Benih CEO

Benih CEO
Bab 79


__ADS_3

Guratan lelah sisa-sisa perjuangan sore tadi masih membekas di wajah Kania. Namun tak membuat senyum di bibirnya pudar saat menyaksikan kebahagiaan para orangtua dan juga Shaka akan kehadiran anak keduanya bersama Devan.


Bayi kecil berjenis kelamin perempuan itu terlahir sempurna. Sangat cantik meskipun lagi-lagi wajahnya sangat mirip dengan Devan.


Sangat adil, bukan? Kania yang mual dan muntah. Kania yang mengandung, susah tidur, gerak terbatas. Kania yang berjuang melahirkannya. Namun begitu lahir, wajahnya mirip dengan ayahnya.


Shaka, yang kini resmi menyandang status kakak, sangat protektif terhadap adik perempuannya. Siapapun yang mendekatinya harus dalam keadaan bersih dan steril. Saat bayi itu tidur pun, tak ada satupun yang diperbolehkan berbicara dengan kencang. Harus tenang agar adiknya tak terganggu.


Sejak kecil, bibit sosok pelindung itu sudah muncul di diri Shaka. Jadi wajar kalau terhadap adiknya, dia akan menjadi yang terdepan untuk melindungi adiknya nanti.


Shanum Hafidza Aditama. Nama indah yang sudah diberikan Devan dan Kania untuk putri kecil mereka.


"Terimakasih, Sayang. Kamu sudah melahirkan anak yang lagi-lagi sangat mirip denganku."


Kania tertawa kecil. Entah sudah ke berapa puluh kali Devan mengucapkan terimakasih padanya. "Aku cuma dilewatin doang, ya, Mas? Anak-anak mirip ayahnya semua."


"Habis nifas kita program lagi yang mirip kamu, Sayang."


"Mana bisa begitu? Pertama, enggak hamil dulu, ya, Mas, sampai Shanum umur tiga tahun. Kedua, ya mana bisa, sih, dibuat biar mirip siapa? Aneh-aneh aja, deh, kamu."


Devan tertawa renyah mendengar protes dari Kania.


Memang Kania mau untuk tidak hamil sebelum Shanum umur tiga tahun. Tapi siapa yang tau kalau Kania akan segera hamil lagi? Mengingat betapa panasnya hubungan ranjang keduanya.


Meskipun begitu, Devan tidak akan memaksa Kania. Kalau akhirnya nanti terjadi lebih cepat, ya memang sudah rejeki mereka. Allah kembali memberikan kepercayaan.


🌼🌼🌼


Malam hari saat Devan dan Shaka sudah terlelap, Wening mendekati Kania yang tengah menyusui bayinya.


Rasanya sangat bahagia saat bisa mendampingi Kania di masa kehamilannya sampai melahirkan meskipun tidak bisa menemani Kania dari dekat.


Berbeda dengan saat Kania hamil Shaka dulu. Wening sama sekali tidak tau bagaimana Kania menjalani kehamilannya sampai dia melahirkan anaknya.


Seberapa berat dan susahnya hari-hari itu, Wening tak pernah tahu. Yang dia tahu, Kania mampu melewati semuanya sendiri.


Sebagai ibu, dia sangat merasa bersalah. Merasa tak berguna sama sekali pada saat itu.


"Sudah tidur si Shanum?"


Kania mengangguk. "Sudah, Bu."


Wening tersenyum dan mengambil Shanum dari pangkuan Kania, lalu menidurkannya kembali ke dalam box bayinya.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang, Nduk?" tanyanya setelah duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Kania.


"Sudah lebih baik, Bu. Ibu nggak tidur? Mumpung Shanum lagi tidur."


"Ibu mau ngobrol sebentar sama kamu. Ndak apa-apa?"

__ADS_1


Kania tertawa kecil. Takut suaranya membangunkan Shanum, Shaka dan juga Devan. "Enggak apa-apa, Bu. Lagian aku juga belum ngantuk lagi."


Wening tersenyum. Memijat pelan kaki Kania yang tertutup selimut. "Ibu senang kamu baik-baik saja setelah berjuang melahirkan anak kamu. Ibu senang kali ini ibu bisa ada di dekat kamu. Maafkan ibu yang dulu tidak bisa mendampingi kamu saat melahirkan Shaka ya, Nduk. Pasti hari itu sangat berat buat kamu."


Ingatan Kania langsung tertuju pada momen disaat dirinya akan melahirkan Shaka.


Hari itu, dia hanya bersama Mbak Imas di rumah. Dia tak berpengalaman, Mbak Imas yang biasa menemani pun juga belum berpengalaman. Jadi sama sekali tak paham jika Kania akan segera melahirkan.


Kania yang merintih ditengah malam pun membuat Imas begitu panik. Saking paniknya, dia tidak tahu harus menghubungi siapa dan meminta tolong pada siapa.


Padahal, sudah sejak jauh-jauh hari Rama menyiapkan mobil beserta sopirnya kalau sewaktu-waktu Kania akan melahirkan dan Rama tidak ada di sana.


"Mbak, ke bidan sekarang," ucapnya waktu itu. Memang belum tau, tapi feeling Kania mengatakan dia akan segera melahirkan anaknya.


"Memangnya udah mau melahirkan?" Imas masih bertampang bingung.


"Kayaknya, Mbak," jawab Kania sambil berusaha mengatur napas.


"Naik apa malam-malam begini, Ka? Mau jalan kaki juga nggak mungkin. Nanti brojol di jalan gimana?"


Kania terdiam membenarkan ucapan Imas. Bagaimana kalau sampai dia melahirkan di jalan?


"Mbak cari bantuan ke luar dulu, deh. Biasanya jam segini bapak-bapak ronda pada keliling kampung," putus Imas.


