
Melupakan masalah yang terjadi, malam ini Kania bisa begitu tenang karena tidur dengan memeluk Shaka.
Semalam, dia sudah melewatkan malam yang panjang tanpa Shaka. Matanya sulit terpejam dan malam terasa begitu lama tanpa ada Shaka di sampingnya.
Dan malam ini, Kania ingin menebus semuanya. Kania enggan melepaskan tangannya yang memeluk Shaka. Anak itu juga terlihat begitu nyaman dalam tidurnya dengan memeluk Kania.
***
Dunia Kania seperti berhenti berputar. Semuanya terasa gelap setelah mendengar kabar yang begitu mengejutkan. Jantungnya seperti berhenti berdetak saat salah satu guru Shaka menelepon dirinya bahwa kini Shaka sedang dalam perjalanan ke rumah sakit karena Shaka tertabrak sepeda motor.
Bagaimana bisa anaknya turun ke jalan sampai tertabrak motor?
"Ka? Kenapa? Ada apa?" Tasya yang sedang berada di toko pun begitu panik melihat Kania yang terlihat sangat syok.
"Ka, jangan bikin aku khawatir. Kamu kenapa? Ada apa?" Tasya mengguncang kedua bahu Kania untuk menarik kesadaran Kania kembali.
"Shaka..." ucapnya dengan suara parau.
"Shaka kenapa?" desak Tasya tak sabar.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Kania beranjak tanpa menjelaskan apapun.
Kania berusaha untuk tetap tenang agar dia bisa ke rumah sakit. Berusaha tenang saat mencari kung motornya. Tapi yang ada justru isi tasnya yang jatuh berantakan.
"Stop, Ka! Kita naik mobil. Kamu nggak bisa naik motor dengan keadaan panik begini." Tasya menarik tangan Kania.
"Enggak, Sya. Naik motor akan lebih cepat."
"Oke. Kita naik motor. Aku yang di depan. Kamu yang tenang duduk di belakang."
Dalam perjalanan, Kania sama sekali tak bisa tenang. Bagaimana mungkin dia bisa tenang sedangkan keadaan anaknya saja dia belum tahu.
Berkali-kali Kania meminta Tasya untuk menambah laju kecepatan motor mereka. Namun, Tasya tidak bisa melakukannya karena Tasya sendiri baru bisa mengendarai sepeda motor beberapa bulan ini. Untuk mendahului motor di depannya saja Tasya belum berani meskipun keadaan jalan yang berlawanan arah sedang lengang.
Rumah sakit yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu dua puluh menit saja, kini menjadi hampir empat puluh lima menit. Kania segera turun dari motor dan berlari menuju ruang UGD.
"Shaka mana, Bu?" Dengan panik Kania bertanya pada Bu Karen, guru Shaka.
"Sedang ditangani dokter, Bu. Maafkan kami yang sudah lalai." Karen menundukkan kepalanya.
Kania tak menjawab apapun, juga tak bertanya kenapa Shaka bisa keluar dari sekolah. Dia lebih memilih berdiri di depan pintu UGD, menanti dokter yang menangani Shaka keluar dari dalam sana.
__ADS_1
Selang beberapa menit, dokter keluar dari ruang UGD. Kania segera mendekatinya dan menanyakan kabar anaknya. "Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?"
Senyum di wajah dokter tersebut setidaknya menjadi sebuah pertanda bahwa Shaka baik-baik saja. "Ibu tenang, ya. Anak ibu tidak mengalami luka yang serius. Hanya ada tulang yang retak di tangannya. Insyaallah akan pulih dalam waktu dua Minggu sampai sebulan. Luka di kepalanya juga sudah kami tangani. Nanti kita jadwalkan untuk CT scan, ya, Bu. Semoga hanya luka luar saja."
Kania menghembuskan napas lega mendengar kondisi Shaka. Kania bersyukur apa yang dia pikirkan tak terjadi pada Shaka.
Hati Kania hancur melihat anaknya terbaring di atas ranjang rumah sakit. Jarum infus menancap di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya di balut dengan perban elastis. Dan keningnya pun juga di balut perban karena ada luka yang dijahit di sana.
Andai bisa, Kania tidak ingin anaknya ada di sana. Andai bisa, Kania saja yang merasakan sakitnya. Jangan Shaka, belahan jiwanya.
"Bunda kenapa nangis? Shaka nggak apa-apa, kok."
Tangis Kania semakin pecah mendengar suara anaknya yang terlihat tenang. Tidak rewel sedikitpun meskipun luka di tubuhnya terasa perih dan nyeri.
"Shaka jangan bikin bunda khawatir lagi, ya. Bunda takut Shaka kenapa-kenapa. Shaka tahu kalau bunda nggak bisa jauh dari Shaka."
"Maafin Shaka udah bikin bunda khawatir, ya. Shaka janji nggak akan ngulang lagi."
Kania mengangguk dan tersenyum di tengah isakannya. "Nanti kalau Shaka sembuh, Shaka boleh minta apa aja. Nanti Bunda kasih buat Shaka," ucapnya dengan yakin. Kebahagiaan Shaka adalah segalanya untuk Kania. Sebab itu dia akan mengabulkan apapun yang Shaka mau.
"Boleh nggak Shaka minta ayah dan bunda tinggal bareng?"
Kali ini, Kania menyesali ucapannya yang terlanjur menjanjikan semua hal untuk Shaka. Seandainya waktu bisa di putar lima menit saja, Kania tidak akan menjanjikan apapun pada Shaka. Cukup berdoa dan mengusahakan kesembuhan Shaka dengan cepat.
Shaka menggeleng kuat. "Shaka cuma mau Ayah dan Bunda Shaka akur kayak ayah dan bundanya teman-teman Shaka."
