Benih CEO

Benih CEO
Bab 52


__ADS_3

Kania begitu gugup.


Pandangannya lurus ke dapan. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman, sedikit terpaksa demi sempurnanya dirinya dihadapan banyak orang. Tangannya menggandeng tangan Devan, dengan terpaksa.


Berjalan beriringan di atas karpet merah menuju kuade dengan Shaka ada di depan di Devan dan Kania. Mereka tidak menutupi pada media bahwa Shaka adalah buah hati Kania dan Shaka. Pun tak peduli dengan omongan mereka tentang Shaka dan masa lalu mereka.


Kania begitu cantik mengenakan gaun rancangan designer ternama, tentu juga pilihan dari Hanum yang seleranya dalam fashion tidak diragukan lagi. Kania mana paham dalam hal-hal seperti itu.


Devan juga terlihat tampan dan gagah mengenakan jas hitam senada dengan milik Shaka yang memang dibuat kembar dalam versi mini untuk Shaka.


Keduanya bagaikan sepasang raja dan ratu yang begitu tampan dan cantik. Sangat cocok, tanpa ada yang tahu kalau dibalik pernikahan mereka tidak ada rasa cinta di hati Kania.


Momen keduanya disiarkan langsung oleh stasiun TV milik keluarga Devan sehingga seluruh Indonesia bisa menyaksikan langsung pernikahan putra tunggal Bram Aditama. Pengusaha kaya raya yang kekayaannya tidak akan habis sampai turunan ke sebelas, mungkin.


Ribuan tamu undangan yang datang juga sibuk mengangkat handphone mereka dan menyalakan kamera untuk mengambil gambar sepasang pengantin yang telah sampai di atas kuade.


"Aaaa... Cantik banget, sih." Tasya dengan segala keribetannya menghampiri Kania dan Devan, lalu memeluk Kania. Kali ini dia tidak datang sendiri. Om duda belahan jiwanya juga turut hadir. Kabar yang terakhir Kania dengar, kedua orangtua Tasya sudah merestui hubungan Tasya dengan duda tampan itu.


"Makasih, ya. Kamu kapan nyusul?" Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Tasya tersipu malu. Diliriknya sang pujaan hati yang ada di sampingnya.


"Doain, ya. Restu udah di kantong," bisik Tasya.


"Alhamdulillah..."


"Foto dulu, yuk."


Tasya meminta tolong pada fotografer untuk mengambil gambar mereka memakai handphonenya.


Seperti biasanya, foto itu pasti akan dipotong di sosial media milik Tasya.


"Langgeng, ya, kalian," ucap Tasya dengan tulus.


"Aamiin."


"Aamiin."


Devan dan Kania serentak mengaminkan doa Tasya. Lalu saling berpandangan, salah tingkah.


"Ciyee aamiin-nya barengan. Udah, ah. Takut tambah pengen. Turun yuk, Mas." Tasya bergelayut manja di lengan lelaki yang diketahui bernama Ryan itu.

__ADS_1


Dan ternyata, Ryan sendiri adalah rekan bisnis ayah mertua Kania.


"Selamat, Pak Devan, Bu Kania. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ucap lelaki itu sebelum akhirnya diseret Tasya untuk meninggalkan tempat Kania dan Devan berdiri.


Semua tamu undangan bergantian menyalami Devan dan Kania. Satu persatu memberikan selamat dan doa atas pernikahan Kania dan Devan. Tentu saja sambil mengambil foto. Kapan lagi bisa berfoto dengan CEO muda yang tampan.


Kaki Kania sudah terasa sangat pegal dan terasa panas di pergelangan kakinya. Tak terbiasa memakai high heels. Ditambah lagi harus berdiri sekian jam untuk menyalami tamu yang jumlahnya ribuan itu.


Tak hanya kakinya, pipi dan rahangnya pun sudah terasa pegal karena terus memaksakan senyuman manis untuk menyambut para tamu.


Di penghujung acara, Tristan baru datang. Dia tak sempat mendatangi acara akad nikah Kania karena harus terbang dari Palembang ke Jakarta. Dan dari Jakarta lanjut ke Surabaya untuk mendatangi pernikahan kakak satu-satunya.


Dengan tatapan dinginnya, Tristan menyalami Devan. Sejak awal Tristan menahan dirinya untuk tidak menghabisi laki-laki yang kini menjadi kakak iparnya. "Kalau sampai Mbak Kania menangis gara-gara kamu, kamu berurusan denganku."


Meskipun ancaman Tristan dianggap angin lalu oleh Devan, namun Devan tetap memasang wajah ramah. "Tenang aja. Dia aman bersamaku," jawabnya dengan yakin.


"Kamu yang telah menghancurkan dia beberapa tahun yang lalu. Jangan sampai terjadi lagi atau kamu akan menerima akibatnya."


Kania menghela napas dengan kasar mendengar perdebatan suami dan adiknya. Memang niat Tristan itu demi dirinya. Tapi tidak di acara besar seperti ini. "Udah, Tris. Malu dilihat orang. Makasih, ya, udah menyempatkan untuk datang di sela-sela kesibukan kamu. Mbak senang akhirnya kamu datang."


Berbeda saat menatap Devan, senyum Tristan merekah saat melihat kakaknya yang begitu cantik malam ini. Dia memeluk Kani. "Bahagia, ya, Mbak. Tutup buku lama, dan buka lembaran baru. Kalau dia nyakitin Mbak, aku akan maju paling depan," bisiknya yang membuat Kania tertawa kecil.


