
Kania bukanlah penikmat harta orang lain. Apalagi harta Devan. Sebab itu dia menolak ajakan Tasya untuk ke Swiss. Kania lebih memilih liburan di tempat wisata lintas kota. Cukup di Malang saja, Kania sudah senang.
Menaiki mobil Tasya yang dikendarai sendiri olehnya, Kania dan Tasya berangkat ke salah satu tempat wisata di Malang. Yaitu bukit Teletubbies.
Bukit Teletubbies yang ada di kota Batu ini menjadi salah satu destinasi wisata favorit untuk warga Kota Batu hingga wisatawan yang berkunjung ke Kota Dingin satu ini.
Hamparan bukit hijau yang ini letaknya berada disebelah Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Kota Batu. Tepatnya dengan jarak sekitar 200 meter dari arah Balai Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji.
Tempat ini juga menjadi salah satu unggulan desa wisata yang sering direkomendasikan untuk wisatawan yang hendak berlibur menghindar kebisingan kota.
Tak hanya disajikan dengan udara sejuk, namun di bukit ini juga dapat melihat pemandangan Gunung Arjuno dengan lebih jelas.
Sebab itu Kania memilih tempat ini sebagai tempat untuk healing. Melepas segala beban yang menghimpit hati dan pikirannya selama ini.
"Kamu siapanya Devan, sih, Sya? Aku penasaran. Tapi belum sempat tanya." Kania membuka suara.
"Aku sepupunya Devan. Jadi mamaku itu kakaknya Tante Hanum."
Kania tertawa kecil. "Dunia begitu sempit, ya? Siapa yang menyangka kalau ternyata kamu adalah saudara Devan. Padahal kita kenal udah lama walaupun nggak dekat."
Tasya mengangguk dan tertawa kecil. "Jangankan dekat. Dulu kebanyakan pada menghindari aku."
"Bener. Dulu, aku lebih baik cari jalan lain kalau dari jauh aku udah lihat kamu and the geng. Nggak peduli walaupun jalannya lebih jauh." Kania tertawa, menertawakan jaman di mana kebanyakan anak kampus lebih baik menghindar dari Tasya daripada mendapatkan bullyan dari Tasya dan teman-temannya.
"Dulu aku sejahat itu ya, Ka?" Tasya tersenyum sedih.
Kania terdiam. Merasakan perubahan suara dan raut wajah Tasya yang berubah menjadi sendu. "Kenapa?" tanya Kania.
"Kenapa apanya?"
"Kenapa kamu bisa berubah sekarang?"
__ADS_1
Tasya tertawa pelan. "Manusia berhak untuk berubah menjadi lebih baik, kan?"
Kania mengangguk membenarkan. Justru orang yang beruntung adalah orang yang mampu menjadi lebih baik dari hari kemarin. Akan menjadi orang yang merugi jika hari ini lebih buruk dari hari kemarin.
"Ada satu orang yang sering aku bully, orangtuanya dia melaporkan aku ke polisi. Itu karena aku yang memukulnya sampai dia tidak sadarkan diri berhari-hari di rumah sakit. Orangtuaku syok mendengar anak satu-satunya berurusan dengan polisi. Papaku serangan jantung, dan hampir saja aku kehilangan papaku pada saat itu. Berhari-hari juga papaku nggak sadarkan diri. Mamaku juga nangis terus melihat papaku terbaring dalam keadaan seperti itu. Saat itu aku berjanji pada diri aku sendiri kalau Papa sadar dan sehat seperti semula, aku akan menjadi orang baik. Aku tidak akan lagi membully orang lain. Bahkan aku meminta maaf pada orang yang pernah aku bully dan meminta doa untuk kesembuhan papaku."
Kania tersenyum bangga pada Tasya yang mampu merubah dirinya menjadi lebih baik. Seorang Tasya, rasanya sulit di percaya kalau dia meminta maaf pada semua orang yang pernah dia bully.
Tapi kenyataannya hal itu benar-benar terjadi. Tasya melakukannya dan berubah menjadi lebih baik.
"Kalau kamu, gimana awal pertemuan kamu dengan Devan? Kenapa bisa langsung, emm... Hamil?"
Mendengar pertanyaan Tasya, senyum di wajah Kania meredup. Rasanya begitu benci ketika masa lalunya di ungkit kembali. Tapi Kania hanya tersenyum tipis, menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya bahwa dia tidak suka membicarakan orang itu.
"Gimana?" Tasya mengulang pertanyaannya karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Kania.
Kania menghembuskan napas panjang. Matanya memandang lepas hamparan rerumputan dan bukit-bukit indah yang ada dihadapannya. "Dulu aku ke sana untuk mencari Roni."
"Roni yang udah meninggal itu?" Tasya menyela ucapan Kania. Membuat Kania mengangguk membenarkan.
