
Kania menggeliatkan tubuhnya yang terasa berat. Seperti ada sesuatu yang menimpa perutnya, membuatnya sulit untuk bergerak.
Perlahan matanya terbuka. Jarum jam menunjukkan pukul empat, sebentar lagi adzan subuh.
Alangkah terkejutnya Kania saat melihat Devan yang tertidur di dekatnya dengan tangannya yang melingkar di perut Kania. Tubuhnya masih terduduk di atas kursi. Namun kepalanya direbahkan tepat di samping kepala Kania.
Kania segera bangun dan menyingkirkan tangan Devan dengan kasar. "Dasar mesum!" umpatnya sambil meneliti bagian tubuhnya satu persatu. Barangkali ada bajunya yang tersingkap atau kancing bajunya terlepas.
Penampilannya yang masih normal membuat Kania menghembuskan napas dengan lega. Setidaknya Devan tidak berbuat macam-macam kepada Kania yang sedang tertidur lelap.
"Tapi kasian juga ini orang. Sejak kapan dia tidur begitu? Pegel enggak, ya?" gumam Kania sambil menatap wajah Devan yang tertidur.
Lama dia memandangi. Memang tidak diragukan lagi bibit unggul dari Bram dan Hanum. Tampan luar biasa. Namun, tetap saja hati Kania terlanjur sakit dengan perlakuan dan tuduhan Devan selama ini. Ketampanan Devan tak berarti apa-apa lagi bagi Kania jika hati Devan begitu kotor dan pikirannya selalu buruk tentang Kania.
Adzan subuh yang berkumandang menarik Kania dari lamunannya. Dia segera beranjak dari tempat tidur kemudian mengambil air wudhu.
Saat Kania keluar dari kamar mandi, Devan masih tetap berada di posisi awal. Tak bergerak sama sekali kecuali bahunya yang naik turun secara teratur pertanda Devan masih bernapas.
"Bangun!" Kania mengguncang pelan bahu Devan. "Bangun! Shalat subuh dulu," ucapnya sedikit keras.
Mata Devan terbuka dengan cepat dan langsung melihat Kania di depan matanya. "Jam berapa, sih? Ganggu banget!" gerutu Devan. Devan menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal.
"Shalat subuh. Kalau mau jadi imam yang baik, jangan tinggalin sholat." Ucapan Kania tak diindahkan oleh Devan. Sebab Devan lebih memilih merebahkan tubuhnya, melanjutkan tidurnya di tempat bekas Kania tidur.
Tak kurang akal, Kania akan meminta Shaka yang kebetulan sudah terbangun untuk membangunkan Devan. "Bangunin ayah kamu, Nak. Ajak dia shalat subuh."
Shaka mengangguk dan tersenyum antusias. Dari tempat tidurnya, Shaka memanggil Devan. "Ayah, bangun! Kita shalat subuh berjamaah."
Satu panggilan Shaka tak berefek apapun. Devan masih terlelap. Begitu mudahnya dia tidur lagi. Padahal, baru beberapa menit yang lalu dia membuka mata dan berpindah posisi.
"Ayah!" Shaka mengeraskan suaranya sampai Devan terbangun. Hal itu membuat Kania menahan tawanya.
"Ada apa, Nak? Ada yang sakit? Mana yang sakit? Ayah panggilkan dokter, ya?"
"Bukan, Yah. Shaka mau ngajak ayah shalat subuh berjamaah. Sama bunda juga."
Wajah Devan terlihat bingung. Kania yang mulai paham pun segera mencari alasan demi menyelamatkan nama baik Devan di depan Shaka.
"Emm, biar ayah sholat di mushalla aja sekalian cari sarapan. Shaka sama bunda sholat di sini."
__ADS_1
Devan menatap Kania dengan tatapan tak percaya. Tidak menyangka Kania akan melakukan hal ini.
Devan memang seorang muslim. Tapi selama ini dia lalai dan meninggalkan sholatnya. Bahkan bacaan shalat pun banyak yang dia lupa.
Nanti, dia harus berterimakasih pada Kania karena telah melindungi nama baiknya di depan Shaka. Rasanya sangat malu kalau sampai Shaka tahu gerakan dan bacaan shalat ayahnya tidak sempurna.
Dengan senyuman yang dipaksa normal, Devan keluar dari kamar Shaka. Tapi, Devan tak pernah melangkahkan kakinya ke mushalla rumah sakit. Devan lebih memilih duduk di depan ruang rawat Shaka sembari menunggu Shaka dan Kania selesai shalat.
***
"Terimakasih tidak mempermalukan aku di depan Shaka."
Kania mengangguk dengan ekspresi wajah yang begitu datar.
Setelah selesai shalat, Kania keluar dari kamar. Tidak terkejut lagi melihat Devan yang duduk dan menyandarkan kepalanya pada tembok. Matanya terpejam. Tapi Kania tahu Devan sedang tidak tidur.
"Aku memang bukan orang yang baik. Tapi aku berusaha menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim meskipun belum semuanya mampu aku kerjakan."
Ucapan Kania seperti sebuah sindiran bagi Devan. Jelas dia tersindir. Selama ini Devan tak pernah melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Bahkan dia lupa kapan terakhir kalinya dia melaksanakan shalat.
