Benih CEO

Benih CEO
Bab 45


__ADS_3

Kedua insan yang pernah bahagia menjalani hubungan itu kini bagaikan dua orang asing yang baru saja saling mengenal. Bahkan mereka seolah lupa kalau dulu pernah bersahabat dan dekat seperti tak terpisahkan.


Setelah toko lumayan lengang dan bisa di atasi sendiri oleh Lula, Kania keluar untuk menemui Rama yang masih setia menunggunya selama satu jam lamanya.


Jangankan satu jam, bahkan Rama sabar menanti Kania selama enam tahun lamanya. Sempat bahagia karena cintanya bersambut, namun kembali menelan pil pahit dalam hubungannya yang seolah semesta pun tak merestuinya.


"Kamu apa kabar, Ka?" Setelah hampir lima menit lamanya keduanya saling diam, Rama mulai membuka suara.


Kania tersenyum tipis. Senyum yang selalu bisa menggetarkan hati Rama. "Alhamdulillah, aku baik. Ada apa? Waktu aku nggak lama. Aku harus kerja lagi." Kania tidak berbohong. Tapi tujuannya yang lain mengatakan hal itu adalah, dia tak ingin berlama-lama berhadapan dengan Rama.


Karena hal itu akan semakin mempersulit usaha Kania untuk menghapus rasa cintanya untuk Rama. Memang benar, cinta itu tidak mungkin berhenti secepat saat jatuh hati.


Cinta di hati Kania bertumbuh dengan cepat saat pertama kali dia memutuskan untuk menerima Rama. Tapi Kania juga butuh usaha yang keras untuk melupakan cinta itu di saat hubungannya dengan Rama tak bisa lagi di pertahankan.


"Aku sudah menentukan pilihanku, Ka. Aku ingin memperjuangkan kamu lagi."


Kania tertawa kecil. "Aku bukan pilihan, Ram. Sejak awal aku sudah memilih mundur setelah tahu semuanya."


"Tapi aku mencintai kamu, Ka. Cuma kamu yang akan aku cintai sampai akhir hidupku." Rama tak sungkan untuk menggenggam tangan Kania yang terasa begitu lembut dan hangat.


"Lalu orangtua kamu? Dita? Bagaimana dengan mereka?"


Rama menghela napas dengan kasar. "Aku sudah pergi dari rumah karena lebih memilih kamu."


Ucapan Rama pun membuat Kania dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Rama. Hatinya tak terima Rama lebih memilih dirinya di banding kedua orangtuanya.


"Jangan lakukan itu, Rama. Kamu sadar enggak kalau apa yang kamu lakukan itu membuat kedua orangtua kamu semakin membenciku? Bahkan Dita pasti juga semakin benci sama aku?"


"Kenapa harus memperdulikan mereka? Bukankah yang terpenting kita bahagia?"


Kania menggeleng pelan. Tak habis pikir dengan jalan pikiran Rama. "Kisah yang di mulai dengan cara baik-baik saja bisa berakhir. Apalagi dengan mengorbankan perasaan orang lain. Apalagi perasaan orangtua kamu sendiri, Rama. Karena mereka kamu ada di dunia ini. Karena mereka kamu bisa seperti sekarang. Kenapa kamu lebih memilih kehilangan kasih sayang orangtua kamu hanya demi aku? Kamu nggak bisa memaksakan kehendak kamu sendiri, Rama. Ada Allah yang maha menentukan. Dan nggak semua yang kita mau bisa kita dapatkan."


"Aku hanya ingin mereka menghargai keputusanku, Ka." Rama berucap pelan. Menerawang jauh, mengingat selama ini Rama tak pernah di ijinkan untuk menentukan pilihannya sendiri.


"Tidak ada orangtua yang ingin menjerumuskan anaknya ke dalam hal-hal yang tidak baik. Apa yang mereka pilihkan untuk kamu pasti itu yang terbaik buat kamu, Ram. Semua akan terasa lebih ringan kalau kita menerima dan menjalaninya dengan ikhlas."


Rama menatap wajah Kania dengan lekat. Semua ucapan Kania membuat Rama merasa bahwa cinta Kania untuk dirinya sudah tak ada lagi. "Apa udah nggak ada lagi cinta di hati kamu untukku, Ka? Dengan mudahnya kamu bicara seperti itu. Tidak menghargai perjuanganku."


Kania menghela napas dengan gusar. Ternyata usia bukanlah penentu seseorang bisa dewasa atau tidak. Jika Rama bisa berpikir dengan jernih dan dewasa, tentu dia tak akan berucap seperti itu pada Kania.


