Benih CEO

Benih CEO
Bab 75


__ADS_3

"Ini serius si Nino sama Ivanka?"


"Ya iyalah, Sayang. Kan, udah ada undangannya."


Kania membolak-balikkan undangan berwarna navy berpita gold yang bertuliskan nama Ivanka dan Nino sebagai mempelainya.


Rasanya masih tidak percaya sekaligus bahagia jika Ivanka dan Nino sudah menemukan tambatan hatinya. Terutama Ivanka. Ternyata ucapannya kemarin tidak main-main. Tidak juga sedang bersandiwara.


Apalagi Ivanka juga terlihat bahagia. Sesuai dengan yang terlihat di dalam foto prewedding yang juga diperlihatkan di undangan tersebut.


Keduanya saling bertatapan penuh cinta dan berpelukan dengan begitu mesra. Terlihat sangat bahagia.


"Syukurlah. Semua udah menemukan kebahagiaan mereka masing-masing. Termasuk Tasya yang akan melangsungkan lamaran Minggu depan."


Devan mengangguk mengiyakan.


"Kamu udah tau, Mas, kalau Tasya mau lamaran?"


"Hm." Devan bergumam sebagai jawaban. Masih enggan bersuara karena sibuk menikmati harum aroma tubuh istrinya. Tak ingin terlalu lama jauh karena setelah Kania hamil, Kania semakin seksi saja di mata Devan.


Apalagi jika masalah seperti itu. Kania sekarang lebih agresif dari sebelum hamil. Kata dokter, hal itu wajar. Hormon ibu hamil kadang ada yang seperti itu.


"Sejak kapan Mas tau? Kenapa nggak bilang ke aku?"


"Nggak penting, Sayang. Kan, udah dibilangin sendiri sama Tasya. Udah, deh. Mending tidur aja, yuk. Pengennya peluk kamu terus ini."


Kania merapatkan tubuhnya ke tubuh Devan untuk mencari kehangatan. Cuaca di luar sedang hujan deras dan kini keduanya tengah berbaring di kamar pribadi Devan yang ada di roof top kantor.


Setelah lelah melayani kemauan Devan di ruangan kantor tadi, Devan menggendong Kania yang kelelahan dan dibawa ke kamar.


🌼🌼🌼


Kania mematut dirinya di depan cermin. Sore ini dia, Devan, Shaka dan keluarga yang lain akan menghadiri acara lamaran Tasya dan Ryan. Duda beranak satu yang usianya tak jauh dari usia Papa Tasya sendiri.


Sedangkan malam nanti, mereka juga harus menghadiri acara resepsi pernikahan Ivanka dan Nino.


"Aku gendutan, ya, Mas?" Kania memutar tubuhnya di depan cermin. Sambil mengamati perutnya yang sudah sedikit menyembul di balik kebaya brokat berwarna mocca yang dia kenakan.


Devan tertawa kecil dan memeluk tubuh Kania dari belakang. "Kamu tetap cantik, sayang. Dan terlihat semakin... Seksi," bisiknya tepat di telinga Kania. Hangat hembusan napas Devan membuat tubuhnya meremang.


Kania memejamkan matanya. Dia mudah sekali terpancing oleh Devan meskipun hanya dengan hembusan napas saja.


"Keluar, yuk, Mas. Aku udah siap," ucapnya menghindar membuat Devan tertawa keras. Devan tau Kania mulai terpancing.


"Ya sudah, ayo. Beneran mau berangkat sekarang? Nggak tiduran dulu di kasur?"


"Apa, sih, Mas. Udah, ah. Yang lain udah nunggu di bawah."


Buru-buru Kania melepaskan tangan Devan. Mengambil handbag-nya dan bersiap untuk keluar dari kamar. Kedua mertuanya dan Shaka sudah menunggu di bawah.


Namun sebelum Kania keluar, Devan berhasil mencuri ciuman di bibir Kania. Yang membuat Kania mesem tipis dan pipinya merona. Wanita mana yang tak berbunga hatinya jika sang suami bersikap seperti Devan? Kania bersyukur Devan sudah berubah. Tak seperti dulu yang mulutnya begitu lemes merendahkan Kania.


