
Tadinya, Kania berhadap semua yang terjadi dalam hidupnya hanyalah sebuah mimpi. Dia berharap segera bangun dan akhirnya mimpi itupun berakhir.
Namun kenyataannya, semua adalah nyata. Ketika matanya terbuka di pagi hari, saat itu juga dia harus kembali menghadapi kenyataan hidupnya.
Beberapa jam lagi Kania akan sah menjadi istri Devan, seorang CEO muda nan tampan namun sangat menyebalkan. Waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin pernikahan mereka direncanakan, fitting baju, cetak undangan dan segala macamnya.
Dan hari ini pun tiba. Hari dimana kebanyakan pengantin akan menantinya dengan tidak sabar dan akan sangat bahagia ketika hari itu datang.
Berbeda dengan Kania. Sejak awal dia berharap pernikahan ini tidak pernah terjadi. Jadi untuk menyambut hari H pun dia biasa saja. Memang sedikit gugup. Bagaimanapun ini adalah momen sakral yang Kania ingin hanya sekali seumur hidup saja terjadi dalam hidupnya.
Sayangnya, dia jalani bersama orang yang tidak Kania cintai. Yang ada hanya perasaan kesal setiap melihat Devan.
Jam tiga pagi, Kania sudah terbangun dari tidurnya. Semalam dia bisa tidur begitu lelap. Memang berbeda dari pengantin yang lain yang kebanyakan tak bisa tidur di malam menjelang akad.
Kania mendirikan sholat malam. Meminta ketenangan dan keyakinan hatinya agar bisa menerima dengan ikhlas takdir yang sudah digariskan untuknya.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Kania Tristanti binti Bapak Sukarno dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Semua orang mengucap hamdalah dan tersenyum penuh haru saat saksi mengatakan sah setelah ijab qobul diucapkan oleh Devan.
Tak terkecuali Kania.
Dia lega telah melewati proses ini. Akhirnya, dia benar-benar sah menjadi istri Devan. Tanggungjawab atas dirinya kini berpindah pada Devan. Bahkan dalam hal berbakti, pada Devan lebih utama daripada kepada kedua orangtuanya.
Memang begitu adanya dalam Islam. Tentu tidak meninggalkan kewajiban berbakti pada kedua orangtua. Namun setelah menikah, seorang perempuan adalah milik suaminya. Bukan lagi milik kedua orangtuanya.
Seperti yang diucapkan ibunya beberapa hari yang lalu. Seorang istri wajib taat dan patuh terhadap suaminya selama masih dalam hal kebaikan. Harus melayani suami dengan ikhlas agar berbuah pahala.
Bahkan ibunya juga menyinggung perihal kewajiban seorang istri ketika di atas ranjang. Istri tidak diperbolehkan menolak permintaan suami. Kecuali jika sedang sakit, haid atau hal-hal tertentu yang membuat istri tak mampu untuk memenuhinya.
Mendadak Kania takut kalau Devan akan meminta hak-nya malam ini. Kania belum siap.
Devan melirik wanita yang duduk di sampingnya yang kini sudah berstatus istrinya. Wanita itu terlihat cantik dengan riasan pengantin adat Jawa. Tubuhnya dibalut kebaya berwarna putih yang simpel namun terlihat mewah dan elegan.
Keduanya diminta untuk memasangkan cincin kawin satu sama lain. Devan dapat merasakan kegugupan Kania lewat tangan Kania yang terasa dingin.
"Sekarang dicium keningnya, Mas." Instruksi dari fotografer membuat keduanya saling bertatapan.
Dalam hati Kania berdoa agar hal ini tidak terjadi. Namun dia terpaksa menuruti demi agar pernikahan mereka terlihat sempurna. Kania pun memaksakan sebuah senyuman agar mereka terlihat baik-baik saja.
Kania tak mungkin bersikap aneh yang membuat orang-orang mengira yang tidak-tidak. Apalagi pernikahannya disaksikan oleh seluruh masyarakat Indonesia karena memang yang menikahi Kania bukanlah orang biasa.
__ADS_1
CEO sekaligus putra tunggal pemilik Aditama Group. Bahkan mas kawin yang diberikan untuk Kania bukan main-main. Sembilan ratus ribu dollar atau setara dengan hampir tiga belas miliar jika dalam bentuk rupiah. Serta logam mulia seberat seratus gram. Dan juga hadiah pernikahan berupa rumah mewah seharga lima miliar dan mobil mewah keluaran terbaru yang harganya pun tak kalah mahalnya dengan hak milik atas nama Kania.
Memang sangat berlebihan bagi orang biasa macam Kania. Namun itu tak seberapa bagi keluarga Devan yang kaya raya.
Jantung Kania berdebar kencang saat Devan mulai menempelkan bibirnya pada kening Kania. "Hai, istri!" sapanya usil saat kecupan itu usai. Pipi Kania mendadak terasa panas mendengar sapaan Devan yang tak biasa.
Serangkaian prosesi pun sudah dilalui dengan sempurna. Mulai dari sungkem, ngindak endhog, dan lain-lain yang pastinya sangat panjang hingga membuat Kania kelelahan dan tertidur di atas ranjang kamar hotel setelah mengganti kebayanya dengan baju tidur berlengan pendek. Padahal, nanti malam masih ada acara resepsi yang tamunya pun pasti ribuan.
Dari mulai akad sampai resepsi, semua di lakukan di dalam ballroom hotel bintang lima yang ternyata adalah milik ayah mertua Kania sendiri.
Entah berapa banyak kekayaan yang dimiliki keluarga Devan, Kania tak sanggup jika menghitungnya satu persatu.
