Benih CEO

Benih CEO
Bab 58


__ADS_3

Dengan langkah tergesa Kania berjalan memasuki rumah sakit. Mencari keberadaan Devan ke sana kemari. Atau mungkin melihat Tasya dan Mamanya di sana.


"Sya, Devan mana? Ma, Devan mana?" Pikiran Kania semakin kalut saat Tasya dan Hanum menundukkan kepala dan terisak pelan.


"Mama, Tasya! Devan di mana? Kenapa kalian diam aja, sih? Devan baik-baik aja, kan?"


Tasya menggeleng pelan. Sedangkan Hanum semakin terisak.


Kania menyandarkan tubuhnya pada tembok. Lalu terduduk lemas di atas lantai. Bayangan buruk tentang Devan terus menguasai hatinya. Ditambah lagi dengan wajah Tasya dan Hanum yang terlihat begitu kacau.


Devan, aku bahkan belum maafin kamu! teriak Kania dalam hati.


Penyesalannya terlalu dalam karena berhari-hari sudah mendiamkan Devan. Semua karena rasa kecewanya.


Namun, siapa yang tidak marah kalau dirinya Ya untuk kepentingan Devan sendiri. Bahkan harus dengan pernikahan. Rela menikahi dirinya hanya demi jabatan.


Menguatkan hatinya, Kania mencoba untuk berdiri. Memandang ruang UGD yang begitu ramai karena beberapa korban yang dibawa ke rumah sakit yang sama dengan Devan.


Saat membuka pintu UGD, ada beberapa ruangan yang disekat dengan tirai. Matanya menyusuri setiap sekat mencari keberadaan Devan. Nihil. Tak ia temukan Devan di sana. Devan dimana?


Kania kembali keluar dari UGD. "Devan dimana, Ma? Di dalam nggak ada. Mama jawab aku, dong. Tasya, jawab aku!"


"Kita belum tahu gimana keadaan Devan, Sayang. Kita juga lagi nunggu. Tapi Mama sempat lihat kalau..." Hanum kembali terisak. Tak sanggup melanjutkan kalimatnya.


"Kalau apa, Ma?"


"Devan berdarah-darah."


Jawaban singkat Tasya membuat Kania semakin lemas. Bahkan Imas harus menopang tubuh Kania karena hampir saja Kania terjatuh.


"Duduk dulu, Ka. Kita berdoa aja, semoga Devan baik-baik saja."


"Tapi Devan dimana, Mbak? Di dalam nggak ada."


Imas juga tidak tahu dimana Devan. Sebab itu dia hanya diam sambil mengusap bahu Kania.


***


"Terimakasih, Dok," suara itu membuat Kania terperanjat. Suara yang dia nantikan sejak tiga puluh menit yang lalu.


"Sama-sama, Pak Devan. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi."


"Aamiin, Pak. Saya minya tolong agar sopir saya diberikan perawatan terbaik."


"Pasti, Pak."


"Saya permisi dulu."


Kania berdiri, memandang ke arah sumber suara. Dari kejauhan, Devan berjalan dengan tenang. Tanpa dia tahu kalau jantung Kania rasanya hampir karena mendengar berita kecelakaan yang melibatkan Devan.

__ADS_1


"Devan!" Kania segera berlari menghampiri Devan kemudian memeluknya dengan erat. "Aku takut..." ucapnya diiringi isakan pelan. Hatinya terasa lega melihat keadaan Devan yang baik-baik saja.


Devan masih mematung, belum membalas pelukan Kania karena terkejut dipeluk Kania begitu saja. Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat dari pagi tadi yang masih enggan menatap dirinya.


"Ka..."


"Aku takut kamu kenapa-kenapa. Aku belum maafin kamu, kamu masih banyak salah sama aku, Van."


"Jadi kalau kamu udah maafin aku, aku boleh kenapa-kenapa, begitu?"


"Enggak juga!"