Kania sudah melupakan semuanya. Hidupnya dan hidup Devan akan bahagia bersama Shaka dan adik-adiknya kelak.


"Sudah siap semua?" Bram bertanya, memastikan seluruh anggota keluarganya sudah siap untuk berangkat. Termasuk Shaka yang terlihat tampan mengenakan batik yang sama dengan sang ayah dan opanya.


"Siap, Pa."

__ADS_1


Lantas mereka berangkat menggunakan satu mobil menuju kediaman Tasya.


🌼🌼🌼


Mengingat Tasya adalah seorang publik figur, sudah pasti kediamannya dikerumuni banyak wartawan yang ingin meliput acara lamaran Tasya. Apalagi calon suami Tasya adalah seorang duda yang umurnya jauh lebih tua dari Tasya.


Tapi keluarga Tasya menyelenggarakan acara tersebut secara tertutup. Hanya keluarga dan sahabat-sahabat Tasya saja yang diijinkan untuk masuk. Itu saja mereka sudah diwanti-wanti agar tidak menyebarkan foto dan video lamaran ke sosial media.


Bukan apa-apa, bukan berarti juga keluarga Tasya malu kalau calon suami Tasya adalah seorang duda yang sudah sedikit tua. Mereka hanya ingin sebuah privasi saja.


Kania tersenyum menyaksikan Tasya yang terlihat sangat bahagia saat secara resmi Ryan melamarnya. Terlihat jelas kalau Tasya benar-benar mencintai Ryan. Begitupun sebaliknya.


Keduanya sangat cocok meskipun dengan perbedaan usia yang cukup jauh. Ryan sendiri masih terlihat tampan dan seperti umur tiga puluhan.


Yang baru pertama kali melihatnya, pasti tidak menyangka kalau Ryan adalah duda berusia empat puluh lima tahun dan memiliki seorang anak berusia empat belas tahun. Sudah beranjak remaja.


"Selamat ya, cantik. Akhirnya jadi calon istri juga."


Tasya tertawa bahagia mendengar ucapan Kania. Dia memeluk Kania dengan hangat. "Makasih, ya, bumil cantik. Makasih juga udah support aku sampai sejauh ini."


Kania pun turut tertawa. Dia ingat betul bagaimana dia memberikan dukungan pada Tasya yang hampir menyerah karena orangtuanya tak kunjung memberikan restu.


Hampir saja Tasya menyerah. Tapi Kania terus memberi dukungan, meyakinkan Tasya kalau suatu hari pasti orangtuanya akan merestui hubungan Tasya dan Ryan.


Dan terbukti, restu orangtua Tasya sudah dalam genggaman Tasya dan Ryan hingga keduanya melangkahkan kaki sampai sejauh ini. Selangkah lagi menuju sah.


🌼🌼🌼


Malam harinya, Kania dan Devan mendatangi acara pernikahan Nino dan Ivanka. Tak sempat pulang, Kania dan Devan harus berganti baju di hotel tempat acara pernikahan Nino dan Ivanka di gelar.


Kania membuang napas kesal saat tangan Devan mulai menyentuh tubuhnya yang hanya berbalut handuk kimono milik hotel. "Mas Devan. Bisa tau waktu nggak, sih? Sabar dikit kenapa, sih?"


"Mas, acara udah mau dimulai loh."


"Acara kita lebih penting, Sayang."


Hembusan napas Devan yang terasa begitu hangat membuat tubuh Kania meremang. Hampir saja Kania terbuai kalau saja dering handphone tidak terdengar.


Buru-buru Kania melepaskan tangan Devan yang melingkar di perutnya. Lalu mengambil handphone yang ada di atas meja. Tak peduli dengan Devan yang memasang wajah kesal dan cemberut seperti anak kecil yang tak dituruti keinginannya. Kania tertawa kecil melihatnya.


Ada nama Tristan yang menjadi penelepon di handphone Kania.


"Hallo, Tan. Ada apa?"


"Hallo, mbak. Mbak Kania lagi dimana?"


"Lagi di hotel_"


"Check-in teruuuussss!" sela Tristan. Entah dengan godaan atau dengan kekesalan mengingat dia belum sepenuhnya bisa menerima Devan menjadi kakak iparnya.