"Dikabulkan saja-lah, Ka." Suara Devan mengejutkan Kania. Tiba-tiba saja Devan sudah masuk ke ruang UGD tanpa Kania menyadari sejak kapan Devan ada di sana. "Kan, kamu sendiri tadi yang bilang kalau kamu akan mengabulkan apapun yang Shaka minta. Jangan egois, Ka. Shaka butuh kita, orangtuanya."
Tanpa menunggu balasan dari Kania, Devan segera mendekati jagoannya yang terbaring di atas ranjang. "Shaka, anak hebat, mana yang sakit?"
"Enggak ada sakit, Yah. Shaka, kan, anak hebat. Seperti kata Ayah."
Devan tertawa kecil dan mengusap rambut Shaka dengan gemas.
Kedua matanya menatap Kania yang terlihat berpikir keras. Tentu dia sedang memikirkan permintaan Shaka yang Devan pun tak menyangka Shaka akan meminta hal itu.
Tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah sejak dia lahir. Hal itu membuat Shaka terkadang merasa iri melihat teman-temannya memiliki keluarga yang lengkap. Devan paham akan hal itu. Dan Devan pun sadar akan kesalahannya dalam hal ini.
πΌπΌπΌ
Kabar kecelakaan Shaka pun sudah menyebar di sosial media. Orang yang tak tahu jalan ceritanya, pasti menyalahkan Kania karena sudah lalai menjaga Shaka.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang sengaja menabrak Shaka, Ka."
"Maksud kamu?" Kania sedikit memelankan suaranya karena Shaka tengah tertidur.
Malam ini, ada Kania dan Devan yang menjaga Shaka di rumah sakit.
"Dari rekaman cctv yang sudah aku terima, ada seorang pemulung yang barangnya terjatuh. Mungkin Shaka melihatnya dan berniat untuk membantunya. Tapi sebelum dia sampai ke pemulung itu, Shaka sudah tertabrak motor itu. Dan si pemulung ini berlalu gitu aja tanpa mau tahu bagaimana keadaan Shaka yang sudah di kelilingi banyak orang."
Kania mengerutkan keningnya, berpikir keras setelah mendengar penjelasan Devan. "Jadi maksud kamu, si pemulung sama penabrak Shaka ini kerjasama begitu?"
Devan mengangguk yakin. "Bisa jadi. Tapi kamu tenang aja. Aku akan segera bereskan masalah ini."
Kania tercenung memikirkan ucapan Devan. Siapa yang tega melakukan ini semua pada Shaka? Salah apa Shaka sehingga dengan teganya orang itu mencelakai Shaka jika pemikiran Devan itu benar adanya?
Apa Dita pelaku utamanya? Apa dia masih begitu marah padaku sampai setega ini pada Shaka? Kania membatin. Jika memang iya, Kania tak akan lagi memaafkan Dita. Kania tidak akan lagi membela Dita. Kali ini, Kania akan membiarkan hukum yang bekerja.
"Kamu tidur aja, biar aku yang urus ini semua."
Devan mempersilahkan Kania untuk tidur di ranjang yang sudah disediakan untuk penunggu pasien. Kamar rawat yang Devan pilih tentu bukan kamar biasa.
"Enggak, ah." Kania bergidik ngeri. Takut kalau Devan akan berbuat macam-macam selagi dia tidur.
"Kenapa? Takut aku apa-apain?" tebak Devan tepat sasaran. Mata Kania yang terlihat ragu dan takut membuat Devan tahu apa yang ada di pikiran Kania. Apalagi Kania terlihat salah tingkah setelahnya.
"Nggak usah takut begitu. Lagipula sebentar lagi kan, kita nikah. Nyicil dikit boleh-lah." Godaan itu dengan mulusnya meluncur dari bibir Devan.
Akhirnya, satu lemparan buah apel dari mengenai kepala Devan. "Nggak usah mimpi!" ucapnya kesal dan mengacuhkan Devan yang terlihat kesakitan karena buah apel yang mengenai kepalanya.
Pada akhirnya, Kania lebih memilih merebahkan tubuhnya di sisi Shaka yang masih cukup jika untuk menampung tubuhnya saja. Mulai memejamkan matanya meskipun ada rasa was-was karena ada Devan yang berada di ruangan yang sama dengan dirinya.
***
Malam kian larut. Kania dan Shaka sudah sama-sama terlelap di ranjang yang sama. Sedangkan Devan masih terjaga, sibuk memandangi pemandangan ibu dan anak di hadapannya juga menanti kabar dari orang suruhannya yang diperintahkan untuk mencari tahu tentang kecelakaan yang menimpa Shaka.
Tak tega melihat Shaka dan Kania berbagi ranjang, dengan sigap Devan menggendong Kania. Memindahkannya ke ranjang lain yang sudah disediakan, kemudian menyelimuti tubuh Kania.
Devan memandangi wajah Kania yang begitu tenang saat tertidur. Baru kali ini dia bisa melihat wajah tenang Kania. Biasanya, hanya raut wajah yang kesal dan marah yang di perlihatkan pada Devan.
Namun kali ini, wajah wanita yang telah mengandung dan melahirkan anaknya itu terlihat begitu polos, tenang dan...sangat cantik di mata Devan.
πΌπΌπΌ
__ADS_1
Maaf kalau yang ini nggak jelas. kepikiran terus sama kak Vanessa dan suamik. Husnul khatimah untuk mereka. nggak kenal, bukan fans, bukan haters tapi sedihnya kerasa banget. πππ kasian anaknya, yatim piatu di usia kurang dari dua tahun. ya Allah... karena ini aku banyak ngikutin update tentang mereka. mau nulis nggak konsen tapi tetap harus update demi teman-teman semua. ππ
stay safe ya kalian semua. hati-hati dalam berkendara. πππ