Tawa Devan meledak saat itu juga mendengar jawaban Kania. Tangannya membalas pelukan Kania dan mengusap kepala Kania. "Aku minta maaf. Banyak yang ingin aku jelaskan tapi lebih baik kita pulang dulu."


Kania mengangguk setuju dan melepaskan pelukannya. Sedikit malu karena ini pertama kalinya Kania memeluk Devan dengan begitu eratnya.


Saat membalikkan badan, Kania melihat Tasya dan Hanum yang tersenyum lebar. Saat itu Kania sadar bahwa mereka sedang mengerjai Kania.


"Sya, Mama, jangan bilang kalau kalian tadi cuma akting." Kania berucap pelan sembari menahan kekesalannya.


"Maaf, ya, Kania. Devan yang minta."


Mendengar jawaban Tasya, Kania melirik Devan dengan kesal. Sedangkan Devan memutar bola matanya, menatap ke segala arah demi menghindari tatapan Kania.


"Keterlaluan!" umpat Kania dan langsung melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan Devan, keluar dari rumah sakit.


"Kania, aku bisa jelasin." Ucapan Devan tak dihiraukannya.


"Apa, Van? Aku udah panik, aku hampir jantungan dengar berita kecelakaan kamu, aku datang ke sini Mama sama Tasya nangis-nangis, aku pikir kamu kenapa-kenapa. Kamu nggak tahu paniknya aku gimana, Van. Kamu nggak tahu hancurnya aku saat aku tanya sama Mama kamu dimana, Mama malah tambah nangis. Dan ternyata ini hanya rekayasa kalian. Mama bilang kamu berdarah-darah, kenyataannya apa? Kamu baik-baik aja."


Devan segera menarik tangan Kania karena wartawan yang meliput kecelakaan itu mulai melirik keduanya. Devan tidak ingin berita keributannya dengan Kania kali ini tersebar ke media.


"Lepas!" Kania meronta, mencoba menarik tangannya yang digenggam oleh Devan.


"Nurut kalau kamu nggak mau media tahu kita ribut di sini, Ka."


Kania tak menolak saat Devan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. "Biar saya yang bawa, Pak," ucapnya pada Pak Sukir, sopir Hanum.


"Bapak yakin? Bapak baik-baik saja?"


"Tidak apa-apa, Pak. Ini, bapak naik taksi, ya. Mama pulang bareng Tasya." Devan memberikan beberapa lembar uang pada Pak Sukir.


"Baik, Pak. Terimakasih."


Setelah itu, Devan masuk ke dalam mobil.


"Kamu yakin mau bawa mobil sendiri?"


"Kenapa? Aku nggak apa-apa."

__ADS_1


Kania terdiam setelah melihat luka memar di dahi Devan dan lecet di beberapa titik di wajah tampannya.


***


Dengan kasar Kania membuka pintu mobil dan menutupnya dengan keras setelah sampai di rumah.


Di rumahnya, sudah ada kedua orangtua Kania dan Shaka yang menunggu kabar Devan. Mereka bernapas lega saat melihat Devan pulang dalam keadaan baik-baik saja.


"Ayah." Shaka langsung berlari dan memeluk ayahnya dengan erat. Anak itu juga begitu khawatir dengan keadaan sang ayah. Apalagi sebelumnya Shaka melihat mobil ayahnya ringsek di bagian sampingnya.


"Kamu baik-baik saja, Devan?" tanya Karno.


Devan mengangguk dan tersenyum. "Tidak apa-apa, Pak. Hanya lecet sedikit."


"Syukurlah, Devan. Kami khawatir sekali. Apalagi Shaka merengek terus minta diantar ke rumah sakit," timpal Wening.


"Aku masuk dulu, Bu." Kania berpamitan dengan wajah masam. Seketika Wening paham kalau diantara Devan dan Kania sedang ada masalah.


