
"Kenapa hujan-hujanan, sih? Kan, bisa nunggu hujannya reda."
Kania menoleh ke arah lelaki yang berdiri sambil memeluk tubuhnya dari samping. Dada bidang terbalut kemeja berwarna maroon milik lelaki tersebut menjadi objek pertama yang dia lihat.
Saat mendongak memandang wajah lelaki tersebut, Kania tak kuasa untuk menahan air matanya. Kania butuh sandaran. Dia butuh tempat untuk berbagi. Dia tak sanggup menahan semuanya sendiri. Bercerita pada orangtuanya takut kalau Kania hanya menambah beban mereka saja.
"Shaka mana?" tanya lelaki tersebut.
Ditanya perihal Shaka, tangis Kania semakin kencang. Si lelaki mengelus punggung Kania dengan lembut. Berusaha memberikan ketenangan untuk Kania.
"Dia nggak mau pulang," ucap Kania di sela isakannya.
"Kenapa?"
"Dia mau sama Devan, ayahnya. Dia nggak mau pulang sama aku." Kania di biarkan menumpahkan apa yang membebani hatinya. "Kenapa dengan mudahnya Devan mendapatkan cintanya Shaka? Padahal dia nggak pernah ngerasain sakitnya yang aku rasakan selama ini. Ini nggak adil buat aku."
Lelaki itu mengepalkan tangannya dengan erat. Dia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakan Kania. Devan bisa mendapatkan rasa sayang Shaka dengan mudahnya.
Berbanding terbalik dengan apa yang didapatkan Kania karena memilih mempertahankan Shaka saat masih di dalam kandungan Kania.
"Ya sudah. Kita ke mobil dulu, ya. Hujan semakin deras. Nanti kamu kedinginan."
Kania tak melawan saat tangannya di genggam dan diajak untuk masuk ke dalam mobil.
"Kamu kenapa bisa ada di sini?"
"Nggak sengaja lewat. Aku kaget pas lihat kamu hujan-hujanan sendirian di pinggir jalan begitu."
"Makasih, ya.."
Lelaki itu mengangguk dan tersenyum. Jangankan hanya memberi payung untuk melindungi Kania dari tetesan air hujan. Mempertaruhkan nyawanya demi Kania saja dia rela melakukannya.
Masih sebesar itu cinta Rama untuk Kania.
πΌπΌπΌ
Devan mengepalkan tangannya dengan erat melihat Kania berada di dalam pelukan lelaki lain. Dia juga bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan.
Niat hati ingin memberi payung untuk Kania, atau mungkin juga mengantarnya pulang kalau Kania mau, tapi justru pemandangan yang tak sedap dipandang oleh matanya yang Devan dapatkan.
Bukan Devan cemburu. Hanya saja dia tidak suka melihat wanita yang digadang-gadang Mamanya akan dijadikan menantu itu berpelukan dengan lelaki lain di pinggir jalan.
Nama baik keluarga Devan dipertaruhkan kalau sampai ada rekan bisnis, kolega, maupun yang memiliki hubungan penting dengan keluarga Devan melihat adegan pelukan mereka.
Wanita yang digadang-gadang sebagai calon menantu Bram Maulana berpelukan dengan lelaki lain di pinggir jalan. Tidak lucu rasanya kalau sampai berita itu tersebar.
__ADS_1
***
"Ayah, Shaka mau es krim."
"Eh, pagi-pagi, kok, udah minta es krim?"
"Udah jam sepuluh, Yah. Udah boleh makan es krim."
Devan tertawa renyah melihat Shaka yang terlihat sangat menggemaskan ketika dia bisa membalas ucapannya dengan mudah. Jawaban yang sering dia berikan terkadang berada di luar ekspektasi orang dewasa.
"Ya udah. Di depan ada minimarket. Kita beli di sana, ya," ucap Devan yang membuat Shaka mengangguk antusias.