"Bukan hal yang mudah untuk menghapus perasaanku, Ram. Aku hanya berusaha menerima takdir yang sudah digariskan. Aku dan kamu itu nggak bisa bersatu. Ini juga berat buat aku, Ram. Nggak mudah buat aku merelakan hubungan kita berakhir."


"Kalau begitu, kembali sama aku, Ka. Menikahlah denganku. Dengan atau tanpa restu orangtuaku."


Dengan tegas Kania menggelengkan kepalanya. "Maaf, Ram. Ridha Allah itu ada pada ridha orangtua. Kalau orangtua kamu nggak ridha dengan hubungan kita, Allah pun tidak akan memberikan ridha-Nya untuk kita. Rumah tangga yang bagiamana yang akan terjadi nanti jika Ridha Allah dan orangtua saja tidak menyertai kita?"


Kania terdiam, menjeda ucapannya. "Hargai keputusan aku juga, Ram. Aku sudah ikhlas dengan semuanya. Semakin kamu memaksa, aku semakin tidak nyaman. Tolong jangan buat aku membenci kamu dan masa lalu kita. Kita masih bisa bersahabat. Kamu tetaplah sahabat terbaikku. Coba jalani semuanya dengan ikhlas. Aku yakin hati kamu pun perlahan akan menerima takdir kita."

__ADS_1


Demi apapun, Rama tak ingin Kania membencinya. Akhirnya Rama pun mulai membuka pikirannya. Mungkin memang benar apa kata Kania, tak ada salahnya untuk mencoba menjalani semuanya dengan ikhlas. Untuk akhir nanti, biar Allah yang menentukan semuanya.


"Maaf..." ucap Rama pelan. "Maaf aku sudah memaksa kamu dan membuatmu tidak nyaman. Tapi benar, kan, kita masih bisa bersahabat?"


Senyum di bibir Kania terbit dan terpatri sempurna setelah mendengar ucapan Rama. "Tentu saja bisa," jawabnya sumringah. "Sampai kapanpun kita tetap bersahabat," lanjutnya dengan hati yang bahagia.


Berharap semoga setelah ini Rama benar-benar bisa ikhlas menjalani semuanya. Dan Dita sendiri pun tak lagi membenci Kania.


Entah terbuat dari apa hati Kania ini. Dirinya masih berharap hubungannya dengan Dita bisa membaik dan bisa bersahabat lagi. Melupakan masalah yang pernah terjadi di antara keduanya.


"Aku dengar Devan melamar kamu. Benarkah?"


Senyum di bibir Kania memudar mendengar pertanyaan Rama. Kania sedang tidak ingin membahas tentang Devan dan segalanya yang bersangkutan dengan Devan. Termasuk lamaran itu.


Kania menghela napas dan menganggukkan kepalanya. "Iya," jawabnya.


"Kamu terima?"


Kania bingung harus menjawab apa. Jika dia menjawab menerima lamaran Devan, yang sebenarnya terjadi tidak seperti itu. Hubungannya dengan Devan masih rumit.


Tapi kalau Kania menjawab tidak menerima lamaran Devan, Kania takut Rama akan kembali berharap pada dirinya.


Dan akhirnya Kania pun terpaksa menganggukkan kepalanya. "Demi Shaka," jawabnya berbohong. Untuk kedepannya, Kania belum tahu akan seperti apa. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara dia bisa mematahkan semua harapan Rama akan dirinya.


Rama tersenyum getir. Rasa cemburu dan sakit hati dia rasakan saat mendengar jawaban Kania. Meskipun demi Shaka, tapi tetap saja mereka akan menikah. Dan Rama tak ingin membayangkan jika hari itu benar-benar terjadi nanti.


🌼🌼🌼


Seperti sekarang ini, di sore hari setelah Devan pulang dari kantor dan Shaka baru saja selesai shooting. Shaka bergelayut manja di gendongan Devan dan tak ingin di pisahkan.


Segala bujuk rayu sudah di lakukan Kania agar bisa mengajak pulang Shaka tanpa tangisan dan Shaka yang rewel setelahnya. Namun, hasilnya pun tetap sama. Shaka tetap ingin berada di dekat Devan.


"Shaka pulang, yuk. Besok, kan, kita kesini lagi."


Shaka memalingkan wajah. "Daripada bolak-balik, mending nginap di sini."


Kania mengerutkan keningnya mendengar jawaban anaknya yang tak disangka-sangka. Sedangkan Devan mengulum bibirnya menahan senyuman penuh kemenangan.