"Parahnya, dia ninggalin aku sendirian dalam keadaan nggak sadarkan diri karena ulah dia, Sya. Dia juga menganggapku wanita penghibur dengan meninggalkan sejumlah uang di dalam tasku. Aku benar-benar hancur, Sya. Aku kotor, aku udah nggak suci lagi. Harapan aku saat itu cuma satu, semoga benih Devan nggak menjadi janin di rahimku. Tapi kenyataannya aku hamil dan orangtuaku pun tahu. Mereka marah besar dan aku diusir dari rumah."
"Lalu setelah itu kamu tinggal di mana, Ka? Kenapa nggak coba cari Devan dan minta pertanggungjawaban?"
Kania membasahi bibirnya yang terasa kering. Tersenyum miris mengingat kehidupannya dulu. "Aku hampir bunuh diri dengan cara lompat dari atas jembatan. Mungkin sekarang sudah jadi tulang belulang di dalam tanah seandainya saat itu Rama tidak datang dan menarik tanganku dan kembali turun ke jalan. Dia menampungku di rumahnya yang ada di kampung. Dan kenapa aku nggak cari Devan? Aku memikirkan kehidupan aku saja bingung, apalagi di tambah harus mencari Devan yang saat itu aku hanya ingat wajahnya tanpa tahu siapa namanya dan di mana rumahnya."
Tasya ikut merasakan apa yang Kania rasakan saat itu lewat cerita dari Kania. Seandainya dia ada di posisi Kania pun pasti juga akan merasakan dan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan Kania.
Atau mungkin dia tidak akan sekuat Kania untuk menjalani semuanya. Tasya menggeleng pelan, mengusir semua pikiran buruknya. Dia tak mau berandai-andai, takut benar-benar terjadi pada dirinya.
"Sekarang kamu udah ketemu Devan dan keluarganya, Ka. Shaka juga udah tahu kalau Devan itu ayahnya. Kenapa kamu nggak minta Devan buat bertanggungjawab atas apa yang dia lakukan dulu?"
__ADS_1
Kania tertawa kosong. "Buat apa? Aku dan Shaka sudah merasa nyaman sejak sebelum bertemu dengan mereka. Aku tidak mau di anggap memanfaatkan keadaan. Sudahlah, lagipula aku juga tidak melarang Devan maupun Pak Bram dan Bu Hanum untuk bertemu dengan Shaka."
"Lalu soal Rama dan Dita?"
"Mereka di jodohkan. Dan aku nggak pernah tahu hal itu sebelumnya. Aku dan Rama menjalin hubungan, dan Dita cemburu. Mereka berdua nggak pernah bilang kalau ada sesuatu di antara mereka. Rama nekat melamarku padahal ada Dita yang di jodohkan dengan dia. Hingga suatu hari, aku nggak sengaja dengar pembicaraan Rama dengan kedua orangtuanya saat diam-diam aku datang ke rumah Rama. Dari situ aku tahu semuanya. Tahu kalau orangtua Rama tidak menyukaiku karena masa laluku, dan juga tahu kalau ternyata Rama dan Dita di jodohkan."
Kania menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Mengingat Rama dan Dita, Kania tak menyangka kalau persahabatan mereka akan hancur karena cinta seperti ini.
Dulu mereka bahagia. Bersahabat bertiga meskipun Rama jarang kumpul dengan Dita dan Kania karena memang dia laki-laki satu-satunya di antara mereka.
Tapi sekarang, hanya ada kebencian di hati Dita. Mungkin juga di hati Rama karena Kania yang memutuskan hubungan mereka.
🌼🌼🌼
Dita mulai memasukkan surat lamaran ke banyak perusahaan. Dari yang ada di Surabaya, sampai luar kota. Dia lupa kalau namanya sudah di black list oleh Devan.
Sudah dua Minggu dia hanya luntang-lantung di rumahnya tanpa adanya kesibukan. Tabungannya semakin menipis sedangkan dia tidak bisa terus menerus meminta pada orangtuanya yang kini usahanya pun juga sedang ada masalah.
Di tambah lagi dengan hubungannya dengan Rama yang semakin rumit. Rama tak bisa di hubungi, juga tak bisa di temui.
Rama menciptakan jarak yang sangat jauh dengan Dita hingga bagaimanapun usaha Dita, tidak membuat Rama mendekat kepadanya.
"Aarrrgghhhh!!!"
Dita mengerang frustasi. Novel-novel yang ada di hadapannya di lemparkan membentur lemari kayu. "Ini semua gara-gara Kania. Menyesal udah kenal dan bersahabat dengan dia."
Selalu saja menyalahkan Kania dalam hal ini. Sedikit banyak mungkin Kania juga bersalah. Tapi Dita lupa akan kesalahannya sendiri. Semua yang terjadi pada hidupnya adalah buah dari pikiran dan tindakan nekat yang dia lakukan.
Semua karena apa yang dia tanam. Keburukan yang dia tanam, maka dia pun akan menuai hal yang sama.
🌼🌼🌼
__ADS_1
mohon maaf baru bisa up. kemarin sibuk banget. tadinya mau up tadi malam tapi malah ketiduran.😥😥
Semoga suka ya... thanks for reading ❤️❤️