Devan akhirnya membelokkan mobilnya ke parkiran sebuah minimarket. Membukakan pintu untuk Shaka dan menggandeng tangan Shaka untuk masuk ke dalam minimarket tersebut.
"Shaka boleh pilih es krimnya. Ayah mau cari sesuatu dulu. Tunggu di kasir kalau ayah belum kembali. Oke?"
"Oke, Yah." Devan tertawa renyah dan mengusap rambut anaknya.
Devan melipir ke rak cemilan. Hari ini dia ingin mengajak Shaka berlibur. Shooting Shaka diliburkan, tentu karena Devan yang memintanya. Sesekali dia ingin memiliki quality time dengan Shaka.
Saat berada di depan rak cemilan, tak sengaja Devan bertemu dengan Kania. Devan tersenyum sinis melihat Kania yang belum menyadari kehadiran Devan. Ternyata semudah ini bisa bertemu dengan kamu tanpa disengaja. Batin Devan bersuara.
"Kita ketemu lagi," ucap Devan yang membuat Kania berjengit.
"Kamu?" desahnya tak percaya. Wajah Kania terlihat menyesali pertemuannya dengan Devan. "Kamu mata-matain aku biar seolah-olah bisa ketemu tanpa di sengaja?" Kania memandang Devan dengan tatapan menelisik. Rasa kecurigaannya begitu besar.
"Amit-amit!" cibir Kania yang melangkahkan kakinya meninggalkan Devan.
Namun Kania kalah cepat dengan tangan Devan yang dengan sigapnya menarik tangan Kania. Membawa Kania ke dekat toilet dan memepetkan tubuh Kania ke tembok.
Wajah dan tubuh mereka kian dekat. Membuat jantung Kania berdebar kencang.
Tentu bukan karena dia gugup berada di dekat Devan. Tapi karena takut digrebek massa. Mereka masih berada di fasilitas umum. Dan sudah pasti memiliki cctv untuk mengawasi setiap sudut minimarket ini.
"Lain kali, jaga sikap ketika di depan umum. Bagaimanapun, kamu akan menjadi bagian keluarga Bram Maulana."
"Apa maksud kamu?"
"Apa dirimu begitu haus belaian sehingga dengan mudahnya dipeluk lelaki? Bahkan kalian melakukannya di pinggir jalan. Kemana kalian setelah itu? Check-in di hotel melanjutkan semuanya?"
Amarah Kania terpancing. Tangannya terkepal erat mendengar ucapan Devan yang terdengar merendahkan dirinya. Hingga lagi-lagi Kania harus melayangkan sebuah tamparan keras di pipi lelaki yang ada di hadapannya.
"Jaga mulut kamu, Devan!"
"Bunda kok, nampar Ayah?"
__ADS_1
Kania terkesiap mendengar suara Shaka. Saat melihat Shaka berdiri tak jauh dari dirinya dan Devan, ada amarah yang di tunjukkan Shaka di wajahnya.
"Shaka..."
"Bunda nampar Ayah. Kenapa Bunda nampar Ayah? Padahal Ayah baik sama Shaka. Shaka di belikan es krim banyak sama Ayah."
Hati Kania bagaikan ditusuk ribuan duri. Sakit sekali melihat anaknya membela lelaki yang telah menghancurkan hidup Kania.
Andai Shaka tahu dan paham dengan apa yang dilakukan ayahnya, tentu Shaka tidak akan pernah membela Devan seperti ini.
Andai Shaka paham, seseorang bisa dianggap baik bukan hanya karena mereka banyak memberi. Tapi juga bagaimana cara dia memperlakukan orang lain.
"Shaka. Bunda bisa jelaskan, Nak. Ini nggak kayak yang Shaka kita, kok. Ikut bunda, ya. Bunda kangen sama Shaka."
"Nggak mau!" Shaka menghindari Kania yang hendak menggenggam tangannya. Sangat menyakitkan bagi Kania saat Shaka lebih memilih berlindung di balik tubuh Devan.