"Cuma buat ganti baju aja, Tristan. Mbak sama Mas Devan mau ke acara pernikahan yang kebetulan acaranya juga di sini. Lagian mau check-in apa nggak, kan, terserah kita, Tan. Namanya juga udah sah."


"Iyain aja, deh, biar seneng."


Kania tertawa keras. "Ada apa, Tan? Kamu lagi di Surabaya?"


"Iya, Mbak. Tapi nggak sendiri."

__ADS_1


"Uluh... Sama calon adik ipar Mbak, ya?"


"Gitu, deh. Tadinya mau minta tolong biar dia nginep di rumah Mbak semalam aja sebelum besok aku ajak ke rumah. Tapi karena Mbak Kania nggak di rumah, ya udah biar dia menginap dulu di hotel yang udah di siapin maskapainya dia."


"Oh, Mbak pramugari, ya, calonnya?"


"Doain aja, Mbak."


"Aamiin. Yang terbaik buat adik Mbak, pokoknya."


"Ya udah, Mbak. Jangan terlalu capek, ya. Jaga kesehatan."


"Iya, Tan. Kamu juga baik-baik ya, di manapun kamu berada."


"Iya, Mbak."


Kania meletakkan kembali handphonenya. Dia lihat, Devan sudah siap dengan setelan jasnya. Begitu cepat Devan bersiap. Padahal Kania harus menata ulang tatanan rambutnya dan juga make up-nya.


"Curang!"


"Kenapa, sayang?"


"Mas Devan udah siap aja. Padahal aku belum apa-apa."


Devan tertawa gemas melihat Kania yang merajuk. "Nggak usah buru-buru, Sayang. Ditungguin, kok."


"Kan, jadinya aku buru-buru, Mas, kalau lihat Mas Devan udah siap gini."


Devan menghela napas pelan. Jangan sampai mood Kania rusak hanya karena Devan sudah siap terlebih dahulu.


Sambil melepas jas dan celananya lagi, Devan berucap, "ya udah. Mas lepas lagi ini. Sekalian Mas mau pacaran sama kloset dulu. Santai aja, Sayang."


Kania mengangkat kedua alisnya, melihat Devan yang berjalan menuju kamar mandi. Jas dan celananya tergeletak di atas ranjang.


"Ada, ya, orang udah siap di lepas lagi bajunya? Pakai acara mau pacaran sama kloset lagi. Mas Devan sehat, kan?"


Tak menanggapi Devan dengan serius, Kania memilih mempercepat gerak tangannya untuk menyisir rambutnya, dan menata rambutnya secantik dan seanggun mungkin.


Merias wajahnya tipis-tipis. Terlihat natural tapi Kania sangat cantik. Memang dasarnya sudah cantik.


Lalu mengenakan gaun berwarna pastel yang membuatnya terlihat begitu cantik dan anggun. Ditambah lagi dengan perutnya yang sedikit membuncit, membuat Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi merasa ingin mengurung Kania di dalam kamar. Tak rela jika kecantikan istrinya dilihat banyak orang.


"Sayang, jangan terlalu cantik." Devan memeluk Kania dengan gelisah.


"Kenapa? Biasanya suami suka melihat istrinya yang tampil cantik."


"Iya. Tapi nggak rela kalau kecantikan kamu dilihat banyak orang."


Kania tertawa dan tersipu malu. "Terus maunya aku biasa saja gitu datang ke nikahannya Ivanka. Kamu nggak malu, Mas, di bilang nggak bisa biayain istrinya buat tampil cantik?"


Devan mencium bibir Kania dengan gemas. Untung saja lipstik Kania tak menempel di bibir Devan. "Emang paling bisa kalau jawab omongan suami."


Keduanya lantas kembali bersiap sebelum Devan benar-benar mengurung Kania di dalam kamar dan mereka tidak datang ke acara pernikahan Nino dan Ivanka.


🌼🌼🌼


besok siap-siap ke kondangan Nino sama Ivanka, ya. πŸ˜…

__ADS_1


mohon maaf baru bisa update. memang nunggu buat bener2 pulih dulu. takutnya nanti kalau belum sehat betul di pakai buat kerja bukannya sembuh malah tambah sakit. semoga masih ada yang nunggu cerita ini update.


love, author. ❀️


__ADS_2