Melihat Kania yang tertidur membuat Devan menghela napas panjang. Di saat acara seperti ini, Kania masih bisa tertidur dengan cepat dan begitu lelap.
Devan mendekati Kania dan ikut berbaring di sampingnya. Satu tangannya dia pakai untuk menopang kepalanya agar Devan bisa menikmati wajah Kania yang tertidur pulas.
Kania cantik, sangat cantik. Devan akui itu. Bahkan lebih cantik dari mantan-mantannya yang dulu. Tapi saat ini rasa yang ada di hati Devan hanyalah sebuah rasa peduli. Tidak, atau lebih tepatnya belum ada cinta untuk Kania. Atau sudah ada namun Devan tidak mau mengakui bahwa dia telah jatuh cinta pada wanita yang kini tertidur pulas.
Bulu mata lentik meskipun tanpa bulu mata palsu. Hidungnya yang sedikit mancung, bibir tipis yang pink alami, kulit putih dan halus. Kania adalah bentuk pahatan Tuhan yang sempurna di mata Devan. Hingga tak sadar, tangannya pun mengusap pipi Kania dengan pelan namun bisa membuat si pemilik pipi terkesiap dan langsung membuka matanya.
"Kamu ngapain di sini?" Kania terperanjat dan langsung sigap turun dari ranjang setelah menatap wajah Devan yang begitu dekat dengan wajahnya. Lagi-lagi dia meneliti pakaiannya satu persatu. Masih rapi. Baru Kania bisa bernapas dengan lega. Setidaknya Devan belum melakukan hal yang iya-iya ketika dia tengah tertidur.
"Kenapa? Berharap diapa-apain, ya?" goda Devan yang menyadari kepanikan sang istri.
Istri? Devan tertawa kecil dalam hati. Rasanya masih tak percaya bahwa Kania kini telah menjadi istrinya.
"Kamu lupa kalau kita udah sah? Wajar, dong, kalau aku masuk ke kamar yang sama dengan istriku," balas Devan dengan santai.
Kania mengerutkan keningnya. "Jijik dengarnya," ucapnya judes.
"Mau sekarang aja enggak? Mumpung acara masih lama?" Devan semakin gencar menggoda Kania.
"Apaan, sih?"
"Bilang aja kalau mau."
"Kamu nggak jelas banget, deh. Devan jangan aneh-aneh!" ujar Kania dengan panik melihat Devan yang semakin mendekati dirinya.
"Panggil Mas. Aku suami kamu. Lagipula umurku lebih banyak dari kamu."
Devan memang lebih tua empat tahun dari Kania. Hal itu juga baru Kania ketahui saat keduanya mempersiapkan berkas-berkas pernikahan mereka.
"Ih, enggak mau."
__ADS_1
"Berarti nggak sopan sama suami!"
"Biarin. Lagian_"
Tok tok tok...
Perdebatan mereka terhenti karena pintu kamar mereka diketuk. Disusul suara sang ibunda ratu yang ingin menemui Kania, menantu kesayangannya.
Kania menatap Devan dengan sengit lalu berlalu dari hadapan Devan untuk membukakan pintu untuk ibu mertuanya.
Senyum di bibirnya terbit kala melihat Hanum dan Shaka berdiri di depan pintu.
"Bunda!!!" Shaka menghambur ke pelukan Kania. Sejak acara akad tadi pagi keduanya terpisah. Kania dengan segala prosesi pernikahan yang dijalani, sedangkan Shaka asyik bermain handphone milik Tristan.
Kania mencium kedua pipi Shaka. "Bunda kangen sama Shaka," ucap Kania.
"Shaka mau ketemu ayah."
Devan mengembuskan napas dengan kasar dan memutar bola matanya. Lagi-lagi Devan yang dicari Shaka. Apalagi Shaka tahu kalau mulai sekarang mereka akan terus bersama-sama.
"Ayah ada di dalam," ucap Kania yang membuat Shaka segera masuk ke dalam kamar.
"Maaf, ya, kita ganggu istirahat kalian. Tadi Mama udah bilang jangan dulu ke Shaka. Tapi dia tetap mau ketemu kalian," ucap Hanum merasa tak enak hati. Takut mengganggu pengantin baru yang sedang istirahat atau mungkin sedang melakukan hal yang lain.
Ya. Memang keduanya melakukan hal yang lain. Yaitu perdebatan, seperti biasanya.
"Enggak apa-apa, Ma. Dari pagi Kania juga belum ketemu sama Shaka."
Hanum menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, kamu siap-siap, ya? Satu jam lagi kamu mulai make up untuk acara resepsi."
"Iya, Ma."
Kania memasuki kamar presidential suite yang di fasilitasi untuk Devan dan Kania setelah Hanum berpamitan.
Kamar yang dilengkapi dengan dapur, ruang makan, ruang bersantai di depan tv, dan juga balkon pribadi dengan pemandangan kota Surabaya yang indah di malam hari.
Saat memasuki kamar tidur, Kania melihat Devan dan Shaka sama-sama terlelap dan saling berpelukan di atas ranjang.
Kania tak dapat menutupi rasa harunya melihat Shaka mendapatkan kebahagiaannya memiliki orangtua yang lengkap.
Meskipun itu semua harus mengorbankan perasaan Kania yang masih merasa terpaksa menikah dengan Devan.
Tak masalah. Yang terpenting adalah kebahagiaan Shaka. Soal kebahagiaan Kania sendiri, itu urusan nanti.
__ADS_1
πΌπΌπΌ
Segini dulu untuk hari ini, ya. nanti malam mau baca ulang cerita ini karena mau di edit sedikit. ternyata banyak yang salah dalam nulis nama mereka. termasuk nama pak Bram sama Devan sendiri. ππ