Kania menahan sesak di dadanya. Penolakan Shaka atas dirinya adalah hal yang sangat menyakitkan. Inilah patah hati sesungguhnya yang pernah Kania rasakan. Apalagi itu dilakukan karena membela Devan yang bersalah. Parahnya, Devan hanya berdiam seolah menikmati pemandangan di depannya.
Dengan hati yang hancur berkeping-keping, Kania menegakkan tubuhnya. Mengusap air mata di wajahnya dengan kasar. Matanya menatap tajam ke arah Devan. "Puas kamu?" Dada Kania kian sesak karena harus menahan emosinya di depan Shaka. "Teruskan saja apa yang ingin kamu lakukan. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak akan membiarkan kamu maupun keluarga kamu mengambil Shaka dari aku."
Sekali lagi Kania mengusap air matanya. Dengan cepat, Kania menarik tangan Shaka. Memaksa Shaka ikut dengannya. Tak peduli Shaka yang memberontak karena tak mau ikut dengan Kania.
Dengan seluruh tenaga yang dia miliki, Kania menggendong tubuh gemuk Shaka dan membawanya keluar dari dalam minimarket.
Niat hati ingin membelikan jajanan untuk Shaka agar Shaka mau diajak pulang, dia batalkan.
"Bunda jahat! Shaka mau sama Ayah. Turunin Shaka, Bunda! Shaka mau sama Ayah."
Tubuh kecil Kania hampir tak kuat menahan tubuh Shaka yang terus memberontak di dalam gendongannya. Untung saja ada taksi yang kebetulan lewat dan Kania pun segera menghentikannya.
Shaka yang sudah di dudukkan di kursi taksi pun masih memberontak ingin keluar. Kania bingung, tak tahu lagi harus bagaimana membuat Shaka tenang. Hingga akhirnya satu cubitan keras pun terpaksa Kania berikan di lengan Shaka.
"Bisa Shaka diam? Shaka udah nggak sayang lagi sama Bunda? Shaka mau tetap sama Ayah? Oke, akan Bunda kabulkan. Tapi setelah Shaka bersama Ayah, Shaka tidak akan pernah lagi bisa melihat Bunda. Bunda mau sama Allah saja kalau Shaka sudah nggak mau sama Bunda." Ucapan Kania berhasil menenangkan tangisan Shaka meskipun belum sepenuhnya Shaka diam.
"Berhenti, Pak!" Kania menyuruh sopir taksi yang sejak tadi menjadi penonton pertengkaran ibu dan anak itu untuk berhenti.
Kania tahu kalau Devan mengikuti mereka dari belakang. "Sekarang silahkan Shaka turun kalau mau ikut Ayah. Mobil ayah kamu ada di belakang. Tapi ingat, ini terakhir Shaka lihat Bunda kalau Shaka nekat turun dari sini."
Kania tak tega jika harus menatap wajah sang anak. Tak siap juga jika akhirnya Shaka memilih turun dan memilih ikut Devan daripada dirinya.
Tanpa Kania duga, Shaka memeluk Kania dari samping dan menempelkan wajahnya pada perut Kania. "Shaka mau sama Bunda. Shaka nggak mau Bunda ninggalin Shaka."
Tangis keduanya pecah saat itu juga. Kania segera memeluk tubuh anaknya. Mencium puncak kepalanya dan berulangkali mengucapkan kata maaf karena sudah bersikap kasar pada Shaka.
Menghindari Devan yang mulai melangkah mendekati taksi yang mereka tumpangi, Kania segera meminta sopir untuk kembali menjalankan taksinya.
__ADS_1
πΌπΌπΌ
Para ibu, pernah nggak kayak Kania? Saat emosi, dan hati benar-benar lelah dan nggak tahu harus gimana, ujung-ujungnya pelampiasan ke anak. dan habis itu nyeselnya nggak ada habisnya. πππ