Betul. Tapi dia ngeyel masih kerja terus."


Tak hanya Rinda yang merasa tak nyaman. Kania pun sama halnya. Dia memandang Rinda dengan tatapan minta maaf dan tersenyum sungkan.


Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Kania benar-benar mengundurkan diri. Ralat! Bukan Kania yang melakukannya. Tapi calon mertua kesayangannya yang rela datang ke toko kue karena Kania tak mengindahkan larangan keluarga Devan agar dia tidak bekerja.


Kania berpamitan kepada karyawan yang lain. Meskipun sangat menyayangkan keluarnya Kania, namun mereka tak bisa berbuat apa-apa untuk menahan Kania.


Jangankan mereka, Rinda saja yang atasan mereka sekaligus kerabat dekat dari keluarga Hanum pun tidak bisa menahan Kania.


***


Setelah adegan penuh drama di toko kue Rinda, Kania diajak ke sebuah butik teman Hanum untuk melakukan fitting.


Ini merupakan kejutan untuk Kania. Kemarin dia hanya berniat untuk membeli kebaya untuk akad yang harganya pun tak seberapa bagi Hanum. Namun, karena ini pernikahan anak satu-satunya, Hanum ingin semuanya tampil mewah dan sempurna.


"Wah, ini calon istri Devan? Cantik sekali..." ucap Eliza yang kagum dengan kecantikan Kania. Memang tak diragukan lagi kecantikan Kania. Wajahnya sebelas dua belas dengan Raline Shah.


"Iya, Liz. Gimana gaunnya? Udah siap belum buat dicoba?"


"Udah, dong. Tapi kayaknya nanti perlu dikecilin, ya. Badan dia bagus banget. Dicoba dulu, yuk."


"Ma, ini berlebihan buat aku," ucapnya haru. Tak pernah menyangka kalau dia akan menikah mengenakan gaun seindah itu. Bahkan bermimpi pun Kania tak berani.


Tangannya bergetar saat menyentuh gaun tersebut. Rasanya sangat terharu. Berada di tengah-tengah keluarga Devan, Kania bagaikan seorang ratu.



(Pict dari pinterest)


"Kamu suka?"


Kania mengangguk haru. "Suka, Ma. Terimakasih banyak ya, Ma. Walaupun sebenarnya Kania bisa pakai yang sederhana aja."


"Udah. Kita coba dulu, ya."


Eliza memanggil beberapa karyawannya untuk membantu Kania mengganti bajunya dengan gaun tersebut.


Tentu Kania akan kesulitan jika melakukannya sendiri. Gaun tersebut begitu lebar di bagian bawahnya.


***

__ADS_1


Semua terpana dengan kecantikan Kania. Termasuk Devan yang baru saja datang karena dia harus menyelesaikan meeting terlebih dahulu.


Gaun indah itu membalut tubuh ramping Kania. Wajahnya juga dirias tipis dan rambutnya juga disanggul model ponytail. Gaya rambut bergelombang dengan sasak di bagian atas rambut.



(Pict dari google)


"Eliza... Anakku cantik banget." Hanum memekik bahagia. Dia segera mendekati Kania yang berdiri malu-malu di depan pintu ruang ganti.


Kedua tangan Hanum menangkup kedua pipi Kania. Diciuminya dengan gemas Kania yang tersipu. "Cantik banget, Nak. Beneran cantik banget. Iya, kan, Devan?" Hanum meminta pendapat Devan.


Devan yang masih terpana dengan kecantikan Kania pun mengangguk kaku. "I-iya, Ma," jawabnya pelan. Sedikit gengsi mengakui kalau Kania cantik.


Mendengar jawaban dari Devan, jantung Kania berdegup kencang. Ditambah lagi dengan tatapan mata Devan yang tak lepas dari Kania. Kania semakin gugup dibuatnya.


"Gaunnya pas, Han. Nggak perlu dikecilin lagi asal Kania nggak diet. Biasanya kebanyakan pengantin akan diet menjelang hari pernikahan."


"No." Hanum menggeleng tegas. "Nggak ada kata diet, okay?"


"Oke, Ma," jawab Kania pelan.


"Sekarang giliran Devan yang coba bajunya."


"Iya, Ma."


Dengan cepat Devan mengambil tuxedo yang sudah disiapkan untuknya dan bergegas masuk ke ruang ganti.


Namun langkahnya kembali terhenti karena teriakan sang Mama yang memanggil namanya dengan galak. "Apa lagi, sih, Ma?" tanya Devan sedikit kesal, bercampur malu karena mamanya meneriaki dirinya tak kenal tempat.


"Itu ruang ganti untuk perempuan. Mau ngapain kamu kesitu?"


Devan tersadar dan segera memutar arah menuju ruang ganti untuk pria. Rasanya malu setengah mati karena hampir saja dia salah masuk ruangan.


Semua karena dia terlalu terpana dengan kecantikan Kania. Ini saja Kania masih belum berdandan sempurna. Bagaimana nanti jika di hari pernikahan mereka di saat Kania dirias dengan riasan wajah dan rambut yang sempurna?


Jangan sampai Devan menarik Kania masuk ke dalam kamar saat itu juga karena sisi egoisnya yang tak ingin membagi kecantikan Kania dengan banyak orang.


🌼🌼🌼


manusia cuma bisa berencana ya... namun tetap Allah yang menentukan. 🀭 niat mau update lagi semalam, tapi sore harus rapat kerja. malam ngurusin baksos, dan paginya dapat kabar kalau salah satu kerabat ada yang meninggal. mana anaknya masih kecil-kecil 😭😭.


ini baru sempat nulis, dan isinya pun absurd dan dapatnya cuma sedikitπŸ˜– semoga kalian tetap suka ya.. 😘😘

__ADS_1


__ADS_2