Tristan mengangguk. "Pasti, Mbak."


Tentu keduanya akan sering mengunjungi Karno dan Wening. Setelah ini kedua orangtuanya akan tinggal berdua saja. Devan dan Kania sepakat akan tinggal di rumah yang diberikan Devan pada Kania untuk hadiah pernikahan.


🌼🌼🌼


Di sebuah ruang TV di rumahnya, Rama duduk dan menyaksikan siaran langsung pernikahan Kania dan Devan.


Hatinya sudah hancur saat menerima undangan pernikahan yang tak dihadirinya. Semakin hancur saat Devan mengucapkan ijab qobul atas Kania pagi tadi yang juga disiarkan secara langsung.


Kania sudah resmi menjadi istri Devan. Mematahkan semua harapan Rama yang masih tersimpan. Barangkali masih bisa dia perjuangkan. Namun kenyataannya Kania telah menjadi milik Devan.


Andai mau, dia bisa datang ke pernikahan mereka saat ini juga. Sekedar mengucapkan selamat meskipun tengah membawa hati yang hancur berkeping.


Namun dia lebih memilih di rumah. Duduk menyaksikan kebahagiaan mereka.


Rama juga melihat kebahagiaan Shaka di sana. Entah anak itu paham atau belum, namun adanya orangtuanya yang lengkap akan menambah kebahagiaan Shaka nantinya.

__ADS_1


Lagi-lagi Rama merasakan nyeri pada hatinya. Dulu dia berharap agar bisa menjadi lelaki yang dipanggil ayah oleh Shaka. Tapi selamanya dia akan dipanggil Om oleh Shaka. Sampai kapanpun itu.


"Sampai kapan kamu duduk di sini dan meratapi pernikahan perempuan itu?" Suara Indah mengalihkan perhatian Rama.


"Dia punya nama, Ma."


"Memang Mama peduli?" ujar Indah dengan ketus. "Modal anak aja bisa nikah sama orang kaya. Anak jaman sekarang, punya anak dulu baru nikah. Mana anaknya dipamerin begitu. Nggak punya malu. Memang perempuan nggak bener. Kok, ya, mau, ya orangtua Devan itu punya menantu macam Kania. Nggak sadar mereka kalau sudah dimanfaatkan. Lagaknya aja manis, tapi ternyata busuk." Dengan puas Indah mencibir Kania. Bahkan masih banyak hal-hal buruk tentang Kania yang ingin dia ucapkan.


"Mama ada masalah apa, sih, sama Kania? Kan, aku juga udah nggak ada hubungan apa-apa sama dia. Udahlah, Ma. Dia bukan perempuan seperti itu. Jangan menilai orang seenaknya sendiri. Mama nggak kenal sama Kania. Jadi mending diem, deh!"


Indah beranjak dari sisi Rama dengan kesal. Rasanya ingin mematikan saluran listrik di rumahnya agar Rama tak bisa lagi menonton tayangan membosankan bagi Indah itu.


Namun pasti Rama tak akan kurang akal mengandalkan handphone maupun laptopnya untuk menonton tayangan itu.


Dan Rama memang benar-benar cari penyakit. Sudah tahu hatinya sakit melihat pujaan hatinya berdiri di atas pelaminan bersama lelaki lain. Namun dia tetap saja menyaksikannya.


Memang tak hadir secara langsung. Tapi tetap sama saja dia tahu semua rangkaian acara pernikahan Kania.


Rama hanya tidak ingin Kania melihat betapa hancur hatinya melihat Kania bersanding dengan Devan.


🌼🌼🌼


Di lain sisi, Dita tak sengaja menyaksikan pernikahan Kania dan Devan di televisi. Berita pernikahan mereka sudah tersebar sejak lama. Dita tahu akan hal itu.


Sayangnya, dia tidak mendapatkan undangan pernikahan dari Kania. Tapi Dita tak ambil pusing Kania yang tidak mengundangnya. Entah karena dilarang Devan atau memang Kania sendiri yang tak mau mengundangnya. Buat apa? Lagipula mereka sudah tidak lagi berteman.


Tapi Dita sedikit bersyukur karena Kania menikah dengan Devan. Setidaknya ada perasaan tenang karena Rama tak punya lagi harapan untuk mendapatkan Kania. Dita tak lagi memiliki saingan berat.


Tiba-tiba ada rasa iri saat melihat Tasya dengan bahagianya memeluk Kania. Adegan itu sempat terekam kamera. Tasya dan Kania kini bersahabat. Terlihat dari beberapa postingan Tasya tengah bersama Kania. Bahkan mereka menghabiskan waktu bersama untuk berjalan-jalan.


Dita benci kenyataan dimana Kania selalu mendapatkan yang lebih dari dirinya. Kepandaian meskipun Kania berhenti kuliah. Kecantikan Kania, keberuntungan hidup Kania saat ini. Termasuk juga cinta Rama untuk Kania yang mungkin belum sepenuhnya hilang.


Sedangkan dirinya, cinta Rama tak dia dapatkan. Dia dipecat dari pekerjaannya bahkan sampai saat inipun belum mendapatkan pekerjaan yang baru. Persahabatannya dengan Kania pun sudah hancur karena rasa cemburunya.


Dan itu membuat Dita semakin benci pada Kania.


🌼🌼🌼


Kondangan ke Devan sama Kania bareng-bareng yaa... πŸ˜…πŸ˜…

__ADS_1


__ADS_2