Dia segera keluar dan menengok ke kanan dan ke kiri dengan perasaan harap-harap cemas.


Hampir saja Imas menyerah. Tapi pertolongan Allah untuk mereka datang. Dari kejauhan, Imas melihat sorot lampu senter. Imas yakin itu adalah bapak-bapak yang tengah berkeliling kampung.


Imas segera meminta bantuan mereka untuk membawa Kania ke rumah bidan terdekat.


Tak sampai empat jam, Kania sudah berhasil melahirkan Shaka. Lancar dan normal. Shaka juga terlahir dengan sempurna.


Sayangnya, Kania menghadapi semua tanpa keluarga yang mendampinginya. Hanya Imas yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri.


Saat itu Kania hanya bisa membayangkan, bagaimana rasanya melahirkan didampingi suami dan keluarganya. Bagaimana rasanya mengasuh anak bayi dibantu suami dan keluarganya. Tapi kenyataannya, Kania menjalaninya seorang diri. Adanya Imas dan Rama tak mampu menambal lubang besar yang ada di dalam hatinya.


Dulu hanya bisa membayangkan. Kini Kania bisa merasakannya. Melahirkan didampingi suami dan ada keluarga yang menunggunya.


Semua terasa membahagiakan. Apa yang dulu tak pernah dia dapatkan seolah sudah tertebus hari ini. Kania sangat bahagia, ia akui itu.


"Semua sudah berlalu, Bu. Itu juga bukan kesalahan ibu. Apa yang dulu tidak aku rasakan, sudah aku rasakan hari ini, Bu."


Wening mencium kening Kania dengan lekat. "Ibu bahagia melihat kebahagiaan kamu, Nduk. Anak-anak yang cantik dan tampan, sholeh-sholehah, insyaaallah. Suami yang sangat mencintai kamu. Ibu sangat bersyukur dengan apa yang kamu miliki sekarang."


Kania memeluk tubuh ibunya yang mulai menua. Air mata bahagianya jatuh di pelukan ibunya. "Sehat terus ya, ibu dan bapak. Biar bisa mendampingi Kania, Tristan, juga cucu-cucu bapak dan ibu nanti."


"Aamiin."


🌼🌼🌼

__ADS_1


Tujuh hari setelah kelahiran Shanum, Devan dan Kania mengadakan acara aqiqah sederhana di rumahnya dengan mengundang anak yatim. Tanpa media yang meliputnya, tentu saja. Kania tak ingin acara sakralnya dijadikan bahan konsumsi publik. Kania rasa itu tidak perlu.


Cukup keluarga dan tamu yang di undang saja yang tahu. Ya, meskipun ada salah tiga atau beberapa orang yang nekat membagikannya ke sosial media.


Kalau publik figur lain berlomba-lomba untuk menunjukkan ketampanan dan kecantikan anaknya di sosial media, hal itu tidak berlaku bagi Kania dan Devan.


Sejak kelahiran Shanum, belum pernah sekalipun fotonya di-posting di media. Hanya foto tangan mungilnya, kaki imutnya dan tembemnya pipi yang membuat netizen penasaran dan merasa gemas sendiri pada anak kedua Devan dan Kania.







foto dari pinterest. anggap aja itu mereka πŸ˜…


Hari itu, bukan hanya aqiqah Shanum saja, tapi juga aqiqah Shaka karena dulu belum dilakukan aqiqah untuk Shaka.


Dari kejauhan, Kania tersenyum bahagia memandang Devan yang tengah menggendong Shanum, dan menggandeng tangan Shaka, lalu membawanya ke tempat minuman. Mungkin, Shaka ingin minum.


Tak sedikitpun Devan meminta tolong pada siapapun untuk melakukan salah satunya. Menggendong Shanum, atau mengambilkan Shaka minum. Semua dia lakukan sendiri.


Devan begitu cepat belajar mengurus seorang bayi. Hanya butuh waktu beberapa hari saja Devan belajar menggendong, membedong, mengganti popok Shanum. Bahkan Devan juga sudah belajar memandikan Shanum.


Tengah malam saat Shanum terbangun pun, Devan yang paling peka. Dengan sigap dia memberikan ASIP karena tak tega membangunkan Kania. Padahal, Kania tak masalah akan hal itu. Bangun di tengah malam untuk menyusui Shanum.


"Terimakasih, ya, Mas, udah jadi suami yang hebat. Terimakasih sudah menjadi ayah yang hebat untuk anak-anak," ucap Kania saat Devan duduk di dekatnya.


Shanum sudah diberikan kepada Hanum. Dan Shaka sendiri sudah kembali bermain dengan anak-anak panti asuhan.


Devan merangkul pundak Kania dan mencium kening Kania dengan lekat. "Kamu yang membuatku bisa seperti ini, Sayang. Kamu yang menyempurnakan aku. I love you so much."


Kania tertawa kecil. "I love you too."


Percakapan keduanya berakhir dengan kecupan kecil di bibir Kania. Tak berlangsung lama karena pemandangan tersebut tak bagus untuk anak-anak kalau sampai mereka menyaksikannya.


END


🌼🌼🌼


Mau extra part?


Sebenarnya nggak rela ya kalau mereka tamat. πŸ˜…πŸ˜… tapi ya gimana, mau di terusin takutnya jadinya malah nggak menarik. udah nggak ada konflik lagi. udah damai semua, udah bahagia semua. πŸ˜…πŸ˜…


Oh, iya. untuk Rama dan Dita, Aku mau buat lapak sendiri. nggak di sini. pantengin Ig aku aja terus biar tau mereka ada di mana. πŸ˜…πŸ˜… adegan 17++ ada juga nanti. itu, kan, yang kalian tunggu?🀣🀣

__ADS_1


__ADS_2