"Soal permintaan Shaka kemarin..."
"Oke." Devan membalasnya dengan pasrah.
"Kenapa kamu juga mau menikahi aku? Padahal aku nggak pernah menuntut tanggungjawab kamu. Orang lain mungkin akan menjadikan kesempatan itu untuk pergi, mencari wanita yang jauh lebih baik dibandingkan aku."
"Aku seorang pemimpin perusahaan. Bertanggungjawab adalah salah satu modal seorang pemimpin. Aku memang sempat ingin pergi. Bahkan meminta mama untuk berhenti membawa kamu masuk ke dalam kehidupan kami. Cukup memberi kalian uang, dan menganggap semuanya selesai. Tapi Papa dan Mama malah marah besar dan mengatakan aku lelaki pengecut karena berusaha lari dari tanggungjawab. Karena aku merasa bukan lelaki seperti itu, ya sudah. Aku ingin mempertanggungjawabkan perbuatanku di masa lalu. Itupun kalau kamu mau."
Otak cerdas Devan dengan mudah saja mencari alasan yang tepat. Tidak mungkin dia mengatakan jabatannya dipertaruhkan jika dia tidak bisa membuat Kania mau menikah dengan dirinya.
Kania mengangguk paham meskipun keraguan itu masih merajai. Tidak mudah menerima Devan yang sudah terlalu banyak menggoreskan luka di hatinya. Walaupun apa yang dia lakukan adalah bentuk dari sebuah pertanggungjawaban.
"Nanti jam delapan kita ke kantor polisi. Pelaku utamanya sudah tertangkap."
Ucapan Devan membuat jantung Kania berdetak kencang. Akhirnya rasa penasarannya akan segera berakhir. Rasanya tak sabar ingin melihat siapa yang tega mencelakai Shaka.
***
Jam delapan pagi, Kania dan Devan sudah berada di kantor polisi. Mereka berangkat setelah ibunya Kania dan Hanum datang untuk menjaga Shaka.
__ADS_1
Kania duduk dengan gelisah. Jantungnya berdebar menanti siapa yang akan di bawa keluar oleh polisi dari dalam sana.
"Kira-kira mau kamu apain dia kalau kalian ketemu nanti?"
"Apa, sih?" Kania melengos malas mendengar pertanyaan Devan yang tak penting.
"Mau adu urat atau adu cantik?"
"Nggak jelas, kamu! Dia yang bikin anak kamu celaka, loh. Bisa, ya, kamu sesantai ini? Nggak sayang sama anak, ya? Jujur, deh."
"Apaan, sih, kamu! Orang aku cuma nanya."
Kania memejamkan matanya dan menghembuskan napas dengan kasar. Berbicara dengan Devan tetap saja akan berakhir sama. Menyebalkan.
Sikap Devan yang satu itu mungkin sudah mendarah daging. Tidak bisa dihilangkan lagi. Amit-amit. Jangan sampai nular ke Shaka. Batin Kania meronta-ronta.
Lima belas menit menunggu, akhirnya polisi keluar membawa seorang wanita yang Kania kenali.
Kania tak menyangka bahwa dia bisa setega itu pada anak sekecil Shaka yang tak tahu apa-apa dan tak salah apapun.
"Kenapa?" tanya Devan saat Devan mendapatkan tatapan mata Kania yang seolah bertanya, nyatakah semua yang ada di hadapannya?
"Kamu yakin dia yang melakukannya?" tanya Kania pelan. Hampir tak terdengar oleh siapapun.
"Dia sudah mengakui semuanya di hadapan polisi. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan pada wanita ini, Ka."
Kania berjalan mendekati wanita yang cantik yang tega mencelakai anaknya. Kedua tangan wanita itu diborgol.
"Kenapa kamu melakukan ini semua? Kenapa harus Shaka yang tidak tahu apa-apa? Kalau kamu ada masalah sama aku, lakukan itu ke aku. Bukan ke Shaka. Dia masih kecil. Dia nggak tahu permasalahan orang dewasa. Tapi kenapa kamu tega melakukan ini?"
Wanita itu tersenyum sinis. Tidak ada raut ketakutan atau penyesalan di wajahnya. "Tentu karena semua kesalahan ada di kamu. Aku hanya akan buang-buang waktu jika memberimu efek jera secara langsung. Akan terasa menyakitkan jika itu melalui anakmu. Sayang, dia tidak mati."
Mendengar hal itu, Kania mengepalkan kedua tangannya. "Tapi akhirnya kamu masuk penjara, kan? Dan tujuan kamu tidak ada yang bisa kamu dapatkan."
Wanita itu menggeram, kesal karena mendengar ucapan Kania. Tujuannya untuk memberi Kania pelajaran juga gagal.
Dia lupa dengan siapa dia berhadapan. Seorang Devan Maulana, pasti dengan mudahnya dia bisa menemukan kejanggalan dalam kecelakaan yang menimpa Shaka. Termasuk orang-orang dibalik kecelakaan yang di sengaja itu.
πΌπΌπΌ
__ADS_1
Lagi nih buat kalian. like komennya yang rame dong. ππ