"Shaka nggak bawa baju ganti, Sayang." Kania masih berusaha membujuk Shaka.


"Nanti bisa beli sama Ayah, Opa dan Oma."


Lagi-lagi Kania di buat terperangah dengan jawaban anaknya.


"Kalau nggak mau jangan dipaksa, Ka. Takutnya nanti malah tantrum si Shaka." Sebuah suara penuh dukungan datang dari dalam rumah.


Hanum datang dengan senyum sumringahnya. Penolakan Shaka untuk pulang adalah kebahagiaan tersendiri baginya.

__ADS_1


"Shaka masuk dulu sama Oma. Ayah mau bicara sama bundanya Shaka." Devan berucap sambil menurunkan Shaka dari gendongannya.


Dengan cerianya, Shaka masuk kembali ke dalam rumah bersama Hanum.


Hati Kania tak karuan rasanya. Ada rasa senang ketika melihat Shaka bahagia berada di tengah-tengah keluarga ayahnya. Dia bisa merasakan adanya keluarga dan kasih sayang yang lengkap. Tapi di sisi lain, Kania tak terima melihat kedekatan Shaka dengan Devan.


"Biar Shaka di sini."


"Enggak." Dengan cepat Kania memotong ucapan Devan. "Aku nggak bisa jauh-jauh dari Shaka."


"Cuma semalam, Ka. Selama ini kan, kamu udah sama Shaka terus. Sekali-kali biar Shaka di sini, gantian sama aku. Aku antar kamu pulang."


"Enggak. Aku bisa pulang sendiri." Kania menolaknya dengan tegas. "Aku mau panggil Shaka."


"Ngeyel banget, sih!" Dengan cepat Devan menarik tangan Kania sehingga langkah Kania yang akan masuk ke dalam rumah pun terhenti. "Nanti Shaka malah nangis. Kalau malah tantrum gimana?"


"Enggak. Dia anak yang baik. Dia pasti dengar apa kata bundanya."


"Ya udah. Coba aja kalau bisa." Devan mempersilahkan Kania tanpa berniat untuk menahannya lagi.


Kania mencari keberadaan Shaka yang kata asisten rumah tangga Hanum, Shaka dan Hanum sedang berada di ruang kerja milik Bram.


Dengan cepat Kania melangkahkan kakinya untuk menghampiri mereka.


Pintu yang tak tertutup sepenuhnya pun membuat Kania urung untuk masuk ke dalamnya. Melihat Shaka tertawa lepas di dalam sana bersama Hanum dan Bram, hati Kania terasa sakit. Baru kali ini Shaka bisa mendapatkan kebahagiaan yang utuh.


Apalagi melihat kesabaran Hanum dan Bram menghadapi Shaka yang ingin tahu segalanya. Bahkan Bram membiarkan Shaka bermain-main dengan laptop milik Bram tanpa rasa khawatir kalau mungkin Shaka bisa merusak file-file yang ada di dalamnya.


Kania lebih memilih pergi meninggalkan ruang kerja Bram. Mungkin tidak apa-apa semalam saja membiarkan Shaka di sana.


"Aku titip Shaka," ucapnya pada Devan yang masih berada di depan rumah. Tanpa memandang Devan dan berpamitan padanya, Kania meninggalkan rumah Devan.


Tangannya mengusap air matanya yang tiba-tiba saja terjatuh. Entah karena apa, Kania masih tak paham. Harusnya dia bahagia Shaka mendapatkan kasih sayang yang lengkap. Seperti yang dia harapkan dulu, sampai sekarang.


Ada rasa tidak rela jika dengan mudahnya Devan mendapatkan cinta Shaka. Harusnya dia merasakan dulu bagaimana pahitnya yang Kania rasakan dulu.


"Enggak dendam, sih. Tapi... Ya Allah... Seenggaknya kasih dia karma gitu. Masa aku udah dapat sakitnya dia enggak. Rasanya nggak adil buat hidup aku."


Kakinya berjalan keluar dari komplek perumahan elit tempat tinggal keluarga di Devan. Hujan turun dengan derasnya membasahi sekujur tubuh Kania.


Kania masih saja meneteskan air mata. Derasnya air hujan yang membasahi pipinya membuat siapapun tak ada yang bisa melihat air matanya.


Kania terus berjalan. Hingga sebuah payung melindunginya dari tetesan air hujan. Dan juga sebuah pelukan yang membuatnya mematung di tempatnya.


🌼🌼🌼


Ada yang bayangin jadi Kania? πŸ˜‚πŸ˜‚ up lebih panjang nih. lebih ramai lagi dong biar semangat... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2