"Kamu istirahat dulu, Van. Ayo, Shaka, sama nenek dulu. Ayah biar istirahat dulu."


Shaka turun dari gendongan sang ayah dan membiarkan Devan masuk ke dalam kamarnya.


Sesampainya di kamar, Kania sedang mengambil baju ganti untuk dirinya sendiri dan Devan. Devan segera menghampirinya dan memeluk Kania dari belakang. "Maafkan aku, Ka," bisiknya pelan.


"Awalnya aku menikahi kamu memang untuk mempertahankan apa yang menjadi hakku. Tapi setelah kamu mendiamkan aku berhari-hari, aku merasa ada yang hilang dari hidupku. Senyummu, cerewetnya kamu, bawelnya kamu, aku kehilangan itu semua. Dan soal kecelakaan ini, yang dikatakan Mama bajuku berdarah semua itu benar. Itu karena aku menolong Pak Heru keluar dari dalam mobil. Dia terluka di kepalanya dan tangannya patah karena benturan keras. Alhamdulillah, aku baik-baik aja. Udan di cek semua dan hasilnya baik. Aku minta maaf, ya. Kayak gitu ide Mama dan Tasya karena Mama tahu kita lagi nggak baik-baik aja."


Kania mengusap air matanya setelah mendengar penjelasan Devan. Dibohongi berkali-kali, rasanya begitu sakit. Tapi dia lega karena Devan baik-baik saja dan tidak ada luka serius meskipun dahinya membiru.


"Tapi kamu jahat, Van. Kamu memanfaatkan aku dan Shaka."


"Maaf, tapi aku nggak mau kamu dan Shaka, juga anak-anak kita nanti hidup susah."


"Bohong!" sahut Kania menutupi salah tingkahnya karena Devan menyebut anak-anak. Itu artinya, Devan tidak ingin pernikahan mereka hanya sementara. Tapi juga sampai menghadirkan anak-anak setelah Shaka. Apakah Kania boleh berharap pernikahan mereka akan berakhir dengan maut yang memisahkan? Inginnya begitu, tapi Kania takut kecewa lagi.


"Tadinya memang nggak begitu. Aku nggak mau hidup susah. Aku terbiasa serba ada dan mudah untuk mendapatkan sesuatu yang aku mau. Tapi setelah kamu menjadi istriku, tujuanku cuma nggak mau kamu hidup susah."


Kania membalikkan tubuhnya. Matanya menatap lekat kedua mata Devan. Mencari apakah ada kebohongan di sana. Namun, yang Kania lihat adalah sebuah ketulusan dari mata Devan.


"Jangan kecewakan aku lagi, Van. Selama ini aku sudah berusaha keras untuk mempercayai kamu. Aku tidak yakin bisa percaya lagi kalau kamu melakukan kesalahan lagi."


"Aku tidak bisa berjanji, Ka. Tapi aku akan berusaha."


Kania mengangguk, merebahkan kepalanya di dada Devan. Devan membalas pelukan Kania dengan erat. Memang belum yakin jika yang dia rasa adalah cinta. Tapi dia tidak mau kehilangan Kania. Dia merasa nyaman jika ada Kania di sisinya.


"Udah selesai datang bulan belum, sih?"


Pertanyaan Devan membuat pipi Kania merona. Kania salah tingkah dan mencubit perut Devan dengan keras.


🌼🌼🌼

__ADS_1


Dari bab kemarin, bisa diambil pelajaran. kalau marah jangan lama-lama. umur nggak ada yang tahu. aku nulis itu terinspirasi dari kisah yang pernah aku baca. ada seorang istri yang lagi marah sama suaminya, tapi suaminya meninggal pas kerja. jangan sampai kayak gitu, ya. 🥺🥺


Semoga kalian tetap suka sama cerita ini ya. maaf kalau nggak sesuai dengan ekspektasi kalian. ❤️❤️❤️


__ADS_2